Senin, 27 Februari 2017

PURWAKARTA, DESA DENGAN RAMUAN AJAIB

Dedi Mulyadi
Dedi Mulyadi
Sebuah pesan masuk, "Bang, Purwakarta dapat penghargaan Harmoni sebagai wilayah yang toleran.."
Saya tersenyum bacanya. Sudah seharusnya. Purwakarta sudah berjuang keras untuk itu. Saya terngiang kata2 Kang Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta waktu kami berbincang, "Toleransi itu harus diperjuangkan, bukan hanya diucapkan.."

Selama dua periode menjabat, Kang Dedi Mulyadi harus berjibaku melawan intoleransi yang tumbuh massif di Jawa Barat. Ormas-ormas radikal berbaju agama di sekitar Purwakarta tumbuh kencang.

Bukan tanpa resiko ia berjuang seperti itu. Ia dijadikan musuh besar bagi FPI. Patung di Purwakarta di rusak. Bahkan ia pernah dikejar-kejar oleh FPI saat menjadi pembicara di TIM, Jakarta.

Dan tudingan bahwa ia musyrik, penyembah patung, begitu melekat pada dirinya. Fitnah yang dibangun dalam usaha membunuh karakternya.
"Saya siap tidak populer.." Katanya.

Dan memang pada masa itu, saat ormas garis keras dipelihara oleh para penguasa, siapapun yang berhadapan dengan mereka harus siap tidak populer. Bahkan beberapa kepala daerah harus bergandengan tangan dengan ormas garis keras hanya supaya tidak kehilangan suara.

Dedi Mulyadi tidak menyerah. Ia masuk ke sudut-sudut desa, mengetuk pintu-pintu rumah rakyat kecil, berbicara dengan mereka, untuk mengenalkan arti toleransi kepada sesama manusia. Rakyat Purwakarta jatuh cinta padanya. Karena itu, ia tetap ada di sana meski fitnah massif terus menghantamnya.

Dan pada masa pemerintahan Jokowi inilah, namanya mengharum. Kementerian agama merespon perjuangan beberapa wilayah di Indonesia yang berhasil menjaga kerukunan agama dengan "Harmony awards".

Saya yakin, Dedi Mulyadi tidak mengharapkan awards apapun untuk perjuangannya, karena bukan itu yang terpenting. Yang paling penting adalah menunjukkan kepada seluruh kepala daerah di Jawa Barat bagaimana seharusnya bekerja.

Jawa Barat selama ini banyak menyabet gelar juara. Juara provinsi dengan tingkat intoleransi tertinggi. Juara penduduk miskin terbanyak. Juara pungli terbanyak di Indonesia. Prestasi yang membanggakan ketika PKS berkuasa.

Dan dengan gelar juara-juara itu, penghargaan Purwakarta sebagai wilayah yang "paling rukun umatnya" versi Menteri Agama, tentu kurang menarik bagi Jawa Barat.

"Rukun doang, gada duitnya.." begitu mungkin kata rata-rata para pejabat di Jawa Barat yang sekarang meringkuk di balik penjara karena korupsi sebanyak-banyaknya.

Selamat ya Kang Dedi Mulyadi atas penghargaannya. Selamat untuk warga Purwakarta, warga desa Galia, yang mampu menjunjung kerukunan di provinsi yang intoleran. Kalian memang sejak kecil sudah jatuh di panci ramuan ajaib..


Demi Toutatis, semoga langit tidak runtuh menimpa warga Purwakarta !

SURAT TERAKHIR DARI PELAKU BOM PANCI

Densus 88
Penyergapan
"Kepada teman-temanku yang masih ada di dunia”.

Saya sudah ada di surga sekarang.

MasyaAllah, benar sungguh cantik-cantik bidadari di sini. Saya hitung yang menyambut saya ada 71 orang. Saya tanya ke mereka, harusnya ada 72 kemana yang satunya? Mereka jawab sedang di toilet dari kemaren murus terus perutnya kayaknya masuk angin.

Trus mereka tanya ke saya, bawa panci? Saya jawab, iyah saya bawa. Mereka berteriak kegirangan, horee akhirnya panci sudah datang. Ternyata para bidadari rencana mau masak-masak karena ada temannya yang ultah. Rencana hari ini mau masak sop buntut.

