Sabtu, 19 Agustus 2017

BELAJAR PADA SECANGKIR KOPI

Nilai
Nilai
"Berapa bayarannya, bang?"

Tiba-tiba saya tersentak. Ada perasaan campur aduk yang bergolak di dada. Entah ini rasa apa, kopi, teh atau susu-kah..

Temanku menghubungi aku untuk meminta pekerjaan. Dia sudah lama menganggur dan tidak jelas apa yang dia kerjakan. Semakin lama usianya bertambah menuntut dia untuk menghasilkan. Tanpa punya banyak pengalaman, tanpa spesialisasi apalagi jaringan.

Saya mengundang dia untuk sekedar minum kopi di warung. Ada rasa kasihan dan keinginan untuk menariknya keatas supaya dia bisa memperbaiki ekonomi dan martabat dirinya.

Tetapi apa yang saya dapat membuat saya terhenyak, ia yang duluan bertanya bayaran untuknya berapa.

Pada waktu dulu awal mencari kerja, saya adalah orang yang sangat tahu diri. Saya melamar ke sebuah perusahaan. Saya sibuk mencari pekerjaan, bukan meminta-minta kepada orang yang saya kenal.

Karena memposisikan diri sebagai pencari, maka saya tidak memperdulikan berapa yang saya dapat setiap bulan. Saya selalu menyerahkan semua kepada pemilik perusahaan. "Berapa saya layak diberikan..." begitu jawab saya ketika ditanya mau dapat gaji berapa per bulan.

Saya adalah pembeli pengalaman. Buat saya kerja itu eksistensi, bukan uang. Uang adalah dampak dari apa yang kita hasilkan. Semakin kita matang, tentu ada harapan supaya penghasilan berkembang.
Dan ketika perusahaan tidak mampu atau tidak mau menghargai kelayakan sesuai perkembangan kita, baik dari sisi posisi maupun pendapatan, maka lebih baik keluar dan mencari tantangan yang lebih tinggi.

Sekali lagi, yang dicari tantangan. Uang mengikuti..

Saya tidak merasa rugi, karena sebenarnya saya membeli pengalaman dari tempat bekerja. Karena proses itu tidak instan - hitung hitung sekolah gratis tapi di bayar.
Lalu ketika teman saya yang sedang menganggur, butuh eksistensi ini bertanya, "Berapa saya dibayar?" 

Entah kenapa saya merasa sedih. Ada orang yang mengukur dirinya dengan uang. Dia menciptakan ukurannya sendiri bukan berdasarkan apa kebutuhannya, tetapi berdasarkan keinginannya.

Ia melihat dari pandangan dirinya pribadi, bukan dari pandangan orang lain yang ingin menerimanya.
Ketika saya sudah diundang kesana kemari untuk menjadi pembicara, selalu pengundang bertanya, 

"Berapa saya harus bayar abang ?" Saya suka tersenyum ketika saya berada di fase orang yang menghargai berapa dan bukan saya yang menghargai harga saya berapa.

Dan sampai sekarang pun saya tidak pernah menetapkan harga saya berapa. Karena uang bukan ukuran. Saya yakin rejeki datang dari mana saja ketika kita tidak mengukur diri sendiri. Biar Tuhan menentukan berapa harga kita sebenarnya, dan jelas jauh lebih besar dari ukuran manusia.

Ternyata prinsip saya itu benar adanya.

Rejeki malah bukan datang dari jadi pembicara, tetapi datang karena kepercayaan dari banyaknya teman yang melihat uang bukan segalanya bagi saya.

Banyak tawaran kerjasama yang jauh lebih besar nilainya. Saya merasa menjadi manusia yang dinilai berdasarkan apa yang saya miliki daripada angka yang saya tetapkan. Saya punya nilai, bukan punya harga...

Kuseruput kopiku dan kusenyumi teman di hadapanku. "Nanti kuhubungi kalau saya butuh kamu, ya..." Dia terlihat kecewa karena merasa itu penolakan halus baginya. Biarlah, setidaknya itu bisa menjadi pembelajaran baginya supaya dia berpikir dan mulai melihat nilai dari dirinya bukan berapa harga dirinya.

Begitu banyak kegagalan yang terjadi dalam kehidupan manusia bukan karena peluang itu tidak ada, tetapi karena manusia itu yang menggagalkannya. Dan menariknya - ketika manusia gagal, ia cenderung menyalahkan Tuhan atas kegagalannya.

"Ini ujian..." adalah kata yang sering saya dengar dari mereka yang kalah..

Setidaknya secangkir kopi bisa menghibur temanku saat ini. Kopi tidak pernah berhitung berapa yang ia dapat. Ia bisa ada di kafe seharga 60 ribuan, bahkan di warkop seharga 3 ribuan.


Karena bagi kopi, ia sebenarnya adalah nilai. Nilai dirinya adalah memberi kenikmatan bagi sekitarnya. Uang itu hanya dampak dan nilai terendah berdasarkan kesepakatan manusia belaka.

WAHAI JIWA-JIWA YANG TENANG

Ketenangan
Alam
Seorang teman bertanya di inbox, "Gimana sih bang belajar ikhlas. Kok sulit sekali?". Dan dia menceritakan bagaimana dia dikhianati oleh teman bisnisnya yang juga sahabatnya, sehingga ia jatuh terpuruk dalam kesulitan.

Saya senyum-senyum sendiri, teringat beberapa tahun yang lalu saya pun punya pertanyaan yang sama. Dan itu dipaparkan oleh temanku dalam obrolan di warung kopi. "Ikhlas itu ilmu tingkat tinggi.." Katanya.

"Mengucapkannya seringan meniup kapas, tetapi mengerjakannya seberat memindahkan bukit. Pada intinya, tidak ada orang yang mampu menerapkan konsep ikhlas tanpa melalui proses yang menyakitkan hati.

