Rabu, 22 Februari 2017

FREEPORT, PERANG DIATAS MEJA

Freeport
Jonan dan Archandra Tahar
Siapa orang di Indonesia ini yang tidak kenal Freeport? Freeport tumbuh dengan mitosnya. Namanya seagung Goliat yang ditakuti bangsa Israel. Begitu banyak informasi yang membuat Freeport menjadi lebih besar dari ukurannya sendiri.

Dan mitos itu terus dijaga untuk kelangsungan banyak hal, mulai dari "rejeki" para pejabat lokal yang mendapat setoran setiap tahunnya sampai ke nama besar Amerika sebagai negara adidaya.

Dan itu berlangsung selama 50 tahun, sampai pemerintahan Jokowi berdiri. Freeport mendapat banyak fasilitas melalui Kontrak Karya-nya sejak 1967. Kontrak Karya ini yang membuat Freeport bisa menguasai segala lini pertambangan di dalamnya tanpa perlu melakukan klarifikasi konkrit kepada pemerintah Indonesia.

Sekian lama pejabat kita diatur olehnya. Freeport juga membayar para analisis yang membangun persepsi kita akan kebesarannya dan merendahkan kemampuan kita untuk mengambil alihnya. "Udah diem aja, yang penting elu dapat bagian.." begitu kira-kira poinnya.

Dan Freeport juga menjaga dirinya juga melalui pasal-pasal dalam Kontrak Karya yang menguntungkannya. Pasal yang dibangun bersama para pengacara dan pejabat lokal yang dibayarnya. Pasal-pasal inilah yang menjaganya dari kemungkinan ia dimiliki secara maksimal oleh pemerintah Indonesia.

Selain itu, Freeport juga sangat diuntungkan dengan peraturan pemerintah yang tumpang tindih terhadap usaha pertambangan. Dan karena peraturan di kita juga yang tidak kalah "sesatnya", maka Freeport bisa berdalih untuk kembali pada pasal di Kontrak Karya bahwa "Freeport akan tunduk pada peraturan yang memudahkan dan menguntungkan mereka".

Dahsyat bukan?
Jadi kita harus paham bagaimana pusingnya Menteri Jonan dan Wamen Arcandra Tahar untuk menguliti satu persatu pasal, baik dalam Kontrak Karya maupun peraturan tumpang tindih yang dibuat pemerintah pada masanya.

Meski begitu, para punggawa Jokowi ini tidak menyerah. Mereka terus mendesak Freeport untuk mematuhi peraturan yang ada, yang menguntungkan pemerintah.

Kalau sudah terdesak begini, jurus lama Freeport keluar, yaitu ancaman. "Kami akan memecat ribuan karyawan karena kami tidak sudah tidak mampu lagi produksi.." Jurus andalan yang sangat kita kenal, yaitu terzolimi. Bahasa Suroboyonya "Playing Victim".

Sebenarnya pemerintah kita sudah baik sebaik-baiknya. "Okelah, daripada tidak produksi bagaimana kalau kita perpanjang sedikit kemudahan supaya Freeport bisa produksi dan ekspor konsetrat ?" Tapi dengan catatan bahwa Freeport harus mulai bangun smelter.

Dan lagi-lagi Freeport tidak tunduk, hanya "hangat-hangat tai dinosaurus". Ia tetap tidak membangun smelter sesuai yang diperintahkan. Dan ketika ditagih, mereka kembali membuka Kontrak Karya lama mereka dan berpegang pada pasal "Freeport akan tunduk pada peraturan yang memudahkan dan menguntungkan mereka". Wat de pak.

Freeport mendadak menjadi perusahaan politis, padahal negara mendudukkan mereka untuk bernegosiasi secara jantan layaknya dua perusahaan besar yang bertarung.

Bahkan, informasi 300 karyawan yang dipecat adalah bagian strategi perang Freeport untuk membuat pemerintah Indonesia menjadi "tersangka", padahal 300 karyawan itu dirumahkan sementara karena Freeport tidak mampu memaksimalkan ekspornya. Perang diatas meja dilanjutkan dengan perang melalui media.

Kalau sudah memahami akar masalahnya, di tulisan selanjutnya kita akan bicara mitos Freeport yang dibongkar oleh pemerintah kita. Seruput kopi dulu ah.

Selasa, 21 Februari 2017

JAKARTA BANJIR (LAGI)

Banjir
Ahok
"Bang, Jakarta banjir tuh.. "

"Iya, semalaman hujan gak berhenti. Awet kayak cinta jomblo yang selalu terpendam.."

"Katanya kemaren nanya mana banjir ? Buktinya masih banjir.."

"Ya, berarti masih ada beberapa hal yang perlu ditangani lebih lagi. Kalau dulu curah hujan sedang, sudah tidak banjir. Sekarang Tuhan sedang mengetes dengan curah hujan tinggi, banjir atau ndak ?"

"Sok tau lu, bang.. Emang situ Tuhan ?"

"Sedang belajar.. masak cuman ente aja yang bisa jadi Tuhan ?"


Seruput kopi sambil dikepung banjir..

BETAPA KUATNYA UMAT ISLAM DI NEGARA KITA

Ahok
Aksi Monas
Pertarungan Freeport melawan pemerintah Indonesia semakin nyata. Boss Freeport Mc Moran Richard Ackerson bahkan sudah mengancam akan mem-PHK 12 ribu karyawan dalam minggu ini. Ancaman itu bagian dari gertak Freeport sebelum mereka berencana membawa masalah ini ke arbitrase.

Menteri Jonan pun tidak kalah kerasnya. Ia tetap berpegang bahwa Freeport sebaiknya mematuhi peraturan yang ada atau merubah diri menjadi tambang biasa. Perang urat syaraf dibangun di media, bahkan Donald Trump dikabarkan memantau semua perselisihan ini.

