Rabu, 20 September 2017

MEMANDANG KE DEPAN

Internet
Bisnis Online
Saya bosen dengan isu PKI. Masalah tahun 1965 yang selalu dicari kesalahannya, seakan hidup cuman berhenti disitu saja.

Akhirnya kaki saya melangkah ke Balai Kartini, memenuhi undangan teman dari Badan Ekonomi Kreatif atau Bekraf.

Kebetulan malam ini Bekraf bersama sebuah badan pendanaan dari luar bernama Fenox Venture Capital, sedang mengadakan ajang kompetisi buat perusahaan pemula (startup) di bidang aplikasi online. Perusahaan pemula online ini ditandingkan idenya untuk mendapatkan modal usaha sebesar lebih dari 11 miliar rupiah.

Di ajang itu saya melihat banyak para pebisnis baru, yang sebenarnya bukan baru di bisnis. Mereka rata-rata adalah eksekutif di perusahaan besar yang keluar dan membuat bisnis online baru. Mereka meninggalkan zona nyamannya untuk bergelut di dunia mandiri atau wiraswasta khusus aplikasi online.

Rata-rata ide yang mereka paparkan adalah mengatasi masalah yang selama ini mereka temui di lapangan saat mereka di perusahaan. Ada aplikasi di bidang forwarding, logistik sampai aplikasi mencari ruang meeting yang bisa disewa di kota besar.

Menarik, bagaimana mereka menemukan masalah, mencari solusi dan mendapat peluang dari itu semua. Sampai mereka rela meninggalkan tempat kerja yang nyaman dan bergengsinya, tentulah karena mereka yakin apa yang mereka buat akan menjadi besar nantinya..

Bahkan di bidang pertanian ada aplikasi yang menemukan petani, yang punya lahan, investor sampai buyer sekalian. Ada juga aplikasi untuk belanja sayur mayur, menemukan antara pedagang sayur langsung dengan emak2 tanpa melalui toko besar.

Mereka semua bermimpi menjadi Gojek baru, Tokopedia baru yang kelak akan dibeli sahamnya senilai puluhan triliun rupiah.

Saya malam ini melihat perubahan ekonomi besar di Indonesia ke depan. Aplikasi-aplikasi online yang sedang diciptakan akan merubah budaya banyak hal mulai dari industri sampai model belanja. Tidak bisa ditahan, pasar bergerak dan merata.

Ekonomi Indonesia ke depan tidak akan lagi dikuasai pebisnis besar, tapi menyebar ke pengusaha-pengusaha kecil yang akan meningkatkan pendapatan mereka.

Inilah yang disebut shifting atau perpindahan oleh Profesor Reynald Khasali. Pantas saja beberapa retail besar tutup gerai bahkan pusat perbelanjaan Glodok mati segan hidup pun tak lagi pakai sempak.

Begitulah seharusnya Indonesia. Menatap ke depan. Bukan lagi ricuh masalah masa lalu yang kelam dan diungkit2 terus mencari siapa yang benar dan siapa yang salah.

Orang sudah berpikir tahun 2050, ini masih aja berkutat di tahun 1965. Move on dong, bray...

Alhasil saya keluar dengan semangat baru.

Terimakasih untuk Pakde Jokowi yang sudah membuka ruang sebesar-besarnya untuk ekonomi kreatif. Sehingga ruang-ruang kerja baru terbuka dan orang mulai bergerak untuk menjadi pengusaha.
Orang bilang, "sekarang ini adalah tahun emas, karena kita berada pada titik perpindahan ekonomi. Siapa yang memulai pada saat jni, dia yang akan menang dalam kompetisi ke depan..". Itulah kenapa aplikasi online Baboo saya mulai..

Mungkin satu waktu ada aplikasi untuk DPR online, dimana kita tidak lagi membutuhkan manusia-manusia yang hanya duduk, mangap dan ngorok di ruang sidang. Baru kalau ada proyek, matanya terang..


Seruput kopi dulu ah, meski sudah malam..

MEREKA MULAI BERJATUHAN

Ritel
Toys
Pasti kenal nama Toys R us..

Jaringan ritel mainan besar yang berasal dari AS ini dikabarkan bangkrut. Penyebab kebangkrutan menurut Bloomberg adalah turunnya minat pengunjung ke toko karena banyaknya toko online yang menjual mainan.

Kebangkrutan Toys R us ini memicu turunnya saham di perusahaan mainan yang sejenis, seperti produsen mainan Barbie Mattel.inc, saham Hasbro produsen Monopoli dan Transformers.

Ternyata memang sudah terjadi perpindahan budaya membeli di Amerika sana. Karena orang lebih suka membeli online, biaya-biaya operasional seperti sewa toko dan pegawai sudah menjadi beban berat sekarang karena lebih besar pengeluaran daripada pembelian.

Kita ikuti mana lagi yang akan tutup gerai sesudah di Indonesia sendiri kita melihat Ramayana dan Matahari pun mulai terpengaruh situasinya.


Dunia bergerak maju, bray.. hanya orang kalah saja yang selalu mempermasalahkan masa lalunya yang kelam.