Pada diri manusia selalu ada rasa kepemilikan terhadap sesuatu.

Rasa memiliki harta, rasa memiliki keluarga yang bahagia, rasa memiliki paras yang bagus dan kesehatan yang sempurna dan banyak perasaan lain yang membuat kita terjebak dalam kepemilikan duniawi..

Dan rasa memiliki itu perlahan-lahan menjadi berhala. Berhala yang kita bangun dan kita pamerkan kepada orang lain.."

Ia menyeruput kopinya sambil memandang jauh, mungkin mengingat perjalanan hidupnya yang sudah melalui banyak tekanan sebelum akhirnya ia mendapat banyak kemudahan.

"Ada saat Tuhan menunjukkan sayangnya kepada kita dengan merenggut dan menghancurkan berhala itu. Melalui peristiwa pengkhianatan, kehilangan, penyakit dan segala macam penderitaan yang tekanannya semakin lama semakin besar.

Kebanggaan diri kita luluh lantak. Kita harus menerima segala macam hinaan, pandangan meremehkan, cacian dan segala bentuk hantaman pada mental.

Sampai pada titik kita menyerah. Dan menyerahkan semua masalah kepada Tuhan. Bawalah aku kemanapun Engkau mau, wahai Engkau pemilik segala rencana..

Kita dikupas dari kepemilikan duniawi setahap demi setahap. Berhala kita hancur keping demi keping. Sekaligus dosa kita dikikis kulit demi kulit..

Pada mereka yang lulus dengan memahami semua proses ini, akhirnya tumbuhlah jiwa baru. Jiwa yang lebih tenang karena sudah mengalami semua hal. Ia lebih pasrah dalam berusaha dan menyerahkan semua hasil kepada Sang Penguasa.

Itulah ikhlas...

Ikhlas itu adalah pemahaman bahwa dunia ini seperti jalan lurus yang harus kita lalui. Bahwa orang-orang yang kita temui dalam perjalanan -baik itu anak dan istri- hanyalah sekedar teman seiring. Mereka bukanlah harta, tetapi kebanyakan menjadi godaan dan cobaan.

Ikhlas itu adalah pemahaman bahwa tubuh kita ini hanya kendaraan saja. Dengan begitu jiwa kita yang harus mengendalikannya dengan baik dalam mengarungi arus di setiap perjalanan.

Ketika kita sudah sampai pada titik memahami ini semua, itulah orang-orang yang dipanggil dengan sebutan Wahai jiwa-jiwa yang tenang".

Awalnya kupikir apa yang dijelaskan temanku begitu rumit dan kompleks. Dan akupun menyerahkan diriku untuk dihajar dalam setiap tekanan. Sabar dalam menghadapi segala kesulitan. Dan pada titik tertentu, tiba-tiba semua menjadi begitu sederhana. Sangat sederhana. Berjalan sajalah ke depan dengan tenang, karena pikiran dan ketakutan kitalah yang menjadikannya rumit. Siap-siap kutuliskan hal yang sama kepada temanku yang menginbox-ku tadi. Kuseruput kopiku sebelum mengetikkan bait-bait perjalanan dari apa yang kupahami.


"Perbaikilah akhiratmu, maka Tuhan akan memperbaiki duniamu.." Imam Ali as.

PERUBAHAN ITU ABADI SEPERTI SECANGKIR KOPI

Hidup
Butiran Kopi
"Ah.. saya lebih senang ke mall, pilih-pilih langsung dan beli. Kalau beli di online bla bla bla..."

Dalam pesatnya kemajuan toko online kita masih mendengar komentar seperti ini. Dan ini wajar, sampai pada waktunya mereka juga - mau tidak mau - akan berubah.

Saya adalah generasi istimewa yang mengalami perubahan drastis dari penggunaan mesin ketik ke komputer. Dulu juga saya sering mendemgar komentar para senior bahwa, "mesin ketik jauh lebih enak daripada pake ms word..".

Tapi perkembangan masa tidak bisa ditahan, pada akhirnya mesin ketik masuk museum dan mereka yang tidak mengikuti perkembangan terlibas zaman.

Begitu juga ketika seorang teman berkata, "masih lebih enak baca koran. Aroma kertasnya yang membuat saya rindu.." Dan sekarang kulihat dia lebih sering membaca berita lewat gadgetnya.

Kutanya, "Masih langganan koran ?" Dia menjawab pahit, "Sudah berhenti setahun lalu. Semua berita ada di gadget, lebih murah dan lebih cepat.."

Dan banyak lagi perubahan yang sangat pesat kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Kaset yang menghilang. Telepon rumah menjadi smartphone. Kamera Polaroid menjadi drone. Dan entah sulit kuhitung dan kuingat karena begitu cepatnya tehnologi bergerak.

Dan untungnya, saya bukan termasuk orang sentimentil yang bertahan dengan budaya lama. Saya terus mengikuti perkembangan tehnologi dan membiasakan diri untuk bergerak bersamanya.

Dulu saya membuat status fesbuk di Blackberry dengan keypad karena "keypad di touchscreen gak enak". Tapi akhirnya harus merubah budaya melihat layar yang lebih lebar...
Perubahan teknologi adalah juga perubahan budaya.

Dengan semakin canggih dan murahnya teknologi, maka muncullah toko-toko online yang meraup omzet triliunan rupiah. Dan itu bukti dari semakin berubahnya budaya belanja ke mall - suka atau tidak suka.

Pada akhirnya nanti toko offline akan tutup karena tidak mampu bersaing sebab mereka terbeban biaya operasional toko yang tinggi.

Itu baru di zaman saya. Entah apa yang akan terjadi di zaman anak saya - yang hampir seluruh kegiatan dilakukan di depan gadget, mulai menerima PR dari guru sampai mencari bahan untuk skripsi.

