Kamis, 08 Desember 2016

Jokowi Bukan Orang Lemah

Jokowi
Jokowi
"Kenapa Pakde diam saja?". Itu pertanyaan temanku ketika dikepalanya terpatri seribu pertanyaan melihat intoleranisme dan pemaksaan kehendak oleh satu golongan merajalela.
Begitu besar harapan ke Jokowi sekarang ini untuk bisa menyelesaikan persoalan yang sudah menjadi karat dalam rumah kita. Pembubaran KKR Natal di Bandung adalah klimaks di akhir tahun ini sesudah demo2 411, 212 dan ditambah pernyataan2 arogansi boikot ini, boikot itu, bahkan roti aja di boikot.
Saya pun sebenarnya sempat bertanya hal yang sama. Kenapa Jokowi yang begitu gagah menghadapi para mafia terlihat melempem menghadapi para onta?.

Sampai ketika ia muncul shalat Jumat di acara 212 dan naik mimbar, saya seperti menemukan jawabannya.
Pertama kita harus pahami dulu bahwa Jokowi bukan jenis orang yang reaksional menanggapi suatu masalah. Ia pemikir sejati dan langkah2nya tertib, pelan tetapi haruslah mematikan. Tidak mudah menebak kemana arah berfikirnya.
Sifat ini juga terbentuk karena lingkaran istana - bahkan yang ring 1 pun - bukanlah orang2 yang bisa ia percaya. Banyak yang ingin mencari panggung di 2019 atau mempunyai kepentingan sendiri. Ia harus memetakan mana kawan mana lawan dengan perlahan. Tidak mudah menyingkirkan mereka karena ia tidak ingin mencari musuh2 baru dalam perjalanan. Terlalu banyak musuh, sulit bekerja.
Dan beberapa diantara orang yang tidak ia percaya juga ada yg berperan menggerakkan tokoh2 demo dengan baju Islam itu. Mereka yang sejak lama menjalin hubungan dgn kelompok Islam, mendanai kegiatannya dan menggerakkannya ketika ada kepentingan.
Dan Jokowi bukan diam saja. Ia geram ketika melihat ada sekelompok manusia yang merasa dirinya paling benar mencoba memaksakan kehendak dan mengatur hukum di Indonesia. Beberapa teman relawan menyampaikan kegeraman Jokowi ketika bertemu dengan mereka dalam sebuah acara.
Hanya memang, butuh cara dan waktu yang tepat untuk menghantam. Kalau dihantam sekarang bisa bahaya.
Kelompok-kelompok yang mengatas-namakan Islam itu sudah berhasil membangun euphoria di sebagian masyarakat terhadap kebanggaan agama mereka dengan tema melawan penista agama.
Dan ketika para tokoh kelompok itu dihantam sekarang, tentu mereka malah menjadi martir dan pahlawan. Biasaa.. Drama "playing victim" masih disukai sebagian orang akibat kebanyakan nonton telenovela.

Puncak dari kegeraman Jokowi terjadi ketika ia membelokkan langkahnya menuju panggung shalat Jumat di 212.
Aksi Jokowi ini benar2 spontan. Pada menit2 terakhir, saya masih mengontak "orang2 disekitarnya" dan bertanya, "Apakah pakde shalat Jumat di Monas ?" sekedar untuk melihat benar atau tidaknya prediksi saya.. Mereka tidak bisa menjawab. Dan ketika tiba2 Jokowi membelokkan langkahnya di tengah gerimis, sebuah pesan masuk, "Bener prediksi abang. Pakde sekarang ke Monas.."
Ini bentuk reaksional pertama kali yang saya jumpai dari seorang Jokowi. Menunjukkan betapa geramnya ia terhadap pemaksaan kehendak dengan mengatas-namakan agama. Dan salah satu langkah terbaiknya hari itu adalah merebut panggung dari para pencari panggung yang sebelumnya sudah mempersiapkan diri untuk berorasi.
Tentu pak Tito sudah menangkap kemungkinan ini. Penangkapan beberapa tokoh dengan tuduhan makar adalah bagian dari membersihkan jalan Jokowi menuju panggung utama. Bahaya ketika orang2 itu ada di lapangan dan Jokowi juga ada di sana. Mereka sangat mungkin menggerakkan massa pada saat itu menjadi beringas dengan orasi2 mereka.
Diantara mereka yang sempat ditahan adalah orang2 ideologis, yang pemikirannya sangat berbahaya. Sedangkan yang ada di Monas hanyalah para pencari wajah dan dana, lebih mudah untuk dikuasai dan diintimidasi, "Kalau Presiden kesini dan lu macem2.. awas, gua sunat 2 kali..". Siapapun gemetar kalau mendengar disunat 2 kali. Sayapun gemetar ketika menulis ini... Rasanya, ahhhhhh...uhh... iihh...
Dari sini kita bisa melihat bahwa Pakde sebenarnya tidak diam saja. Ingat, ia pecatur handal. Tidak bisa sembarang mengorbankan bidak tanpa kemampuan memprediksi langkah lawan ke depan.
Disinilah menariknya melihat langkah kuda Jokowi. Terkadang ia tanpa sadar mengedukasi bahwa emosi dan rasionalitas tidak bisa sejalan. Keputusan yang jernih hanya bisa dilakukan ketika emosi sudah teredam. Dan ketika ia sudah menemukan langkah terbaiknya pada waktu yang tepat, percayalah.. itu sangat mematikan...
Jokowi bukan orang lemah. Ia justru sangat berbahaya... Hati-hati saja kalian yang terus berusaha menekannya. Ah... Berasa mau bikin kopi lagi...

Rabu, 07 Desember 2016

Cerdik Seperti Ular, Tulus Seperti Merpati

Indonesia
Indonesia Bersatu
"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati." Matius 10:16
 
Saya yakin seluruh umat Kristen paham firman ini, tapi apakah mereka mengamalkannya? Ternyata tidak juga.
 
Banyak yang sibuk pasrah dan serahkan semua pada Tuhan. Malah ada yang menyamakan gempa di Aceh sebagai bagian dari pembalasan pembubaran KKR Natal di Bandung. Alamakjang...
Melawanlah, saudara2ku... Melawanlah..
 
Kalian harus melawan tetapi bukan melawan umat Islam. Kalian melawan INTOLERAN. Jangan samakan umat Islam dengan kaum intoleran dalam satu barisan...
 
Melawan bukan berarti berperang secara fisik atau menyiapkan pasukan. Melawan adalah menggunakan konstitusi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Kalian punya hak sebagai warga negara untuk bebas beribadah. Laporkan mereka yang mengganggu ibadah kalian kepada alat negara sebagai bentuk usaha. Baru hasilnya serahkan pada Tuhan...
 
Kalian pasti punya pengacara2 yang handal, manfaatkan dengan benar...
Lawanlah kaum intoleran dengan membentuk barisan bersama muslim moderat yang punya kekuatan, seperti NU atau Muhammadiyah. Libatkan mereka dalam setiap acara keagamaan kalian dan terlibatlah dalam setiap acara mereka. Datangilah mereka di wilayah masing2 kalian. Duduklah bersama-sama...
 
Belajarlah ke Manado atau NTT bagaimana caranya. Ini bukan masalah agama, tapi masalah kebhinekaan.
 