Setelah 50 tahun, baru kali inilah Indonesia menyatakan diri dengan tegas terhadap kedaulatan negara ini melawan Freeport. Nasionalisme bangsa dipertaruhkan, karena melawan Freeport bukan main-main. Freeport adalah wajah Amerika di Indonesia. Dampaknya bisa sangat buruk untuk keamanan negeri kita.

Dan seharusnya, inilah waktu kita menunjukkan kecintaan kepada negara dengan memberikan dukungan moril supaya pemerintah tetap konsisten pada pendiriannya.

Seharusnya mulai muncul poster- perlawanan di media sosial supaya kita "ganyang Amerika". Seharusnya juga ada mobilisasi massa atas nama umat Islam -sebagai agama terbanyak di Indonesia- dari seluruh Indonesia. Masjid-masjid mengumandangkan takbir penuh patriotisme dan khotbah-khotbah Jum’at diisi dengan nada berapi-api sudah saatnya kita berdiri di atas kaki sendiri.

Seharusnya juga pesantren-pesantren di seputaran Jakarta mengirimkan santrinya untuk longmarch sebagai bentuk perlawanan terhadap kesombongan Amerika.

Seharusnya juga Aa Gym berdoa di twitter mendoakan pemerintah supaya jangan takut umat Islam dibelakang mereka. Atau naik kuda ala panglima Diponegoro dengan pose gagah.

Seharusnya Tengku Zulkarnaen mulai marah-marah di twitter membakar semangat umatnya. Seharusnya juga KH Maruf Amin dan jajarannya di MUI mengeluarkan fatwa wajib hukumnya membela negara.

Seharusnya Habib Rizieq berada di podium bagai singa mengaum menggelorakan semangat kaum muda. Shalat subuh berjamaah di seluruh wilayah digerakkan untuk menunjukkan kekuatan umat Islam di Indonesia.

Seharusnya juga ustad Arifin Ilham mengajak umat berzikir dengan suara serak-serak basah untuk keamanan Indonesia. Ustad Yusuf Mansur seharusnya membuat video di Instagram dengan mimik marah, "Freeport jangan ditiru ya nak, jangan ditiru!".

Dan seharusnya Monas dikelilingi lautan 7 juta manusia menggertak Amerika supaya patuh pada hukum di Indonesia.

Seharusnya begitu, Amerika adalah lawan yang sepadan untuk itu. Sayangnya, mereka semua hanya berani berhadap-hadapan dengan hanya seorang Ahok saja. Hanya dengan seorang Ahok saja.

Bah! Amerika bisa ketawa ngakak kalau mereka tahu. Donald Trump pasti sedang taruhan ma wakilnya, "Demi rambut palsu, kirimkan seorang Ahok lagi kesana, hancurlah Indonesia.."


Meski pait, kopi terpaksa harus diseruput dulu..

Senin, 20 Februari 2017

JANTANLAH, FREEPORT

Mimika
Freeport
Tadi jam 10 pagi, Presiden dan CEO Freeport McMoran Inc. Richard Ackerson, mengadakan jumpa pers. Pada intinya ia mengeluhkan tentang ketidak-adilan pemerintah Indonesia dalam mengambil langkah terkait situasi Freeport. Ia juga mengatakan akan mem-PHK banyak karyawan karena buntunya ekspor konsentrat yang menjadi sumber penghasilan mereka.

Ada kemungkinan besar PT Freeport Indonesia akan melakukan langkah Arbitrase, atau penyelesaian sengketa melalui jalur diluar pengadilan.

Menteri Jonan sendiri menilai langkah Arbitrase adalah langkah tepat, daripada sibuk mengancam akan memecat karyawan. Itu langkah jantan daripada berlindung dibalik punggung karyawan.

Pemerintah Indonesia sendiri percaya bahwa negara akan menang. Berkaca dari menangnya pemerintah ketika berhadapan dengan PT Newmont Nusa Tenggara.

Keras kepalanya Jonan didukung oleh anggota DPR. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Satya Widya Yudha, mengatakan, "Negara kita negara berdaulat. Jangan benturkan rakyat dengan pemerintah.."

Sementara itu Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Chappy Hakim, sudah mengundurkan diri dari Freeport. Ini membuat Freeport Internasional tidak punya negosiator lagi sebagai jembatan antara mereka dan pemerintah Indonesia.

Baru kali ini Freeport ditekan luar biasa. Langkah-langkah mereka seperti mati gaya ditangan Jonan. Mereka digiring ke arah permainan tanpa bisa mengendalikan situasi seperti yang biasa mereka lakukan. Biasanya cukup bayar beberapa pejabat, selesai perkara. Mereka salah besar menghitung nasionalisme punggawa-punggawa pemerintahan sekarang ini.

Pemerintah Indonesia tidak suka bertarung di jalan. Selain tidak etis, itu menunjukkan cara yang tidak profesional. Freeport digiring ke ring pertempurang untuk bertarung secara sah dan legal. "Ayo kita pukul-pukulan di area yang legal.." begitu bahasa sederhananya.

Maukah Freeport?
Belum tahu, tapi naga-naganya -bukan naga bonar- Freeport dengan terpaksa harus ikut keras kepalanya Indonesia.

Dampak negatifnya tentu ada, yaitu penghentian produksi sementara. Dan ini berakibat banyak karyawan yang terpaksa dirumahkan. Sejumlah ekspatriat bahkan dikabarkan sudah dipulangkan ke negaranya.