Kita tidak bisa menghalangi perkembangan teknologi, yang bisa kita lakukan adalah berselancar dengannya. Kita akan merubah kebiasaan kita atau tenggelam bersama nostalgia. Saya bilang saya generasi istimewa.

Karena generasi sekarang ini adalah generasi penemu dengan berubahnya budaya. Mereka yang siap menghadapi perkembangan dan mencegatnya di simpang jalan adalah orang-orang yang sukses di depan.

Semua teknologi yang kita ciptakan, semua model perdagangan yang kita lakukan sekarang dengan mengikuti perubahan, dalam kurun 5-10 tahun ke depan akan menjadi bisnis besar dan mapan. Itu jika kita mulai produktif dan tidak selalu konsumtif.

Yang diperlukan sekarang adalah orang-orang kreatif dan mempunyai pemikiran liar dan berani memulai. Karena kerja otot sudah ditinggalkan dan kerja otak akan di maksimalkan. Berfikirlah 5-10 tahun ke depan dan mulai bergerak menyambutnya sekarang.


Pada akhirnya cafe dan warung kopi akan penuh oleh mereka yang bekerja dengan tanpa seragam sambil melihat gadget menatap pendapatan yang naik setiap bulan. Selamat datang perubahan. Engkau abadi seperti secangkir kopi.

Jumat, 18 Agustus 2017

POLITIK SOLO ALA JOKOWI

Megawati
Sby bersalaman dengan Megawati
Sejarah baru kembali ditoreh oleh Presiden Jokowi.

12 tahun berlalu, akhirnya Megawati dan SBY, mantan Presiden Indonesia, bertemu dan bersalaman di acara peringatan hari kemerdekaan di istana.

Ini perjalanan panjang bagi keduanya. Sejak pilpres 2004, Megawati seperti menyimpan bara kepada SBY yang menyalipnya di tikungan. Dan selama 10 tahun kepemimpinan SBY, tidak sekalipun Mega menghadiri upacara peringatan kemerdekaan di istana. Biasanya yang mewakili adalah Puan, anaknya.

SBY juga begitu...

Selama dua tahun kepemimpinan Jokowi, SBY tidak pernah menginjakkan kakinya kembali di istana saat acara 17 Agustus. Seperti berbalas pantun, dimana ada SBY disitu Mega tidak ada dan sebaliknya.

Tapi di usia 72 tahun Indonesia ini ternyata beda...

Jokowi secara pribadi meminta kedua mantan Presiden itu untuk hadir bersama dan melupakan permusuhan mereka selama ini. "Dah pada tua, masih pada berantem aja.." begitu mungkin pikiran Jokowi.

Dan akhirnya sejarah berbicara, kedua mantan Presiden itu bertemu dan berjabat tangan. Mungkin saja mereka mengaitkan kelingking tanda sudah tidak jotakan, seperti yang dilakukan ketika masa kecil dulu.

Buat saya, ini bukan saja masalah sejarah yang terrtoreh tapi strategi politik yang ciamik dari Jokowi.
Dengan menempatkan Mega dan SBY dalam satu panggung, maka ada yang hatinya terluka di seberang sana, yang juga merayakan hari kemerdekaan di sebuah universitas di Jakarta.

Ketidak-hadiran SBY di acara mereka dan malah hadir di istana, menunjukkan bahwa koalisi oposisi itu ternyata sangat lemah. Pantas waktu di foto bersama, wajah mereka semua bermuram durja dan gundah gundala.

SBY jelas diharapkan akan bergabung pada kubu mereka apalagi sesudah diplomasi "nasi goreng" itu. Dengan bergabungnya SBY di kubu oposisi, diharapkan akan bisa membangun persepsi kekuatan seperti saat koalisi di parlemen dahulu, KMP vs KIH.

Sayang seribu sayang, mereka tidak paham bahwa SBY jelas akan lebih memilih datang ke istana. SBY juga paham peta kekuatan yang ada dan tidak bijak bagi dirinya sekarang ini untuk mengambil sikap oposisi pada Jokowi.

Lagian dia pernah jadi mantan, sedangkan yang di seberang masih jadi calon-calonan. Kepiawaian politik gaya Solo Jokowi yang merangkul, adalah sebuah contoh yang harus diadopsi banyak calon pemimpin nantinya. Jokowi pintar memainkan momen dan simbol dalam segala lini.

Dalam rangkulan Jokowi, terbaca banyak pesan. Mulai pesan persahabatan, pesan kekeluargaan, pesan damai sekaligus pesan mematikan untuk lawan.

Dan mungkin ini juga yang membuat Prabowo akhirnya menjadi kesal. Kekesalan itu dilampiaskan ke wartawan. "Dari muka kalian, keliatan gaji kalian kecil..."
Wartawan yang gak tahu apa-apa jelas melongo sambil melirik dompet masing-masing yang pada setiap tanggal 17 semakin tipis.

Malam ini para wartawan mungkin juga sedang berkaca di cermin masing-masing, sambil bertanya dalam hati, "Benarkah muka ada korelasinya sama gaji ?" Dua dari puluhan wartawan yang hadir tadi, besoknya rencana untuk operasi plastik.

Sudah malam, daripada ngelantur lebih baik seruput kopi biar segar. 

Rabu, 16 Agustus 2017

JOKOWI, BAPAK ORANG PAPUA

Kapolri
Kapolri
Meskipun menempati sudut kecil dalam berita nasional, ada hal yang menarik dan tidak tahan untuk tidak saya tuliskan disini.

Presiden Jokowi untuk pertama kalinya mengangkat ajudan Presiden seorang putra Papua dari kepolisian. Namanya Johnny Eddizon Isir. Johnny ini sebelumnya adalah Direktur Reskrimsus Polda Riau.

Ketertarikan Jokowi awalnya ketika melihat ajudan Kapolri Tito Karnavian yang berasal dari Papua. Ia kemudian meminta pak Tito mencarikannya seorang putra Papua sebagai ajudannya. Tentu harus lewat proses seleksi dulu.