Lepaskan eksklusifitas dalam agama kalian. Tidak perlu takut untuk duduk bersama dengan muslim moderat. Persatuan umat adalah tembok penghalang intoleran untuk memecah kita. Keluarlah dari cangkang, jangan lagi sibuk dengan kata "Untuk kalangan sendiri" tapi ketika ada masalah semua umat harus paham...
 
Saya kira, itulah bagian dari pemahaman "Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.." Jangan diam saja dan pasrah. Pasrah tanpa usaha sama saja menyerah. Catat, kalian punya hak yang sama sebagai warga negara...
 
Redam emosi dan berfikirlah jernih. Emosi tidak pernah menyelesaikan masalah malah akan membuat sumber masalah baru. Bergeraklah seperti ular - lincah dan cepat - tapi jangan meninggalkan ketulusan seperti burung merpati, jangan punya niat untuk kepentingan untuk diri sendiri.
 
Jika kalian paham, kami yang muslim disini juga berperang tapi bukan dengan fisik melawan. Kami berperang melalui pemikiran, membongkar borok2 kefanatisan yang melanda banyak orang sehingga merubah mereka menjadi intoleran. Tetapi tanpa kalian yang juga ingin merubah diri, kami juga tidak bisa maksimal..
 
Mari kita sampaikan pesan ini kepada pakde Jokowi. Kita pakai kata beliau, "Kita bikin rame !" Tetapi rame dalam jalur konstitusi, bukan malah membuat demo tandingan dan unjuk kekuatan..
 
Melawan kebodohan harus dengan cara yang pintar. Intoleran itu bodoh sedangkan "Puncak dari akal adalah toleran". Itu nasihat Imam Ali as...
 
Percayalah, saya tidak hanya duduk2 saja sambil ngopi disini.. Saya keliling kemana2, bertemu banyak tokoh toleransi dan mencari solusi bersama untuk negeri ini..
 
Sudah saatnya kita bangkit, umat beragama yang cinta kebhinekaan melawan penyakit intoleran yang sedang melanda negeri ini...
 
Mari angkat secangkir kopi untuk mereka yang paham pesan ini...

Umat-umat Manja

Kerukunan
Toleransi
"Sudahlah bang, nanti biar Tuhan yang membalas... Kami diminta selalu sabar dan mengalah..". Kebiasaan buruk di kita -umat manusia- adalah apa-apa selalu dilarikan ke Tuhan, seakan kita sudah tidak punya daya upaya untuk memperbaiki kesalahan yang ada. Padahal manusia sudah disematkan akal sebagai teman di dunia untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan.
 
Sabar dan mengalah menjadi sebuah kata ajaib yang akhirnya membuat seseorang tidak melakukan apapun. "Udah, itu urusan Tuhan.. apalah kita manusia.. apalah..". Tuhan lagi yang kita repotkan dengan hal remeh temeh urusan manusia yang sebenarnya bisa diselesaikan manusia sendiri..
Tanpa sadar kita terbentuk menjadi manusia manja...
 
Akal kita mati karena jarang dipergunakan. Dampaknya, ketika kita sedikit saja mendapat tekanan akhirnya cuman bisa mencaci maki, mengeluh tanpa pernah berfikir solusi...
 
Seharusnya kita paham, bahwa sabar dan mengalah itu hal yang terakhir sesudah kita melakukan usaha. Pertanyaannya, usaha kita apa ? Masak usahanya cuman sabar dan mengalah?.
 
Sepertinya ini masalah terbesar umat beragama. Beda dengan atheis yang merasa gak punya bapak sehingga semua harus dilakukan sendiri, tidak bergantung pada siapapun juga kecuali dirinya sendiri.
Memang Tuhan itu besar, jauh lebih besar dari semua masalah kita. Tetapi kitapun diperintahkan untuk selalu berusaha sambil tetap menyerahkan semua hasil kepadaNya.

Kita diberi tekanan demi tekanan dalam berbagai peristiwa, bukan untuk melemahkan malah seharusnya justru menguatkan, menjadikan diri kita lebih pintar. Jangan kecilkan Tuhan dengan menyerahkan masalah remeh kita, tenpatkan Ia sebagai Maha yang melindungi semua usaha terbaik kita...
 
Bahkan untuk membuat secangkir kopi pun kita harus melakukan proses usaha supaya mendapat kenikmatan yang kita inginkan.. Jangan malah asal naro kopi, asal taro gula trus ga diaduk dan dikasi air panas lalu berkata, "Biarlah Tuhan yang memberikan nikmatnya.. Toh kita harus selalu sabar dan mengalah.."
 
Pas diseruput wajahnya berubah, "Puiiihh, Jancikkkkk... ini kopi apa aer got???? "
Manusia oh manusia....

Selasa, 06 Desember 2016

LAWAN INTOLERAN

PAS
Sewaktu di Sukabumi ketika dialog lintas agama, seorang pengelola Klenteng mengeluhkan tentang betapa sulitnya mengadakan acara keagamaan di sana.
 
Selain masalah perizinan, juga masalah penolakan ormas2 agama disana terhadap acara keagamaan agama lain.
 
Saya coba memberikan sebuah ide..
"Selama ini ketika kita bicara agama, kita cenderung bersifat eksklusif, bahwa ini acara agama tertentu sehingga tidak perlu melibatkan agama lainnya.
 
Sebenarnya pemikiran lama ini yang menjadi sumber kelemahan sehingga mudah sekali diserang sampai dibubarkan ketika sedang melakukan penyelenggaraan.
 
Nah, cobalah membuka diri untuk bisa melibatkan agama lain dalam acara itu sehingga meskipun kita berbicara perayaan satu agama tapi mengajak agama lain untuk ikut menjaganya...'
Cangkir kopipun dihidangkan menambah semarak diskusi..
 
"Kita contoh saja Bali. Di Bali ketika ada ibadah keagamaan seperti shalat Jumat misalnya, para pecalang menjaga sehingga memperkecil provokasi dari pihak lain. Dengan begitu Bali menjadi tempat aman bagi banyak agama untuk melakukan kegiatan ibadahnya.
 
Dan ini bukan hanya terbatas pada saat ibadah atau acara keagamaan saja. Lintas agama melakukan dialog dan diskusi bahkan sampai tahap koordinasi sehingga yang terjadi adalah pembauran dengan menghormati keyakinan masing2. Saling menjaga karena timbul rasa sayang... "
 
Kuseruput kopi di cangkirku terasa nikmat ketika pahit dan manis bersatu tanpa saling mendominasi.
"Coba datang dan bekerjasamalah dengan pengurus NU di wilayah masing2. Jangan hanya meminta bantuan ketika ada acara saja, tapi membangun kerjasama diluar ibadah. Toleransi itu diciptakan bukan hanya didendangkan.. Membutuhkan kerendahan hati yang tinggi jika kita ingin semua aman.."
 
"Setidaknya..." Kata saya menambahkan. "Ketika di acara itu NU terlibat, ormas lain yang ingin mengganggu sampai membubarkan pasti akan sangat sungkan. Dengan begitu, kita semua menjaga terjadinya benturan.. "
 
Ah, ternyata kopi bisa menyelesaikan permasalahan, setidaknya dalam konsep pemikiran. Pelaksanaannya tergantung kedewasaan dan langkah masing2 pihak.
 
Ketika membaca kasus pembubaran KKR Natal di Sabuga ITB Bandung, saya jadi teringat pembicaraan lama itu..

