Selasa, 25 April 2017

NETRAL SUDAH BUKAN PILIHAN

Revolusi
NKRI Harga Mati
Bangunlah wahai kamu yang berjiwa nasionalis..
Bangunlah..

Tidakkah kamu lihat ada sesuatu yang salah sedang terjadi?
Ketika sekolah-sekolah kita dipegang oleh mereka yang berjiwa rasialis..
Ketika tempat ibadah kita dikuasai oleh mereka yang berjiwa fanatis..
Ketika parlemen kita diduduki oleh mereka yang berjiwa oportunis..
Ketika politikus kita sibuk menghitung bisnis..

Mereka semua -sadar dan tidak sadar- menciptakan monster yang bernama radikalis..
Monster yang sekarang bergerak setahap demi setahap menuju pusat pemerintahan
Menunggangi banyak ketidak-pahaman
Yang dibalut atas nama surga dan keindahan
Tapi dibalik punggungnya ada pedang yang akan memisahkan kepala dari tubuh kita

Tidakkah terbuka matamu ketika mereka terus meneriakkan kebencian?
Tidak tampakkah kamu ketika mereka memainkan ayat Tuhan demi kepentingan?
Butakah kamu ketika mereka menjadikan tempat ibadah jauh dari kesejukan?
Semua begitu jelas terbaca

Pola-pola yang meninggalkan jejak yang sama
Yang terjadi di Afghanistan, Irak, Libya dan Suriah
Yang ingin mereka terapkan di negara kita..

Percayalah, kamu tidak akan selamat ketika bersifat apatis..
Karena banyak peristiwa di Timur Tengah yang mengajarkan
Mereka yang awalnya netral-lah yang pertama menjadi korban
Kemudian mereka akan mencari orang yang dulu membantu mereka berkembang..
Para pebisnis, aparat pemerintahan, ulama, orang yang mendukung mereka hanya karena sesama Islam

Dan orang yang memanfaatkan situasi karena ingin selamat dari keadaan..
Mereka menunggangi orang-orang yang haus kekuasaan
Yang tidak sadar sudah bermain bola api ditangan
Dengan membantu membuka jalan mereka untuk menguasai negeri ini..
Ketika para radikalis itu menguasai semua elemen pemerintahan

Lihatlah ibumu ditelanjangi di tepi jalan
Lihatlah saudarimu diperkosa hanya karena dianggap kurang beriman
Lihatlah anakmu digantung hanya karena bermain layang-layang..
Atau bapakmu tergeletak tanpa kepala di pinggir jalan..
Jangan sampai kamu suatu saat baru sadar..

Bahwa kamulah yang membunuh keluargamu sendiri
Dengan membiarkan kaum radikalis tumbuh subur bagai alang-alang..
Lihatlah kekejaman mereka yang di upload di youtube dengan penuh kebanggaan..
Sambil terus menerus meneriakkan nama Tuhan..
Paksakan dirimu melihat darah dan tubuh tanpa kepala disana.
Karena disembelih dengan riang gembira
Padahal ia masih remaja..

Tuhan memberi kita apa yang terjadi di Suriah
Sebagai taman bacaan dengan berbagai cerita yang terangkum dalam buku-buku tebal..
Jadikan rasa takutmu sebagai kekuatan
Bahwa ada yang harus kita perjuangkan
Yaitu kemerdekaan kita sekarang
Yang indah dan akan dihilangkan...

Bangunlah wahai kamu yang berjiwa nasionalis
Teriakkan suaramu sekeras-kerasnya
Lawan intimidasi mereka
Jangan takut dipinggirkan
Hanya karena dianggap bukan Islam..

Bergabunglah dengan Banser dan Ansor, kamu yang berbeda suku dan agama
Bukan dalam sisi keormasan
Tetapi sebagai bentuk dukungan
Bahwa mereka tidak sendirian
Bahwa merekalah pilar kita yang tertinggal
Dari semua pilar yang berhasil dirubuhkan...
Bangunlah wahai kamu yang berjiwa nasionalis..
Bangunlah..

Lawan mereka bukan dengan kekerasan
Tetapi duduk dengan semua yang berjiwa nasionalis yang sama..
Dan deklarasikan melalui semua media bahwa gabungan dari kita jauh lebih besar dari mereka..
Tunjukkan bahwa kita yang selalu diberi label Silent Majority..
Tidak selamanya diam..

Jangan selalu bergantung pada Tuhan
Karena Tuhan baru hadir untuk membantu hambaNya yang berusaha..
Bukan yang duduk saja sambil menikmati keadaan..
Bangunlah..


Jangan sampai secangkir kopi saja nanti di fatwa haram..

Minggu, 23 April 2017

BANSER & GP ANSOR, SINGA ITU BANGUN DARI TIDURNYA

Ansor
NU
Ancaman radikalis berbaju agama memang menakutkan. Negara-negara di timur tengah sudah banyak dikuasai mereka. Di Nigeria ada Boko Haram yang kerjaannya menculik wanita dan anak2 untuk dijadikan budak. Di Afghanistan masih ada ketakutan kembalinya Islam garis keras Taliban. Irak terjadi bom bunuh diri setiap pekan. Suriah sudah hancur berantakan.

Semua negara yang hancur adalah negara dengan penduduk muslim mayoritas. Ironisnya, yang menghancurkan juga mereka yang mengaku muslim. Situasi ini menjadikan perang makin sulit karena tidak mudah mengenali musuh dari dalam.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar juga sedang mengalami proses pembusukan. Tumbuhnya ormas2 garis keras dimana-mana dengan baju FPI, FUI, MIUMI, HTI dan banyak lagi bukanlah sesuatu yang datang tanpa perencanaan.

Gerakan mereka massif dalam doktrin dan kekerasan. Mereka menguasai masjid2, pesantren, pengajian bahkan acara tivi agama Islam dan melakukan pembodohan dengan melemahkan akal dan meninggikan kebanggaan akan golongan.

Kenapa pemerintah tidak membubarkan mereka?

Tidak mudah. Ketika mereka dihantam, mereka akan memainkan peran sebagai korban. Ini berbahaya sekali dan memang sedang mereka tunggu. Ormas2 Islam garis keras ini sejatinya sudah ada selama puluhan tahun di Indonesia. Mereka bergerak senyap dan banyak dipelihara oleh mereka yang punya kuasa dan kepentingan.

Jadi untuk menghadapi mereka, pemerintah butuh waktu tidak sebentar. Mereka menyusup di dalam ormas2 itu dan berusaha merebut tongkat kepemimpinan untuk kemudian melemahkan dari dalam.
Tetapi itu butuh proses yang tidak instan. Cukupkah waktu kita sebelum Indonesia meledak?

Sedangkan mereka sudah banyak mendapat simpati masyarakat yang tidak tahu apa2 terhadap tujuan jangka panjang panjang mereka untuk mendirikan negara khilafah di Indonesia..

Disinilah peran Banser dan GP Ansor...

Banser dan GP Ansor sudah bergerak satu komando dalam menghalau mereka. Tetap sesuai hukum dan tidak terpancing untuk melakukan kekerasan.

Pesan GP Ansor sangat jelas waktu pilkada DKI. "Kami tidak mendukung calon Gubernur yang didukung kelompok radikal.." Dari pernyataan ini, terlihat bahwa GP Ansor sudah berhasil mengidentifikasi akar masalah.

Dan Banser juga GP Ansor harus menunjukkan kekuatannya supaya terlihat bahwa mereka ada sebagai penjaga NKRI.

Di Makassar mereka baru saja bentrok dengan HTI. Di Bogor, GP Ansor mengeluarkan pernyataan menolak forum internasional khilafah HTI. Di Jombang, Tulungagung, Jember, Sidoarjo dan Surabaya sudah menyatakan dengan keras, "Tidak ada ruang bagi HTI dan FPI di Jatim.."