Sudah bukan cerita baru lagi, Presiden punya ketertarikan khusus kepada Papua. Trilyunan dana negara dikucurkannya ke Papua untuk membangun infrastruktur yang disebut banyak pengamat sebagai "pembangunan infrastruktur terbesar sepanjang sejarah Indonesia".

Papua memang seperti kisah itik buruk rupa. Ia cantik, tetapi karena berada di tangan yang salah selama puluhan tahun, Papua menjadi wilayah yang terbelakang dibanding saudara-saudaranya di provinsi lain.

Bayangkan saja, di banyak daerah Papua, listrik saja baru ada sesudah 71 tahun Indonesia merdeka dan masih banyak lagi yang belum teraliri listrik...

Ketertinggalan Papua dalam pembangunan ekonomi dan masyarakatnya inilah yang membuat Jokowi memacu keras dirinya supaya Papua menjadi "anak emas" kembali. Jadi bisa dibilang ada hubungan emosi yang kuat antara Jokowi dan Papua..

Dan dilantiknya Johnny sebagai ajudan Presiden adalah sejarah baru bagi Papua. Jokowi mengangkat harkat dan martabat masyarakat Papua ke level yang lebih tinggi.

Melihat begitu fokusnya Jokowi dalam mengangkat Papua, bolehlah ia kita panggil dengan sebutan "Bapak orang Papua". Karena ditangan beliaulah Papua sekarang ini benar-benar diperhatikan dan dimanja. Orang Papua itu seperti secangkir kopi. Kulitnya hitam tetapi nikmatnya selalu dirindukan..
Ahhhh jadi pengen ngupiiiii..

Selasa, 15 Agustus 2017

KETIKA MINORITAS KENTUT DI TENGAH MAYORITAS

Mayoritas-Minoritas
Agama
Tidak ngerti kenapa, sejak dulu saya membenci kata "mayoritas" dan "minoritas". Apalagi ketika itu dikaitkan ke masalah agama.

Manusia cenderung membentuk ukuran-ukurannya sendiri. Ukuran yang seharusnya hanya menjadi bahan studi, malah diterapkan dalam konsep sosial.

Saya juga tidak mengerti, sejak kapan agama dikotakkan dalam ukuran mayoritas dan minoritas dalam konteks sosial ?

Khusus untuk Indonesia, kan sudah ada sila ke 5 yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Catat, seluruh rakyat Indonesia. Bukan rakyat yang mayoritas agama.

Memang manusia itu siapa ?

Toh dalam agamapun sudah jelas bahwa Tuhan berfirman, semua hambaNya berkedudukan sama dihadapanNya. Yang membedakan masing-masing adalah amal perbuatannya.

Memang manusia sanggup mengelompokkan yang sini manusia yang mayoritas amalnya baik dan yang sono amalnya kurang ? Mungkin manusia yang bisa begini adalah saudara dekatnya Tuhan..

Lalu konsep mayoritas dan minoritas ini ajaran siapa ?

Konsep mayoritas dan minoritas itu hanya ada pada manusia yang sudah tidak adil sejak dalam pemikirannya. "Mereka yang akalnya melemah, kebanggaan dirinya menguat" kata Imam Ali. Mereka yang tidak mampu bertarung secara cerdas, cenderung menggunakan kekuatan kelompoknya.

Jadinya seperti hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang..

Buang jauh-jauh pemikiran mayoritas dan minoritas dalam konsep sosial. Biarkan itu hanya ada dalam studi, dalam survey dan sebagainya bukan dalam bermasyarakat apalagi bernegara.

Founding father Indonesia sudah sepakat bahwa semua warga negara Indonesia mempunyai kedudukan yang sama, tidak terbedakan oleh ras, suku dan agama. Bahkan sumpah pemuda yang dibela dengan darah para pemuda pun sudah menetapkan "satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa".

Konsep kesatuan, bukan konsep siapa yang paling banyak umatnya..

Apalagi jika pemikiran mayoritas dan minoritas ini datang dari seorang kepala daerah atau kepala negara. Ini kepala pemerintahan atau kepala umat beragama ? Bahwa sejak awal disumpah, para pemimpin sudah menyatakan mereka harus siap berdiri diatas semua golongan...

Sambil menyeruput kopi sore hari, saya baru sadar bahwa dalam agama pun dikabarkan bahwa surga hanya dihuni oleh minoritas manusia..

Lalu dimana mayoritas manusia kelak berada ?


Hanya kentut tetangga yang keras dan mengagetkan manusia satu ruangan yang sunyi senyap, yang bisa menjawabnya...

KANG EMIL SI MAYORITAS

Ridwan Kamil
Denny Siregar dan Ridwan Kamil
Pagi-pagi buka facebook, eh rame yang ngetag saya masalah jawaban Ridwan Kamil terhadap postingan saya. Disini saya hormat kepada Kang Emil yang diantara waktu sibuknya mau menjawab pertanyaan dari saya - yang apalah apalah. Jarang pemimpin seperti itu disini. Dan sebagai rasa hormat saya, saya capture status kang Emil dan saya tampilkan sebagai hak jawab beliau.
Jawaban Kang Emil
Hanya pertanyaan saya kembali lagi, kenapa harus melalui masjid?

Apakah tidak ada model penyaluran lain yang lebih netral dan plural seperti RT/RW misalnya, dimana semua orang bisa mengaksesnya?

Keyakinan boleh beda pada setiap manusia, tetapi ukuran fasilitas sebagai anak bangsa seharusnya semua sama tanpa membedakan SUKU, RAS dan AGAMA. Tuh, saya kasih huruf kapital biar lebih jelas.