Negeri Cabe-cabean

Saya kasihan dengan Iwan Fals. Ia dihujat dimana-mana hanya karena berdiri disamping pemerintahan sekarang. Menurut mereka, Iwan Fals munafik karena dulu lagunya selalu menyindir penguasa tetapi sekarang malah berteman dengannya.

Ada kesalahan berfikir sebagian orang bahwa penguasa -atau bisa disamakan dengan mereka yang sekarang memerintah- adalah mereka yang harus selalu disalahkan. Berada pada sisi berseberangan adalah sesuatu membanggakan. Kita harus selalu kontra terhadap yang namanya penguasa.
 
Benarkah begitu?
Ternyata tidak juga. Sesudah saya amati pelan-pelan ternyata yang mencibir Iwan Fals adalah mereka yang tidak memilih Jokowi, tetapi menyukai "seseorang yang tidak boleh disebut namanya". Jadi ini masalahnya bukan penguasa atau tidak, tetapi Jokowi atau bukan.
 
Iwan Fals yang menentukan pilihannya dan tidak sesuai dengan pilihan mereka, tentu harus dicibir. Dianggap munafik, pencitraan, tidak sesuai lagi antara syairnya yang dulu dgn apa yang dilakukannya sekarang. Seolah-olah semua orang harus sesuai dengan apa yang disukainya, kalau tidak bisa keluar tudingan macam-macam.

Bahkan ada yang menghubungkan bahwa kontra dengan penguasa adalah sebuah kewajiban. Ini juga aneh. Sepertinya penguasa itu tidak ada yang betul dan semua penguasa patut dicurigai.
 
Padahal di dalam Islam -menurut sejarahnya- tunduk pada khalifah yang berlaku saat itu adalah kewajiban. Lalu apakah mereka yang berpandangan bahwa penguasa selalu salah juga menyalahkan khalifah Abubakar. Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib? Kacau logika berfikirnya saking tidak sukanya pada Jokowi.

Iwan Fals tentu harus bersuara keras jika pemerintahan tidak berada di jalurnya. Tetapi ketika penguasa itu ingin menjadikan negara ini lebih baik, kenapa harus selalu diserang dan bukannya didukung?.

Ah, manusia itu memang sulit ditebak kemana akalnya bergerak. Ini masa dimana berbeda pandangan adalah sesuatu yang salah. Bahkan membela Ahok dianggap memusuhi Islam. Perbedaan pandangan ini sempat membuat beberapa teman ditendang keluar dari WA grup karena dianggap terlalu membela Ahok. Padahal, para admin tidak sadar bahwa mereka juga terlalu memusuhi Ahok.
 
Beda pandangan politik itu wajar dan harus dibiasakan. Kuping tidak perlu tipis dan hati harus terus dikompres pake es supaya tetap dingin. Belajar dewasa ketika berbeda, jangan seperti anak kecil yang maen kubu-kubuan.

Seperti saya suka kopi tapi saya menghargai mereka peminum teh dan susu. Menjagokan masing-masing pilihan itu wajar, ejek-ejekan pilihan itu juga biasa. Yang tidak wajar dan tidak biasa adalah kalau ngejek paling keras, disentil dikit meradang.

Kalau disentil dikit meradang, saya suka ingin bertanya, "Maaf mas, itu hati apa bisul matang?". Seruput dulu ahhh..

Senin, 05 Desember 2016

Ahok Tidak Bersalah

Badja
Ahok
Banyak analis politik yang berkata bahwa Ahok akan dikorbankan dalam kasus ini. Saya juga sering mendengar dalam pembicaraan ketika sedang ngopi bahwa Ahok akan habis dalam sidang ini. Saya senyum-senyum saja.
Benarkah?
 
Salah satu kehebatan lawan politik Ahok -yang harus saya akui- adalah kehebatannya dalam menciptakan situasi dan bermain propaganda disana. Hanya memang kehebatannya bersifat negatif karena memainkan wilayah sensitif yaitu SARA.

Dengan memainkan isu "penistaan", mereka melakukan tekanan kepada Ahok. Disini memang yang sempat saya sesalkan, ketika Ahok terpancing umpan mereka sehingga keluarlah karakternya yang spontan. Siapapun yang waras dan sehat akalnya bisa melihat bahwa Bela Islam itu tidak lain adalah bagian dari permainan politik dengan memanfaatkan agama.

Sesudah melakukan tekanan kuat, akhirnya Ahok menjadi tersangka. Sampai disini mereka tidak menyerah. Sekarang dimainkan lagi isu melalui analis-analis politik bahwa Ahok akan dikorbankan. Ini sudah jelas proxy war, menyerang lawan dengan menggunakan pihak ketiga. Tujuannya adalah melemahkan militansi pendukung Ahok, sehingga mereka ragu untuk memilihnya nanti.

Salah satu strategi mereka juga menjauhkan pendukung Ahok yang beragama Islam supaya mereka ragu untuk memilihnya karena merasa "Jangan-jangan bener dia sudah menistakan agama gua".
 
Dan lumayan, isu itu berpengaruh terhadap elektabilitas Ahok meski juga tidak bisa dibilang signifikan. Karena biar bagaimanapun kinerja Ahok sangat terasa terutama bagi mereka yang tinggal di Jakarta dan merupakan penilih potensial.

Belum cukup sampai disitu, isu dimainkan lagi bahwa Jaksa penuntut Ahok beragama Kristen. Dan karena agamanya sama, maka objektifitasnya diragukan. Mereka memainkan serangan dari berbagai arah untuk menekan.

Kenapa mereka harus begitu?
Perhatikan, sebenarnya mereka juga tidak yakin bahwa Ahok akan terbukti bersalah dalam kasus ini. Ketidak-yakinan itu terlihat dari langkah-langkah panik dengan menyebar isu kemana-mana yang kadang tidak masuk akal. Mereka mencoba meng-intervensi hukum supaya Ahok ditahan. Bukan itu saja -lucunya- mereka juga meminta Jokowi melakukan intervensi pada pengadilan supaya Ahok bersalah.

Tujuan isu-isu itu jelas adalah pelemahan, menyerang mereka yang lemah hatinya yang punya hak memilih di Jakarta supaya ragu untuk memilihnya. "Wong sudah tersangka, kok dipilih.. sia-sia nanti juga masuk penjara".

Meskipun belum ada sejarahnya -koreksi saya jika salah- bahwa tersangka penistaan agama itu lolos dari hukum karena bersifat subjektif, kali ini tidak berlaku untuk Ahok. Dijadikannya Buni Yani sebagai tersangka juga bisa menjadi poin penting untuk membebaskan Ahok karena terciptanya unsur penistaan itu tidak lepas dari editannya.

Saran saya, jangan lemah dan jangan terpengaruh semua model analisis maupun survey yang lebih banyak condongnya ke calon tertentu. Ini propaganda, bagian dari perang.
 
Yakinilah apa yang kamu yakini, maka itu saja cukup sebagai alasan untuk memenangkan pertarungan. Selebihnya tinggal bagaimana tim kampanye Ahok menaikkan keyakinan bahwa Ahok berada di jalan yang benar.

"Kamu mau bertaruh lagi, Den?"
"2 tahun gak pake celana dalam masih belum kapok juga ???"
"Kali ini siapa yang salah iket pake karet.. !!"
Rasanya kopiku hari ini berwarna biru lebam....