Di Cilacap, Banser dan GP Ansor menyerukan HTI untuk kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya. Di KarangAnyar mereka longmarch menolak keberadaan HTI dan FPI disana.

Di Takalar GP Ansor dan Banser, gagalkan konvoi HTI. Di Bandung, mereka menolak deklarasi HTI. Di Purbalingga, GP Ansor dan Banser hampir saja bentrok dengan HTI. Di Rembang, tempatnya Gus Mus, GP Ansor dan Banser menyatakan sikap menolak HTI.

Massif sekali gerakan GP Ansor dan Banser. Singa itu sudah bangun dari tidurnya. Ancaman terhadap NKRI sudah begitu nyata.

Hanya merekalah pilar yang tersisa sekarang ini ketika gelombang virus radikalisme menyerbu negeri ini.

Felix Siaw -salah satu pentolan HTI- bahkan dalam tweetnya menyindir gerakan GP Ansor sebagai gerakan yang bertentangan dengan Islam. Meskipun ia tidak menyebut nama organisasi, tampak jelas bahwa ia juga ketakutan setengah mati.

Memantau pergerakan GP Ansor dan Banser di banyak wilayah membuat kepercayaan diri saya tumbuh kembali. Bahwa NKRI tidak mudah di Suriah kan, seperti yang mereka inginkan. Indonesia ada penjaganya...

Sambil seruput kopi, saya boleh sedikit memberikan saran untuk teman2 yang non muslim. Entah anda perorangan atau mempunyai kelompok, coba bergabunglah dengan GP Ansor dan Banser di wilayah anda. Karena NKRI ini milik kita bersama, tanggung-jawab kita bersama dan harus kita jaga bersama, datangilah dan duduklah bersama mereka dalam satu kesatuan. Karena ini bukan masalah apa agama anda, tetapi ini adalah bagaimana menjaga negara kita..

Sebarkan pesan ini seluas-luasnya...

Satu waktu, kita akan duduk dan ngopi bersama dan bercerita tentang bagaimana kita menjadi bagian dari pelaku sejarah dalam menyelamatkan keberagaman kita yang tercinta..


Kalau di Lebanon punya Hezbullah, kita harus bangga bahwa disini kita juga punya penjaga negara yang setia. Angkat cangkirnya..

MOVE ON DONG, BANG

Move On
Move On
"Kenapa gak move on dari pilkada DKI sih, bang?". Tanya seorang teman yang dulu juga sama-sama mendukung Ahok. Saya tersenyum. Ah, temanku kamu tidak mengerti.

Sejak lama yang saya awasi adalah gerakan radikalis di negeri ini. Sejak Suriah saya selalu berfikir, bagaimana pola yang akan mereka terapkan di sini nanti?

Dulu mereka memakai isu Sunni-Syiah sama seperti di timur tengah. Mereka membentuk organisasi Aliansi Nasional Anti Syiah atau ANNAS yang pusatnya di Bandung, di Masjid Cidjagra.
Tapi sayangnya mereka salah.

Isu itu tidak berkembang karena memang Indonesia tidak punya sejarah pahit pertempuran sunni-syiah. Indonesia punya pengalaman pahit di bentrokan agama. Karena itu mereka memulainya dengan peristiwa Tolikara dan lanjut Singkil, untuk membenturkan dua agama besar di Indonesia.

Selain itu Poso juga. Dengan memainkan isu bahwa teroris yg ditembak mati adalah syahid, mereka ingin mengorek kembali luka lama disana.

Kembali tidak berhasil karena ternyata umat beragama di luar Jawa jauh lebih dewasa.

Akhirnya mereka menemukan momentum di pilkada Jakarta. Dan kita melihat bagaimana pola yang mereka lakukan, mirip dengan pola di Suriah. Maenkan isu lama Cina vs Pribumi, Muslim vs Kristen dan PKI.

Menelaah apa yang terjadi di Jakarta itu penting, karena itu sebagai pelajaran untuk mengetahui langkah mereka selanjutnya di Jabar dan Pilpres 2019 nanti. Dengan begitu, kita bisa mengetahui pola pikir mereka dan memainkan langkah yang strategis untuk menghadang mereka.

Jadi, ini bukan hanya sekedar Jakarta. Jakarta hanya satu poin saja dan sebagai satu catatan menarik bahwa ternyata kita masih punya lubang disana sini yang perlu ditambal.

Saya tidak merasa kalah ketika melihat Ahok kalah, karena ternyata kekalahan Ahok malah membuka banyak ilmu dan strategi yang mereka bisa menangkan di daerah.

Saya malah merasa maju karena mendapat pelajaran baru, hal yang selama ini tidak terpikirkan. Saya sedang menyusun benang-benang merahnya. Beradu cantik dengan pemikir-pemikir strategis mereka.

Kalau masalah move on, saya emang kurang suka. Saya juga gak tahu itu lagu siapa. Yang saya tahu lagu, "I've got the move like Jagger.. I've got the move like Jagger..." . Siulan sambil seruput kopi sama Maroon 5..

PAPAN CATUR PUN DIATUR KEMBALI

Catur
Papan Catur
Bayangkan kita ada di luar stadion sepakbola yang di dalamnya penuh manusia. Kita diluar stadion bersama ribuan manusia lain, ingin masuk tapi tidak bisa. Pintu ditutup dan kita terjepit bersama banyak manusia lain.

Apa yang harus dilakukan ?

Buka pintunya supaya tercipta ruang baru. Kalau tidak, akan banyak korban terjepit karena ia didesak dari belakang oleh lautan manusia dan didepannya ada tembok besar yang menghalang..
Begitulah cara mengamati bagaimana politik terjadi belakangan ini.

Gelombang demonstrasi yang dibiayai lawan, menemukan momentum ketika sang calon dituding menghina agama. Ribuan manusia dan puluhan miliar digelontorkan demi menggoyang Jakarta. Tujuannya, Jakarta goyang maka Indonesia juga akan goyang pula.

Menarik melihat strategi pemerintah menangani situasi ini. Ini situasi berbahaya. Jika dihantam, maka yang terjadi mereka akan semakin berkibar dengan tagar #Umat Islam melawan kezaliman.

Cara yang cantik adalah bermain buka tutup supaya tidak terjadi sumbatan. Calon dinyatakan tersangka, supaya tidak ada alasan mereka menuduh pusat memainkan hukum ketika Polri ada di bawah kendalinya.

Di pengadilan dibuka seluas-luasnya dagelan politik yang dimainkan antara jaksa dan saksi. Semua orang bisa melihat saksi tidak kredible dan tidak punya bukti2, bahkan mereka juga sesungguhnya bukan saksi mata di tempat kejadian perkara.

Di tempat lain, aksi demonstrasi dipecah dengan memainkan perang dua sisi. Mendekati musuh yang satu, supaya musuh lain iri. Ketika satu sudah melemah, maka peta perangpun semakin jelas arahnya kemana.

Politik itu dinamis. Strategi sangat bisa berubah tergantung situasi dan kondisi. Ketika ternyata bahwa - meski gelombang sudah dipecah - tetapi masih sangat kuat, maka dibuka satu pintu lagi. "Lepas barang itu, kalau tidak kapal ini hancur.." terdengar teriakan dari dalam

Bagaimana caranya ?

Caranya seperti memadamkan api pada kebakaran di ladang minyak. Bukan dengan air, tetapi dengan ledakan yang diperkuat. Gelombang yang sudah besar itu disusupi dan didorong untuk semakin besar lagi. Isu diperkuat dengan isu lagi, "Jangan pilih dia, nanti Jakarta bakal terbakar lebih parah.."