Selasa, 19 September 2017

PKS & NOBAR PKI

PKS
PKS
Sebenarnya bukan masalah nobar filmnya yang harus diwaspadai. Nobar film G30-SPKI sih silahkan saja. Biar generasi milenial yang kritis akan menyaksikan sendiri apakah film itu sesuai sejarah ataukah tidak..

Yang perlu diwaspadai adalah ketika ada "serangan-serangan misterius" saat nobar seperti model penyerbuan kantor YLBHI di Jakarta. Lalu mulailah model "playing victim" sebagai ciri khas selama ini, dan akan memperkuat pro kontra "PKI vs anti PKI".

Akhirnya tudingan PKI mengarah membabi-buta. Sudah babi, buta pulak.

Dan letupan-letupan rusuh kecil ini akan diperluas. Ujung-ujungnya apa? SALAHKAN JOKOWI.

Baru kali ini isu PKI terlihat lebih meluas. Penyerbuan YLBHI itu adalah sinyal awal dan diharapkan merembet kemana-mana. Biasalah, menjelang pilpres 2019 harus ada kembang2nya..


Ambil popcorn dan secangkir kopi. Kita lihat kemana episode ini akan mereka bawa..

PKI LAGI, PKI LAGI.. BOSEN AH

PKI
Humor Meme PKI
Sepert biasa menjelang 30 September diramaikan lagi isu PKI. Entah kenapa masalah ini gak ada habis-habisnya seakan kita harus terus dihantui dengan peristiwa lama dimana banyak negara yang sudah melupakannya.

Uni Sovyet yang dulu dikenal sebagai penjaga paham komunis sudah pecah menjadi beberapa negara. Rusia bahkan fokus untuk menaikkan gengsinya di mata dunia sebagai penjaga perdamaian, merebut citra yang selama dipegang oleh seterunya - AS.

Bahkan Cina dalam prakteknya lebih kapitalis dari AS sebagai mbahnya. Mereka dalam beberapa hal bekerjasama sampai masalah hutang piutang.

Di negeri kita beda lagi..

Dengan jargon "menolak lupa", Isu PKI dibangkitkan lagi oleh beberapa kelompok yang merasa paling tahu bahwa masalah PKI itu adalah rekayasa. Muncul tulisan-tulisan bahkan perkumpulan untuk mengingatkan kembali ada sesuatu di balik pembantaian para Jenderal dahulu.

Padahal mereka lahir saja belum pada masa itu..

Di sisi yang berbeda, ada kaum ekstrim yang juga paranoid dengan isu PKI. Mereka seperti kambing kebakaran jenggot kalau ada simbol-simbol palu ma arit. Dengan gaya "sok menjaga negeri", mereka memburu, bahkan mempersekusi siapapun yang mereka tuding PKI.

Padahal mereka membedakan komunis dan atheis saja gak bisa. Masih ditambah tudingan bahwa ada kapitalis dan komunis yang bekerjasama untuk menghancurkan negeri ini. Padahal kapitalis dan komunis jelas ideologi yang bertentangan.. hwarakadah...

Saya inget dulu pernah membuat surat terbuka untuk mantan Jenderal yang berhalusinasi bahwa ada 15 juta PKI di Jakarta. Dan saya diserang habis-habisan oleh para pendukungnya yang beronani dengan pikiran yang sama..

Entah kenapa di negeri ini semua harus berada dalam koridor pro dan kontra. Nyindir ma yang selalu membangkitkan isu PKI, dibilang kontra. Nyindiri yang selalu paranoid PKI, dibilang pro..
Padahal dunia ini sedang bergerak maju dengan cepatnya..

Negara2 yang dulu berseteru tentang ideologi komunis, sudah berlomba-lomba bersaing dalam masalah teknologi. Ada yang udah keluar angkasa, ada yang udah menemukan teknologi layar seperti lembaran kertas.

Dan kita? Masih sibuk dengan yang itu-itu saja. Permasalahan tahun 1960-an yang gak kelar-kelar sampai sekarang. Kapan majunya?

Peristiwa Gerakan 30 September adalah bagian dari sejarah gelap kita. Namanya sejarah gelap ya sudah lupakan, ambil sebagai bagian dari pelajaran. Bukannya terus berkutat di masalah siapa yang benar dan siapa yang salah..

Masih banyak ruang terang di depan, seperti bagaimana ekonomi kita bisa menjadi nomer satu se Asia Tenggara. Itu jauh lebih penting daripada terus menerus berantem masalah lama yang - bahkan - yang mengalami peristiwanya sudah banyak yang meninggal dunia.

Sebagai generasi penerus seharusnya kita harus lebih pintar dari generasi terdahulu, karena kita diberi fasilitas tehnologi terdepan. Jangan tehnologinya yang maju ke depan, manusianya selalu mundur ke belakang...

Cobalah sekali-sekali minum kopi biar terbuka pikiran. Banyak-banyak berpikir ke depan biar gak terjebak pada masalah di masa lampau..

Apa, Jon? 'Mau ngomong PKI lagi??

"Sa sa saya...." Bletak !! "Ja ja jangan di getok gitu dong, gi gi gigi gua udah ompong nih..."

Senin, 18 September 2017

INDONESIA, GAK MALU APA SAMA RWANDA?