Merajut Kembali Baju Bhinneka Kita

Persatuan
Kebhinekaan
Meskipun sebenarnya tidak terlalu suka dengan aksi 412, saya menghargai pesan-pesan kebhinekaan yang ingin disampaikan.

Hanya kenapa mesti aksi dibalas aksi?. Tidak akan pernah selesai ketika aksi selalu dibalas aksi. Kita hanya akan sibuk dengan pameran kekuatan yang tidak ada habisnya. Lebih baik bermain dengan cara berbeda. Jangan selalu pakai cara-cara Orba, akhirnya sibuk beraksi tanpa ada solusi.

Cara Jokowi itu cantik, sangat cantik.
Ia tidak perlu mengerahkan kekuatan tandingan untuk sekedar menunjukkan dirinya kuat. Ia bermain melalui jalur konstitusi, merangkul dan memukul tanpa terlihat. Saya tahu, banyak sekali yang menawarkan padanya untuk mengumpulkan kekuatan tandingan tapi bukan begitu sifatnya.
 
Itulah yang membuat ia dihargai lawan dan disegani kawan. Bahkan yang suka membullynya pun sungkan. Ia menutup kelemahan dirinya untuk diserang. Sulit mengetahui langkahnya karena ia bermain diluar strategi yang banyak dipikirkan lawan.

Banyak cara untuk memperbaiki diri, jika itu yang ingin dilakukan, bukan hanya sekedar nampang dengan jargon "kebhinekaan" tapi cara yang dilakukan sama saja dengan mengajak perang..
 
Seperti momen Natal dalam waktu dekat ini.
Ini momen terbaik untuk menyampaikan pesan kebhinekaan. Dan bisa dimanfaatkan betul oleh umat Kristiani untuk merangkul saudaranya dalam kemanusiaan. Pesan harus indah, seperti saling mengunjungi, saling memberi, meski mungkin tidak banyak diterima karena masih ada yang hidup di zaman purba takut kehilangan akidah.
 
Perjalanan kita masih panjang. Kita diajarkan Tuhan untuk melakukan banyak proses sebelum kemenangan diumumkan. Kemenangan itu adalah ketika kita berhasil menjaga negara ini dari unsur provokasi di wilayah keagamaan yang dibungkus oleh kepentingan..
 
Tuhan itu Maha dan tidak perlu dibela. Kebhinekaan kitalah yang perlu dijaga karena ia sangat rentan..
 
Merajut kembali kebhinekaan kita yang sudah sempat terkoyak karena ketidak-dewasaan dalam berdemokrasi adalah tugas kita bersama.. Kekuatan kita adalah kerinduan masa lalu dimana semua saling menghargai, saling mengunjungi dan saling mengucapkan salam.
 
Jadikan momen sukacita itu menjadi momen cinta pada sesama. Persatuan Gereja membuat satu momen cinta dimana Natal tidak hanya dirayakan oleh umat Kristiani saja, tapi juga membuat sebuah acara besar dimana umat muslim juga bisa hadir disana.
 
Kita tidak harus menjadi seperti Lebanon dulu untuk supaya bersama, tapi biarkan Lebanon mengajari kita bagaimana seharusnya kita bersama... Mereka membutuhkan waktu 15 tahun dalam perang saudara hanya untuk mengerti apa arti cinta.
 
Seruput kopi dulu, semoga masing-masing dari kita bisa merendahkan hatinya.

Bukan Buat yang Beriman Tipis

Lawan
Teman
Saya selalu sarankan ke banyak teman, jangan share status saya kalau tidak kuat menghadapi tekanan. Karena bagi mereka apa yang saya tulis adalah menghina, meracuni, menipiskan iman, menjauhkan hidayah, memecah belah, mengadu domba dan sejuta lagi makian..
 
Tapi malah ada teman yang menyukainya dan selalu men-sharenya. Katanya tulisan saya bisa membongkar borok dalam pikiran seseorang sehingga dia tahu mana temannya dan mana yang satu waktu akan menjadi lawannya.
 
Yang saya pelajari, salah satu ciri mereka yang terlalu bangga dengan golongannya cenderung menjadi paranoid. Mereka menutup diri dari pemikiran baru karena takut tidak diterima oleh kebanyakan.. Nyaman dalam kebodohan.
 
Hidup dalam ketakutan seperti mereka sungguh menakutkan. Tidak merdeka dalam segala hal. Mungkin mereka kurang ngopi sehingga tidak pernah menyeimbangkan diri. Apalagi kalau saya bunyi "seruputtt", disangka dari mulut saya mau keluarkan api.

Umat Buih di Lautan

Umat Islam
Buih di Lautan
"Ummati.. ummati.. ummati.."
Begitulah pesan terakhir Nabi Muhammad SAW menjelang wafatnya beliau, yang artinya, "umatku, umatku, umatku..". Tampak sekali beliau berat meninggalkan dunia ini karena kecemasan terhadap umatnya.

Nabi pantas cemas karena kesucian dirinya yang membuat ia mampu melihat apa yang terjadi pada umatnya di masa depan. Bahkan kecemasan beliau itu dituangkan dalam pelbagai hadis.

Ada yang tentang orang muda pembaca Alquran dimana Alquran itu sendiri yg juga melaknatnya. Ada yang tentang megahnya masjid-masjid tapi sepi di dalamnya. Ada yang tentang munculnya ulama-ulama jahat yang akan membawa umat ke arah kegelapan.
 
Banyak lagi kengerian di akhir zaman yang membuat saya menjadi paham kenapa Nabi begitu cemas terhadap umatnya sendiri. Dan saya menjadi paham juga, bahwa yang dimaksud dengan kecemasan Nabi terhadap umatnya bukan saja karena umatnya akhirnya bermaksiat, tetapi begitu mudah digiring ke arah kepentingan hanya karena kebanggaan kelompok atau golongan.
 
Umat ini besar tetapi rapuh. Sibuk dengan kuantitas dan melupakan kualitas. Tidak mampu mengklasifikasi benar dan salah. Bahkan condong terperangkap keindahan baju para pemuka agama, sehingga lupa bahwa Nabi SAW diturunkan untuk memperbaiki ahlak manusia.
 
Ketidakmampuan umat ini untuk belajar menjadi "muslim" sebenarnya, menjadikannya terpesona oleh orang-orang yang dianggap tahu agama. Wajar jika banyak yang menyerahkan dirinya untuk ditipu mentah-mentah oleh mereka yang berbaju ulama seperti Aa Gatot, Kanjeng Dimas sampai Guntur Bumi. Ketika tahu ditipu, baru mencaci maki. Sebelumnya, memuji-muji.
 
Begitu banyak peristiwa, tapi tidak mampu mengerti. Tauhid dijadikan kebanggaan diri, padahal - seandainya mereka mengerti - iblis adalah pelaku tauhid kelas tinggi. Saking merasa dekatnya dengan Tuhan, iblis pun tidak pernah tunduk kepada Nabi Adam.

Jadi, bagaimana Nabi Muhammad SAW tidak cemas dan sedih?.
Mungkin kita harus belajar lagi apa arti "Islam" sebenarnya, apa arti "muslim" sebenarnya. Bahwa Islam dan Muslim sesungguhnya adalah pencapaian, bukan sebuah identitas yang disematkan. Islam adalah ajaran, bukan bendera kebanggaan. Jika itu dipahami dengan benar, tentu kita akan lebih banyak tafakur dan berkaca, "Benarkah kita sudah benar?".