Hasil dari kekuatan yang ditambah itu menjadikan gelombang mendapatkan ruang yang diinginkan. Seperti membuka pintu selebar-lebarnya dan memberikan apa yang mereka maui. "Lu mau daging, makan tuh daging.."

Maka ketika daging didapat, gelombang mulai mereda. Sebagian dari mereka lalu fokus berebut daging yang mereka incar sejak lama.

Tanpa sadar, di belakang mereka - yang ingin Indonesia rusuh - mencak-mencak. Ada orang2 yang tidak perduli daging, mereka hanya ingin mendapat momentum supaya membuat rusuh negeri ini. Dengan begitu, mereka akan memainkan skenario mereka sendiri.

Keinginan sebagian orang di belakang layar yang ingin memainkan momentum penista agama itu, kandas sudah. Momentumnya sudah hilang. Mereka tidak menyangka bahwa akan mendapatkan kursi dengan begitu mudah, yang sebenarnya bukan tujuan utama. Tujuan mereka hanya satu, Indonesia khilafah.

Posisi menjadi seri. Bidak-bidak disusun kembali. Model serangan berganti, karena kali ini target bukan lagi "aseng" tetapi sesama "muslim dan pribumi". Oke, strategi kali ini adalah isu PKI.

Ini cerita fiksi. Kalau ada kesamaan tokoh, tempat dan peristiwa mohon diampuni. Jangan dipercaya, karena saya hanya mengarang sambil seruput kopi. Ah.. nikmatnya kopi ini.

BELAJAR DARI KEKALAHAN AHOK

Politik
Ahok
Saya masih ingat dulu ada ajang adu vokal pertama kali di Indosiar. Namanya Akademi Fantasi. Meskipun judulnya adu vokal, tetapi latar belakang pesertapun dijadikan bahan. Dan akhirnya kita melihat bahwa yang menang -berdasarkan voting penonton- ternyata bukan karena kualitas vokal, tetapi karena kasihan melihat latar belakang pemenang yang anak tukang becak.

Begitu banyak tayangan baik itu sinetron dan ajang adu-aduan yang lebih mengandalkan jualan emosi daripada rasionalitas. Dan selama puluhan tahun kita dicekoki oleh tayangan yang mengaduk emosi mulai dari ketakutan lewat film kuntilanak dan airmata yang terkuras seorang ibu yang dizolimi anak kandung.

Pengaruh itu terasa sampai sekarang..

Dan dari semua perkiraan kenapa Ahok kalah, buat saya perkiraan inilah yang terbaik. Bahwa pemilih di Jakarta, seberapapun modern-nya ia sehari-hari, tetap saja ia adalah penonton sinetron ala Raam Punjabi.

Ada yang tidak memilih karena terpengaruh tidak seiman. Ada yang tidak memilih karena terpengaruh penistaan agama. Bahkan di kalangan Chinese perkotaan yang mapan, banyak yang tidak memilih karena ditakut-takuti akan terulang lagi peristiwa 98.

Politik kita masih politik emosional, bukan rasional. Itulah kenapa seberapa bagusnya pun jualan program yang menaikkan tingkat kepuasan terhadap kinerja seorang Ahok, tidak mempengaruhi tingkat elektabilitas atau keterpilihan dia. Ahok tidak terpilih karena emosional bukan rasional.

Kekalahan Ahok mirip dengan kekalahan Hillary Clinton yang lebih jualan rasionalitas daripada emosional seperti Trump. Trump berhasil menang karena menjanjikan menaikkan kembali kebanggaan dan kepemilikan Amerika hanya untuk orang Amerika.

Disinilah celah yang dilupakan banyak orang, bahkan tidak terpikirkan. Kita masih belum sampai pada taraf jualan keberhasilan program-program. Ahok boleh populer, tetapi tidak menjamin ia dipilih karena ia tidak mampu menjual emosi.

Timses Ahok yang banyak berasal dari kalangan perkotaan dan terpelajar belum mampu turun ke bawah dan menggali sisi emosional pemilih dengan tingkat pendidikan yang rata-rata. Kalaupun akhirnya mereka sadar, seperti saat mencoba menaikkan Djarot untuk menggali emosi, sudah terlambat karena orang sudah punya keputusan untuk memilih.

Dan model ini juga yang banyak diterapkan di banyak pemilihan kepala daerah. Tinggal survey apa yang dibutuhkan mereka, dan gali sisi emosionalnya. Makanya banyak kepala daerah yang terpilih bukan karena kapasitasnya tetapi karena mampu bermain di sisi emosional pemilihnya.
Ini juga akan berlaku di pilpres 2019 nanti...

Dulu - di 2014 - Jokowi dan Prabowo memainkan sisi emosional pemilihnya. Jokowi sebagai seorang yang bukan siapa-siapa melawan Prabowo yang ada apa-apanya. Dan menangnya Jokowi karena ia mewakili banyak orang yang bukan siapa-siapa dan mengharapkan akan membela mereka. Emosi kalangan "bukan siapa-siapa" ini berbaur dengan emosi mereka yang ingin perubahan secepatnya.

Meski begitu, Jokowi mesti berhati-hati di 2019 nanti, karena ia sekarang bukan lagi orang yang "bukan siapa-siapa".

Belajar dari kasus Ahok, Jokowi akan sulit jika hanya jualan program apa yang sudah dibangunnya. Ia akan diserang oleh lawan dengan membangkitkan sisi emosional masyarakat kelas bawah yang ketakutan akan bangkitnya PKI, meski buat kita yang rasional PKI itu sudah mati.

Strategi membangun emosi para pemilih Jokowi harus dirancang mulai sekarang. Jangan kebanyakan nonton film Hollywood, sekali-sekali orang dibelakang Jokowi harus nonton sinetron Indonesia biar tahu bagaimana suksesnya mereka menaikkan rating dengan modal hanya jualan emosi saja.

Bahkan televisi sekelas TV One yang dulu jualan berita, gak kuat bertahan sehingga harus melacurkan diri untuk jualan sinetron yang murah meriah yang penting banyak airmatanya.

Ya, mungkin dibangun cerita dimana Jokowi sakit kanker serviks sehingga tubuhnya yang dulu gemuk menjadi kurus kering dan akhirnya sembuh dengan kegigihannya. Atau Jokowi pernah dipenjara ketika ia terpaksa mencuri hanya karena supaya dapat makan sehari dan mengasuh ibunya yang terbaring di rumah tak berdaya.

Menggelikan ya? Tapi, masih begitulah kualitas masyarakat kita. Meskipun buat kita yang rasional ini model-model begitu menggelikan, tapi -apa mau dikata- model gituan yang laku dan ratingnya tinggi.

Sambil seruput kopi saya geli sendiri membayangkan Ahok yang kaku itu tiba-tiba harus berperan menjadi tukang sayur untuk meraih simpati para pemilih.


Kok saya jadi ingat mantan Jenderal yang dulu bareng pak Hari saat Pilpres tiba-tiba muncul jadi satpam dan tukang becak ya? Kalau itu memang terlalu nggilani. Penonton sinetron pun pasti pindah channel kalau tayangan begituan diulang lagi.

KETIKA IBLIS BERAGAMA

Agama
Iblis
Ada pertanyaan menarik di inbox dari seorang teman yang beragama Kristen. "Kenapa banyak orang yang senang meneriakkan AllahuAkbar -Tuhan Maha Besar- tetapi dengan perilaku yang jauh dari kebesaran Tuhan?".

Agak susah menjelaskannya karena banyak faktor. Tetapi saya teringat hadis dari Nabi Muhammad Saw, "Tidak akan masuk surga seseorang yang mempunyai kesombongan dalam hatinya walau sebesar biji zarah pun.."

Sombong itu adalah benih dari segala macam kejahatan di dunia. Sombong adalah pakaian iblis yang membuatnya dikutuk karena merasa lebih sempurna dari Nabi Adam as.