Entah harus senang atau sedih melihat situasi ini. Senang, karena baru kali ini kita melihat bahwa negara kita sangat berdaulat. Dan sedih, mengingat banyak karyawan yang terpaksa dirumahkan.

Apapun itu, perjuangan memang selalu membawa korban. Semoga nasionalisme di dada para karyawan Freeport yang dirumahkan, akan menjadi pondasi kuat mereka dalam menghadapi situasi sulit ini..

Semoga secangkir kopi bisa sedikit menguatkan.

FREEPORT VS PEMERINTAH INDONESIA

Jokowi
Freeport
Menyaksikan pertarungan PT Freeport melawan pemerintah Indonesia ini memang mengasyikkan. Freeport sejak tahun 1967, menikmati betul fasilitas yang diberikan oleh Presiden kedua Indonesia, Soeharto, dalam bentuk Kontrak Karya. Kontrak Karya ini memungkinkan PT Freeport Indonesia untuk mengatur segala macam operasional mereka termasuk keuangan dan pemerintah tidak boleh ikut campur dalam pelaksanaannya.

Dalam artian sederhana, "Hei pemerintah, lu diem aja entar gua bagi deh keuntungannya. Kalo ada untung lho ya.." Bertahun2 seperti itu dan kita tidak punya kontrol terhadap sumber daya alam kita.
Kemudian datanglah Jokowi..

Dengan Jonan Menteri ESDM sebagai panglima perangnya, maka permainanpun berubah. Jonan memaksa PT Freeport untuk mengubah perjanjian Kontrak Karya yang selama ini dinikmati Freeport menjadi ijin pertambangan biasa, sama seperti ijin pertambangan perusahaan lainnya.

Dengan ijin pertambangan biasa itu, maka ada kemungkinan pemerintah Indonesia bisa menguasai (divestasi) saham Freeport sampai 51 persen. Dalam artian, Freeport satu saat akan menjadi milik kita.

Freeport ternyata tidak menyerah. Mereka memakai jurus lama - yang dulu selalu berhasil mereka lakukan - yaitu jika pemerintah Indonesia macam2, maka mereka akan memecati pegawai2nya.

Kenapa dulu pemerintah takut ? Yah, selain "selalu ada uang dibalik batu", juga yang ditakutkan adalah multiplier effect atau dampak sistemiknya.

Ratusan ribu pegawai yang selama ini mencari makan di PT Freeport akan dipecat dan itu menciptakan banyak pengangguran. Ketika banyak yang ngaggur, maka akan berdampak pada ekonomi di Papua. Ketika ekonomi lemah, maka akan diciptakan kerusuhan2 kecil yang akan diperbesar di sana. Ini memang akal licik yang selalu dipakai mereka..

Saat ini ada lebih dari 23 ribu karyawan dan privatisasinya yang bergantung pada Freeport. Dan ketika mereka dipecat -dengan alasan penghematan karena Freeport sudah tidak boleh lagi ekspor konsentrat- maka para karyawan itu akan digiring untuk protes ke pemerintah.

Dan ini sudah terjadi. 300 karyawan dikabarkan sudah dipecat Freeport. Dan mereka akhirnya berdemo di kantor bupati dan DPRD Mimika, meminta pemerintah untuk membuka kembali ijin ekspor konsentrat Freeport supaya bisa kembali bekerja. Licik, bukan?

Mimika sekarang bergolak. Ribuan personel aparat sudah diturunkan kesana untuk menjaga wilayah. Ada kemungkinan demo2 akan terus dilanjutkan, untuk memaksa pemerintah membuka kembali keran ekspor konsentrat yang selama ini menjadi sumber makan PT Freeport Indonesia.

Apakah Menteri Jonan akan mundur dan kembali membiarkan PT Freeport seperti biasanya? Ataukah ia melawan dengan menghadapi potensi resiko besar yang akan menggoyangkan keamanan?
Sementara itu kabar terbaru, Ketum PBNU KH Said Agil Siradj sudah mengatakan siap berdiri di belakang pemerintah Indonesia dalam menghadapi Freeport.


Episode Freeport ini semakin menarik. Kita lihat episode berikutnya sambil seruput secangkir kopi..

BUNI YANI YANG BERJUANG SENDIRI

Medsos
Buni Yani
Apa kabar Buni Yani?
Lama tak terdengar suaramu
Engkau yang dulu begitu ganas
Kini terkabar terkulai lemas
Kudengar engkau sering bulak balik ke kantor polisi
Menuntut keadilan untukmu sendiri..
Sendiri?

Kemana 7 juta manusia yang dulu bergerak karenamu?
Baru kudengar kabarmu hari ini
Berkasmu sudah lengkap dan sedang dikirim ke Kejaksaan tinggi
Sidang praperadilanmu ditolak
Ah malangnya nasibmu, nak..

Engkau teriak supaya kasusmu dihentikan
Entah apa yang membuatmu berfikir demikian
Bukankah engkau seharusnya bangga?
Kan sudah dinobatkan sebagai pahlawan Islam media sosial
Fahira Idris berkata, "Jangan biarkan Buni Yani berjuang sendiri!"

Memang mudah mempermainkan lidah
Dia tidak merasakan apa yang sedang kau rasakan
Ia berteriak di ruang DPR yang nyaman
Sedangkan engkau harus bulak balik ke pengadilan
Sudahlah tidak usah merengek
Atau menangis gulung-gulung sampe bengek
Hadapi semua dengan senyuman
Hidup itu indah bukan?

Meski harus dijalani dalam tahanan..
Apa kabar Buni Yani?
Lama tidak terdengar kabarmu
Pahlawan yang terlupakan
Dikenang tidak, cuman dimanfaatkan..