Cuman ada yang kecewa juga, karena saya gak bawa panci yang presto. "Duh, rebus dagingnya pasti lama nih".

Dengan surat ini, saya juga minta kepada teman-teman yang masih ada di dunia supaya segera kesini bawa wajan, mangkok, sendok dan garpu. Kalau ada yang bisa bawa kompor, bawain sekalian ya.. Karena disini semua serba tradisional. Masaknya aja masih pake areng, kapan matengnya?.

Saya sudahi dulu surat ini. Saya sibuk, soalnya para bidadari itu gada yang bisa masak. Mereka cuman ongkang-ongkang sambil nyuruh sana sini.

Repot juga jadi TKS (Tenaga Kerja Surga), dikit-dikit disuruh nyuci celana dalam ma bra. Bayangin, 72 bidadari tiap hari ganti daleman 5 kali. Bra, bra dimana-mana. Boro-boro napsu, yang ada tangan ngucek ampe ngilu.

Ps : Disini ternyata para bidadari mengamati pilkada. Dikit-dikit kalau ditanya, mereka acungkan tiga jari, "Oke Oce..". Apa maksudnya coba?".


Sudah malam disini, gada kopi gada udud. Manyun aja semalem makanin nyamuk.. Segera datang ya, butuh teman secepatnya. Lelaki jika ada *kerling manja* Serumukkkk.. (seruput nyamuk).

Minggu, 26 Februari 2017

SIAPAKAH GUBERNURMU?

Masjid
ISU SARA
Bahkan di grup whatsapp, gencar pernyataan untuk tidak men-shalatkan muslim yang mendukung Ahok sebagai Gubernur DKI.

Dasar berfikir mereka adalah surat At-taubah 84 yang terjemahannya, "Janganlah engkau (Muhammad) menshalatkan seseorang yang mati di antara mereka (orang munafiq) selama-lamanya dan janganlah Anda berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka itu kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik."

Menurut tafsir, ayat ini turun sesudah Rasulullah Saw men-shalatkan jenazah Abdullah bin ubay bin sahul, seorang muslim yang selalu menjadi provokator dan penghianat Nabi semasa hidupnya. Meskipun begitu, Nabi Muhammad Saw tetap men-shalatkan jenazahnya baru kemudian turunlah ayat ini.

Saya belum memahami kenapa Nabi tetap men-shalatkan jenazah orang itu, dan mungkin hanya Rasul dan Tuhan yang tahu. Tetapi ketika ayat ini dipakai sebagai dasar untuk tidak men-shalatkan jenazah pendukung Ahok karena buat mereka itu sama saja muslim munafik, sungguh sangat keterlaluan.

Apakah masuk kategori munafik seorang muslim yang mendukung Gubernur yang banyak berbuat untuk rakyat meskipun agamanya berbeda?

Jika begitu, berapa banyak "muslim yang munafik" yang mendukung Gubernur non muslim di Papua dan daerah mayoritas Kristen lainnya?

Sedihnya, yang menyebar info ini adalah teman2 yang dulunya pintar dalam pelajaran dan sukses dalam kehidupan, tetapi ternyata akalnya melemah ketika berhadapan dengan fanatisme golongan. Mereka menganggap pluralis itu adalah kemunafikan.

Sempit sekali cara berfikirnya, sesempit pergaulannya. "Kurang jauh mainnya.." Kata temanku yang paham agama..

Dalam Islam, diyakini ketika seseorang meninggal, di alam kubur ia akan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir. Pertanyaan-pertanyaan yang harus ia jawab adalah, "Man Rabbuka? Siapa Tuhanmu?" sesudah dijawab maka akan muncul pertanyaan selanjutnya, "Man Nabiyyuka? Siapa Nabimu?".

Pertanyaan-pertanyaan Malaikat itu berlanjut terus untuk mengetahui keIslaman seseorang. Teman-teman kecil saya itu dan semua penghuni bumi datar mungkin meyakini ada pertanyaan baru dari Malaikat, "Man Gubernurikka ? Siapa Gubernurmu?". "Ahok.." Cetarrrrrrr !! Cambuk panas menghajar.