Rwanda
Genosida di Rwanda
Tahun 1994, terjadi genosida di Rwanda, sebuah negara di Afrika. Diperkirakan lebih dari satu juta orang tewas dalam beberapa bulan, akibat kebencian. Peristiwa Rwanda dipicu oleh kebencian yang terus menerus ditiupkan untuk membangkitkan kebanggaan suku Hutu terhadap suku Tutsi.

Pada masa itu sangat sulit menjadi suku Tutsi karena mereka dicari dan diburu oleh suku Hutu. Genosida itu akhirnya dihentikan sesudah Front Patriotik Rwanda masuk dan menghentikan genosida. FPR dipimpin oleh Paul Kagame -yang notabene dari suku Tutsi- yang sekarang masih menjadi Presiden Rwanda.

Tahun 2014, Rwanda memperingati 20 tahun genosida itu. Menarik bahwa Rwanda tidak pernah mempermasalahkan "siapa yang benar dan siapa yang salah" pada waktu genosida itu.
Mereka hanya menyesalkan "tragedi kemanusiaannya".

Dan itu menjadi atraksi yang menarik dalam pagelaran mengingat kembali peristiwa 1994, sebagai bagian dari sejarah gelap kemanusiaan di Rwanda. Sejarah gelap ini perlu diingatkan, sebagai pembelajaran untuk menghargai kembali nilai-nilai kemanusiaan di Rwanda, apapun sukunya..

Indonesia pernah mengalami situasi yang mirip dengan Rwanda..

Tahun 1965 - lebih tua dari genosida Rwanda - terjadi genosida di seluruh negeri terhadap mereka yang dituding komunis. Dimana-mana terjadi pembantaian. Sungai dikabarkan pada waktu itu berwarna merah karena darah dan tubuh tanpa kepala mengapung di mana2.

Genosida tahun 1965 juga memakan korban - diperkirakan - sampai sejuta orang. Peristiwa menyakitkan ini adalah sejarah gelap dalam bangsa kita, bahwa kita pernah lupa jika kita ini adalah manusia.

Apa yang berbeda antara Rwanda dan Indonesia ? Yang berbeda ternyata adalah cara menyikapinya.
Rwanda memperingati tragedi 1994 itu dengan tema "kemanusiaan", sedangkan Indonesia masih berkutat di "siapa yang benar dan siapa yang salah".

Itulah kenapa kita sulit menjadi negeri maju, karena jari sibuk menuding sana sini. Ada kelompok yang sibuk ingin "meluruskan sejarah siapa dalang pembantaian PKI" dan ada kelompok lain yang "paranoid PKI".

Kedua kubu ini sama-sama ekstrim, tanpa pernah berusaha melihat sisi lain yaitu tragedi kemanusiaannya. Kita sibuk #save tragedi kemanusiaan di negeri lain, tapi tidak sibuk #save tragedi kemanusiaan di negeri sendiri..

Mungkin Presiden Joko Widodo bisa memulai hal ini, memperingati tragedi 1965 dari sisi kemanusiaannya, bukan dari siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita bersatu untuk "tidak lagi mengulang hal yang sama". Bahwa nilai kemanusiaan jauh lebih tinggi dari apapun di dunia..

Indonesia itu negara besar di Asia Tenggara, masak kalah dewasa dengan negara kecil di Afrika seperti Rwanda?


Malu dong ah... Seruputtt..

MENJEGAL KAKI JOKOWI

Joko Widodo
Jokowi
Permainan menjebak Jokowi kembali dimainkan. Tingkat kepuasan publik pada pemerintahan Jokowi yang terus naik dari tahun ke tahun adalah penyebab terbesarnya. CSIS melaporkan bahwa tingkat kepuasan publik pada Jokowi tahun ini sebesar 68 persen, sedangkan tahun 2015 lalu masih sebesar 50 persen.

Sulit memang menghadang Jokowi pada masa pemerintahannya. Dan yang bisa dilakukan adalah menjebaknya, sambil menunggu kesalahan apa yang akan dilakukannya..

Kalau kita berkaca pada peristiwa Budi Gunawan dulu, jebakan untuk Jokowi sebenarnya sudah dimulai. Lawan politiknya yang tergabung di Koalisi Merah Putih seperti mendorong Jokowi untuk salah mengambil keputusan. Memilih BG sebagai Kapolri berarti Jokowi tidak pro rakyat, tidak memilih BG berarti Jokowi membangkang pada Megawati.

Dan model perangkap seperti ini sering diulang-ulang, meski Jokowi selalu lolos dan malah membuat gol yang membuat banyak orang tercengang..

Isu PKI kali ini pun diarahkan kesana...

Penyerbuan kantor YLBHI seperti di desain untuk menjebak Jokowi. Kalau Jokowi membela yang diserbu, maka ia akan dituduh berpihak pada PKI. Dan jika Jokowi berpihak pada penyerbu, maka ia akan dituding sebagai rezim yang represif dan otoriter. Dua-duanya dibangun untuk tidak menguntungkan Jokowi..

Dan suara-suara itu sudah bermunculan..

Pihak LBH - yang diserbu - langsung menyuarakan bahwa Jokowi represif. Kata "gebuk PKI" mereka bilang adalah sinyal supaya siapapun yang berbicara tentang PKI akan digebuk. Mereka membangun pemikiran bahwa rejim Jokowi adalah rezim pembungkam kebebasan berpendapat.