Kapan-kapan kalau sempat aku datang
Kubawakan kau secangkir kopi
Aku pasti tersenyum ketika mendengar semua keluh kesahmu
Kan kupegang pundakmu
Dan kubisikkan kata yang membangkitkan semangatku

"Sukurin...."

Minggu, 19 Februari 2017

KALIAN ITU KUAT SEBENARNYA

Relawan
Teman Ahok

Seorang teman inbox saya.

"Bang, tolong jangan bully mas Anies. Kita butuh suara.."

Saya senyum-senyum bacanya dan langsung menjawab, "Saya tidak pernah membully orang, saya hanya tertawa melihat program yang lucu-lucu gimana gitu. Boleh dong ketawa, masak saya harus nangis..".

Sambil seruput kopi saya lanjutkan..

"Lagian kenapa mesti ngemis suara? Kalian itu kuat, hanya lemah di pengawalan. Itu saja.. "

Ah, saatnya bubuk-bubuk manja..

CETAK BUKU SEMUA MELAWAN AHOK UNTUK RELAWAN

Buku
Buku Semua Melawan Ahok
Banyak yang bertanya ke saya bagaimana bisa membantu para relawan Ahok? Wah, saya bukan timses dan juga bukan bagian dari relawan. Saya orang luar yang kebetulan pendukung Ahok. Bukan hak saya untuk menerima apapun dari mereka yang ingin mendukung Ahok.

Putar-putar otak, akhirnya saya punya cara yang mudah-mudahan bisa sedikit membantu. Saya cetak lagi buku "Semua Melawan Ahok" dengan edisi terbatas. Kalau jual buku ini hak saya, jadi tidak ada masalah hukum apapun..

Buku saya jual dengan harga biasa Rp. 33 ribu per buah (diluar ongkir). Dari harga itu, saya sisihkan 13 ribu rupiah per buku untuk saya sumbangkan pada relawan. Sisanya untuk bayar cetak, administrasi dan lain-lain.

Bagaimana menyumbangkannya, saya pikirkan nanti dan penyerahannya pasti terbuka.
Hanya ada 1000 buku kurang lebih, karena memang sengaja saya batasi. Ini mungkin usaha terakhir saya dan mudah-mudahan bisa sedikit membantu.

Untuk teman yang mau ikut bantu, silahkan whatsapp mba Ugie ya, di 0838-7676-2226 atau 0812.9126.6082.

Jangan nginbox ya, saya ga pegang bukunya.. Oke, semoga perjuangan ini bisa berguna.

Seruput dulu, ya..

Sabtu, 18 Februari 2017

MEREKA YANG MENEPATI JANJINY

Jokowi
Ahok dan Jokowi
"Jika saya jadi Presiden, lebih mudah mengatasi macet dan banjir di Jakarta.. ".

- Jokowi Maret 2014 -

Dan sejak Jokowi menjadi Presiden, Ahok jadi lebih mudah koordinasi dengan pusat masalah penanganan macet dan banjir. Banjir di Jakarta berkurang hingga 80 persen dan transportasi publik massal sedang dibangun dimana2..

Tidak banyak orang yang menepati janjinya. Mereka wajib kita jaga..

REALISTIS MELAWAN JANJI MANIS

Kehidupan
Realistis
Jadi teringat cerita lama. Ketika papa mengajak kami bersaudara ke Restoran Padang terkenal, ia berkata, "Pilih satu-satu lauknya ya..", dan kami pun memilih satu dari sekian banyak lauk enak yang terhidang di meja. Yang dibanyakin cuman kuahnya.

Kami tahu bahwa kami bukan orang kaya. Kami juga tahu bahwa papa masih berusaha membahagiakan kami bersaudara dengan mimpi indah, makan di restoran.

Meski begitu, kami juga tahu bahwa ia mengajarkan kami untuk realistis. Sesuai apa yang ada, tidak perlu berlebih jika memang tidak ada.

Realistis, itulah yang diajarkan kepada kami dan itulah yang banyak hilang sekarang ini. Banyak orang tertipu janji manis dengan menanam uang di sebuah koperasi yang menjanjikan pendapatan 30 persen sebulan. Orang menjual semua hartanya hanya untuk sebuah mimpi dan akhirnya mereka terpuruk bermandikan hutang dan janji manis.
Ada lagi yang tertipu dengan pakaian agama, menjanjikan keuntungan dunia berlipat ganda. Janji manis ditambah aksesori agamis, membuat banyak orang kembali lupa diri. Akhirnya mereka menangis kembali terperosok dalam lubang hitam kebangkrutan dan hutang yang sulit ditanggung anak istrinya.
Semakin kesini, semakin banyak ulama yang menjanjikan surga. Seakan cukup dengan ritual, banyak orang terperdaya memborong ayat yang dijual. Sehingga mereka mabuk dan lupa bahwa Nabinya diturunkan untuk memperbaiki ahlak manusia. Seluruh manusia, bukan hanya mereka yang seiman.
Kita sudah lupa arti kata realistis. Melihat sesuatu dengan apa adanya dan mengembangkan apa yang sudah kita punya.

Puluhan tahun kita mengalami banyak calon pejabat mengumbar janji manis, bahkan lebih manis dari sesendok bubuk kopi ditambah seember gula. Banyak orang yang percaya, dan sampai sekarang mereka masih hidup begitu-begitu saja.

Yang di pinggiran kali, masih berkutat dengan taik mengambang dan malaria. Yang tinggal di pinggiran rel kereta, bermimpi indah karena rumah kardus mereka mau dicat warna-warna.

Mereka selama ini lebih baik membeli mimpi dengan menjual suara, karena berfikir realistis bahwa tidak akan ada orang yang bisa memperbaiki taraf hidup mereka.