Iblis merasa bahwa dalam konsep tauhid, ialah yang paling dekat, paling taat, paling kuat beribadah dibandingkan Adam. Lalu kenapa ia harus tunduk kepadanya?

Jadi, iblis juga punya hak untuk meneriakkan nama Tuhan Maha Besar, sekencang-kencangnya. Karena ia memang merasa lebih dekat dengan Tuhan. Dan iblis juga merasa berhak menghakimi karena tidak ada yang lebih dekat kepada Tuhan selain darinya.

Saya lalu menjawab sambil tidak lupa menyeruput secangkir kopi yang sudah mendingin. "Seperti halnya pelajaran, keimanan itu juga ada fasenya. Ada bab awal, bab menengah dan bab yang paling tinggi.

Tingginya keimanan seseorang, berbanding lurus dengan ilmu agama yang dimilikinya. Pada level keilmuan yang tinggi, seseorang akan merasa bahwa sebenarnya ia tidaklah eksis, yang eksis itu adalah Tuhan dalam dirinya. Semakin ia merasa tidak ada, ia akan semakin merendah dan keakuannya akan semakin terkubur dalam bumi.

Beda dengan mereka yang baru belajar agama...

Banyak tipikal manusia yang baru sedikit belajar, sudah merasa paling suci di dunia. Ketidak-sempurnaan kesadarannya diakibatkan ia mengedepankan sombongnya. Dan semakin ia ingin tampak beriman di mata orang lain, teriakan Tuhan Maha Besarnya semakin kencang...

Jadi, bahayanya beragama dengan kesadaran separuh, seperti gelas yang berisi air tidak penuh. Labil dan mudah jatuh. Mereka merasa cukup ilmu agamanya dengan banyaknya ritual yang sebenarnya menjadi tidak ada artinya. Karena agama itu bersifat spiritual, penuh makna di dalam ajarannya..

Tingkatan ritual dan spiritual itu seperti OB dan Manager dalam perusahaan. Karena itu Tuhan selalu bernada perintah dalam Alquran, supaya yang OB paham. Kalau yang level Manager mah menjalankan ritual bukan karena perintah atau suruhan, tetapi sudah menjadi bagian dari kebutuhan dasar..

Dari sini kita bisa melihat bahwa beragama sendiri bukanlah perkara mudah. Seperti iblis, ia secara ritual boleh diacungi jempol. Tetapi pada level spiritual ia nothing. Makanya ia menjadi sombong dengan ritualnya yang sebenarnya tidak ada apa-apanya..

Iblis itu ibadahnya di level OB sepanjang adanya dirinya..." Aku menutup jawabanku.
Diam sejenak, kemudian temanku mengetik pertanyaan baru, "Jadi yang suka tereak-tereak Tuhan Maha Besar di jalan-jalan itu levelnya OB?".


Aku ke warung dulu, kebetulan rokokku habis. Bahaya kalau tidak ada teman kopi ini...

Sabtu, 22 April 2017

ORANG-ORANG SUPER KAYA

Kaya
Orang Kaya
Baru-baru ini saya berjumpa dengan orang-orang terkaya di negeri ini.

Mereka mengundang saya sekedar untuk mendengar penjelasan bagaimana analisa saya terhadap situasi negeri ini ke depannya nanti.

Bukan kekayaan mereka yang membuat saya takjub - karena saya tidak pernah takjub dengan materi - tetapi justru kesederhanaan mereka. Pakaian mereka tidak lebih bagus dari apa yang saya pakai.

Dan - menariknya - mereka mampu menghargai saya yang sama sekali bukan apa-apa dalam masalah materi jika dibandingkan dengan mereka. Seperti buih di lautan...

Saya tidak diundang ke rumah, tetapi ke kantor mereka. Kebetulan memang saya diundang makan siang bersama di sana. Kantor mereka tidak lebih bagus dari kantor2 yang pernah saya kunjungi. Model kantor lama. Ini diluar perkiraan saya mengingat nama besar mereka ketika nangkring di majalah yang selalu kepo dengan kekayaan seseorang, Forbes.

Di satu lantai yang dekat dengan kantor Direksi, saya melihat ada kantin disana dengan riuhnya para karyawan mereka. Saya bertanya, "Kenapa kok kantin ada dekat ruang Direksi ? Biasanya kantin karyawan ada di lantai bawah atau basement..".

Salah seorang "pangeran" yang sangat rendah hati meski masih muda, dengan senyum berkata, "Disini kami memang terbiasa makan bersama tidak membedakan pangkat dan jabatan. Dan itu bukan kantin, itu memang tempat makan siang dengan gaya kantin..". Ugh, menarik sekali bagaimana mereka memposisikan diri sebagai pemilik dengan para karyawannya.

Makan siangpun tidak istimewa - jika diukur dari besarnya kekayaan mereka. Sayur asem dan pecel. Yang agak mewah sedikit ada gule ayam padang disana kesukaan saya. Tidak ada lobster seperti yang biasa dimakan anggota DPRD DKI sebelum Ahok menjabat.

Selama perbincangan mereka banyak mendengar. Kemampuan mereka untuk menjadi pendengar sungguh mengagumkan. Mereka menyerap ilmu dengan mudah karena menggunakan prinsip air, ilmu tidak akan mengalir ke tempat yang lebih tinggi. Sesudah selesai, mereka bahkan mengantarkan saya ke bawah ke tempat mobil di parkir...

Apa yang bisa dipelajari pada situasi ini?

Pada level orang superkaya, mereka sudah tidak perlu lagi menunjukkan eksistensi materinya. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Mereka sudah membumi dengan sendirinya.

Mereka menemukan tingkat tertinggi nilai materinya dan menemukan kekosongan di dalamnya. Mereka sudah tidak mengukur dirinya dan orang lain. Siapa yang berani mengukur mereka ?

Dalam tingginya puncak materi, mereka menemukan spiritualitas. Mirip seorang ulama yang dengan ketinggian ilmunya, menjadikannya membumi bukan sibuk demo dan memperkaya diri dengan teriakan-teriakan yang membuat ngeri.

Uang buat mereka sangat penting karena itu mereka terus memperbesar jaringannya kemana-mana. Tetapi disana bukan lagi berapa yang ingin mereka capai, karena "berapa" sudah bukan lagi nilai tertinggi. Mereka mengerjakan "apa" yang menarik dan terus mengembangkan insting.

Saya jadi teringat film tentang runtuhnya pasar modal di Amerika karena bubble. Dan disana ada adegan Warren Buffet - salah seorang terkaya di dunia - sedang mengajak jalan cucunya di Mc Donald sambil menerima telpon Presiden. Sungguh kontras pemandangan sebagai orang biasa dibandingkan berapa nilai materi yang dia punya.

Pelajaran berharga tentang nilai saya dapatkan lagi dalam perjalanan hidup yang semakin lama semakin menarik ini.

Dan sambil seruput kopi pagi ini, saya membaca berita bahwa Setnov baru saja membeli pesawat pribadi senilai hampir 700 miliar rupiah.

Memang beda antara orang superkaya dan kayasuper. Kalo kayasuper itu kaya tapi kwalitas super..

Seruputtt.

Jumat, 21 April 2017

ISLAM VS PKI

PKI
FPI
Saya dulu sering bercanda tentang isu kebangkitan PKI di Indonesia. Bahkan ketika Kivlan Zein bicara tentang adanya 15 juta anggota PKI di Indonesia, saya membuat surat terbuka untuknya. Dan seperti biasa saya dicaci maki fans beliau yang saya tanggapi dengan senyum lebar karena saya berfikir, "kok bodoh benar ya percaya gituan.."