Pihak ormas -yang menyerbu- juga tidak mau kalah. Mereka menyuarakan bahwa pada masa pemerintahan Jokowi inilah PKI tumbuh kembali. Dan sinyal adanya PKI ditunjukkan dengan adanya diskusi di kantor YLBHI untuk "meluruskan sejarah".

Diluar sana, pro dan kontra pemutaran film lawas G30 S/PKI pun dibangun. Pihak TNI ingin memutar kembali film itu secara terbuka, sedangkan NU menolak karena dianggap tidak sesuai sejarah.

Lalu, semua akan diam menunggu keputusan Jokowi sembari menunggu kesalahan apa yang akan dilakukannya.

Salah bertindak maka akan ada demo besar ke istana dengan tema yang berbeda. Sama persis seperti kasus Ahok yang terus menerus dibangun tentang agama dan mendapat poin bagus ketika Ahok "keseleo lidah".

Sementara ini Jokowi tampak mengikuti arus yang ada. Kepolisian menjaga supaya pro dan kontra itu tidak menyebabkan kerusuhan yang lebih besar. Sedangkan Mendagri mengikuti alur TNI dengan silahkan memutar kembali film G30 S PKI.

Ciri khas Jokowi ia diam mengikuti perkembangan. Ia seperti Lionel Messy di depan gawang lawan dan dihadang 3-4 bek yang bernafsu untuk menjegal kakinya.

Isu PKI memang seksi untuk menjatuhkan Jokowi, sama seperi isu agama untuk menjatuhkan Ahok. Tudingan bahwa Jokowi PKI bahkan sudah diluncurkan sejak awal pemerintahannya, bahkan sampai dibuat buku khusus "Jokowi undercover".

Dan melihat begitu tingginya kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi, maka jalan yang terbaik adalah membangun isu yang bertentangan atas nama PKI untuk menghancurkan namanya..

Jokowi kemungkinan besar akan terus membiarkan isu tersebut sampai lewat tanggal 1 Oktober. Dan kemudian mengalihkan ke isu yang lebih menarik dalam bentuk pembangunan, semisal peresmian pabrik mobil Esemka yang - konon - sedang dibangun secara diam2 supaya menjadi surprise besar bahwa dia bukan merpati yang selalu ingkar janji..

Entah kenapa - melihat track recordnya - saya yakin Jokowi akan kembali menciptakan hattrick indah merebut kembali simpati publik dengan memanfaatkan tenaga lawan yang sedang menyerang ke arahnya..

Mari kita lihat apa yang akan terjadi sambil seruput kopi sore hari...

Sementara itu, nun jauh disana seorang anggota DPR yang terkena kasus e-KTP masih bergelut dengan penyakit mulai pengapuran, jantung, patah kaki, diabetes, sampai panu, kadas dan kurap (banyak amat ya) sehingga tidak bisa memenuhi panggilan..

Di tempat yang lebih jauh lagi, bang Thoyib terus mengintip siapa tahu ada isu yang bisa ditunggangi supaya dia bisa pulang sebagai pahlawan. Dan di satu sudut kota kecil nan kumuh, seseorang sedang memungut donasi dengan potongan 30 persen karena jualan sprei sudah tidak ada yang beli.

Oh Indonesia, Indonesia.. Semoga istri Caesar segera dapat jodoh lagi.


PENULIS BISA JUGA KAYA

Penulis
Ilustrasi Penulis
Lahirnya media sosial secara tidak langsung merubah semua tatanan yang selama ini ada, bahwa penulis harus menerbitkan buku melalui penerbit dan harus memajang bukunya di toko buku.

Memang masih ada sebagian penulis yang memelihara kebanggaan bahwa ketika bukunya di pajang di toko buku besar, itu adalah prestise. Media sosial pelan-pelan merubah kebiasaan itu.

Ketika buku kedua saya ditolak oleh penerbit karena terlalu "politis" katanya, maka mau tidak mau saya harus berjibaku sendiri.

Berbekal keyakinan dari buku pertama yang laku, saya kemudian mencari editor dan disainer untuk buku kedua. Sesudah itu saya mencari percetakan murah. Disinilah saya belajar bagaimana menulis dan menjual buku sendiri.

Proses itu ternyata sangat menyenangkan, karena saya akhirnya paham seluk beluk bagaimana menjual buku. Saya bahkan belajar hitung menghitung dalam mencetak buku.

Dari pembicaraan dengan tukang cetak yang akhirnya jadi seorang teman, saya menemukan rumus, modal mencetak buku adalah seperempat dari buku yang akan dijual.

Sederhananya, saya mencetak buku 5 ribu eksemplar. Kemudian saya menghitung harga jual. Dari harga jual itu terhitung, kalau seribu buku saja laku, maka modal pun kembali. Selebihnya adalah keuntungan.

Tapi darimana modalnya?

Kembali lagi, terimakasih pada media sosial. Dengan memanfaatkan media sosial yang ada saya melakukan pre-launch bahwa buku akan terbit selama seminggu atau dua minggu lagi, dan yang membeli pertama akan mendapat diskon.