Ditanya ulang, "Man Gubernurikka ???" Dijawab kedua, "Ahok.." Cetarrrr !! Cambuk panas kembali menghantam keras.


Tanya ulang lebih keras, "Man Gubernurrikaaa ?", Akhirnya dijawab, "Anies..". Saya tidak bisa membayangkan malaikat Munkar dan Nakir yang tergambarkan seram itu tersenyum dan mengacungkan tiga jari, "Oke.. Oce..". Ahhhh.. kopi mana kopiii.

SECANGKIR KOPI DI ATAS TATAKAN RETAK

Arab Saudi
Raja Salman
Seharusnya momen kedatangan Raja Salman ini, mendorong demonstrasi keras 7 juta umat Islam yang kemarin kumpul di Monas.

Alasan pertama, karena sebagai "penjaga Makkah", tidak layak sang Raja berfoya-foya dengan menghamburkan uang 130 miliar rupiah hanya untuk berlibur ke Bali, disaat banyak umat Islam lain di dunia di bawah garis kemiskinan dan perilaku itu mencoreng ahlak Nabi Muhammad SAW yang dikenal sangat sederhana dan bersahaja.

Alasan kedua, menolak sistem Monarkhi atau Kerajaan pada "penjaga Makkah", yang seharusnya berdasarkan sistem yang mereka usung yaitu Khilafah. Bagaimana mungkin teriak-teriak khilafah di seluruh dunia, tapi Makkah sendiri dibawah sistem kerajaan?

Tapi, ndilalah, bukannya demo menolak mereka malah mengagung-agungkankan si Raja dan kekayaannya yang sia-sia itu.
Dimana logikanya?

"Logika? Apa itu logika? Kami hanya berpatokan pada Alquran dan hadis! Titik!"


Permisi, mau nonton "The Walking Dead" dulu sambil seruput kopi dan menunggu yang marah-marah.

Sabtu, 25 Februari 2017

WAHABI, VIRUS DALAM ISLAM

Teroris
Wahabisme
-Cerita seram malam minggu-

Kalau kalian melihat model Islam dengan cara-cara yang tidak Islami seperti tidak mensholatkan jenazah pendukung Ahok, itulah yang dinamakan virus Wahabi.

Wahabi atau Wahabisme adalah aliran dalam Islam yang puritan. Diambil dari nama tokohnya Muhammad bin abdul Wahab. Paham Wahabi adalah paham yang dianut kerajaan Saudi Arabia dan disebarkan ke seluruh dunia.

Jadi jangan kaget jika mereka yang terkena virus itu menjadi sumbu pendek dan gagal paham akut. Mereka menjadi zombie yang tidak mampu menggunakan logika berfikir dengan benar dan pada tingkat yang lebih parah menjadi tidak manusiawi.

Triliunan rupiah dana disebarkan ke seluruh dunia untuk menyebarkan paham ini. Tujuannya membentuk kelompok beragama yang bodoh sehingga mudah dicucuk hidungnya. Dengan begitu mereka akan mudah disetir untuk merusak negara dari dalam.

Tafsir ayat dan hadis diselewengkan, buku-buku dipalsukan. Mereka adalah senjata penghancur massal yang dibiayai oleh Amerika, Israel dan koalisinya dari negara Timur Tengah.

Tidak perlu senjata nuklir untuk menguasai Libya, Suriah, Irak, Afghanistan dan Nigeria. Cukup bentuk organisasi bernama Alqaeda, ISIS, Front al Nusra, Boko Haram dan mereka akan merusak tatanan negara yang ingin dikuasai. Di dalam negeri mereka punya nama lain yaitu HTI, FPI, FUI, MMI dan lain sebagainya.

Ketika satu negara dikuasai, maka sumber daya alam negara itu akan dikeruk habis dan dijual melalui makelar-makelar internasional.

Ada dua keuntungan memelihara Wahabi ini sebagai mesin perang yang murah meriah. Satu, penjualan senjata akan meningkat. Dan dua, harta jarahan yang bisa dijual berlipat.

Indonesia mungkin belum separah negara-negara di Timur Tengah dan Afrika yang luluh lantak, tapi tanda-tanda menuju kesana sudah terlihat jelas. Salah satunya dengan kebodohan berdasarkan fanatisme dengan tidak menshalatkan jenazah yang terindikasi pendukung Ahok.