Ketidakmampuan melakukan otokritik terhadap diri yang sudah ternilai sempurna, adalah bukti bahwa semakin akal melemah, kebanggaan diripun meninggi.
 
Sudah saatnya ngopi sambil merenungi kembali pesan sang manusia suci..
"Umatku banyak di akhir zaman, tapi mereka seperti buih di lautan.." Rasulullah SAW.

Sabtu, 03 Desember 2016

Terima Kasih Pak Tito dan POLRI

Kapolri
Kapolri
Banyak yang mengirimkan gambar ke saya tentang aksi 411 & 212 dengan tambahan ejekan bahwa "Ini bukti bahwa Islam cinta damai.."
 
Entah apa pikiran mereka, dipikirnya saya benci dengan agama saya sendiri. Justru saya sangat cinta bukan saja kepada agama saya sendiri tetapi kepada saudara-saudara saya yang sedang ada disana. Karena itu saya selalu memberikan peringatan "hati-hati", yang ditafsirkan oleh mereka dengan mengejek.

Seharusnya kita sangat bersyukur bahwa tidak terjadi apa-apa dalam acara itu. Kita semua. Seandainya mereka tahu, bahwa berlangsungnya situasi aman saat itu, tidak lepas dari kerja keras Kapolri dan semua jajarannya yang bekerja dalam senyap dan tidak perlu publikasi.
 
Mereka mengamankan begitu banyak ancaman, senjata-senjata yang ingin disusupkan dan bom-bom yang ingin diledakkan di tengah demonstran. Hanya saja ini memang sengaja tidak dipublikasikan supaya masyakarat tidak bertambah panik.
 
Mereka melakukan banyak antisipasi, kerja begadang bermalam-malam, berfikir banyak kemungkinan, termasuk mengejar para pelaku potensial yang mempunyai kemungkinan menyusup di dalam barisan demonstran. Mereka paham bahwa ketika keadaan buruk terjadi, merekalah yang pertama kali disalahkan.

Pesta dalam bentuk aksi damai itu adalah perhelatan besar yang penyelenggara keamanannya adalah Polri. Pertaruhan besar pak Tito bahwa semua harus dalam kondisi aman, sehingga Presiden bisa masuk ke tengah barisan.

Ribuan polisi menyamar di tengah demonstran, mereka memantau segala hal yang tampak mencurigakan. Sedangkan di luar, pasukan siap mengantisipasi segala kemungkinan. Anda bisa bayangkan kerja keras itu, yang sama sekali tidak berharap mendapat pujian.

Begitu banyak informasi masuk ke saya dengan segala teori yang menakutkan. Meski begitu saya terus bercanda, supaya semua terlihat biasa sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.

Dan ketika semua selesai, saya pun terduduk dengan lelah dan syukur tak habis-habisnya dalam dada. Saya membayangkan semua pejuang tanpa pujian itu dalam posisi yang sama. Kita sudah melewati situasi tergenting sesudah peristiwa 98.

Saya sebenarnya tidak ingin mengungkapkan ini. Tetapi karena badai sudah berlalu, tidak layak ketika saya tidak mengucapkan sedikitpun terimakasih atas kerja baik aparat kita.
 
Biarlah mereka mengejek ketika semua berlangsung dalam keadaan aman. Itu lebih baik daripada mereka marah ketika terjadi peristiwa yang -mungkin- bisa menghilangkan nyawa keluarga, saudara dan teman mereka. Dan lebih buruk lagi adalah kerusuhan di negara kita.
 
Untuk Pak Tito Karnavian dan seluruh jajaran Polri, untuk seorang teman yang ada disana, terima kasih.

Izinkan saya menuangkan secangkir kopi malam ini. Sungguh, Tuhan Maha Pengasih pada negeri ini dengan adanya orang-orang baik yang berbakti tanpa harus dipuji.

Teman-temanku Pembela Islam

Pembela Islam
Arogansi
Teman-temanku itu lucu-lucu orangnya. Ada yang pemain proyek kotor. Suap sana suap sini seakan sudah jadi tradisi. Karaoke plus plus adalah tempat bermain bersama pejabat-pejabat kecil yang seiring. Jika bertemu obrolannya selalu tentang materi.

Hari itu dia pasang foto dengan status "berangkat membela agama dari nistaan orang kafir". Ada juga yang kerjaannya tipsani, tipu sana sini. Tanpa pekerjaan tetap yang sesuai kompetensi. Kadang waktu bertemu tampak kaya dan seringkali mengeluh sedang miskin. Dicari dimana-mana sembunyi kesana kemari.

Hari itu dia pasang foto dengan daster putih-putih. "Sudah saatnya membela agama Allah. Takbir.. takbir.."

Ada juga teman wanita yang cantik. Sebelumnya bebas merdeka dengan kehidupan yang borjuis. Baru beberapa bulan menutup dirinya dengan kerudung modis. Statusnya beberapa saat penuh ayat-ayat suci. Dan sekarang selalu berbau politik agamis.

"Sudah saatnya kebenaran diteriakkan dan si penista dipenjarakan !" Tulisnya bergelora disambut komen-komen takbir.
 
Aku tersenyum membacanya. Aku kenal mereka seperti mereka kenal diriku. Ingin kusampaikan, "Yang ingin kalian bela itu jauh lebih besar dan jauh lebih kuat dari kalian. Ia tidak mungkin nista, karena siapa yang mampu menistakan kesuciannya? Ia tidak mungkin hina, karena kehinaan hanyalah milik manusia. Jika kita ini adalah sumber hina, kenapa tidak sibuk mensucikan diri kita?".

Tapi yah, mana mungkin mereka mendengarku. Aku sudah dianggap berbeda di mata mereka. Manusia oh manusia.

Kenapa perilaku kalian itu selalu menggemaskan, seperti balita yang sedang belajar berjalan ?
Lebih baik aku duduk sambil menyeruput secangkir kopi sasetan.

Beda Makar dan Kritik

Pemerintahan
Demokrasi
Untuk teman-temanku yang imut dan menggemaskan, yang sebenarnya pinter tapi sulit rasional karena kebencian, nih saya kasi pandapat Profesor ya perbedaan antara MAKAR dan KRITIK. Mbok ya pinter sedikit... Dikitttt ajah, gak usah banyak-banyak.

"Makar itu setiap usaha menggulingkan pemerintah yang sah," kata ahli pidana Prof Hibnu Nugroho saat berbincang dengan detikcom, Jumat (2/12/2016).

Aturan makar secara umum diatur Pasal 107 KUHP yang berbunyi:
(1) Makar dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

(2) Para pemimpin dan pengatur makar tersebut dalam ayat 1, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

"Pasal di atas adalah delik formil, bukan delik materiil. Artinya, tidak perlu sampai tergulingnya pemerintahan untuk bisa dipidana, tapi berencana saja sudah terkena delik makar," ucap pengajar Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto itu.
Secara detail, ada empat jenis makar, yaitu:
1. Makar terhadap kepala negara.
2. Makar untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.
3. Makar permufakatan.
4. Makar dengan pemberontakan.
Sebagai delik formil, maka makar tidak harus dilakukan oleh aparat bersenjata tetapi juga bisa dilakukan oleh sipil. Setiap orang yang berniat dan melakukan tindakan dan upaya mengganti pemerintah yang sah, maka bisa terkena delik makar.