Dari hasil pre-launch itulah saya mendapat modal untuk mencetak buku. Modal yang saya keluar sendiri hanyalah uang muka sebesar 20 persen dari harga cetak buku, selebihnya dilunasi oleh para pembeli itu sendiri..

Disini memang unsur kepercayaan antara si penjual dan pembeli buku harus sangat besar. Namanya media sosial, kalau salah perhitungan sedikit, habislah dicaci-maki bahkan dituntut oleh pembeli yang sudah mengeluarkan uang tapi bukunya gak dikirim-kirim.

Disinilah saya mulai bisa bicara kepada teman yang tadinya meyakini bahwa penulis buku harus siap miskin, bahwa penulis bisa juga kaya.

Dengan adanya media sosial, tidak perlu lagi adanya penerbit dan toko buku, sehingga yang biasanya penulis hanya menerima royalti 9 persen, kali ini dibalik bahwa penulis bisa mendapat keuntungan dari hasil bukunya sebesar lebih dari 80 persen.

Dan tidak perlu lagi menunggu sampai setahun baru bisa mencairkan royalti..

Perlahan-lahan peran penerbit dan toko buku tersingkirkan. Media sosial membongkar tatanan yang selama ini menjadi kerajaan monopoli jaringan toko buku, penerbit dan percetakan yang biasanya ada dalam satu grup besar..

Akhirnya saya bisa juga merasakan hasil dari karya saya, baik secara nilai materi maupun nilai spiritual.

Sekarang saya memikirkan bagaimana memfasilitasi bakat-bakat menulis muda yang ada di wilayah pinggiran Indonesia yang jauh dari penerbit sehingga mereka bisa menjadi penulis-penulis baru yang selama ini didominasi orang-orang yang tinggal di kota.

Untuk itulah saya ciptakan Baboo, aplikasi khusus untuk komunitas penulis. Dan revolusi di bidang bukupun terus berjalan..


Sekarang sudah memasuki fase nilai berbagi. Secangkir kopi pun ternyata bisa merubah pandangan lebih luas.. Seruput dulu, ah..

PENULIS YANG MISKIN

Penerbitan
Ilustrasi Penulis
"Menjadi penulis itu siap miskin.."

Begitu kata seorang teman ketika saya bilang kepadanya saya ingin jadi penulis.

"Ah, masak ?" Pikir saya waktu itu. Buktinya Andrea Hirata penulis Laskar Pelangi malah kaya raya. Apalagi JK Rowling penulis Harry Potter sudah menjadi multijutawan. Dan saya menampik pandangan teman saya - yang penulis - bahwa penulis itu susah kayanya.

Ketika penerbit datang hendak menerbitkan tulisan saya, saya pun girang bukan kepalang. "Asek, saatnya tiba untuk menjadi kaya..". Kebayang berapa pendapatan ketika buku laku puluhan ribu eksemplar. Saya pun menandatangani perjanjian dengan penerbit, yang bahkan tidak saya baca lagi isi kontraknya.

Dan -Alhamdulillah- bukupun laku. Mungkin karena saya sudah membangun kelompok pembaca sendiri di media sosial, maka lebih mudah bagi saya untuk menjual buku.

Saya pun menagih kepada penerbit, kebetulan lagi lapar dan hutang di warung kopi menumpuk semakin besar. Kalau tidak bayar, saya disuruh nyuci gelas di warkop.

"Coba abang pelajari lagi kontraknya, disitu dijelaskan bahwa royalti -yang sebesar 9 persen- baru akan dibayarkan 6 bulan kemudian.." Saya tercengang. 6 bulan lagi? Waduh, bagaimana ini hutang di warung kopi?

Barulah saya mulai mempelajari kontrak dengan bahasa yang njlimet dan bikin pucing kepala berbie. Sesudah pelan2 memahami baru saya ngeh bahwa memang royalti baru akan dibayar setiap bulan ke enam dan bulan ke 12. Lemaslah sekujur rambut yang sudah keriting papan..

Disitu disebutkan bahwa karya saya mendapat royalti 9 persen. Ketika saya bertanya, kenapa sih penulis mendapat royalti sangat sedikit? Dijawab, karena penerbit harus investasi mulai dari editing sampai percetakan.

Dari harga buku yang dilempar ke pasar, 50 persennya sudah buat diskon toko buku. Dan 30 persennya untuk distributor. Baru yang 20 persennya dibagi antara penerbit dan penulis.

Ini belum masalah pajak seperti yang diteriakkan Tere Liye dan Dee Lestari, yang termasuk dalam kategori penulis buku laku.

Saya juga baru tahu bahwa selama saya bekerja dengan penerbit, karya saya itu sudah bukan sepenuhnya milik saya lagi. Hak ciptanya sudah milik penerbit. Baru bisa menjadi milik saya sepenuhnya sesudah 1 juta kopi terjual atau sesudah 10 tahun dijual.

Betapa kecilnya saya waktu itu. Saya baru sadar ucapan teman pada waktu itu, bahwa menjadi penulis itu siap miskin. Karena dari sisi manapun penulis akan kalah, karena penulis membutuhkan penerbit untuk menerbitkan bukunya dan membutuhkan toko buku untuk memajang bukunya..