Tapi akhirnya saya faham ketika parameter yang dipakai kang Emil adalah AGAMA, sehingga ukuran "mayoritas" dan "minoritas" adalah seberapa banyak agama di satu wilayah. Apalagi kang Emil mempertegas di tulisannya, bahwa mayoritas di fasilitasi dan minoritas di lindungi. Seakan-akan yang minoritas tidak butuh fasilitasi.

Apakah si minoritas ini bukan bangsa Indonesia? Yang berikrar satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, sehingga harus dilindungi? Sebegitu lemah kah si minoritas sehingga hanya harus dilindungi bukannya diberikan hak yang sama? Meskipun beragama Islam, kang Emil seharusnya sadar bahwa sebagai pemimpin haruslah berdiri diatas semua golongan..

Saya sebenarnya paham maksud kang Emil, tapi -jujur- komunikasi kang Emil untuk hal ini sangatlah buruk. Apalagi ditambah caption dalam statusnya "MAU DUIT? HAYU KE MASJID". Kang Emil sendirilah yang membangun persepsi seolah-olah untuk ke masjid saja, orang harus diiming-imingi kredit.


Ghirah keagamaan sih boleh-boleh saja akang, tapi tetap harus ditempatkan ke arah yang benar. Jangan malah membuka ruang lebar perbedaan dengan membedakan fasilitas berdasarkan "apa agama seseorang". Hatur nuhun... Abdi nyaruput kopi heula kaburu dingin ieu...

KENAPA SAYA TIDAK BAHAGIA?

Bahagia
Bahagia
"Kenapa saya tidak bahagia?". Tanya seseorang yang mampir di inbox. Pertanyaannya singkat tapi terlihat sangat butuh jawaban segera. Saya justru heran, kenapa dia tidak bahagia? Apa yang membuat dia tidak bahagia?

Saya perhatikan profile pic nya dia tampak sehat. Dia bukan orang yang harus berjalan dengan dua tangan sejak kecil karena terlahir tidak punya kaki. Dia juga tampak bukan orang yang lahir cacat kembar dempet dengan dua kepala dan satu tubuh yang tidak bisa dipisahkan kecuali oleh mati.
Lalu apa yang membuat dia tidak bahagia?

Saya pun menulis...
"Bahagia itu bukan dicari, ia dihadirkan dalam diri. Ia sulit hadir ketika seseorang selalu marah pada situasi. Ia tidak akan hadir ketika seseorang selalu berputus asa dan menyalahkan takdir kenapa ia dilahirkan seperti ini.
Bahagia hanya hadir kepada manusia yang selalu bersyukur atas apapun yang terjadi. Sehebat apapun hantamannya, sekuat apapun tekanan yang dihadapinya, semua itu terjadi bukan tanpa makna. Tetapi melatih orang untuk berfikir bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan seseorang selain dirinya sendiri.

Ketika kamu bertanya kenapa saya tidak bahagia, saya akan bertanya kenapa kamu tidak bahagia. Jangan menjawab dengan beribu alasan, tetapi mulailah instropeksi bahwa setiap manusia dilahirkan pasti karena mempunyai fungsi.

Carilah fungsimu di dunia ini dan bahagia akan tumbuh seiring manusia menghargaimu bukan karena siapa dirimu tetapi apa yang sudah kamu lakukan terhadap orang lain.
“Kebahagiaan itu seperti magnet yang akan menarik kebahagiaan disekitarnya, begitu juga sebaliknya dengan kesedihan".
Kubakar sebatang sigaret malam ini dan mulai berfikir bahwa banyak manusia yang salah bertanya. Ia seharusnya tidak bertanya kenapa dia tidak berbahagia, tetapi bertanya kenapa tidak mampu membuat orang lain bahagia.

"Tuhan itu sesuai prasangka manusia terhadap diri-Nya", sabda Nabi. Ketidak-hadiran Tuhan dalam diri seorang manusia bukan karena Ia tidak ada, tetapi karena manusia yang tidak menghadirkanNya.
Begitu juga dengan bahagia.

Bahagia itu seperti secangkir kopi. Ia pahit bagi dirinya tetapi nikmat bagi orang lain yang mencecapnya.

Senin, 14 Agustus 2017

KANG EMIL & IBADAH KREDIT

Walikota Bandung
Ridwan Kamil
Helmi Hasan, Walikota Bengkulu gundah.

Setiap subuh dia melihat kenyataan sepinya masjid. Ia lalu berfikir bagaimana supaya masjid penuh. Akhirnya ia merancang program "BENGKULU RELIGIUS", yaitu program siapa yang taat ke masjid dapat hadiah mobil Inmova..

Program ini banyak yang menentang meskipun banyak juga yang mendukung.

Pada akhirnya setelah 2 tahun program ditutup karena kata Helmi politisi PAN ini, ia harus mengembalikan kembali fungsi masjid sebagai tempat ibadah karena Allah bukan karena hadiah..
Dan sesudah program itu selesai, maka masjid pun surut kembali dari jamaah yang ibadah subuh...
Ndilalah, program lama ini diteruskan Ridwan Kamil, Walikota Bandung dengan konsep berbeda..
RK panggilan singkatnya, mencanangkan program "BUTUH DUIT, AYO KE MASJID". Program ini bersifat pinjaman maksimal 30 juta yang dikelola oleh DKM-DKM bekerjasama dengan BPR. Yang bisa meminjam, tentu saja yang katanya rajin ke masjid..

Entah kenapa masih banyak orang yang mengiming-imingi ibadah -yang notabene adalah kegiatan spiritual- dengan hadiah material.

Padahal sejatinya spiritual dan material adalah dunia yang jauh berbeda yang tidak bisa disatukan. Mereka yang terjebak material jelas kering dari hal spiritual, begitu juga mereka yang sudah memasuki dunia spiritual tidak lagi terikat dengan hal yang material.

Lalu kenapa ada pemimpin daerah yang berusaha menggabungkannya?