"Ini memang sangat luas penafsirannya. Orang yang cuma rapat-rapat atau ngumpul-ngumpul, tetapi melakukan niatan dan upaya menggulingkan pemerintahan yang sah, bisa terkena delik," papar Hibnu.
 
Dalam negara demokrasi, mengkritik merupakan hal yang lumrah. Tapi Hibnu mewanti-wanti masyarakat untuk bisa membedakan antara kritikan ke pemerintah dengan makar.
 
"Kalau kritikan, itu harus ditujukan kepada kebijakan. Umpamanya 'saya tidak setuju dengan program A'. Tapi kalau makar, tujuannya bukan mengkritik, tetapi mengganti pemerintah, menggulingkan dan sebagainya," ucap Hibnu.
 
Ancaman makar cukup berat yaitu maksimal hukuman penjara seumur hidup. Artinya, orang yang melakukan makar maka dapat menghuni penjara hingga meninggal dunia.
 
"Tapi nantinya tergantung hakim, berapa lama hukuman yang diberikan. Nanti hakim yang menilainya," cetus Hibnu.
 
Nah, minum kopinya ya... Biar fresh dikit dan gak selalu nyonyor.. Ingat, giginya dah hilang satu persatu.. :)

Jumat, 02 Desember 2016

Pakde Jokowi, Kita Dalam Bahaya

Palsu
Ustad Palsu
Malam, Pakde.
Banyak yang memuji langkah Pakde pada aksi tadi siang. Dan saya yakin tim pakde pasti tersenyum senang melihat keberhasilan membalikkan serangan lawan dengan gemilang.
Tapi Pakde, jika boleh saya ingatkan..
Keberhasilan-keberhasilan itu sebenarnya sangat rentan. Salah langkah sedikit saja, maka kita akan terpecah menjadi beberapa bagian. Terlalu riskan jika selalu memakai pola bertahan.

Banyak orang bilang, bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang.. Seharusnya Pakde mulai memikirkan strategi ini. Mumpung mereka mulai melemah dan masih sibuk membangun kekuatan..
Jika boleh, saya ingin sedikit sumbang saran.

Apa yang kita hadapi sekarang ini adalah akibat kebodohan. Ketidak-pahaman akan agama dengan benar, membuat banyak orang mudah sekali terprovokasi dengan baju kebanggaan. Sudah saatnya Pakde melawan ini. Dan untuk melawan kita harus melihat sisi mana yang harus segera dibereskan.

Sisi pertama adalah media mainstream. Begitu banyak ustad-ustad yang tidak layak tampil memenuhi layar televisi nasional. Mereka membangun persepsi tentang ajaran Islam sesuai versi mereka sendiri.
Kalau dicermati, banyaknya ustad karbitan ini sebenarnya bagian dari sebuah skenario besar dengan perjalanan panjang. Dengan uang besar, ada pemain utama yang membeli slot2 acara di stasiun televisi nasional khusus untuk acara agama Islam.
 
Dengan menguasai slot-slot acara itu, mereka mudah melakukan proses cuci otak, mereka mengangkat ustad yang sepemikiran dengan mereka dan mengontrol pemahaman tentang Islam sesuai kehendak mereka.

Akhirnya masyarakat awam yang baru belajar -mau tidak mau- mempunyai idola baru. Mereka tunduk karena mereka memang tidak tahu. Dan disinilah proses mengarahkan pikiran dilakukan.

Akhirnya yang mereka kenal hanya kafir, bidah, musyrik dan sebagainya. Yang kalau tidak dipakai untuk menghantam non muslim, diarahkan kepada muslim yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka.
 
Proses ini sudah berlangsung lama dan sengaja dibiarkan, mungkin dipelihara.
Saran saya, Pakde pakai saja cara mereka...
Kerjasamalah dengan Nadhlatul Ulama. Berikan NU dana bantuan untuk membeli slot-slot di acara TV nasional. Dengan begitu, NU bisa mengisi acara dan mengarahkan ajaran Islam kembali dalam bentuk nusantara yang ramah.

NU akan menghadirkan ustad-ustad muda, moderat dan intelektual seperti Prof Sumanto al Qurthuby atau Nadirsyah Husein, yang pola pikirnya sudah maju dan tidak sembarang berfatwa. Pasti banyak lagi kader-kader muda NU yang seperti mereka, dengan pendidikan tinggi dan pemikiran segar yang akan mengangkat Islam pada sisi berbeda.

Dengan menampilkan kader muda dan pintar seperti mereka, NU akan tampil bukan lagi sebagai Islam buat wong ndeso, tetapi sudah bertransformasi menjadi kekinian.
 
Biar kader NU tidak ditampilkan hanya sebagai pembicara, tetapi mereka juga menjadi guru yang akan mengangkat intelektualitas awam yang sedang ingin belajar Islam, supaya tidak selalu sibuk dijejali dengan dogma.
 
Beri waktu 10 tahun biar NU menguasai media televisi nasional dalam siaran keagamaan, maka pola pikir masyarakat muslim di Indonesia akan terupgrade sehingga tidak mudah diprovokasi oleh kepentingan politik berbaju agama.

Maaf saya masih belum bisa memberikan saran ini untuk Muhammadiyah. Biar mereka belajar dulu untuk melindungi ulama cerdasnya seperti Buya, dari hinaan orang lain yang tidak sepaham pemikirannya.

Itu baru sisi pertama.. Dan masih banyak sisi lainnya, cuma nanti terlalu panjang jika harus saya paparkan dalam satu kotak tulisan. Tetapi sisi pertama itu cukup sebagai jalan keluar, karena sudah memecahkan lebih dari separuh masalah umat muslim di negara kita.

Pakde harus mulai menyerang dari sekarang, karena apa yang mereka lakukan dengan pembodohan terhadap umat Islam sudah sangat mengkhawatirkan.. Jangan sampai mereka yang niatnya mau belajar agama, malah dijadikan tunggangan untuk kepentingan politik beberapa golongan.
 
Bisa pecah perang saudara satu saat negara kita, jika muslim awam hanya memaknai Islam sebagai aksesoris kebanggaan saja..
 
Sekian dulu, Pakde Jokowi... Semoga sehat selalu. Revolusi mental harus mencakup segala bidang, termasuk dalam hal pengetahuan agama...
Kapan kita bisa seruput kopi bersama?
Jangan di istana dan makan-makan bersama, karena saya lebih suka duduk di halaman belakang rumah, dengan sarungan dan sebatang rokok ditangan... Kita ngobrol tentang masa depan kebhinekaan kita yang rentan dan mudah sekali pecah..
Malam, pakde..

Selamat istirahat sambil memeluk payung biru yang dicurigai orang sebagai simbol tertentu. Saya juga bingung kenapa mereka banyak berfikir begitu?

Setahu saya, pakde sempat nelpon ke saya, "punya yang warna polkadot ?" Ya, gak ada lah... terlalu feminin nantinya di pakai di depan massa. Pakde ini ada2 aja...

