Minggu, 22 Oktober 2017

MEREKA YANG BUKAN SAUDARAMU DALAM IMAN, ADALAH SAUDARAMU DALAM KEMANUSIAAN

Indonesia
Saudara dalam Kemanusiaan
Saya selalu senang ketika diundang menjadi pembicara oleh saudara-saudara yang bukan seiman..


Entah kenapa, seakan disana kami merobek segala keegoisan dan kebanggaan akan agama. Kami melebur dan menyadari bahwa diantara banyak perbedaan, kami sesungguhnya hanyalah manusia.

NKRI
Denny Siregar bersama Pastor dan Suster
Saya menyadari semua kitab selalu berbicara dengan makna yang sama, hanya redaksinya saja yang berbeda. Dan sungguh bodoh orang yang mempertentangkan redaksionalnya, tanpa memahami masa turunnya firman yang memang berbeda waktu dan zamannya.

Seaungguhnya diantara kami tidak ada yang paling mulia, kecuali mereka yang bertakwa kepada Tuhannya. Dan ukuran ketakwaan terlihat dari bagaimana kita memperlakukan manusia lainnya.


Agama itu petunjuk dan petunjuk itu ada di akal dan hati. Agama bukan pakaian, yang kita banggakan dan pamerkan dengan kepala tanpa isi..

Sesungguhnya, seluruh manusia itu bersaudara dalam kemanusiaan. Dan tujuan kenapa kita dihadirkan ke dunia adalah untuk berfungsi kepada manusia lainnya..
Maha Besar Tuhan dengan segala firmanNya..


Seruput kopinya Romo dan Suster yang sudah merendahkan dirinya menerima saya yang fakir ini..

Sabtu, 21 Oktober 2017

TERIMA KASIH PAK ANIES, PAK SANDI

Wakil Gubernur DKI Jakarta
Anies-Sandi
Terimakasih pak Anies-Sandi..

Ternyata saya baru tahu kenapa warga Jakarta lebih banyak memilih anda untuk memimpin kota ini daripada Ahok.

Ketika Ahok memimpin, bawaannya tegang mulu. Selalu ada amarah dan bentakan. Warga Jakarta kurang enjoy dengan semua itu, karena hidup mereka sudah sulit.

Mana panas, macet dimana-mana, kalau hujan banjir. Mereka tegang setiap hari, dan Ahok malah menambah ketegangan mereka.
Tapi zaman bapak Anis Sandi beda, beda banget..

Bapak berdua sungguh menghibur. Ada saja lawakan yang diberikan kepada kami supaya kami tertawa. Ada saja perilaku bapak berdua yang membuat kami rileks dan bersenda ria.

Waktu bapak ngomong pribumi, sontak banyak meme yang bicara pribumi. Apalagi waktu bapak Anies klarifikasi bahwa itu maksudnya pribumi di masa kolonial Belanda yang hanya ada di Jakarta, semua langsung kreatif membikin kata-kata kocak, "Belanda ngapain ke Bandung? Beli peyempuan..."

Belum tingkah pak Sandi yang suka mbanyol. Gaya bangaunya itu lhoo... membuat kami terpingkal. "Kok bisa ya wagub bisa sekonyol itu ? Gak jaim orangnya, asik juga.." Sungguh menbuat kami merasa menjadi generasi milenial kembali..

Kami juga jadi asik waktu bapak barengan naik motor. Mesra sekali, seperti Ropik dan Juleha. Kemana-mana berdua. Duh, jomblo mana yang gak kepengen seperti itu ? Gubernur aja gandengan, masak kamu nggak?

Kami tahu kok, masalah janji bapak untuk menutup Alexis itu becanda kaaaan? Kami tahu kok, pak.. Reklamasi juga. Bapak bisaan becandanya..

Dan asiknya lagi, 5 tahun ini akan penuh dengan canda ria. Serasa Warkop DKI, Srimulat, Bagito ma Kwartet S tampil sepanggung kembali. Rame pastinya dengan tingkah dan kelucuan spontan yang tercipta.