Tanda-tanda lain adalah pemujaan yang tinggi kepada ulama mereka, kebanggaan terhadap golongan, mudah tersinggung, mimpi indah tentang surga dan banyak lagi yang menandakan akal mereka yang lemah. Pengetahuan agama mereka instan dan didapat dari guru mereka yang juga instan.

Ada satu hal yang tampak jelas menandakan kelemahan logika berfikir mereka. Mereka selalu menggaungkan konsep khilafah, tapi memuja negara pendana mereka yang monarkhi. Cacat logika, kan?


Panjang kalipun kalau bahas ini. Kalau mau pengen lengkap googling aja "sekte berdarah wahabi" dan pelajari bagaimana mereka menguasai banyak negara di dunia. Saya tinggal minum kopi dulu ya, sambil nunggu yang marah-marah.

ADA UANG RAJA SALMAN DISAYANG

Bumi Datar
Rombongan Raja Saudi
Kaum bumi datar tiba-tiba sibuk bermunculan di status saya tentang "Raja Salman". Seperti sudah saya duga, mereka sakit hati ketika dibuka kenyataan bahwa Arab Saudi sebenarnya menuju bangkrut akibat keluar ongkos terlalu banyak di perang Suriah dan Yaman. Apalagi sejak harga minyak terus melorot ke titik terendah, naik lagi tapi tidak booming seperti sebelumnya.

Kenapa mereka gak teriak, "Woi Raja, santunan korban Mina dong bayarrr!!".

Heran kenapa mereka jadi pemuja Raja Salman?

Salah satu doktrin yang berhasil dibenamkan oleh keluarga Saud -saat mengangkangi Arab dengan bantuan Inggris dan menamakan nama negara sesuai nama keluarga Saudi Arabia- adalah merekalah "penjaga Makkah".

Dengan bahasa "penjaga Makkah", maka mereka "suci" di kalangan sumbu pendek. Padahal sudah banyak berita buruk tentang bagaimana keluarga kerajaan itu foya-foya dengan harta mereka. Dan itu berbanding terbalik dengan kehidupan Nabi yang katanya mereka puja yang hidupnya sangat sederhana.

Ada satu pertanyaan menarik dari kaum bumi datar.

"Kalau kedatangan Raja Salman gak penting buat Indonesia, kenapa Jokowi sibuk mempersiapkan ini itu?".

Saya sampe keselek kopi.

Gini ajah, Raja Salman datang ke Indonesia dan buang duit 130 miliar rupiah untuk bayar hotel, sewa kendaraan dan lain-lain. Sebagai pebisnis, Jokowi pasti akan menyambutnya dong meski si Raja masih janji doang mau bawa duit 300 triliun, yang penting 130 miliar dah ditangan.
Jokowi senang karena Bali kemasukan uang 130 miliar rupiah. Dan promosi pariwisata gratis untuk Indonesia.


Kalau kata Don Vito Carleone, "Its just business, nothing personal..". Yang artinya, ada uang abang disayang, gada uang abang jenggotan. Paitt..

Raja Salman, Apa Kabar Santunan Korban Jamaah Haji Mina?

Korban Crane
Raja Salman dan Korban Tragedi Crane
Timeline saya heboh dengan rencana kedatangan Raja Salman dari Arab Saudi. Heboh yang pertama adalah persiapan kedatangannya. Pihak Arab Saudi dikabarkan sudah membooking 3 hotel di Nusa Dua Bali dengan harga kamar termahal sebesar 73 juta rupiah semalam.

Selain itu 400 mobil sedan sewaan warna hitam disiapkan untuk iring-iringan. Tangga khusus untuk turun pesawat saja didatangkan langsung dari negaranya.

Heboh yang kedua adalah nilai investasinya yang direncanakan masuk ke Indonesia. Kaum bumi datar teriak-teriak dengan kebanggaan di wall saya kalau Raja Salman akan membawa uang lebih dari 300 trilyun rupiah.

Saya malah bingung, kenapa mesti teriak? China juga bawa ratusan trilyun ke Indonesia, terus apa istimewanya? Buat mereka yang istimewa karena Raja Salman itu Islam sedangkan China itu komunis.