Pantas saja, teman-teman saya yang penulis kebanyakan menjadi filosof. "Buku itu adalah karya kita dan sebagai kebanggaan penulis. Bukan materinya yang kita kejar, tapi lebih kepada meninggalkan jejak di dunia pustaka.." Kata-kata yang keluar dari mulut yang bijak dengan perut yang lapar.
Perut lapar?

Ya jelas. Siapapun pasti membutuhkan materi untuk menyambung hidupnya. Apalagi dia punya keluarga dengan sekian anak yang selalu ribut minta makan dan mainan. Kebanggaan sudah tidak ada artinya lagi ketika berhadapan dengan situasi ini.

Dan karena itulah, banyak teman penulis yang tidak membanggakan profesi penulis sebagai pekerjaannya. Mereka tetap bekerja di sektor riil, jadi pegawai atau jadi pengusaha. Lama-lama menulis pun dilupakan karena tekanan hidup menuntut semakin besar.

Padahal karya mereka bagus-bagus, dan mereka akhirnya hilang seperti debu tertiup angin kencang.
Saya tidak mau seperti mereka yang menyerah pada keadaan. Saya ingin membalikkan situasi bahwa penulis harus menjadi profesi. Untuk itu saya membuat eksperimen, bagaimana caranya saya menulis, kemudian membuat buku sendiri dan menjualnya sendiri. Saya tidak ingin ketergantungan pada jaringan besar penerbit dan toko buku.


Bagaimana hasilnya? Kita nanti ketemu di tulisan kedua, PENULIS BISA JUGA KAYA. Saya mau seruput kopi dulu untuk mengingat kembali memori lama..

Minggu, 17 September 2017

BERSAHABAT DENGAN PERUBAHAN

Perubahan
Changes
Dulu awal main di facebook, banyak teman saya yang melecehkan. "Kerja woiii fesbukan terus. Fesbuk itu dunia maya, lu hidup di dunia nyata. Mending ngerjain yang pasti-pasti aja. Zaman gini masih fesbukan? Mau jadi apa?".

Saya bingung dengan komen mereka. Konsep kerja bagi mereka adalah ketika pagi sibuk menyiapkan diri, siang istirahat makan siang, sore pulang ke rumah dan sabtu minggu istirahat bersama keluarga. Begitu terus setiap hari selama bertahun-tahun.

Sedangkan saya kerja dengan santai, nongkrong di tempat kerja teman-teman, makan siang di meja mereka dan malam keluyuran. Saya tidak butuh karir, tidak butuh gelar dan jabatan, yang penting uang makan keluarga aman. Begitu sederhana.

Ada titik dimana saya sudah tidak punya target lagi dalam kehidupan, kecuali berguna bagi banyak orang. Tuhan pernah "menghajar" kesombongan saya yang selalu berbicara dari sisi material. Pada akhirnya saya sadar dan membuang semua ukuran yang didasari kesepakatan manusia.

Saya juga tidak tahu kenapa dulu saya senang sekali fesbukan. Mungkin karena pada dasarnya saya suka ketemu orang baru. Orang-orang baru dengan karakter yang berbeda, ilmu yang berbeda dan dengan semua latar belakang mereka.

Itulah kenapa saya sering buat status, sekedar untuk memancing mereka datang berkunjung. Ketawa sama-sama, belajar sama-sama sampai pada akhirnya kami bertemu dan menjalin persahabatan bersama-sama.

Tiba-tiba teman saya menjadi begitu banyak. Hidup saya menjadi tidak sempit karena mereka ada dimana-mana, di seluruh wilayah Indonesia, bahkan banyak juga yang tinggal di luar negeri.

Bahkan dari pertemanan itu kami bekerja bersama, sampai membuat perusahaan bersama. Baboo - perusahaan startup yang sedang saya bangun - juga adalah karena pertemanan yang dijalin di fesbuk awalnya. Partner-partner kerjanya juga saya dapatkan di fesbuk..

Kalau sudah begitu, apa bedanya dunia maya dan dunia nyata? Bedanya ternyata ada di kemampuan berfikir ke depan.

Teman-teman saya -yang sampai sekarang masih begitu-begitu aja- menolak menggunakan teknologi ke depan hanya karena ia sibuk dengan apa yang dia lakukan sekarang. Sedangkan saya, menyambut apa yang terjadi di depan dengan menggunakan teknologi sekarang..

Kemampuan memanfaatkan teknologi yang ada dengan positif adalah kuncinya. Karena fesbuk adalah platform media sosial, maka potensi terbesarnya disana ada di membangun jaringan pertemanan, networking bahasa kerennya.

Dari pertemanan atau bahasa syariahnya silaturahmi itulah banyak muncul hal-hal baru karena ketika ide di kepala yang berbeda bersatu pasti ada saja yang bisa dikerjakan.

Sekarang saya sudah berada pada titik tertinggi cita-cita saya, yaitu bekerja tanpa waktu kerja rutin sambil pake kaos, jeans dan sepatu kets di kantor. Dan itu saya terapkan di Baboo karena saya penuntut isi kepala bukan aksesoris belaka..

Banyak hal yang menyenangkan dari sisi teknologi, semua tergantung bagaimana sikap kita memandangnya. Mulailah berteman dengan teknologi ke depan daripada bersikap memusuhinya...
Setuju, Jon? Seruput kopi dulu...

"Sa sa saya... jualan sprei dulu..."