Inilah yang gak dipunyai Ahok, yang bawaannya tegang terus. DPR beli UPS, ribut. DPR bikin anggaran seenak udelnya, ribut lagi. Sumpah, gada lucu-lucunya zaman Ahok..

Sebagai Gubernur zaman now, tentu Pak Anies Sandi paham sekali bagaimana bisa membuat warga Jakarta lupa akan masalahnya sehari-hari. Kita kurang hiburan, hibur kami pak, tolong hibur kami...

Saya yakin semua itu gak dibuat-buat. Spontan dan mengalir saja. Seperti ada bakat ngelawaknya bapak berdua. Terimakasih, Tuhan.. Engkau sudah menghadiahkan kami penimpin yang bisa menghibur kepenatan kami..

Saya aja, setiap kali bapak berdua muncul di media langsung ketawa kebahak-bahak. Pasti ada aja ulahnya, sampe kopi saya tumpah saking gak kuat nahan geli.. Terbaik, terbaik...

Terimakasih bapak, nanti kapan-kapan saya terbitkan buku "Mati ketawa cara Anies Sandi".

Katanya, menghibur orang itu ada pahalanya loh pak. Sungguh... Gak percaya ? Yah, Percaya cukur, gak percaya gondrong...

Semoga Tuhan membalas kebaikan pak Anies Sandi selama memimpin dengan gaya berbeda...


Salam seruput kopi, pak...

Jumat, 20 Oktober 2017

SUDAH TIGA TAHUN, PAKDE

Presiden Jokowi
Jokowi-JK
Sudah 3 tahun kita bersama ya, pakde..

Tidak terasa, begitu cepat waktu berlalu..

Seingatku, engkaulah Presiden terbaik yang aku tahu..

Engkau tauladan, menaikkan standar tinggi kepemimpinan

Bahwa begitulah seharusnya ketika seseorang memegang jabatan

Bahwa jabatan itu bukan peluang, tetapi sebuah beban..

Sudah tiga tahun kita bersama ya, pakde.. Dan aku akan terus bersamamu sampai dua periode..

Salam hangat dariku
Yang mencintaimu, 
Presidenku..

Kamis, 19 Oktober 2017

PAK PRABOWO, HATI-HATI DENGAN ANIES

Pilpres 2019
Prabowo
Daripada terus meributkan konteks Pribumi, mari kita lihat bagaimana isu ini digunakan untuk kepentingan Pilpres 2019.


Sejak awal kita melihat serangan kepada Jokowi selalu dengan isu yang ada "Cina-Cina"nya. Mulai dari tenaga kerja Cina, PKI yang ada komunis dan disana ada negara China, 9 naga sampai penguasaan ekonomi oleh keturunan Tionghoa..
Dan ini membangun sebuah stigma yang dilekatkan ke Jokowi bahwa ia "Pro Cina". Isu ini terus menerus digulirkan lewat pesantren-pesantren sampai media sosial.

Di kalangan bumi datar, isu ini termasuk laris manis. Dimunculkan "monster" sebagai lawan bersama. Dikuatkan dengan berbagai berbagai gambar dan berita hoax, bahwa Cina sudah menguasai negeri ini.

Oke, ketika isu sudah menguat, harus ada superhero yang muncul untuk "membasmi semua kejahatan ini".

Superhero itupun muncul dengan menggunakan kata "Pribumi". Dan inilah superhero yang ditunggu-tunggu sebagai pelampiasan atas kesulitan ekonomi yang selama ini mendera mereka.


Superhero ini muncul saat pelantikan Gubernur DKI, bernama Anies Baswedan..
Perkataan "Pribumi" itu bukan sebuah kecelakaan, bukan juga untuk menggambarkan masa kolonial, tetapi untuk membangkitkan kebanggaan mereka yang merasa dirinya pribumi.
Sebuah supremasi...

Anies dan teamnya tentu belajar dari pemilu di AS, dimana Donald Trump menang dengan isu Supremasi Kulit Putih. Trump menggunakan isu untuk mengembalikan ekonomi kepada "warga AS asli" dan mendapatkan simpati dari mereka yang kesulitan secara ekonomi akibat resesi.