Tetapi ketika saya melihat perbincangan banyak grup di bumi datar, saya kaget juga. Isu PKI itu ternyata sangat efektif dan dibangun kembali pelan-pelan. Begitu banyak yang mempercayainya seperti mereka mempercayai agamanya.

Melihat kasus Teten Masduki yang dituding PKI oleh Alfian Tanjung yang dianggap ustad oleh jamaahnya, saya mulai menangkap benang merahnya. Apalagi ditambah politisasi masjid seperti yang terjadi di Jakarta baru-baru ini.

Islam Indonesia di daerah-daerah adalah Islam kultural. Meskipun diikat dalam bentuk struktrural atau organisasi, tapi pada dasarnya umat Islam yang aktif dalam pengajian maupun majelis-majelis cenderung taklid pada ulama dan ustadnya.

Dan belajar dari kasus keberhasilan menguasai umat melalui masjid dan ulamanya disana, saya melihat bahwa isu PKI kembali dihembuskan dan diperkuat doktrinnya.

Pertanyaannya, kemana isu ini akan dihantamkan?

Pola yang sama bisa kita lihat di Suriah.

Isu bahwa Bashar Assad Presiden Suriah adalah syiah yang membantai rakyatnya sendiri dimulai dari masjid-masjid dan tempat berkumpulnya umat. Semakin lama isu ini semakin gencar dengan bumbu yang makin kental dan masuk ke tentara. Tentara terpengaruh dan terpecah dua. Sebagian dari mereka desersi -bahkan sahabat Assad sendiri yang mempunyai jabatan tinggi- dan bergabung dalam kelompok perlawanan.

Isu PKI ini -yang sedang diperkuat sana sini- akan melanjutkan isu penistaan agama. Hanya kali ini sasarannya adalah Jokowi. Meskipun sempat reda, isu ini kembali di perkuat lagi karena dipercaya akan mengulang kesuksesan yang sama ketika menghadapi penista agama.

Para lawan Jokowi akan menbalut dirinya dengan kata "Islam". Belajar dari sejarah bahwa dulu umat Islam yang diprakarsai NU berada di barisan paling depan melawan PKI, maka mereka memanfaatkan situasi itu.

Salah satu partai yang akan terkena dampak dari isu ini adalah PDIP. Jabar akan menjadi ujian yang keras buat PDIP dan siapapun yang dicalonkannya.

Sayangnya, PDIP selalu terlambat mengantisipasi sesuatu yang sebenarnya mudah dideteksi. Mungkin ini akibat partai terlalu gemuk dan sedang berada di pucuk kekuasaan sehingga lamban bergerak dan memutuskan.

Isu Islam vs PKI ini kemungkinan akan membesar. Bermula di Jawa Barat sebagai "basis perjuangan Islam" dan meluas ke pusat saat Pilpres 2019. Model intimidasi, masjid di politisasi akan kita temui kembali saat Indonesia menyelenggarakan pemilu nantinya.

Kenapa model ini akan kembali diadopsi? Karena di Jakarta mereka sukses dan menang..

Ada tiga kelompok yang memanfaatkan isu Islam vs PKI ini.

Pertama, para mafia yang selama ini kehilangan dapur gara-gara Jokowi yang membuat mereka gemuk gak keruan.

Kedua, politikus ambisius yang rakus dan tamak akan jabatan.

Dan terakhir, ini yang paling ngeri. Kelompok ini akan menunggangi dana dari mafia dan ambisiusnya politikus untuk meluncurkan agenda sebenarnya yaitu khilafah.

Para pengusung khilafah ini tidak penting siapa yang akan jadi pemimpin. Buat mereka ketika negara bentrok akibat perebutan kekuasaan saja, itu sudah sukses besar dan memuluskan agenda mereka sebenarnya.

Kelompok yang mengatas-namakan agendanya sebagai "perjuangan Islam" ini akan kembali meneriakkan konsep perang Badar dan model Islami lainnya. Mereka sudah memetakan musuh yang mereka bangun sendiri ,yaitu PKI dan akan dihantamkan kepada Jokowi supaya kredibilitasnya hancur saat pemilu nanti.

Sebelum Pemilu 2019, kita akan melihat konsolidasi mereka di masjid2 dengan ormas2 yang dibiayai dari APBD. Dan dari hasil konsolidasi ini akan diarahkan untuk demo-demo lanjutan yang diarahkan ke Jokowi.

Analisa ini memang ngeri. Tapi belajar dari Suriah, situasi ini bisa saja terjadi. Dan kita melihat apa yang sudah mereka lakukan saat pilkada DKI sebagai contoh apa yang akan mereka lakukan nanti.

Coba sekali-kali bicara sama sekelompok orang bodoh dalam jumlah besar, apa pendapat mereka tentang bangkitnya PKI di Indonesia? Lihat ngerinya pandangan radikal mereka akibat doktrin karena ketidak-tahuan. Mereka yakin sekali bahwa mereka akan berjihad untuk membebaskan negeri ini.


Sejak kemenangan garis keras di DKI, kopi saya pahit sekali. Ini akan menjadi pilpres terkeras yang akan kita lalui.

PAK JK, MARI SERUPUT KOPI PAHIT DENGAN SAYA

Politik
Pak JK
Bantahan pak Jusuf Kalla terhadap media asing yang memuat tulisan bahwa Jakarta dimenangkan oleh Islam garis keras atau radikal, jadi aneh buat saya.

Pak JK seperti menutup mata bahwa meskipun pemilihannya demokratis, tetapi cara-cara menujunya sangat tidak demokratis.

Apakah demo berangka dengan mengerahkan ribuan massa dari luar daerah ke Jakarta itu bukan perbuatan radikal? Apakah tidak menshalatkan jenazah bagi pemilih berbeda itu bukan tindakan radikal? Atau ceramah-ceramah bernada keras memaksa dan memaki dalam shalat Jumat itu tidak masuk dalam kategori radikal?

Saya sendiri tidak bisa menemukan kata yang tepat selain Islam Radikal. "Islam" karena baju yang dipakainya memang agama. Dan "Radikal" karena cara-caranya yang cenderung keras, kasar dan menghalalkan segala cara untuk menang.

Buat saya, apa yang ditulis media asing bahwa Jakarta dimenangkan oleh Islam garis keraa, sebenarnya adalah bentuk kewaspadaan mereka. Ada ketakutan bahwa apa yang terjadi di Jakarta akan berdampak meluas ke seluruh Indonesia. Dan ini lampu kuning untuk pemerintahan negara tetangga semisal Malaysia, Singapura dan Australia.

Jadi melihat apa yang terjadi di Jakarta sebenarnya sedang melihat apa yang kelak akan terjadi di Indonesia.

Konsep khilafah -atau menjadikan Indonesia bersyariah- tidak lagi menjadi tren untuk digaungkan di jalan-jalan. Tapi cukup dengan menunggangi tokoh politik yang ambisius dan menghalalkan segala cara supaya memenangkan pemilihan.

Sesudah berkuasa, baru disanalah mereka mengontrol pemimpin yang takut kehilangan suara. Mereka akan mendoktrin dan memaksakan kehendak sekaligus dibangun setahap demi setahap konsep khilafah atau menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.

Jadi ketika pak JK membantah liputan media asing bahwa Jakarta dimenangkan oleh Islam Radikal, itu malah meremehkan apa yang sedang terjadi sekarang. Gelombang ini sedang menuju kesana.

Ini bukan permasalahan Ahok menang atau kalah, karena kalah menang itu biasa. Tetapi bagaimana proses kemenangannya dilakukan dengan cara kekerasan dan penuh intimidasi dengan baju agama. Apa masih kurang terbuka mata ketika melihat pembaiatan pake Alquran dan golok yang diacungkan?