PANGGUNG JOKOWI

Jokowi
Jokowi
Salah satu rencana penyelenggara demo2 besar ini sebenarnya adalah 2019..
Dengan tekanan kepada pemerintahan Jokowi, mereka sangat berharap Jokowi melakukan kesalahan. Kesalahan yang utama adalah melakukan pukulan kepada para pendemo sehingga terjadi kerusuhan yang akan mereka perluas skalanya.

Ketika demo berubah rusuh, dampak yang terjadi adalah pelemahan ekonomi dan ketidak-percayaan pada pemerintah. Jika mereka tidak bisa menjatuhkan Jokowi sekarang, di 2019 diharapkan akan berpengaruh pada elektabilitasnya. Dan saat Pemilu nanti, mereka akan membawa kerusuhan2 itu sebagai senjata untuk menghantam Jokowi.
 
Sayangnya, mereka gagal....
Hal yang mereka tidak perkirakan adalah Jokowi tidak melakukan pukulan keras kepada pendemo, malah mempersilahkan mereka dan memperlakukannya dengan baik.
 
Karena rencana yang tidak berhasil itu, mereka kemudian mencoba membunuh karakter Jokowi dengan mengatakannya pengecut karena tidak menemui peserta demo.
Terbukti gagal maning, gagal maning...
 
212 ini salah satu cara mereka untuk kembali menjatuhkan nama Jokowi. Dan lagi2 mereka salah langkah, Jokowi adalah pemain catur yang brilian...
 
Pemerintah menyamarkan langkahnya dengan statemen Panglima TNI bahwa ia tidak akan hadir pada shalat Jumat di Monas. Tidak hadirnya Panglima berarti ketidak-hadiran Presiden. Lawan tersenyum, "Nah, matek kon..."
 
Injury time, Presiden tampak melangkah keluar istana beserta pejabat2 lain dan Panglima TNI menuju tempat shalat Jumat. Mereka berjalan dengan gagah ditengah hujan sambil memegang payung...
 
Jokowi menjadikan acara shalat Jumat itu sebagai panggung dirinya. Ia menunjukkan bahwa dirinya tidak takut akan tekanan2 yang terus datang. Ia menghajar lawannya dengan langkah kuda yang jitu.. Mereka yang kemarin meremehkannya, sekarang berbalik memujanya.
 
Tidak terduga, lawan politik Jokowi malah tanpa sadar menyediakan panggung yang indah dengan karpet merah, dimana Jokowi melangkah dengan anggun dan berwibawa...
 
Congrats Mr. Presiden.. Langkahmu telak menampar mereka yang merasa sudah berada di ujung kemenangan. Saya ingin mengangkat secangkir kopi untuk anda setinggi-tingginya..
 
Tinggal para donatur demo yang harus membereskan bidak2nya dan menyusun ulang kembali strategi mereka. Apalagi penangkapan pion2 mereka meruntuhkan mental bertarung ditambah kehilangan dana besar yang ternyata tidak sesuai harapan.
 
Lebaran kuda ternyata masih jauh, Kumendan... Habis ini jangan kaget kalau ada gebrakan cepat KPK memperkarakan proyek mangkrak yang besinya sudah karatan.
 
Seruput dulu... baru bikin album baru.
Saya pesan yang judulnya, "Kegagalan adalah sukses yang tidak pernah datang.."

Kenapa Kamu Membela Ahok?

Basuku Tjahya Purnama
Ahok
"Kenapa kamu selalu membela Ahok?".
Tanya seseorang di kotak pesanku dengan nada sewot. Aku terdiam. Kumatikan rokokku yang tinggal seperempatnya. Kuhirup kopiku dan mulai mengungkapkan apa yang kupikirkan.

Sebenarnya kata "membela Ahok" itu kurang tepat. Terlalu sempit ketika aku hanya terpaku pada sosok, karena sosok itu tidak merepresentasikan kebenaran.
 
Lebih tepat jika dikatakan, saya sedang membela sebuah nilai. Nilai kebhinekaan dan keadilan. Ahok adalah representasi dari minoritas, baik minoritas etnis dan agama. Tapi ia mempunyai hak yang sama dalam demokrasi kita... Sama seperti kamu, aku, kalian, mereka dan semua yang mengaku sebagai umat mayoritas dengan kebanggaan yang semu dan tak berguna.

Jadi, kenapa ia tidak boleh menjadi "pemimpin" di negara yang menganut kesamaan hak dan kewajiban sebagai anak bangsa? Bukankah itu mengkhianati perjanjian bersama yang dibangun oleh para pendiri negara dengan darah mereka?

Dalam kinerja, Ahok sudah memberikan bukti bahwa ia mampu. Hasil kerjanya bisa dilihat dengan jelas mulai penataan sungai sampai pengangkatan derajat para pekerja yang dulu tak kelihatan. Jika ia mampu dan mempunyai hak yang sama, maka berikanlah ia kesempatan yang sama.

Masalah tidak suka, cukup dengan tidak memilihnya. Bukannya memaksa ia harus keluar dari kesamaan haknya karena ia minoritas. Itu dzolim namanya, menyayat kebhinekaan kita menjadi luka dalam yang akan terus menganga.

Jadi, membela Ahok sebenarnya -buat saya- sama dengan membela kebhinekaan kita, keadilan kita, nilai-nilai yang selama ini menjadi pondasi dasar kehidupan kita dalam bernegara. Ahok hanya pelakunya saja.

Sama seperti ketika saya membela Jokowi, bukan karena sosoknya. Tetapi karena ia adalah simbol negara yang sah. Begitu juga ketika saya membela ulama yang benar, saya sebenarnya membela nilai-nilai pewaris Nabi yang sesungguhnya.

"Tapi kan mereka yang berdemo sedang membela nilai agama mereka yang dinista?". Kubakar lagi sebatang dan kuhirup kopiku yang sudah tinggal ampasnya.

Pertama, agama itu tidak lemah sehingga perlu dibela. Agama itu suci sehingga tidak mungkin nista. Lagian yang dimaksud nilai agama itu bukan agamanya sendiri, tetapi mutiara didalamnya sebagai pembentukan ahlak. Apakah korupsi itu membela nilai agama atau malah menista agama? Jelas menista.

Jadi belalah nilai-nilai di dalamnya dengan terus mengkajinya supaya kita menjadi manusia yang benar, bukan dengan teriak-teriak membanggakannya.

Jika Ahok dianggap menista, tunggu saja keputusan hukum yang ada. Tidak perlu memaksa hukum keluar dari rel-nya. Terima semua keputusan.
 
Masalah puas dan tidak puas, itu masalah perasaan, tidak ada ukurannya...
Ia terdiam, entah mengerti atau tidak.
 
Lalu, "Halahhh.. kamu syiah, JIL, sok mengajari saya. Tahu apa kamu tentang Islam ?"
Aku tersenyum. Teringat nasihat Imam Ali as, "membuktikan kebenaran kepada orang bodoh itu mudah. Yang susah adalah membuat mereka menerimanya.."

Kuhirup kopiku sekali lagi. Cuihhh.. ternyata cangkirnya sudah kujadikan asbak...

Kamis, 01 Desember 2016

Perang Terbuka Tito Karnavian

Kapolri
Satu tokoh yang saya kagumi dan terlihat bersinar saat demo-demo besar ini adalah Kapolri Tito Karnavian.