Saudi memang harus investasi di Indonesia. Mereka sekarang terancam bangkrut karena harga minyak turun terus dan tidak bisa diandalkan. Menurut IMF, Saudi mengalami defisit tahun lalu sampai 100 miliar dollar. Tahun ini diperkirakan 87 miliar dollar.

Dan jika defisit ini berlangsung terus, maka diperkirakan Arab Saudi tahun 2020 akan bangkrut. Saudi bahkan sudah mencabut subsidi listrik, air dan BBM untuk rakyatnya. Bahkan dikabarkan sejumlah Pangeran yang milyuner, ramai-ramai kabur dengan menarik dananya besar-besaran karena ancaman krisis nasional akibat serangan ke Yaman.

Bahkan menurut BBC, setelah 25 tahun, Saudi kembali meminjam dana sebesar 131 triliun ke bank Internasional.

Dengan semua fakta itu, darimana Saudi bisa investasi sebesar 300 triliun rupiah ke Indonesia?
Yah, namanya juga janji dulu. Dalam bisnis itu biasa. Indonesia adalah negara seksi untuk berinvestasi. Dan Saudi untuk menyelamatkan ekonomi nasionalnya memang tidak bisa lagi bergantung pada harga minyak dunia. Ia harus keluar dan merubah konsep investasinya, karena itulah mereka fokus untuk gerakkan sektor ekonomi luar negerinya.

Mungkin saja mereka ada uang, tapi itu jelas pinjaman dari bank Internasional seperti IMF atau World Bank. Dan seperti kita tahu, siapapun yang pinjam ke IMF siap-siap aja jadi budaknya.

Lalu kenapa kok gaya Raja Salman seperti orang super kaya terus?

Pengalaman saya di bisnis, biasanya mereka yang dulunya kaya dan menuju bangkrut, malah semakin menunjukkan kekayaannya untuk menutupi kebangkrutannya. Karena bangkrut bagi mereka adalah cilaka dua belas, gada lagi yang percaya apalagi bisnis..

Dan mereka biasanya terus memamerkan kekayaan pake hutang, mumpung masih ada yang mau ngutangi.

Sederhana saja ngelihatnya, seandainya Saudi masih kaya raya, tentu mereka sudah lama membayar santunan 130 korban Mina dari Indonesia, yang dijanjikan 1,7 sampai 3,6 milyar per orang. Sampai sekarang bahkan belum diterima keluarga korban.


Padahal cuman beberapa ratus miliar rupiah lho, kalah ma anggaran biaya sang Raja sekali datang berlibur ke Bali. Seruput ah, jangan ada yang sakit hati.

HENDROPRIYONO, SANG LEGENDA.

Denny Siregar
AM Hendropriyono dan Denny Siregar
Saya melangkah masuk ke ruangan besar itu. Ditengah ruangan ada sofa besar dan nyaman, tentu mahal harganya. Yang menarik, disudut ada meja makan besar khas Teppanyaki, makanan ala Jepang yang dimasak diatas lempengan besi.

Saya duduk terdiam, beberapa orang mondar-mandir di sekeliling ruangan. Rasanya seperti berada di kantor Yakuza, mafia besar di Jepang.

Saya melihat ada pintu dari lapisan kayu. Ada ruangan lain selain ruangan ini. Ruangan sang Don. Boss dari segala boss. Entah kenapa situasi ini membuat saya sedikit merinding. Mungkin karena besarnya ruangan atau karena besarnya nama orang yang akan kutemui.

Ia adalah Jenderal besar. Namanya terangkat ketika ia memberantas kelompok Islam garis keras dalam peristiwa Talangsari. Ia juga disebut-sebut terlibat dalam kasus Munir. "Kalau ada orang mati, nama gua pasti disebut-sebut.." gerutunya kocak.

Pintu dengan lapisan kayu itu terbuka otomatis. Dan saya diminta masuk ke dalam. Ruangan yang ternyata lebih luas dari sebelumnya dan berkarpet tebal. Rasanya pengen tiduran di empuknya karpet tapi entar dibilang norak.