Pak JK harusnya sadar, gerakan yang sama akan mereka ulangi pada Pilpres 2019 nanti. Tujuan mereka mendongkel Jokowi karena tidak mau kompromi dengan mereka. Hanya isu yang dipakai bukan lagi "Islam vs Penista Agama", tetapi lebih luas dan lebih kasar, ISLAM VS PKI.

Mungkin bagi sebagian orang tidak sadar akan hal ini, mereka melihat hal ini hanya pada masalah kemenangan atas kekuasaan. Bagi sebagian besar lainnya, mereka terpedaya oleh kata "perjuangan umat Islam". Mereka bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang memegang dan memainkan bola api yang kelak akan membakar mereka sendiri...

Pak JK mungkin tidak sadar ini - atau memang sengaja menutup mata?

Mungkin seharusnya pak JK dan banyak lagi lainnya belajar membaca peta politik global bagaimana pola dan proses yang mereka lakukan di banyak negara di dunia untuk menguasai wilayah.
Masih kurang apa pelajaran dari Libya, Mesir, Irak dan Suriah? Atau kita harus tambah nama INDONESIA dalam catatan sejarah dunia?

Coba seruput secangkir kopi pahit dulu, pak JK. Karena pahit itu biasanya membukakan pandangan yang buta.


Kita sedang menuju kesana, akui itu dengan gagah dan pikirkan bagaimana cara yang terbaik untuk melawan mereka daripada bersikeras mengingkari situasi yang ada.

SEJARAH YANG SELALU BERULANG

Sejarah
Khawarij
Dalam sejarah Islam, sangat banyak peristiwa yang mengajarkan bagaimana manusia menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan..

Peristiwa itu juga terjadi pada masa kekhalifahan Imam Ali bin abu thalib.
Imam Ali dipaksa untuk menduduki kursi khalifah oleh masyarakat, sesudah kematian khalifah ke tiga Utsman bin Affan. Karena tidak mempunyai pilihan dan untuk menjaga kestabilan, Imam Ali akhirnya menerima permintaan itu.

Pasca menjadi khalifah, serangan datang bertubi-tubi. Salah satunya datang dari Muawiyah bin abu Sufyan.

Muawiyah sangat bernafsu untuk menjadi khalifah karena itu berarti menguasai umat Islam. Lebih dari itu, Muawiyah ingin membuat dinasti bagi diri dan keluarganya. Maka ia dengan pasukannya pun menyerang Imam Ali dan perang sesama umat muslim itu dikenal dgn nama perang Shiffin.

Imam Ali terkenal jago perang sehingga akhirnya bisa mematahkan serangan Muawiyah. Meski begitu Muawiyah ini terkenal licik dan licin.

Muawiyah tahu bahwa di barisan pasukan Imam Ali ada kelompok khawarij. Kaum khawarij ini adalah mereka yang menjalankan ritual agama sangat kuat bahkan fanatik. Ketika hampir terpojok, pasukan Muawiyah kemudian menancapkan Alquran di ujung tombak.

Maka ributlah para khawarij dan menuntut Imam Ali untuk berunding dengan Muawiyah karena ia "memakai Alquran". Imam Ali sudah mengingatkan bahwa itu hanya taktik saja ketika mereka diambang kekalahan tapi mereka tidak perduli. Kita mengenal situasi sekarang ini dengan kata "dibohongi pakai Alquran".

Akhirnya demi menjaga stabilitas di pasukannya, Imam Ali mau berunding dengan kelompok Muawiyah. Tetapi Muawiyah tahu bahwa ia sudah berhasil menjebak situasi persis seperti yang diinginkannya. Maka ia kembali mempengaruhi kaum Khawarij untuk memberontak kepada Imam Ali.

Imam Ali akhirnya syahid sesudah dibunuh pada saat shalat subuh oleh salah seorang khawarij itu. Dengan demikian kekhalifahan diserahkan pada anak tertua beliau yaitu Hassan bin Ali.

Muawiyah semakin berang. Ia kemudian mengintimidasi banyak orang bahwa siapapun yang mengangkat Imam Hassan sebagai khalifah akan dibunuh semua. Intimidasi Muawiyah ini mengakibatkan ketakutan di banyak orang.

Akhirnya demi menghindari perang yang lebih besar dan untuk menyelamatkan nyawa banyak orang supaya tidak sia-sia, maka Imam Hassan pun mengadakan perjanjian damai dan menyerahkan kekhalifahan pada Muawiyah. Imam Hassan kemudian diracun oleh suruhan Muawiyah supaya tidak ada yang menggugat kekuasaannya.

Belum selesai, pada masa Muawiyah mundur karena usia dan menyerahkan kekhalifahan pada Yazid anaknya, ia memerintahkan anaknya untuk membunuh Husein bin Ali anak kedua Imam Ali -adik Imam Hassan- dan terkenal dengan tragedi Karbala dimana Imam Hussein dengan 72 keluarganya dibantai oleh puluhan ribu pasukan Yazid di padang Karbala.

Dari sejarah kita belajar bahwa kekuasaan dunia itu bagi sebagian orang sangat manis sehingga harus diperoleh dengan segala cara.

Sejarah dari perang Shiffin ini kita melihat ada beberapa faktor yang selalu berulang yaitu menggunakan agama sebagai alat dan intimidasi untuk mencapai tujuan. Sudah tidak ada cara yang elegan dan terhormat dalam menduduki jabatan.

Sejarah seperti ini akan terus berulang dalam waktu dan tempat yang berbeda. Dan situasi seperti inilah yang akan memisah manusia, mana yang masuk golongan munafik dan mana yang bukan.
Seruput kopi dulu sebelum Jumatan. Shalat Jumat sudah mulai adem sekarang, karena tujuan mereka sudah tercapai. Sekarang para takmir sudah bicara tentang mimpi indahnya surga. Yang sedang sekarat pun lega, karena mereka akan dishalatkan sekarang...

ANIES CURANG

Pilkada
Pilkada
Budi sedang apel di rumah pacarnya...

Malam itu angin sedang bertiup kencang dan perut Budi tidak terasa bergolak. "Masuk angin nih kayaknya", pikir Budi. Kebetulan pacarnya sedang di dalam menyiapkan kopi, Budi merasa ia akan kentut keras sekali.

Lirik sana lirik sini, gak ada orang. "Ah, entar kedengaran.." pikirnya. Akhirnya ia punya ide. Diambilnya koran yang ada di meja, dibukanya lebar-lebar dan kebetulan headlinenya tentang pilkada. Lalu untuk menyamarkan kentutnya, ia komentar keras-keras.

"SIAL !! ANIES CURANG !!!" Bersamaan dengan komennya yang keras itu, ditekannya perutnya dan keluarlah jeritan keras dari bawah. Preeeeeett..

Ahh, lega.. Tapi kok, masih ada yang tersisa? Ini harus komen keras lagi untuk tuntaskan, pikir Budi. Lalu ia lanjut membaca koran.

"INI HARUS COBLOS ULANG !! KPUD MANA KPUD ?? KOK GAK BERES GINI SIHHH ??" Pret pret preeeettttt...

Budi terdiam sejenak. Lirik kiri kanan, ah gada orang yang dengar. Ia tersenyum puas. Kali ini tembakan terakhir dan paling keras untuk mengeluarkan angin dalam perutnya.

"JAKARTA BISA KACAU LAGI KALOK BEGINI !! KORUPTOR AKAN PESTA PORA LAGIII !!!" Prepet pet pet preeettt preeettt..

Diakhir dengan letupan kecil tapi panjang. Pieeeeeeeettttt..
Lega, tuntas sudah. Budi tersenyum lebar.

Mendadak ada suara dehem dari ruang dalam. "Ehem.." Budi kaget, lalu mengintip. Waduh, ternyata bapak mertua ada di dalam sedang nonton tipi. Kebetulan bapak mertua melihat kepala Budi melongok ke dalam.