Sampai disini banyak yang bingung, "Apakah saya realistis atau apatis?".
Dan lucunya, ketika ada seseorang yang realistis yang ingin membantu memperbaiki taraf hidup mereka, mengangkat harkat dan derajat mereka sebagai manusia, mereka menolak. Alasannya sederhana, karena tidak seagama.

Mereka kembali pada pekerjaan lama, menelan janji-janji manis dan mimpi yang melambung bahwa satu waktu akan ada yang menolong mereka. Tuhan harus menyediakan orang yang seiman dengan mereka. Kalau tidak bisa, paksa Dia.

Aku mengambil lauk yang kusuka, sepotong rendang dan kubanjiri dengan kuah gule ayam yang terlihat nikmat. Mata kecilku menatap wajah ayahku yang tersenyum senang karena kami semua mengerti.

Aku berjanji saat itu, "Satu saat nanti, jika aku besar dan mapan nanti, papa boleh mengambil semua lauk di meja.." Dan ketika aku besar dan mapan, kuajak ayahku yang sudah menua makan di tempat yang sama, dan ia hanya mengambil satu lauk saja.


Ah, aku rindu kau jadinya, pa. Terimakasih sudah mengajarkan kepada kami tentang konsep realistis sehingga tidak mudah terbuai janji manis. Kami jadi tahu mana yang benar dan mana yang salah, dengan menilai sesuatu lebih luas. Lama aku tidak ke kuburmu. Tunggu aku, ya pa. Kita cerita-cerita yang banyak nantinya.

Jumat, 17 Februari 2017

AUSTRALIA MULAI MENGINTIP KITA

Australia
Tawhidi
Saya banyak dikirimi screenshot tweeter ini dengan caption "ulama muslim Australia siap backup Ahok".

Hati-hati. Setahu saya itu ulama syiah dari Australia dan ia terkenal sebagai ulama syiah ekstrim yang suka mengkafir-kafirkankan. Tahun 2015 lalu ia datang ke Indonesia dan kedatangannya ditolak keras oleh dua organisasi Syiah.

Jangan pernah mau diperkeruh oleh orang asing, ada agenda yang ingin dibawa ke sini yaitu gesekan muslim sunni dan Syiah seperti di Suriah dan Irak.


Semoga oengacara Ahok tidak terpengaruh untuk mengundang orang ini sebagai saksi. Ini jebakan untuk menjatuhkan nama Ahok.

BIRGALDO SINAGA

Relawan Ahok
BIRGALDO SINAGA
Namanya Birgaldo Sinaga...

Aku kenal dengannya di fesbuk. Meski sudah lama berteman, kami baru bertatap muka beberapa hari ini. Ia mengaku suka dengan stensilan Enny Arrow. Tapi itu dulu, waktu remaja. Sekarang mungkin sudah dalam bentuk video. "Kurang menarik.." Katanya. "Stensil itu imajinatif. Kalau video langsung gitu, pam pam pam.. terlalu relijius. Ada oh god, oh yes, oh no.."

Ah, saya tidak ingin membicarakan itu. Saya hanya ingin memberikan apresiasi yang tinggi untuknya.

Sejak menulis tentang Ahok, bro Bir - saya menyebutnya begitu meski ia peminum kopi bukan beer - sudah sering juga menuangkan tulisannya tentang Ahok. Dalam hal ini pandangan kami sama, bahwa membela Ahok bukan membela sosok, tetapi membela hak seseorang yang ingin dicerabut karena ia berbeda dari calon lainnya. Ahok seorang Kristen - agama yang sama dengan bro bir dan ia dari ras China.
Lalu kenapa Ahok tidak boleh punya hak untuk ikut membantu negara ini ? Dalam Undang2 ia adalah warga negara yang mempunyai hak yang sama. Bukan salahnya ia terlahir seperti itu, sama dengan bukan salahku terlahir sebagai orang Batak yang ke Madura2an.

Politik-lah yang ingin membunuh karakter Ahok, karena ia terlalu ketat dalam anggaran. Hal yang tidak pernah terjadi dalam carut marutnya administrasi DKI selama puluhan tahun yang dipelihara.

Bro Bir pernah ditanya "dapat apa kamu membela Ahok ?", pertanyaan yang sama yang selalu kudapatkan ketika menulis tentang Ahok. "Dapat apa.." itu biasanya pertanyaan mereka yang selalu mengukur segala sesuatu dengan uang, sedangkan kami melihatnya sebagai sebuah perjuangan.

Bro Bir ini orang pemberani. Ia bukan saja suka menulis di fesbuk sebagai pelampiasan gelisahnya. Ia tidak tanggung2 berjuang dengan turun ke jalan, meski harus berpanas2an.

Halaman fesbuknya banyak bercerita tentang perjalanannya. Ketika ia sedang pasang badan di depan pengadilan Ahok, berhadapan langsung dengan para gamis putih yang sulit ditemui sifat keramahannya. Ketika ia membagi2kan baju kotak dan bertemu dengan calon pemilih di gang2 Jakarta, dengan resiko diusir oleh para pembenci Ahok.

Saya belum tentu seberani dia dalam berjuang yang langsung turun ke jalan berhadapan dengan dunia nyata. Dan bro Bir sudah memulainya. Jadi jangan pernah cerita tentang perjuanganmu mendukung Ahok di depan dia, karena pasti malu sebab kita hanya bisa berkoar di media sedangkan dia adalah petarung di garis depan.

"Darimana kamu dapat dana untuk mobilisasi ?" Tanyaku nakal. Ia lama tidak menjawab. Kulihat gundah dimatanya. Dan baru kutahu ia banyak mengeluarkan semua dari kantungnya sendiri, baik untuk dirinya maupun pasukan dibelakangnya yang - kadang - harus ia belikan makan supaya tetap tegar di jalanan.