Isu itu juga dipakai Sebastian Kurz, Presiden Austria termuda di dunia yang baru saja menang pemilu - berusia 31 tahun - dengan jargon "Austria yang utama". Isu yang kembali menjanjikan bahwa warga lokal akan mendapat tempat lebih dulu dalam ekonomi.

Dan dari kedua kasus itu, kita akhirnya mengenal bahwa isu Pribumi itu menjadi seksi, seperti gadis muda nan semlohai yang melenggok dengan senyum manis dan rambut dikibaskan untuk menggoda pria.

Apalagi pria itu sedang tertekan secara ekonomi, kalah dalam kompetisi dan tidak mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar sebagai seorang lelaki.

Anies sangat paham itu. Dan ia akan menempatkan dirinya sebagai rival kuat Jokowi..

Loh, lalu bagaimana dengan Prabowo yang sudah mimpi menjadi Presiden setiap hari?

Dari berbagai survey, ternyata popularitas Prabowo sulit untuk naik melawan Jokowi.


Jika head to head di Pilpres 2019, kemungkinan besar Prabowo kalah. Karena pertama, ia sudah dianggap sebagai "old skool" atau orang lama. Dan kedua, ia tidak mewakili pribumi muslim, ia lebih pas dikategorikan sebagai mantan tentara.

Titik inilah yang sulit menaikkan popularitas Prabowo untuk memenangkan pertarungan, sehingga harus dicari "darah baru" untuk melawan Jokowi nanti.

Dan untuk menaikkan popularitas Anies, dikeluarkanlah kata "Pribumi" yang akan menjadi perbincangan nasional, sekaligus menaikkan hasil surveynya sebagai Capres mengalahkan Prabowo.

Dari bisik-bisik tetangga, skenario ini adalah skenario yang sedang terjadi...
Anies ingin mengulang kesuksesan Jokowi yang menang menjadi Gubernur DKI dulu, untuk kemudian menang di Pilpres 2019 nanti. Dan inilah waktu yang tepat, karena namanya sedang naik-naiknya. Mangkanya, ia lebih senang berpidato daripada bekerja nantinya...
Dan Prabowo akan mengalami dejavu kedua..

Sesudah Pilpres 2019 ia merasa dicurangi oleh Megawati karena seharusnya PDI-P mendukung dia, kali ini ia akan ditelikung oleh pilihannya sendiri karena partai-partai Islam akan merapatkan diri ke Anies sebab ia lebih mewakili "pribumi yang muslim".
Karena itu, hati-hati pak Prabowo. Jangan sampai bapak banting hape lagi..
"Terus, kapan gua jadi Presidennyaaaaaa?".

Sini pak, kita minum kopi...

Rabu, 18 Oktober 2017

KEBANGKITAN PRIBUMI & SENTIMEN ANTI CINA

Politik
Spanduk
Saya ingat waktu kecil, teman-teman membully seseorang keturunan Tionghoa dengan ucapan, "Dasar Cina kamu.. Pergi sana, masih kecil kok sudah jadi Cina".


Dan semua tertawa, membenarkan apa kata teman saya tadi, meninggalkan saya yang kebingungan apa salahnya ketika seseorang itu terlahir dari keturunan Cina?

Tapi begitulah propaganda orde baru - saya mengalami masa itu. Sentimen anti Cina terus menerus dibisikkan dalam kegelapan, untuk menjaga stabilitas negara sekaligus sebagai kotak pandora yang akan dibuka ketika ada kepentingan.

Tapi lucunya, orde baru jugalah yang membesarkan pengusaha keturunan Cina dalam ekonomi.