Budi lalu merasa canggung. Ia berusaha menyapa dengan senyum dan bahasa yang disopankan, "Eh, bapak. Saya gak tau ada bapak disini.. Sudah lama, pak?".


Si bapak menjawab dengan ketus, "Sudah dari tadi... Sejak Anies curang.."

SEMUA AKAN TERBALIK PADA WAKTUNYA

Politik
Terbalik
Akhirnya Tuhan bisa istirahat, sesudah capek diseret-seret waktu pilkada.

Akhirnya orang bisa meninggal dengan tenang, karena sudah tidak takut lagi tidak dishalatkan.

Akhirnya para pedagang di tanah abang sumringah, karena bisa lagi jualan di pinggir jalan.

Akhirnya toko komputer gembira, karena ada pengadaan UPS lagi dengan harga yang menjulang.

Akhirnya DPRD bersorak, "horeee bisa kompakan lagi eksekutif ma kita".

Sakit bagi orang lain, bisa jadi kenikmatan bagi mereka yang punya sudut pandang berbeda. 

Mencoba melihat dari sudut pandang kaum bumi datar itu tidak sulit, asal mau susah payah punggung nempel di tembok dengan kepala di bawah dan kaki di langit-langit..

Silahkan di kriuk cangkirnya...

Kamis, 20 April 2017

AHOK MEMANG LEBIH BAIK KALAH

Jokowi
Ahok
"Kamu bayangkan seandainya Ahok menang..." Kata temanku datar.

Aku meresapi aroma kopiku siang ini. Menangisi kekalahan akal sehat yang terintimidasi oleh politisasi ayat dan mayat. Betapa sulitnya menjadi waras ditengah semua kegilaan ini.

"Sesudah Ahok diumumkan menang, ia diputuskan tidak bersalah oleh pengadilan.." Temanku melanjutkan. "Yang terjadi adalah ada alasan bagi lawan politik untuk melancarkan serangan demo berturut-turut yang akan mengguncangkan pemerintahan.."

Kepalaku terangkat tertarik mengikuti pemikiran temanku ini. Kucecap kopi yang sudah mendingin di hadapanku.

"Demo besar itu akan terus dibesarkan skalanya, dengan dana yang dikucurkan dari luar karena kepentingan mereka terganggu. Freeport misalnya.

Isunya adalah People Power. Rakyat menghendaki pemimpin muslim karena sesuai perintah Tuhan. Rakyat yang masih awam dan belum terpelajar, akan turun ke jalan dengan alasan membela ayat Tuhan.

Isu ini akan membesar dan rakyat yang turun ke jalan semakin banyak, dari mana-mana dengan kemudahan transportasi yang sudah dibayarkan oleh pelaksana.

Ekonomi jelas terganggu dan investasi terhambat. Yang terjadi dana dari dalam negeri kembali terbang keluar. Rupiah jatuh drastis dan ratusan miliar rupiah habis hanya untuk biaya pengamanan..
Pada momen tertentu, tentara ikut bergerak. Isunya adalah tentara pecah. Tentara akan mengamankan "amanat rakyat". Presiden dipaksa turun dan keluar dari istana, persis kejadian 2001 saat GusDur harus berpisah dari jabatan.

Dan Presiden pasti akan melakukan hal yang sama, mengingat karakternya yang tidak ingin ada perpecahan. Akhirnya ia turun dan terjadi perpecahan pula di parlemen...

Rakyat di wilayah Tinur yang mayoritas Kristen akan berontak pula karena merasa terjadi cacat dalam demokrasi. Mereka akan menindas muslim minoritas dan mengumumkan tuntutan pemisahan diri dari NKRI. Situasi jauh lebih rumit dari yang diperkirakan.

Bisa saja terjadi benturan akhirnya dengan kekerasan dimana-mana. Akhirnya keadaan darurat diberlakukan dan pasukan keamanan internasional turun dan ikut campur dalam masalah dalam negeri..."

Aku terbelalak mendengarkan prediksi temanku yang begitu liar. Sebuah kemungkinan yang bisa dibilang kecil tetapi kemungkinan tetaplah kemungkinan. Apapun bisa terjadi, terutama ketika melihat apa yang sudah pernah ada melalui demo angka berangka sebelumnya.

"Masyarakat kita belum bisa menerima perbedaan. Terlalu prematur ketika sesuatu yang belum matang dipaksakan keluar. Perpecahan bisa terjadi dengan menunggangi isu sensitif yang terus dipertajam.

Dan mereka yang dulu berkuasa selama puluhan tahun akan keluar dan menjadi pahlawan. Saling gandengan tangan dengan politikus, pejabat dan tentara hitam yang haus kekuasaan. Dan kita kembali memasuki masa kegelapan.."

Kuseruput kopiku dan kubakar rokok yang tinggal sebatang. "Jangan remehkan sekelompok orang bodoh dalam jumlah besar" kata seseorang.

Kita ternyata masih belum matang dan perlu waktu yang lebih lama untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan dan persamaan hak sebagai anak bangsa.

Tuhan punya rencana lain. "Barang" itu sengaja dilepas untuk menjaga stabilitas. Ada hal yang belum tuntas dan perlu perbaikan disana sini sebelum masuk pada wilayah kesadaran.

Aku mulai tersenyum. Terkadang banyak hal yang tidak terpikirkan keluar dari kegelisahan. Kuhirup secangkir kopi yang pahit tetapi di pahit itulah sebenarnya sumber kenikmatan.

TERIMAKASIH AHOK, TERIMAKASIH PAK DJAROT

Djarot
Ahok
Terimakasih Ahok.

Terimakasih sudah menaikkan standar kepemimpinan ke level yang lebih tinggi.
Meski kita baru sadar bahwa belum semua orang mengapresiasi
Tapi anda telah menancapkan banyak inspirasi
Yang akan membuka mata banyak anak di negeri ini
Bahwa menjadi pemimpin itu bukanlah mimpi
Terutama bagi mereka yang terkurung rasa rendah diri
Karena merasa menjadi minoritas di negeri ini..

Terimakasih, pak Djarot..
Terimakasih sudah menampilkan Islam sejuk di negeri ini.
Islam yang selama ini dinista oleh pemeluknya sendiri
Yang bahkan dimainkan dengan beringas melalui mimbar-mimbar masjid
Dan mengolok ayat dan mayat demi kepentingan politik sesaat
Tanpa merasa malu pernah meyakini
Bahwa Nabi Muhammad diturunkan untuk memperbaiki ahlak..

Terimakasih, Ahok..
Terimakasih dari mereka yang selalu menunggumu sejak pagi
Membawa berkas mengadukan ketidak-adilan di kota ini
Bahkan dari luar kota mereka mengadukan ketidakpuasan pada pemimpin daerah mereka sendiri
Terimakasih sudah menaikkan derajat orang miskin
Yang selalu diperebutkan demi suara saat pemilihan pemimpin
Yang tinggal di pinggir kali dan menjadi sasaran mencari uang lewat penelitian lembaga yang katanya perduli
Tetapi mereka sesungguhnya penjual kemiskinan yang hakiki

Terimakasih sudah menempatkan mereka di tempat yang layak
Dengan kulkas dan kompor gas
Dan tempat tidur yang jarang mereka lihat
Bukan ayah dan ibunya yang berterimakasih kelak
Tetapi anak-anak mereka yang berhasil diselamatkan dari pembodohan bahwa kemiskinan itu adalah takdir dari yang Haq..

Terimakasih pak Djarot,
Terimakasih sudah mengajarkan pada kami
Bahwa kelembutan dan kebijaksanaan bapak sangat mengayomi
Senyum dibalik kumis tebal yang sumringah itu
Tidak akan kami nikmati lagi selama beberapa waktu..