Sabtu, 16 September 2017

HARTA PARA PENGUSAHA

Kerja
Bisnis
"Kesalahan banyak orang yang memulai bisnis adalah pikiran akan seberapa banyak untung yang akan di dapatnya.

Padahal bisnis itu selalu ada faktor resikonya. Inilah yang banyak terlupa karena mata silap dengan potensi keuntungan yang akan didapatnya.

Memulai bisnis tidak mudah, apalagi bagi orang yang selama hidupnya menjadi karyawan. Bisnis membutuhkan perlakuan khusus dengan menjaga komitmen dan konsistensi, melihatnya besar perlahan-lahan dan yang terpenting -juga termahal- adalah jaringan, bertemu orang-orang baru yang mempunyai irama yang sama.

Dalam artian, bisnis itu sama dengan belajar. Bukan ditanam lalu ditinggalkan dan berharap tumbuh besar begitu saja.

Jadi ketika ada orang menawarkan bisnis dengan keuntungan besar dalam sekejap, hati-hati. Karena begitu banyak penipuan berkedok investasi instan yang tujuannya hanya ingin mengeruk modal orang-orang yang tidak berpengalaman di bidangnya.

Bisnis itu sebetulnya bukan bagaimana bisa menjadi sukses, tetapi bagaimana bisa bertahan. Karena pertahanan yang baik sejatinya adalah senjata terbaik dalam kompetisi yang semakin ketat. Bisnis adalah proses memulai dan proses belajar dalam setiap langkahnya.

Ini tentang pengalaman, tentang perjalanan, bukan tentang berapa banyak hasil yang didapat nantinya".

Belasan tahun lalu, tapi aku masih ingat pelajaran yang diberikan temanku. Meski dalam perjalanan jatuh bangun tidak terhindarkan, tetapi sesungguhnya disitulah sebenar-benarnya kekayaan. Kaya akan pengalaman.


Ah, dimana temanku itu. Aku rindu duduk dengannya dan menyeruput kopi bersama.

Jumat, 15 September 2017

DEDI MULYADI PENISTA AGAMA?

Purwakarta
Petisi Purwakarta
Apa yang dialami Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta mirip dengan apa yang dialami oleh Ahok di Jakarta.

Belum juga resmi dicalonkan sebagai calon Gubernur, ia sudah banyak mendapat tekanan dari ormas yang mengatas-namakan agama. Kang Dedi dituding musyrik dan "penista agama". Malah parahnya, Dedi Mulyadi yang beragama Islam dituding Musuh Islam..

Entah apa yang mereka takutkan..

Apakah karena selama ini Kang Dedi tidak pernah mensupport organisasi mereka secara finansial atau karena mereka tahu bahwa Dedi Mulyadi adalah calon terkuat dibanding calon lainnya?


Menarik mengikuti Pilgub Jabar yang sudah mulai digoyang seperti Jakarta.

Kamis, 14 September 2017

BERUBAH ATAU MATI

Bisnis
Online
Sewaktu masih kerja di radio dengan frekwensi AM, saya berbicara pada bos, "kedepan adalah waktunya FM.."

Dan saya terpaksa harus mendengarkan "nasihatnya" selama beberapa jam. "Kamu gak usah ikut-ikut orang ribut ngomongin radio. Saya lebih tahu radio, malah sudah bisnis radio sebelum kamu lahir. AM itu jangkauan frekwensinya jauh lebih luas, sedangkan FM terbatas.."

Dan bla bla dia menceritakan perjuangannya jatuh bangun mendirikan radio.

Menyangkal. Itulah yang banyak dilakukan orang ketika dia seperti dipaksa untuk keluar dari zona nyamannya selama ini.

Perkembangan tekhnologi terus berkembang.

Pada saat ramai-ramainya orang mendengarkan radio dengan frekwensi AM karena asik mendengarkan sandiwara radio yang dulu sedang booming, di tempat lain sebagian anak muda sedang sibuk mengotak-atik pemancar dan perizinan untuk bisa mendirikan radio dengan frekwensi terbaru, yaitu FM. Meski jangkauan siarnya terbatas, tapi suara yang keluar dari pemancar jauh lebih bening daripada frekwensi AM.

Bos saya berada pada zona nyamannya. Ia memperoleh jutaan rupiah dari iklan hasil penayangan sandiwara radio. Jumlah yang pada waktu itu sangat besar. Karena sedang terlena, ia lupa bahwa ia sedang lari di tempat, sedangkan dunia bergerak maju dengan kecepatan luar biasa.

Saya tidak mau ketinggalan. Saya keluar dan berpindah ke radio FM baru yang dikelola bukan oleh pengusaha radio zaman dulu. "Anak baru..." Leceh bosku dengan gagahnya sambil memutar topi koboinya yang baru dia beli di Texas.

Beberapa tahun berlalu, dan saya dengar bos saya akhirnya pindah ke jalur FM. Tapi dia sudah terlambat. Start-nya telat. Radionya harus menemukan segmentasi yang tepat dan itu memerlukan waktu yang tidak cepat. Sedangkan radio dimana saya berada sudah berkibar namanya kemana-mana.
Perubahan itu selalu ada dan tidak bisa dilawan. Dalam perubahan selalu muncul tunas-tunas muda yang berkembang sesuai masanya. Yang lebih tua seharusnya bisa mengikuti arusnya atau tenggelam ke dasar. Radio yang dulu saya pernah bekerja disana, sekarang pun sudah mati tak sudi hiduppun enggan.