Dalam buku Kesaksianku tentang G30S, Subandrio mantan Wakil PM tahun 1960-an, seperti yang dikutip dalam tribunnews, Soeharto-lah yang berbisnis dengan pengusaha Tionghoa seperti Lim Sioe Liong dan Bob Hasan. Mereka terlibat dalam penyelundupan yang membuat Jenderal Ahmad Yani marah besar.
Dan hubungan ekonomi itu terus dilanjutlan ketika Soeharto memimpin Indonesia, yang melahirkan pengusaha2 ekonomi dari keturunan Tionghoa baru di Indonesia.

Situasi jomplangnya ekonomi yang banyak dikuasai pengusaha keturunan Tionghoa inilah yang terus dipelihara. Satu, sebagai faktor ekonomi karena memang mereka terlahir pintar berdagang. Dua, sebagai isu "senjata" jika memang harus diperlukan untuk menjaga kekuasaan.

Catatan sejarah membuktikan, sentimen anti Cina memang laris manis jika dimainkan.


Tahun 1963, berawal dari bentrokan di ITB, kerusuhan dengan tema anti China meledak dimana-mana. Di Palu tahun 1973 terjadi kerusuhan perusakan toko warga Cina. Pada tahun yang sama, di Bandung juga kerusuhan anti Cina menjalar kemana-mana meski disebabkan oleh senggolan mobil.

Ujung Pandang 1980, Medan 1980. Surabaya 1986. Dan yang terakhir -yang paling mengerikan- adalah kerusuhan Mei 1998 dimana-mana.

Jejak berdarah inilah yang menjadi satu alasan kunci jika ingin membuat kerusuhan di Indonesia. "Tanamkan lagi aja sentimen anti Cina atau bangkitkan kebanggaan akan Pribumi.. lihat hasilnya.." Kata seorang teman yang menguasai sejarah negeri ini.

Dan kerusuhan tidak serta merta datang. Ia seperti puzzle yang membutuhkan kepingan-kepingan sebelum membentuk bangunan yang sempurna. Kepingan itu sudah dibangun dengan kata "aseng", "ekonomi China", "Tenaga kerja China", masih ditambah PKI karena disana ada unsur "China"nya.

Sesudah itu semua siap, tambahkan kata "Pribumi" sebagai penyedap..

Lalu kita melihat sekarang kata "Pribumi" mulai keluar, dengan tema "Kebangkitan Pribumi Muslim". Harus ada "muslim"nya, karena itu akan memperkuat tekanan, karena keturunan Tionghoa identik dengan Kristen.

Lalu keluarlah logo "Hidup Pribumi" untuk membangkitkan kebanggaan sekaligus harapan akan perubahan situasi -biasanya ekonomi- bahwa mereka akan berkuasa, meski entah bagaimana caranya.

Ujung dari semua ini ada di benturan antar kelompok masyarakat, yang nanti akan dipicu hal remeh temeh seperti senggolan antar "warga pribumi" dan "keturunan Tionghoa" yang akan diperluas skalanya. Benturan baru bisa terjadi ketika kebencian sudah tertanam, jadi harus sempurna dulu masakannya.

Ada usaha untuk membangkitkan kembali masa-masa kelam kerusuhan yang membawa korban karena pandangan rasis. Dan dibaliknya selalu ada agenda politiknya, percayalah...

"Lalu siapa yang memainkan irama ini?", tanya seorang teman.


Seperti sudah pernah saya tulis dulu, ada tiga layer yang punya kepentingan.
Pertama, ormas radikal yang punya kepentingan ekonomi. 
Kedua, politikus dan pengusaha hitam yang periuk nasinya terampas. 
Dan ketiga, pada puncak tertinggi ada agenda khilafah yang akan memanfaatkan situasi kekacauan, bahwa khilafahlah yang akan menjadi solusi dari segala masalah.

Sejarah selalu berulang, hanya beda pelaku dan waktunya. Dan seperti biasa, ketika saya membuka agenda adu domba ini, sayalah yang dituduh sebagai pengadu domba..

Tapi biasanya saya cuek karena yang penting pesan sudah tersampaikan.

Palingan saya ngopi sambil nyanyi qasidah, "Tidak akan kuserahkan pada Kampret yang durhakaaaa..."

Tiup suling dulu ahhh...