Ada dua faktor sebenarnya. Pertama, mereka tidak mengerti konsep spiritual dan kedua karena politis.

Melihat kasus Helmi dan RK, jelas ada hubungannya dengan politik menarik simpati umat Islam. Helmi sudah sadar bahwa ia salah sedangkan RK baru memulai. Apalagi mendekati Pilgub Jabar 2018, terlihat jelas bahwa ada udang dibalik bakpau.
Diluar masalah spiritual dan material, RK harusnya paham bahwa apa yang ia lakukan adalah kesalahan.

Pertama, salah karena mengiming-imingi ibadah dengan pinjaman. Kedua, RK -sebagai seorang moderat- seharusnya paham bahwa masjid sekarang banyak diduduki kaum radikal. Peristiwa Pilgub DKI seharusnya membuka mata bahwa masjid adalah tempat berkembang biak paling aduhay untuk mereka.

Seorang teman yang bekerja di pemerintahan berkata, bahwa banyak program beasiswa untuk muslim disalah-gunakan untuk mengembangkan ideologi kaum radikal.

Bagaimana caranya? Ya dengan memanfaatkan program beasiswa itu bagi kelompok mereka saja. Dengan begitu mereka memanfaatkan program pemerintah untuk membesarkan kelompok mereka.

Nah, apa tidak mungkin pinjaman melalui masjid itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan politis kelompok tertentu? Kalau ga gabung dengan ormas tertentu misalnya, gak bakalan dikasi pinjaman...
Lihat, kesalahan satu akan diikuti kesalaham lainnya. Seperti bola salju yang makin lama makin membesar dan pada satu waktu akan sulit memadamkannya..

Kembalikan fungsi masjid sebagai tempat ibadah tanpa embel-embel lainnya. Sebagai seorang pemimpin seharusnya paham mana yang benar dan mana yang salah karena tanggung jawab keputusan itu sangat besar..

Lagian sebagai pemimpin yang mengayomi semua umat, kenapa tidak gereja, vihara dan tempat ibadah lainnya tidak mendapat perlakuan yang sama ? Katanya harus mematuhi sila ke lima, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia..

Sudah cukup kita terluka dengan peristiwa Pilgub DKI yang malah akhirnya membentrokkan sesama muslim karena penguasaan masjid untuk kepentingan politik kelompok pendukung si anu. Jangan lagi masjid ditunggangi untuk nafsu duniawi belaka..

Kata seorang teman lagi, biasanya mereka yang tidak punya program kerja bagus, akan berlindung dibalik agama untuk mendulang suara.

Kang Emil pasti tidak begitu kan? Mudah-mudahan tidak. Kalau iya, saya sebagai warga Jakarta pasti tidak akan lagi memilih Kang Emil. Tidak mungkin, nehi!!


Mending saya nyeruput kopi di rumah saja...

Sabtu, 12 Agustus 2017

PEMERINTAH YANG GAGAL BERCERITA

Mendikbud
Full Day School
Ini tulisan bagus. Kita mencoba memahami kedua belah sisi dalam melihat sebuah kebijakan. Dan tulisan ini menggambarkan apa yang saya sebut 'Kegagalan komunikasi' pemerintah.

Sama seperti yang permah saya tulis dalam 'Belajar Komunikasi ala Enny Arrow', saya mengkritik pemerintah yang 'Programnya bagus, komunikasinya buruk'. Seperti masalah pencabutan subsidi listrik yang akhirnya membuat saya harus turun ke Papua untuk bercerita sisi yang berbeda dari sekedar angka.
Selamat membaca sambil ngopi..

GAGAL PAHAM 'FDS' DAN GAGALNYA 'STORY TELLING' MENTERI MUHADJIR

Izinkan saya memulai tulisan ini dengan sebuah pernyataan: Politik tanpa cerita adalah sebuah kekacauan. Tanpa kemampuan menyusun dan menyampaikan cerita dengan baik, pemerintah hanya akan menghasilkan kebijakan yang memancing keributan belaka! Mari kita lihat contohnya:

Hari-hari belakangan ini, seperti juga terjadi di koran dan televisi, linimasa media sosial kita diramaikan oleh polemik dan perdebatan mengenai kebijakan Mendikbud tentang sekolah lima hari. Sejak awal, kebijakan yang dituangkan dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 itu memang menuai banyak kontroversi.

Konon, alih-alih akan sesuai dengan tujuannya untuk memperkuat pendidikan karakter di sekolah, kebijakan ini dinilai justru akan mematikan eksistensi madrasah diniyah dan pesantren—selain membebani siswa dengan jam belajar yang terlalu panjang.

Belum tuntas Kemendikbud memberikan penjelasan mengenai kebijakan tersebut, Menteri Muhadjir sudah diserang habis-habisan oleh berbagai kalangan. Mulai dari organisasi NU dan pesantren yang melihat bahwa kebijakan ini tidak menghormati eksistensi lembaga pendidikan agama, para pengamat pendidikan yang menganggap konsep ‘delapan jam di sekolah’ yang mirip ‘full day school’ ini hanya akan membebani peserta didik, hingga para politisi yang menilai bahwa Menteri Muhadjir sudah ‘crossing the line’ dan karenanya harus diganti.

Bagi saya, ini sederhana saja, Menteri Muhadjir dan jajarannya di Kemendikbud memang gagal dalam hal story telling mengenai kebijakan ini. Seandainya kebijakan ini punya konteks ‘cerita’ lain yang mendukung, disampaikan dengan cara yang benar, dan didukung dengan penempatan ‘cerita’ yang baik, saya yakin kebijakan ini tak akan menimbulkan kegaduhan seheboh ini.