Disana, didepan saya, sang legenda menyambut dengan hangat. "Oh, ini toh Denny Siregar...". Dia, AM Hendropriyono, bapak intelijen Indonesia. Mendengar namanya saja waktu itu bergetar. Sekarang ia menyalamiku dengan penuh persahabatan. Ia tampak sehat dalam usianya yang ke 71 ini. Bahkan bisa dibilang ia lebih muda dari usianya.

Kami pun duduk dan kubiarkan ia bercerita. Lebih baik menjadi pendengar yang setia, karena ia adalah buku cerita yang tidak ada habisnya jika dibaca.

Ia adalah sejarah Indonesia. Rasanya tidak akan pernah cukup waktu duduk disampingnya selama beberapa hari dan mendengarkan semua perjalanan hidupnya dan petualangan karirnya.

Runtuh semua image seram yang melingkupinya. Pak Hendro ternyata adalah orang yang lugas, tidak pernah basa basi dalam berucap. Dan itu menjadikan diskusi berjalan dengan kocak. Saya tertawa terbahak-bahak mendengar ia menyindir, menohok sekaligus menampar perilaku tokoh-tokoh negeri ini. Saya seperti melihat diri saya sendiri ketika berbicara.

Dan -Subhanallah- ia ternyata membaca analisa-analisa saya tentang situasi dalam negeri terutama tentang bagaimana kelompok Islam garis keras ingin menguasai negeri ini.

Haru, bangga sekaligus takut. Jika sekelas beliau saja setuju dengan pandangan liar saya dalam memetakan bagaimana situasi Indonesia ke depan, tentu orang yang tidak setuju dengan saya dan sekelas beliau juga seperti itu. Posisi saya langsung tampak rapuh tanpa perlindungan.

Beliau beberapa kali mengutarakan keinginannya untuk mundur dari dunia politik. Tapi orang-orang terus berdatangan meminta ia untuk terus berkarya. Bahkan Presiden Jokowi pun memintanya utk menjadi penasihat. Pas memang, beliau ini ahli strategi yang diakui Internasional.

Sekarang ini kegiatannya mengantarkan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia PKPI supaya mandiri dan ia berencana pensiun seluruhnya. "Mending dagang aja.." cetusnya sambil minum secangkir teh hangat. Saya seperti biasa minum kopi.

Akhirnya, selesai sudah. Beliau perlu istirahat. Sayapun pamit pulang. Kami bertukar buku. Saya membawa pulang bukunya "Operasi Sandi Yudha - menumpas gerakan Klandestin" dan ia membawa buku saya "Tuhan dalam secangkir kopi".

Saya tidak pernah meminta ijin kepada siapapun untuk menuliskan perjalanan saya ketemu seseorang. Hanya kali ini berbeda, saya menghormati nama besar beliau di dunia intelijen, dunia yang tidak terlihat, bolehkah saya menulis kisah pertemuan saya dengan dirinya ? Dan beliau mengijinkan dengan senang hati..

Dalam perjalanan pulang, saya duduk dan melamun. Saya baru merasakan betapa sebuah tulisan mampu menembus sekat-sekat apapun juga.

Dan saya berada disana sekarang ini, berada di tengah titik pusaran politik, berpetualang, bertemu orang-orang besar dan menjadi saksi sejarah baik yang terbuka maupun yang tidak pernah dibuka.


Ingin cepat-cepat kembali ke duniaku lagi. Bersama sebatang rokok dan secangkir kopi. Entah sampai dimana ujung perjalananku nanti dan siapa lagi yang akan kutemui. Biarlah, kunikmati saja perjalanan yang semakin lama semakin menarik ini.

Jumat, 24 Februari 2017

ZUHUD

Pasukan Oranye
Pasukan Oranye
Seorang sufi bertanya kepada Imam Jafar ash shodiq, cicit Nabi Muhammad Saw, "Ya, Imam.. bagaimana konsep zuhud menurut keluarga Nabi?".

Imam Jafar tersenyum, "Bagaimana menurut sufi ?"
Sang sufi menjawab, "Zuhud menurut kami adalah ketika sulit kami bersabar dan ketika senang kami bersyukur..

Sekarang terangkan menurut para keluarga Nabi.."

Imam Jafar membetulkan letak pakaiannya dan menjawab, "Zuhud menurut para keluarga Nabi adalah ketika sulit kami bersyukur dan ketika senang kami berbagi.."