Ah, haru benar diriku dan merasa kecil dihadapannya. Aku merasakan terbatasnya tabunganku dan harus keluar untuk segala macam hal yang tidak jelas apa yang diperjuangkan. Aku seperti mendengar istrinya berteriak marah, "Kamu dapat apa membela mati2an Ahok di jalan ? Belum tentu ia menang pun kamu diperhatikan.." dan suara tangis anaknya yang jarang bertemu dengan ayahnya karena di medan perang seharian.

Aku yakin bro Bir berada pada titik terlemahnya sekarang. Ia harus memilih terus berjuang atau kembali pada kehidupan nyata menjadi seseorang yang hidup normal dengan situasi yang belum tentu membuatnya senang. Ia adalah manusia merdeka, yang tahu dimana fungsinya.

Sayangnya, militansinya tidak mendapat tempat yang sesuai. Ia bahkan kurang diperhatikan hanya karena mereka menyebutnya "relawan".

"Namanya juga relawan. Kalau rela ya jangan minta bayaran!!". Begitu hukuman sosial yang diterimanya dari banyak orang yang memakinya sambil duduk di mobil dingin ber-AC, gadgetan dan sedang siap-siap goyang badan di rumah Lembang.
Ah, bro... Ampunilah mereka yang tidak mengerti apa yang sedang kau hadapi sekarang. Tidak banyak orang yang mengerti nilai. Mereka tahunya hanya bagaimana jagoannya menang, tanpa pernah mencoba paham bahwa kemenangan itu butuh proses yang kadang menyakitkan. Tanpa ada orang-orang sepertimu, niscaya harapan mereka punah di pinggir jalan.
Semangat, bro.. Senang minum kopi bersamamu. Dan jangan mengeluh di ruang publik, karena kata Imam Ali as, "Jangan pernah ceritakan dirimu kepada siapapun. Mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan itu dan mereka yang membencimu tidak percaya itu.."


Sini kuangkat secangkir kopi dan maaf tidak kupajang wajahmu disini, untuk mengurangi sifat narsismu.. haha.. Seruputt..

Kamis, 16 Februari 2017

PANASKAN KURSI JABAR SATU

Kandidat
Prediksi Kandidat Pilgub Jabar
Bosan dengan Pilgub DKI, saya pengen panaskan kursi Gubernur Jabar 2018..

Ini akan menjadi pertarungan menarik kedua sesudah DKI, karena Jabar terkenal dengan tingkat intoleransi tertinggi di Indonesia dan jumlah penduduk miskin terbanyak. Padahal Jabar dikenal sebagai daerah yang kaya..

Jabar juga terdaftar sebagai jumlah pemilih terbanyak di Indonesia, sekitar 30 juta pemilih.
Jabar juga adalah provinsi yang paling dekat dengan Jakarta, tempat pusat pemerintahan.
Siapakah yang akan maju nantinya ?
a. Ridwan Kamil
b. Dedi Mulyadi
c. Deddy Mizwar

WASPADALAH AHOK

Pilgub DKI Jakarta
Ahok
Menurut Ketua KPUD DKI sih, kesalahan bukan sepenuhnya dari mereka. KPUD tidak memperkirakan bahwa jumlah pencoblos jauh lebih besar dari yang terdaftar selama ini. Mereka sudah mencadangkan 25 persen surat suara dan dibagi 20 lembar ke setiap TPS. Tapi nyatanya, yang datang membludak.

Sulitnya mendata pemilih karena banyak pendukung Ahok yang tinggal di apartemen-apartemen, rusun dan komplek perumahan. Ketika didatangi, mereka tidak ada di tempat dan juga tidak melaporkan keberadaan mereka.

Mereka baru datang saat pencoblosan siang hari dan -tentu saja- kehabisan surat suara. Sedangkan panitia yang berada di TPS dengan ketat mengikuti peraturan KPUD.
Ini menjadi PR bersama antara warga dan relawan Ahok.

Relawan mulai aktif mendatangi calon pemilihnya dan membantu mereka secara teknis apa yang harus dilakukan. Jika perlu diantar mengurus formulir yang mereka butuhkan.

Pemilih juga jangan diam saja dan tidak bertindak apa-apa. Aktiflah mencari tahu dan jika perlu menghubungi relawan untuk minta bantuan. Jangan pada saat masalah baru teriak kehilangan hak memilih.

Relawan Anies yang dari PKS begitu militan masuk ke gang-gang, ke masjid-masjid dan memberikan panduan teknis saat pengajian atau acara agama. Jika tidak mengikuti irama mereka, saya pastikan suara Ahok akan melorot kayak celana.

Ini permainan rally panjang, bukan pukulan jarak pendek yang mematikan. Nafas relawan harus di support dengan baik. Relawan yang punya uang dimanfaatkan secara positif untuk membantu mendanai relawan di garis depan supaya mereka tidak terkendala keuangan.

Satu lagi, jangan tertipu dengan permintaan gabungnya Demokrat. Jika Ahok akhirnya bergabung dengan Demokrat demi memperoleh suara muntahan, kemungkinan besar rakyat yang awalnya masih bimbang akan langsung membuang nama Ahok, karena dianggap tidak konsisten.

Gabungnya Ahok, Mega dan SBY adalah kartu mati. Ada pikiran jika Ahok lebih mementingkan kekuasaan dengan segala jalan. Nama SBY sedang rusak-rusaknya, dan itu bisa jadi virus yang merusak di dalam.