Saya percaya bahwa ‘public policy is also about story telling’. Lihat saja, hampir semua kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (sebelumnya Kementerian Pendidikan Nasional), mulai dari soal kurikulum hingga ujian nasional, selalu menimbulkan polemik. Padahal, saya yakin betul semua kebijakan itu sudah melewati aneka kajian akademik, diskusi, dan rumusan panjang yang melibatkan para ahli. Artinya, kebijakan-kebijakan tersebut pasti punya legitimasinya masing-masing, dari sudut pandang akademik maupun politik kebijakan, namun sering lupa memikirkan bagaimana ‘story telling’-nya.

***

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan bertemu langsung dengan Menteri Muhadjir yang berinisiatif mengumpulkan para penulis, blogger dan internet influencers. Kepada sekitar dua puluh orang di antara kami, Pak Menteri bercerita panjang lebar mengenai kebijakannya soal sekolah lima hari itu. Ia bercerita dengan wajah yang terlihat lelah, setelah hampir dua jam, saya mulai bisa melihat gambar besar kebijakan ini dan berkesimpulan bahwa ini sama sekali bukan kebijakan yang buruk! Masalahnya, mengapa sampai menimbulkan kegaduhan?

Setelah pertemuan itu, saya membaca banyak sekali berita dan rilis Kemendikbud mengenai kebijakan ini. Saya juga membaca aneka artikel yang ditulis para ahli dan pengamat yang ‘mendukung’ kebijakan Menteri Muhadjir ini. Tetapi, mengapa saya tak menemukan apa yang disampaikan oleh Pak Menteri di acara pertemuan yang saya hadiri? Mengapa ‘rasa cerita’-nya menjadi sama sekali berbeda? Inilah yang membuat saya menyimpulkan bahwa kebijakan Menteri Muhadjir ini adalah contoh lain kegagalan melakukan story telling dalam sebuah kebijakan.

Kebijakan sekolah lima hari ini sebenarnya berpangkal pada dua persoalan mendasar: Pertama, soal hak dan kewajiban guru sebagai pendidik. Kedua, soal pentingnya memberikan kesempatan kepada para siswa agar punya kehidupan yang seimbang di dalam dan di luar sekolah-yang salah satunya bisa dilakukan dengan cara memberikan hari libur lebih banyak agar para peserta didik ini punya waktu lebih luang bersama orangtua dan keluarga. Ujung dari dua agenda itu adalah mengurangi satu hari sekolah dalam seminggu, dari enam hari menjadi lima hari. Mari kita bahas satu per satu.

Selama ini para guru, terutama yang berstatus sebagai PNS, dibebani kewajiban mengajar, atau melakukan aktivitas lain sebagai pendidik, sebanyak delapan jam sehari atau 40 jam seminggu. Ini tentu sesuai dengan kewajiban jam kerja PNS lain sesuai aturan. Karena kacaunya menejemen sekolah dan guru ini, untuk memenuhi kewajibannya banyak para guru di lapangan yang harus bekerja dan mengajar di banyak sekolah. Misalnya, selesai mengajar di sekolah A, harus langsung pergi ke sekolah B atau C agar bisa memenuhi beban mengajarnya.

Menteri Muhadjir melihat fenomena di atas sebagai sebuah kekacauan yang tak boleh dibiarkan. Pertama, jika hal semacam itu diteruskan, manajemen sekolah tidak akan kunjung membaik. Ujungnya nanti soal pemerataan kualitas sekolah, tentu saja. Kedua, kasihan juga guru-gurunya, mereka akan kesulitan untuk berkonsentrasi, apalagi meningkatkan kualitas dan kapasitas individunya sabagai seorang guru. Kapan waktunya?

Nah, dengan kebijakan baru dalam Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 ini, konon para guru akan lebih difokuskan untuk mengabdi di satu sekolah saja. Saat ia tidak mengajar, ia tidak dibebani oleh kewajiban jam mengajar yang lain tetetapi diberi ruang untuk melakukan tugas lain sebagai pendidik-semua aspek pendidikan yang bukan hanya ‘mengajar’ saja (sebab tafsir 40 jam seminggu yang berlaku selama ini untuk para guru, harus direalisasikan dengan jumlah jam ajar). Ini tentu bagus untuk sekolah, bukan? Bagus juga untuk para guru, meringankan dan memberi mereka ruang lebih banyak untuk mengembangkan kualitas individunya.

Mengapa perlu lima hari dalam seminggu? Saya ingat betul penjelasan Menteri Muhadjir, “Ini agar para guru juga punya hak dan kewajiban yang sama dengan PNS lain. Sekarang guru itu kasihan, mereka Sabtu tetap harus bekerja.” Hal menarik lain juga saya ingat betul dari Menteri Muhadjir, “Kalau para guru di sekolah enam hari seminggu, kapan mereka punya waktu untuk berlibur bersama keluarga? Kapan punya cukup waktu untuk mendidik anaknya sendiri di rumah? Masak mendidik anak orang lain terus sementara untuk anak sendiri tak punya waktu?” Lihatlah argumen itu. Istimewa, bukan? Menurut saya, ini terobosan yang luar biasa!

Kedua, soal waktu yang lebih banyak untuk anak didik agar punya waktu libur lebih banyak sehingga bisa dihabiskan bersama keluarga, Sabtu dan Minggu. Saat ini, jika anak sekolah enam hari seminggu, praktis mereka hanya punya libur sehari saja dalam seminggu. Terlalu singkat untuk sebuah ‘liburan’ keluarga karena hanya akan membuat si anak lelah saja.

Menteri Muhadjir punya gagasan menarik soal ini, seandainya anak-anak hanya sekolah lima hari saja dalam seminggu maka meraka akan punya waktu lebih banyak bersama orangtuanya di hari libur yang sama. Ia juga memperluas gagasan ini untuk mengubah waktu libur sekolah yang lain, disinkronkan dengan waktu libur PNS dan karyawan lain… Selama ini, seringkali waktu libur sekolah tidak sinkron kan dengan waktu libur kerja orangtuanya? Dengan gagasan ini, diharapkan anak-anak akan lebih dekat dengan orangtuanya, punya waktu bersama lebih banyak. Bagus, bukan?