CINA VS PRIBUMI

SARA
Pribumi
Sebenarnya malas ngomongin masalah Pribumi lagi. Tapi tiba-tiba saya teringat satu hal mendasar yang mengharuskan saya menulis tentang ini lagi.

Diluar dari konteks siapa sebenarnya pribumi di Indonesia ini, dan cara mengeles AB yang menggambarkan pribumi dalam masa kolonial Belanda, saya mencoba menelaah lagi kapan asal muasal kata-kata pribumi itu menjadi begitu penting...
Dan ternyata jawabannya ada di kerusuhan sentimen anti Cina..

Dari tulisan Prof Sumanto al Qurtuby tentang "sentimen anti cina di Indonesia", saya mendapat gambaran perang terbesar sentimen Cina pada tahun 1740 dikenal dengan Chineezenmoord ("Pembantaian orang-orang Cina”) di Batavia (kini Jakarta).


Pada saat itu 10 ribu jiwa orang Cina yang melayang.

Para sejawaran menduga bahwa dalang kerusuhan anti Cina ini adalah VOC.
VOC merasa tersaingi secara politik dan ekonomi oleh orang Cina yang kebetulan menguasai syahbandar atau pelabuhan. Mereka juga menguasai perdagangan dan sebagian menjadi elit politik di tanah Jawa.

Sesudah kerusuhan itu, VOC mengeluarkan passenstelsel, atau surat jalan khusus utk warga Cina. VOC juga mengeluarkan peraturan yang bernama wijkenstelsel yang mengharuskan warga Cina hanya boleh berdiam di sebuah wilayah khusus yang kini disebut sebagai Pecinan.

Dan siapa musuh dari Cina itu? Jelas, Pribumi. Sebuah status sosial paling rendah yang diberikan VOC kepada warga lokal, yang berarti kelas pekerja. Dan politik devide et impera VOC itu juga yang diadopsi di masa orde baru..

Kerusuhan-kerusuhan anti Cina di Medan, Solo dan banyak kota lainnya adalah bagian dari politik orde baru untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Yang terakhir tahun 1998, ketika orde baru terpaksa harus mengakhiri kekuasaannya.

Saat kerusuhan tahun 1998 itu, kuat sekali aura anti Cina berkobar, ditandai dengan ditulisnya pintu-pintu ruko dan rumah dengan tulisan "Milik Pribumi".

Dan inilah yang dimainkan sekarang, sentimen anti Cina dengan tema baru "Kebangkitan Pribumi". Masih ditambah dengan kata "Muslim" untuk semakin memperkuat tema..

Siapa yang bermain disana?

Banyak, mulai dari orba yang ingin bangkit kembali juga ormas Islam radikal yang ingin mendirikan khilafah atau terpojok karena Perppu pembubaran ormas.
Diharapkan dengan naiknya kebanggaan sebagai pribumi, akan menaikkan tensi sentimen anti Cina yang sebelumnya sudah mereka gambarkan dengan kata-kata "aseng", "9 naga" dan lain-lain.

Pribumi sendiri digambarkan sebagai orang yang kalah dalam sisi ekonomi dan menuntut perubahan singkat dalam penguasaan ekonomi - dan politik.

AB sendiri mungkin hanya sebagai pion saja, untuk memainkan isu Pribumi sebagai "titipan pesan". Dan karena ia terikat kuat dengan kelompok radikal dan dana orba yang menyokong kampanyenya, maka mau tidak mau pesan itu harus disampaikan..

Jadi, kata "Pribumi" yang keluar itu bukan hanya sebagai kecelakaan saja, melainkan berupa agenda seting yang sedang dijalankan untuk membangun aura permusuhan sebagai sebuah tema kerusuhan yang kelak akan dijalankan.

Dan kita lihat, sesudah pernyataan Pribumi itu keluar, keluar juga logo "Kami Pribumi" yang beredar di media sosial dan grup whatsapp, yang menandakan ada konsentrasi kekuatan atas nama kebanggaan kelompok.