Inilah yang ditunggu oleh Gerindra dan PKS, dan mereka akan melancarkan serangan bully-an kepada Ahok. Jebakan betmen sedang dipasang dan menunggu langkah yang salah karena rasa panik.
Ini cuman analisa saja sambil seruput kopi tentunya. Saya bukan timses dan lebih nyaman jadi pengamat saja. Pengamat tanpa celana.. Seruput...

MESIN PERANG PKS


Politik
PKS
"Kemana PKS, lama gak kedengaran suaranya.." tanya saya pada seorang teman. "Udah mati kali.." Jawab temanku sekenanya. Dan fikiran saya terus terbang sampai kemudian menghilang tidak memikirkannya kembali. Apalagi Pepo lebih menarik dibahas daripada PKS yang tidak kunjung muncul.

Strategi menyembunyikan PKS dalam pertarungan pilgub DKI ini, memang cerdik. Mungkin ada yang terpengaruh quote saya, "Melihat mana yang benar dan mana yang salah, lihat kemana PKS berpihak dan pilihlah lawannya.." sehingga PKS lebih baik tidak terlihat di publik sebagai pendukung calon tertentu.

Dan mesin PKS ini memang mengerikan. Kader2 mereka militan akibat penggemblengan kuat dengan doktrin yang terus dipampatkan. "Right or wrong is my party" adalah jargon yang terus dibawa kadernya. "Lu mau bilang apa kek tentang PKS, itu partai gua. Lu mau apa ?"

Kita bisa melihat massifnya mesin cyber mereka pada pilpres 2014, dimana mereka memainkan banyak isu yang membingungkan. Dan mereka sangat cerdik, menempatkan menterinya si posisi strategis pada masa SBY di kominfo, yang berarti menguasai jalur komunikasi dan informasi.

Di bawah Sohibul Iman, Presiden PKS sekarang, PKS berubah wajah. Yang dulunya keras di bawah Anis Matta, menjadi lebih senyap dan jarang terlihat. Ini membuat kekuatan mereka sulit diukur banyak pihak.
Dan terbukti mereka belum habis..

Jejak PKS langsung terlihat ketika Anies meraup banyak suara dalam pilgub DKI. Kemampuan mereka melakukan rally panjang door to door di masjid2, majelis taklim sampai ke RT/RW tidak bisa diremehkan. Mereka mampu menempatkan kader2nya di posisi strategis tapi tidak terlihat.

PKS meraih hasilnya. Suara Anies melejit jauh meninggalkan Agus, yang tidak sadar dimanfaatkan dengan baik. Saat Agus sibuk koordinasi dgn pimpinan ormas garis keras dan memainkan isu penistaan agama, PKS berselancar dengan isu itu dan menikmati ombak besar yang memenangkan mereka.

PKS menemukam soulmatenya dalam potlitik yaitu Gerindra. Terutama ketika Gerindra masih punya Prabowo. Ada simbiosis mutualisma diantara mereka, PKS membutuhkan sosok dan Gerindra membutuhkan mesin yang militan.

Dan inilah yang mereka lakukan, mengusung Prabowo di 2019. Untuk itu mereka harus menguasai dulu kantung2 suara. Di DKII mereka harus menang, karena meski bukan tempat pemilih terbesar, DKI adalah wilayah seksi untuk menaikkan popularitas.

Ini bisa menjadi satu poin bagi relawan Ahok untuk bisa semilitan mereka..
Sesudah DKI mana lagi ?

Tentu kantung pemilih terbesar di Indonesia yaitu Jawa Barat dengan perkiraan 30 juta pemilih. Selama 10 tahun PKS menguasai wilayah ini. Dan kemungkinan besar mereka akan bekerjasama dengan Gerindra lagi.

Ini akan menjadi pertarungan panas lanjutan sebelum menuju 2019, hari penentuan..
Secangkir kopi mengajarkan, memahami kekuatan lawan jauh lebih baik dari membanggakan kekuatan sendiri. Meski pahit, seruputannya terus menyadarkan untuk tetap menginjak bumi..

PRABOWO, SOSOK DIBALIK NAIKNYA SUARA ANIES

Gerindra
Prabowo Subianto
Saya harus angkat secangkir kopi pada timses Anies kali ini. Gerakan senyap mereka tidak mengandalkan sosok Anies sebagai faktor utama tetapi mengandalkan militansi dan soliditas gerakan arus bawah dalam melakukan gerilya.

Ahok memang raja media. Sulit mengalahkan Ahok jika Anies harus head to head di media. Kemampuan Ahok dalam mengolah semua gerakan sehingga diserap oleh media adalah kekuatan utamanya. Ini yang berusaha direbut Agus. Dan ini jugalah yang disadari betul oleh timses Anies.

Karena itu -alih-alih ikut perang yang dilancarkan Agus terhadap Ahok- timses Anies lebih memusatkan serangannya melalui gerilya. Tidak terlihat banyak muncul di media saat ramai-ramainya kasus aksi massa, membuat Anies menjadi sosok yang tidak diperhitungkan.

Yang menarik, dalam kasus penistaan agama ini, timses Anies memanfaatkan Prabowo sebagai tokoh kunci. Kunjungan Prabowo ke Jokowi menaikkan ritme dalam gerakan gerilya mereka. Orang kembali diingatkan bahwa Prabowo ada dan Prabowo muncul sebagai tokoh yang menyejukkan.

Prabowo-lah yang menjadi alasan terbesar banyak pemilih untuk mencoblos Anies. Ini masih berkaitan dgn pilpres 2014 dimana pendukung Prabowo ternyata masih solid ditambah mesin PKS juga masih bekerja efektif.