***

Lalu, bukankah sekolah lima hari dalam seminggu hanya akan membuat lima hari sekolah itu begitu padat, delapan jam sehari? Mau membuat semua sekolah jadi full day school? Tidak juga, coba lihat pasal 9 Permendikbud yang sama. Waktu delapan jam itu adalah waktu maksimal yang bisa diterapkan oleh sebuah sekolah, tapi sifatnya optional saja. Setiap sekolah bisa menyesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing, tentunya. Yang penting gurunya bekerja delapan jam sehari saja, anak-anak bisa diberi aktivitas lain yang positif di sekolah, mulai dari ekstrakurikuler, kegiatan seni dan olahraga, kegiatan agama, dan lainnya.

Di sinilah letak relevansi kebijakan ini pada penguatan pendidikan karakter: Jika dididik oleh guru-guru yang terperhatikan hak-hak individulnya, jika anak-anak memiliki keseimbangan psikologis yang lebih baik antara kehidupan di sekolah dan di rumah, maka misi menerapkan pendidikan karakter di sekolah bisa dimaksimalisasikan. Kemendikbud menerapkannya ke dalam empat aspek penting: Olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olahraga.

‘Olah hati’ bisa direalisasikan dengan menerapkan aneka pendidikan tambahan seputar agama, akhlak, dan lainnya. Tujuannya agar peserta didik punya kecerdasan etik (akhlak) yang tinggi. ‘Olah pikir’ direalisasikan dengan kegiatan belajar mengajar di kelas. ‘Olah rasa’ bisa direalisasikan dengan aneka ekstrakurikuler yang dapat meningkatkan kecerdasan estetik siswa, misalnya musik, seni, sastra dan lainnya. Terakhir, ‘olahraga’, dengan waktu yang cukup di sekolah, siswa juga bisa didorong untuk menjadi individu yang lebih aktif dan sehat.

Mengingat bahwa delapan jam sehari itu optional untuk sekolah dalam penerapannya, Kemendikbud tetap memberi ruang untuk para siswa atau orangtua yang ingin anaknya punya ‘pendidikan’ lain di luar sekolah. Bentuknya bisa apa saja, bisa les bahasa, private, kursus, dan tentu saja pendidikan agama di madrasah diniyah atau pesantren. Tak ada pembatasan sama sekali soal itu. Sudah bagus, kan?

Namun, mengapa aspek-aspek dan penjelasan semacam ini tidak dilakukan,ya?Mengapa Kemendikbud justru memilih masuk dan terlibat ke dalam arena polemik dan perdebatan soal peraturan ini? Sampai jauh ke soal NU vs Muhammadiyah? Sampai soal sejarah pendirian bangsa?
Baiklah, mudah-mudahan tulisan saya ini membantu Kemendikbud dan Menteri Muhadjir dalam hal ‘story telling’ kebijakan ini. Ha!

***

Akhirnya, seperti saya katakan di awal, politik tanpa cerita hanya akan menimbulkan kekacauan belaka. Sebuah kebijakan tanpa cara bercerita yang baik hanya akan menimbulkan malapetaka. Tetapi, kebijakan ini sekarang sudah terlanjur menjadi ‘cerita’ juga… Yang tafsirnya sulit dimengerti, yang fragmennya tidak utuh, lalu memancing cerita lain untuk mengalahkan dan melawannya.
Jika ada yang yang mengatakan bahwa kebijakan ini sedang dipolitisasi pihak tertentu untuk menggulingkan Menteri Muhadjir, mereka juga sedang membangun cerita, bukan? Sedang membangun sebuah narasi.

Pada akhirnya, itu dia, politik adalah pertarungan narasi. Argumen Menteri Muhadjir dan Kemendikbud bisa jadi benar dan mulia belaka, begitu juga argumen tandingannya bisa penting dan istimewa… Tetapi pada akhirnya, dalam sebuah pertarungan narasi, yang menang adalah mereka yang bisa bercerita dengan lebih baik, yang bisa menampilkan dan mengemas narasi itu dengan cara yang memikat dan meyakinkan. Akan tetapi, selain diperlawankan, dua narasi bisa juga disinergikan, bukan?

Mungkin, ini saatnya duduk bersama dan saling 'bercerita'. Berceritalah dengan baik.

Jakarta, 11 Agustus 2017
FAHD PAHDEPIE

- Entrepreneur, story teller.

Kamis, 10 Agustus 2017

SELAMAT ULANG TAHUN, GUS MUS

Gus Mus
Gus Mus dan Denny Siregar
Sulit menemukan manusia yang sudah selesai dengan dirinya sekarang ini...

Yang banyak adalah manusia duniawi. Seluruh hidupnya terperangkap dalam kemegahan, menghambakan dirinya pada kemewahan. Meskipun ia berbaju ulama, tetapi tingkahnya bagaikan setan...

Tetapi tidak denganmu, Gus...

Engkau bisa saja memanfaatkan posisimu sebagai orang yang dihormati berbagai kalangan. Engkau bisa saja menjual dirimu demi kenikmatan. Tetapi engkau malah menenggelamkan dirimu dalam lautan keheningan.

Tauladan, itulah yang engkau ajarkan. Engkau tidak hanya berkata tentang kebaikan, tetapi engkau menunjukkan. Seluruh perilakumu adalah ajaran. Aku pernah duduk disampingmu dan merasakan aura ketenangan...

Selamat ulang tahun, Gus Mus...

Jangan tinggalkan kami dalam kegelapan. Tunjukkan kami jalan kebenaran. Kami yang muda-muda ini sangat butuh bimbingan..


Ingin kuangkat secangkir kopi untukmu, jika berkenan.