Terimakasih Ahok, terimakasih pak Djarot..
Kapan bisa kubawakan lagi secangkir kopi untukmu?
Sambil bercerita tentang bagaimana sebenarnya menduduki jabatan itu
Tanpa terpengaruh oleh rayuan uang dan koneksi
Yang ingin instan mendapatkan kemudahan di kota ini..
Semoga ketidak terpilihan kalian sekarang ini
Menurunkan tensi dari nafsu para serigala yang sangat ingin sekali
Membuat ricuh suasana demi menjatuhkan Jokowi..

Seruput dulu, saya angkat saya punya cangkir kopi..

SURAT CINTA UNTUK NAHDLATUL ULAMA

NU
NU
Pilgub DKI 2017 selesai sudah. Meski belum resmi, tetapi sudah bisa diprediksi bahwa Ahok kalah.

Saya selalu melihat suatu masalah secara global. Begitu juga apa yang terjadi di Jakarta. Apa yang terjadi di Jakarta, kita tahu bahwa ini bukan tentang Ahok vs Anies saja. Tetapi jauh lebih besar dari itu. Ini sebenarnya adalah pertarungan kelompok nasionalis vs radikal.

Saya setuju dengan pandangan Gus Tutut, Ketua DPP GP Anshor Jakarta, "Kami sangat menolak calon gubernur yang didukung Islam radikal dan Islam garis keras".

Meskipun pernyataan itu agak telat, karena baru diucapkan beberapa hari sebelum pemilihan, setidaknya saya bisa melihat NU -dalam hal ini Ansor- sudah bisa mengidentifikasi situasi.

Gerakan-gerakan Ansor di beberapa daerah seperti di Jatim dan Jateng dalam menghalau kelompok Islam garis keras adalah bukti bahwa NU sudah mulai menyadari ada yang salah di negeri ini.

Kalau kita melihat pola gerakan Islam garis keras, disana kita melihat kesamaan. Mereka tidak penting siapa calon pemimpin yang mereka dukung. Tetapi bisa dilihat bahwa mereka selalu ada di belakang calon pemimpin yang tidak berkarakter, lemah dan tidak tegas, kompromistis dan ambisius.
Pada calon pemimpin dengan model seperti itulah mereka berkembang biak karena mudah menungganginya.

Islam garis keras dengan baju HTI, FUI, FPI dan segala macam lainnya itu sebenarnya punya agenda tersendiri. Tujuan jangka panjangnya adalah KHILAFAH.

Tetapi mereka tahu bahwa mereka harus bisa menunggangi situasi dulu, sambil berkembang menyebarkan virusnya kemana-mana. Mereka harus menguasai pemerintahan, parlemen sampai elemen-elemen masyarakat yang tidak mengerti bagaimana agenda mereka sebenarnya.

Dan pada titik tertentu, disaat semuanya tepat, disaat mereka merasa sudah berhasil menguasai banyak wilayah, mereka akan membuka baju mereka.

Cara mereka bisa kita lihat dengan telanjang melalui peristiwa kampanye di Jakarta. Mereka menguasai masjid-masjid baik yang besar dan yang kecil, kelompok-kelompok pengajian, sampai sekolah mulai PAUD dan Universitas dengan menaikkan kebanggaan akan golongan.

Politisasi di semua lini -termasuk di masjid- sudah mewabah begitu kencang. Mereka bahkan berani memainkan ayat dan mayat untuk mencapai tujuannya.

Kemenangan mereka di Jakarta akan menjadi tolak ukur apa yang akan mereka lakukan juga di daerah-daerah selanjutnya dalam ajang pemilihan kepala daerah. Kita nanti akan banyak melihat model-model kampanye seperti di Jakarta, karena dengan begitu mereka memperoleh kemenangan yang nyata.

Mudah sebenarnya melihat mana yang benar dan mana yang salah. Dimana mereka berkumpul, dibalik sosok atau tokoh tertentu, disitulah sebenarnya letak masalah. Dari identifikasi awal ini sebenarnya -kita yang melawan ideologi mereka- harus berada pada posisi yang berseberangan, di lawan mereka.

Tidak mudah melawan mereka, tetapi mudah memancing keberadaan mereka. Pancing emosi mereka. Dan ketika kita dituding kafir, munafik dan sebagainya, berarti kita sudah berada pada posisi yang berseberangan dengan mereka.

Perang dengan mereka tidak perlu mengandalkan fisik karena itu yang mereka mau untuk memperkeruh suasana. Tetapi kita melawan dengan konstitusi, mendukung tokoh dan sosok yang dilawan mereka.

Karena itu, dalam setiap pemilihan kepala daerah selanjutnya, semoga kita bisa belajar dari peristiwa Jakarta. Dan NU -juga elemen-elemen di dalamnya seperti GP Ansor dan Banser- sudah mulai bisa mengidentifikasi diri harus kemana.

Tidak perlu bermain politik praktis, tetapi mendukung pemimpin yang tidak didukung kelompok intoleran adalah perjuangan yang sesungguhnya.

Rebutlah masjid-masjid yang dulu direbut mereka. Satukan barisan dalam satu komando dengan tujuan mempertahankan persatuan dan kesatuan negara. Negeri ini terlalu indah untuk harus diseragamkan dalam konsep khilafah.

NU adalah lapisan terakhir Indonesia yang masih berdiri gagah, meski sekarang di internalnya pun masih bergulat dengan kaum intoleran. Tetaplah moderat dan menjadi acuan bagi seluruh agama di Indonesia.

Karena Islam mayoritas sesungguhnya adalah NU dan bukan mereka..

Semoga secangkir kopi pahit yang tersuguh hari ini menyadarkan bahwa selalu ada makna dalam peristiwa yang diberikan Tuhan kepada kita.


Seruput..

Rabu, 19 April 2017

SELAMAT DATANG KEMBALI DI JAKARTA

Ibukota
Jakarta
Jakarta, mari kita ucapkan selamat datang lagi kepada,

1. Sweeping rumah makan saat Ramadhan

2. Melimpahnya keuangan ormas dan kegiatan-kegiatan intoleran

3. Saluran APBD yang tidak sesuai peruntukan.

4. Matinya taman-taman bagus yang sudah tertata menawan

5. Kembalinya pedagang tanah abang yang akan menyempitkan jalan.

6. Rusaknya rusun yang sudah dibangun dan tidak terpelihara dengan baik bahkan di perjual belikan

7. Hilangnya antrian sejak pagi di balaikota oleh masyarakat yang mengadu karena ketidak-adilan

8. PNS malas yang mudah mendapat jabatan dengan modal setoran

9. Dikuasainya parkir kembali oleh preman jalanan

10. Pembangunan infrastruktur yang tersendat untuk melemahkan kepercayaan masyarakat pada pusat

11. Kembalinya mantan Gubernur Fakhrurozzi dari tempat persembunyian.

12. Senyum lebar Fahri Hamzah, Fadli Zon, Ratna Sarumpaet dan Ahmad Dhani yang mengesalkan.

Semoga kopiku tetap pahit rasanya dan tidak memuakkan karena janji yang kemanisan..

ABU-ABU

Politik
Ridwan Kamil
Jujur saja, ini salah satu hal yang membuat saya kurang sreg dengan Ridwan Kamil..

Disaat pihak kepolisian sedang sibuk menahan gelombang massa dari Jawa Barat supaya tidak masuk Jakarta karena berpotensi keributan, seharusnya Kepala Daerah ikut membantu dengan menghimbau larangan yang sama dan bekerjasama dgn Kepolisian untuk mencegahnya.

Kang Emil ini kakinya masih dua, satu di kalangan nasionalis dan satunya lagi masih menapak radikalis.


Saya ragu, apa bisa beliau ini nanti kuat memimpin Jabar yang terkenal intoleran itu ya ? Jangan-jangan malah dikuasai mereka lagi..