Ini menjawab pertanyaan saya kenapa PKS akhir-akhir ini tidak banyak terlihat di permukaan. Mereka bergerilya. PKS yang pilpres lalu memainkan pasukan cybernya yang menakutkan, kini merubah strateginya dengan turun ke arus bawah.

Karena itulah timses Anies menyasar kampung-kampung di Jakarta melalui masjid-masjid dan mushola kecil. Mesin uang mereka bekerja disini. Melalui pengurus masjid dikampung-kampung mereka memanfaatkan kelemahan Agus yang hanya berinteraksi debgan pimpinan atas ormas-ormas Islam.

Para pengurus masjid yang dulu juga pemilih Prabowo diingatkan kembali bahwa memilih Anies akan memenangkan Prabowo dalam pilpres 2019. Prabowo adalah jualan terbesar mereka.

Dengan memanfaatkan pengurus masjid-masjid kecil di gang-gang di sudut Jakarta yang terlupakan oleh Agus, mereka merapatkan barisan sambil sesekali ikut berselancar saat aksi massa besar.

Disini terlihat pintarnya timses Anies dan ruginya Agus yang mengeluarkan biaya begitu besar. Perhatikan, munculnya Prabowo ke istana berkat aksi massa yang didukung dan dibiayai kelompok Agus.

Ah, itu strategi yang cantik sekali dan baru disadari di kemudian hari. Prabowo menuai pujian dari pendukung Ahok juga dan merebut hati massa Islam yang tidak suka dengan kekerasan.

Meskipun berbeda pandangan, saya sangat menghormati strategi lawan ini. Dan menjadi catatan saya dalam mengamati langkah-langkah di setiap pertarungan.


Next, kita membahas kelemahan dan kekuatan pendukung Ahok. Tapi enaknya memang seruput kopi dulu.

AHOK YANG TERLALU PERCAYA DIRI

Djarot
Ahok-Dhjarot
Sejak awal, ketika akhirnya PDIP mendukung Ahok, banyak teman-teman yang membuat status, "selesai sudah pertandingan..". Bersandingnya nama besar Ahok digabung dengan nama besar PDIP, membangun kepercayaan diri yang sangat kuat di para pendukung Ahok. Kepercayaan diri yang terlalu tinggi itu membuat mereka tidak menerima jika ada yang mengingatkan, "hati-hati kekuatan lawan..".
Perjalanan selama proses kampanye, saya banyak menemukan aura kepercayaan diri yang sangat tinggi di barisan relawan. Saya selalu mengingatkan, "Optimis boleh, tapi kita harus juga realistis.."

Saya kadang tidak sampai hati ketika harus mengingatkan, "Pilgub DKI ini dua putaran.." Suara saya tenggelam di riak euforia dan kebanggaan akan prestasi Ahok yang diangkat sebagai jualan.

Saya jadi teringat apa yang Jokowi katakan ketika ia menjadi Capres saat pilpres 2014. Ketika itu euforia terjadi di kalangan pendukungnya. Ia mengatakan. "Jangan memandang remeh lawan. Lawan kita itu tangguh dan kuat secara finansial.."

Tidak memandang remeh lawan bukan berarti takut kalah, tetapi memunculkan kewaspadaan yang tinggi. Dengan kewaspadaan yang tinggi, kita bisa memperkirakan "pada titik mana lawan akan memainkan kecurangan.."

Dan dari banyaknya info yang masuk, ternyata lawan memainkan peranan disaat akhir melalui surat suara. Banyak yang tidak terdaftar dan akhirnya ditolak untuk menggunakan hak suaranya.

Alasan "surat suara sudah habis, hanya disediakan 20 sebagai cadangan.." adalah gerakan massif yang terjadi dimana-mana. Video-video amatir menunjukkan keributan yang terjadi di TPS karena kehilangan suara.

Hal seperti ini seharusnya sudah bisa diantisipasi sejak awal. Para relawan yang terbentuk di setiap RT/RW sejak awal sudah bisa mengawal para pendukung Ahok dan memastikan mereka punya hak suara dan tidak terlambat sampai TPS.

Edukasi-edukasi teknis perlu terus disampaikan daripada sekedar goyang-goyang badan di rumah Lembang. Selain edukasi teknis ke warga, gerakan di RT/RW perlu terus di kawal. Persempit celah para panitia melakukan kecurangan.

Dan yang terakhir, jangan pelit untuk membayar para relawan-relawan yang bertugas kesana kemari, masuk ke kampung-kampung untuk melakukan pengawalan dari pendaftaran sampai penghitungan suara. Mereka bukan orang yang berlebih, hargai waktu mereka dengan membayar keringat mereka. Meski menamakan diri relawan, tapi anak istri mereka juga butuh makan.

Karena itu saya tidak begitu bangga ketika Ahok mengembalikan dana kampanye sekian miliar rupiah. Saya lebih bangga ketika dana yang berlebih itu dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan dasar para relawan sehingga mereka bisa bekerja tanpa ada kendala keuangan.

"Perjuangan juga butuh logistik", begitu kata kawan saya yang mendukung Ahok dan bersedia berpanas-panas di jalan yang terpaksa merogoh kantung sendiri sekedar untuk makan.

Putaran kedua adalah pertarungan yang lebih berat. Selisih yang tidak begitu besar membuat ada kekhawatiran.

Kekhawatiran itu bagus, dengan begitu menjadi lebih waspada. Lebih baik merasa akan kalah sehingga bertarung lebih sengit, daripada merasa menang sehingga minim persiapan.

Ada waktu 2 bulan untuk mempersiapkan diri. Tanggal 19 April, kita akan bertarung di TPS lagi. Semoga Ahok juga tetap bisa menjaga diri, supaya tidak diserang sisi terlemahnya lagi. Mau secangkir kopi? Seruput dulu.