Begitu juga menghadapi badai online yang menghajar dunia..

Menyangkal bahwa badai ini tidak akan berpengaruh apa-apa pada ekonomi kita sekarang ini, bukanlah tindakan yang tepat. Kita harus bergerak ke arah mana dia bergerak. Jika melawan kita akan hancur berantakan.

Sekarang bukan lagi masanya Merdeka ataoe mati, tetapi sudah menjadi Berubah atau mati..

Begitu banyak pelajaran bagaimana terjadi perpindahan luar biasa dalam usaha. Dan itu berdampak pada tenaga kerja. Keahlian yang dulu kita banggakan, bisa menjadi tidak berarti ke depannya..


Kamu ada dimana? Tenggelam atau ingin berkibar? Itu semua tergantung bagaimana caramu menyeruput kopinya.

BERSELANCAR ATAU TENGGELAM

Dunia Maya
Online
Belum habis rasa kaget kita karena tutupnya 8 gerai toko Ramayana dan sepinya Glodok yang dulu dikenal sebagai pusat perbelanjaan elektronik, sepertinya ke depan kita akan lebih terkaget lagi karena "badai online" sudah mempengaruhi sektor bank.

Di Eropa sudah 48 ribu kantor bank di tutup karena terpengaruh budaya online. Sekarang sudah capek bermacet ria di jalan untuk sekedar ke bank, parkir yang mahal sampai antri di depan kasir. Lebih enak pencet-pencet gadget sambil santai di rumah dan transaksi pun berjalan mulus.

Apalagi aplikasi bank sudah banyak yang ramah terhadap pengguna dan banyak fasilitas sudah berfungsi disana, kecuali misalnya bikin buku tabungan baru dan ambil uang dalam jumlah besar.

Tutupnya banyak kantor bank di Eropa dikarenakan mereka memangkas banyak biaya operasional terutama gaji pegawai. Bisa dibayangkan berapa ratus ribu karyawan terpaksa harus dirumahkan karena sistem sudah memaksa untuk semakin efisien dan efektif, apalagi ditengah ketatnya persaingan.

Pengaruh "badai online" ini sudah pasti akan sampai ke Indonesia. Seorang teman di bank berkata, sekarangpun sudah banyak penyusutan karyawan karena beberapa cabang ditutup sebab sudah tidak efisien lagi.

Kebayang apa yang terjadi 3 sampai 5 tahun ke depan, disaat warga negara Indonesia yang masuk dalam 5 besar pengguna handphone di dunia ini, sudah banyak yang beralih melakukan transaksi lewat online.

Tidak bisa dilawan, karena perubahan teknologi jelas akan merubah budaya..

Karena itu siap-siap saja para pegawai bank untuk berfikir wirausaha yang tidak tergerus online ataupun memanfaatkan online dalam kegiatan wirausahanya.

Jangan sampai seperti teman papa saya dulu yang tidak mau beralih ke komputer dan lebih nyaman memakai mesin ketik, sehingga akhirnya ia dipensiunkan dini karena tidak terpakai..

Transisi ini memang sulit bagi sebagian orang. Tetapi bagi mereka yang bisa menangkap peluang, ini adalah masa emas untuk memulai. Ombak itu jangan dilawan, tetapi manfaatkan untuk berselancar..

Mulailah menggunakan sudut pandang baru dalam usaha. Keluarlah dari zona nyaman atau kamu tenggelam...


Seruput kopinya dulu, kawan..

IKAN KECIL DI KOLAM BESAR

Sukses
Sukses
Saya heran kepada anak-anak muda yang bermimpi besar ingin menjadi seseorang, tapi tidak mau meninggalkan zona nyamannya dimana dia digaji oleh perusahaan besar.

Orang besar tidak datang begitu saja. Ia harus ditempa dengan segala tantangan dan keberanian untuk memulai dari nobody menjadi somebody.

Semua tekanan yang akan dia terima ketika berada pada level kesulitan sebenarnya adalah bagian dari pelatihan untuk mengembangkan dirinya.

Manusia harus mempunyai karya yang akan dia tinggalkan dalam jejak langkahnya. Jika dia berada di sebuah perusahaan yang sudah besar, ia hanya menjadi bagian dari mesin saja dan tidak akan tercatat dalam sejarah.

Uang itu penting, tetapi yang lebih penting lagi dari sekedar uang adalah eksistensi, kebanggaan, rasa hormat yang akan datang dari para pejuang. Kita tidak membawa uang jika mati, tetapi membawa nama baik yang tertuang dalam karya yang tidak akan lekang.

Jadikan perusahaan besar sebagai tempat pelatihan saja, bukan sebagai akhir perjalanan. Jangan sampai menyesal ketika banyak orang yang kita kenal akhirnya menjadi seseorang, sedangkan diri kita hanya merangkak saja menghabiskan sisa waktu untuk dipensiunkan. Karena hidup sesungguhnya adalah perjalanan dan jadikan itu berarti.


Setuju? Seruput kopinya dulu.