Sulit menyingkirkan bahwa kata "Pribumi" ini tidak dikaitkan dengan Pilpres 2019 yang sudah dekat ini nanti. Kata "Pribumi" ini menjadi satu keping puzzle yang akan ditudingkan kepada pemerintahan Jokowi yang sudah mendapat banyak tuduhan sebagai PKI, agen Tiongkok, didanai asing dan aseng, juga tenaga kerja Cina yang masuk ke Indonesia..

Isu anti Cina itu efektif, karena ada kelompok yang memainkan iramanya.
Meskipun dalam kegiatan ekonomi, mereka gak anti-anti banget sama keturunan Cina bahkan malah berkawan dengannya, tetapi harus ada tema yang dibangun untuk bisa mengambil kembali "periuk nasi" yang hilang karena kebijakan Jokowi..


Seruput dulu, kawan... Situasi akan makin panas ke depan...

Selasa, 17 Oktober 2017

ANDA PRIBUMI, PAK GUBERNUR?

Non Pribumi
Kami Indonesia
Saya penasaran dengan kata "Pribumi" gara-gara seorang Gubernur yang baru dilantik menyinggung kata-kata "Saatnya Pribumi jadi tuan rumah di negeri sendiri".

Wahai Mr Baswedan yang terhormat, setelah saya baca di Wikipedia, ternyata keturunan arab pun tidak dikelompokkan dalam wilayah Pribumi, sebuah sebutan yang dulu sangat menghina di zaman penjajahan.


Saya jadi ingin bertanya, benarkah anda dulu mantan Menteri Pendidikan?

Minggu, 15 Oktober 2017

PENGACARA PAWANG HUJAN

Eggi Sudjana
Denny Siregar
Para pengacara yang melaporkan saya itu seperti pawang hujan abal-abal..

Pawang hujan itu pekerjaan yang enak. Kalau berhasil menahan hujan, maka ia bisa membanggakan kerjaannya. Kalau tidak berhasil "Yah, saya tidak bisa melawan kekuasaan Tuhan YME. Saya apalah.. apalah.."
Begitu juga pengacara yang melaporkan saya...


Ketika 700 pengacara bersatu ingin melaporkan saya, saya senyum saja. "Mereka gak mungkin berani.." karena dakwaannya saja sudah lemah, tidak ada sedikitpun tulisan saya yang menghina Yang Mulia Imam Besar Rizik Shihab.
Saya hanya memuji dengan gaya sarkas..

Tapi ya begitulah. Karena tidak berhasil mendapatkan bukti penghinaan, mereka lalu menyebar isu bahwa saya dilindungi penguasa sehingga gak mungkin dimasukkan penjara.

Sama kayak pawang hujan kan ? Menang kalah dapat pujian..

Begitu juga ketika seorang pengacara tidak terkenal melaporkan saya karena dianggap mengadu domba umat Islam vs Kristen..


Dia gagal mengartikan kata "lawan" dalam tulisan saya. Karena pikirannya selalu perang, maka yang dipikirnya adalah melawan secara fisik seperti kasus di Ambon dan Poso..

Padahal sudah jelas disitu saya berkata melawan secara hukum. Pergunakan hukum sebagai alat perlawanan, karena itulah sebaik-baiknya cara.

Jadi apa yang salah ketika saya meminta umat Kristen, Hindu dan Budha melawan secara hukum atas pernyataan ES? Lah, kok perbandingannya kasus Rohingya? Gak Jonru to Jonru namanya itu...

Dan seperti biasa, nanti laporannya yang lemah itu mentah di polisi. Terus dia teriak, "Denny Siregar dilindungi penguasa !" Pengacara jaman now, asal tereak tanpa bukti kuat..

Kenapa bukan ES sendiri yang melaporkan saya spt ia melaporkan Romo Magnis? Karena takut buat saya terkenal kayaknya, jadi dicarilah pengacara ecek-ecek yang rindu proyek..

Seperti kata pepatah, "berakit ke hulu berenang ke tepian. Dilaporkan dahulu, umroh kemudian". Seruputtt ahh.