Demo 411 kemaren adalah pembuktian keahlian beliau dan tim-nya. Dengan pengalaman memimpin Detasemen antiteror dan BNPT, pak Tito sangat paham pola dan karakter para perusuh.

411 kemaren sebenarnya situasi yang sangat genting, hanya tidak banyak yang menyadari. Beberapa hari sebelum demo, dikabarkan polisi sudah menyita banyak bom yang akan diledakkan. Ini saja sudah mematahkan mental para perusuh karena gerak mereka terbaca.

Perusuh memainkan rencana B dengan strategi menyerang polisi. Satu orang memukul, dan ketika polisi bereaksi maka yang lainnya akan merangsek maju mengeroyoknya, kemudian senpinya akan direbut dan akan dimulai aksi tembak-tembakan yang membuat suasana kacau.

Suasana kacau ini akan diperluas dengan menyerang istana dan senayan. Diharapkan rentetan peristiwa berikutnya akan memicu peristiwa 98 yang akan menjatuhkan Jokowi.

Pak Tito sudah mengantisipasi hal itu dengan tidak mengizinkan anggotanya membawa senpi dan tidak bereaksi meski di provokasi. Disini perusuh kehilangan momentum, sebagian anggotanya ditangkap beberapa hari lalu.

Menarik memang cara perang lunaknya Pak Tito. Mereka tidak bermain keras dan menghantam karena itu yang memang diinginkan perusuh. Ketika dihantam dan terjadi korban, perusuh bisa mendapat momen untuk menggerakkan massa yg lebih besar.

Tito Karnavian seperti memainkan keseimbangan. Setiap tekanan yang datang kepada mereka tidak dihadang dgn beton keras, tetapi dialirkan dengan gaya air mengikuti alur. Tito memanfaatkan tenaga lawan untuk menekan mereka balik tanpa mereka sadar..

Ia memecah barisan mereka, melakukan diplomasi sekaligus menggertak "jangan sampai makar". Karrena gertakan inilah, karakternya dibunuh di media online dan sosial. Ia "diadu" dengan Panglima TNI dan dibuat seolah2 mereka bertentangan dengan pak Tito sebagai Bad Guy-nya.

Keberhasilan seorang Tito meredam demo itu sehingga terlihat damai bisa dibilang sebuah keajaiban, karena di beberapa negara seperti Libya, Suriah dan Mesir, situasi ini selalu berakhir dengan kerusuhan.

Jadi, sungguh menarik melihat bagaimana Pak Tito mengantisipasi situasi di demo besok. Kali ini sepertinya agak keras mainnya, karena menurut info, Polri menyebar 5 ribu pasukan di dalam pendemo dengan menyamar. Sniper ditempatkan di beberapa titik dan diijinkan tembak ditempat ketika melihat seseorang yg mencurigakan.

Untuk yang ikut shalat Jumat di Monas besok, saya sarankan untuk segera pulang dan tidak perlu berdemo karena polisi tidak main2 sekarang. Peluru tidak mengenal siapa salah dan siapa benar. Jangan sampai terjebak di barisan salah karena itu fatal, meskipun anda merasa benar.

Selamat shalat Jumat besok, yang sudah jalan kaki begitu jauh segera istirahat, yang naik kuda supaya mirip Pangeran Diponegoro segera sadar cari panggung gak perlu terlalu berlebihan.. Kudanya belum ikut lebaran.

Pertahankan demokrasi kita dan menjaganya supaya aman, atau pulang saja daripada nanti dimanfaatkan teman di samping anda yang baru anda kenal dan anda menjadii korban... Hati2 copet, karena mereka juga bisa nyamar pake sorban.

Dan khusus untuk Kapolri Jenderal Polisi Drs HM Tito Karnavian, terima-kasih, pak... Terima kasih juga kepada seluruh jajaran bapak. Kami menggantungkan semua keselamatan kami di tangan aparat.
Seruput dulu kopinya...

Jokowi Shalat Jum'at

212
Jokowi Shalat Jum'at di Solo
Jum’at ini akan ada aksi shalat Jum’at bersama dengan tema "Bela Islam III" yang sudah dilokalisir di Monas.
Pertanyaannya, apakah Pakde ikut shalat Jum’at disana atau tidak? Sebelum menjawab, kita coba lihat ke belakang dulu untuk memetakan situasinya.
Sesudah demo besar 411, tampak langkah-langkah yang dilakukan pemerintah sangat efektif meredam potensi kerusuhan. Apresiasi tinggi kepada Kapolri Tito yang sukses mendeteksi potensi kerusuhan dengan melakukan pengamanan tanpa terjadi bentrokan.
Situasi genting berhasil kita lewati tanpa ada masalah yang berarti. Angkat topi juga kepada Pakde yang sudah memilih orang yang tepat di waktu yang tepat. Beliau memang pemain catur yang handal.
Melepaskan Ahok dari urusan polisi dengan menjadikannya tersangka, adalah langkah yang juga brilian. Dengan demikian barisan mereka terpecah antara mereka yang akhirnya menjadi rasional karena sudah menyerahkannya kepada hukum dan mereka yang tetap emosional karena memang punya kepentingan..
Dengan begitu, peserta demo 212 diperkirakan akan jauh berkurang dari sebelumnya. Karena itulah, untuk menambal jumlah peserta demo dilibatkan buruh. Makin kesini, makin tidak jelas tujuan demo... Di ada-adakan.
Dengan kemampuan lobby yang baik oleh Kapolri, maka terjadi kesepakatan bahwa hanya akan dilaksanakan shalat Jum’at dengan dzikir dan do’a. Itupun sudah tidak di jalan raya, tapi di sekitaran Monas. Sampai disini sebenarnya sudah bisa diihat bahwa pemerintah sudah mengendalikan permainan dan ini sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dan investor asing.
Belum selesai sampai disini seharusnya..
Kemungkinan Pakde akan ikut shalat Jum’at bersama disana. Hadirnya beliau disana bukan karena mengakomodir tuntutan pendemo, tetapi lebih kepada memberikan pesan bahwa situasi aman terkendali. Presiden adalah simbol dan hadirnya sebuah simbol menjadi sangat penting untuk memberikan pesan kepada masyarakat dan dunia internasional bahwa Indonesia dalam kondisi aman.
Itu jika tidak ada kejadian khusus yang membuat keamanan membatalkan kehadirannya..
Mungkin saja Presiden mengajak pejabat lainnya termasuk rival politiknya dulu, Prabowo, sebagai simbol persatuan.
Bagaimana pak mantan? Mungkin siap-siap konperensi pers dengan bla bla tentang bla yang bla dengan nada bla bla.. "Saya bla.."
Dan jika ini terjadi, maka kemenangan sesungguhnya adalah milik bangsa Indonesia yang berhasil melewati krisis akibat kekurang-dewasaan dalam berdemokrasi. Indonesia akan menumbuhkan kekaguman dari dunia luar bahwa bangsa ini mulai menuju matang. Mungkin saja akan dijadikan proyek percontohan dalam menghadapi tekanan tanpa kekerasan..
"Benarkah informasi mu, Den..?".
"Mau taruhan lagi? Kamu dah kalah setahun gak pake celana dalam masak mau nambah? Bukan gondal gandul lagi nantinya, tapi pating pecotot..."
Temanku bingung apa arti pating pecotot. Kopinya sampai gak diminum. Gak mau rugi, kuambil cangkirnya..
Seruputtt..