#Zuhud = mencari dunia tanpa terikat dengannya.

SUDUT PANDANG YANG BERBEDA

Parenting
Sudut Pandang
Tidak ada hal di dunia ini yang tercipta tanpa meninggalkan makna. 
Semua pasti ada pesannya. Ketika seorang teman dengan wajah sedih bercerita tentang anaknya yang berkebutuhan khusus, aku tersenyum senang, "Hei. Tahukah kamu kalau dia itu sebenarnya jenius? Anakmu mungkin sulit bergaul dengan banyak orang, tapi itu karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri. "

Temanku terdiam ketika aku memberikannya sudut pandang yang baru.

"Tahukah kamu kenapa banyak anak jenius malah menjadi menyusahkan ?" Kuambil cangkir kopiku dan menyeruputnya. "Itu karena orangtuanya sibuk mengeluh tentang kekurangan anaknya daripada sibuk mencari dimana kelebihannya.

Seandainya orangtua yang dititipi anak berkebutuhan khusus tahu dimana kelebihan anaknya dan menempatkan dia di tempat yang dia sukai daripada memaksanya bersosialisasi di tempat yg dia benci, tentu satu saat ia akan membuat orangtuanya bangga.."

Kuseruput kopiku dan kulihat senyumnya mengembang. Menempatkan sudut pandang yang keliru dalam satu masalah, akan meninbulkan kekeliruan berikutnya.. Ahhh, nikmatnya..

KENAPA MEREKA FOKUS KE AHOK?

Pilkada DKI Jakarta
Ahok dan Isu SARA
Mungkin kita ketawa melihat hampir seluruh energi tercurahkan hanya kepada seorang Ahok. Sesudah aksi massa besar beberapa kali, DPR pun tergiring untuk menjatuhkan Ahok melalui hak angket Ahokgate. Kita harus punya perspektif luas bahwa apa yang terjadi selama ini sebenarnya bukan karena "hanya Ahok". Bukan..

Mari kita flashback kembali pada tulisan lama saya "Indonesia menuju Suriah".

Sejak lama, Indonesia ingin di-Suriahkan. Ini terlihat dari masuknya kepentingan-kepentingan pemberontak Suriah ke Indonesia melalui "kaki tangan" mereka.

Dan -meski sudah lama saya mengingatkan ada beberapa "ustad" yang menjadi sel-sel mereka- kedok-kedok itu baru terbuka beberapa waktu ini. Terutama ketika Kapolrinya adalah Tito Karnavian yang sangat memahami gerak terorisme global.

Transfer uang ke Turki itu bukan barang baru, karena jika ditelisik sekian tahun ke belakang maka akan terlihat banyak jejak mereka melalui lalu lintas keuangan internasional.

Dulu sasaran mereka untuk membuat kegaduhan di Indonesia adalah isu "Syiah". Isu ini mengikuti isu di Suriah, dimana Bashar Assad Presiden Suriah dituding Syiah.

Untuk memperkuat isu itu, dibentuklah organisasi anti Syiah bernama ANNAS, atau Aliansi Nasional Anti Syiah. Berpusat di Cijagra Bandung, organisasi ini meluas di setiap kabupaten dan kota.

Tujuannya adalah ketika ada seruan "Jihad melawan Syiah", maka ANNAS akan bergerak sebagai motor dengan mengklaim bahwa mereka adalah Ahlusunnah Jamaah atau Sunni, musuh Syiah.
Sempat situasi ini dicoba ketika ada keributan di masjid Az-zikra Sentul dengan tuduhan bahwa Syiah menyerang, ustad Arifin Ilham langsung berseru "Jihad!".

Sayangnya, seruan ini sangat prematur. Tidak ada pergerakan apapun untuk memulai bentrokan Sunni-Syiah. Kemungkinan karena mayoritas masyarakat awam, apa itu Sunni dan apa itu Syiah.
Akhirnya mereka mencoba strategi baru dengan membuka kembali borok lama, yaitu perseteruan Islam dan Kristen.

Jejak strategi ini terlihat dengan adanya kasus Tolikara dan Singkil yang diharapkan akan meluas. Selain itu mereka ingin membuka luka kasus Poso dengan mengangkat teroris Santoso yang mati tertembak sebagai "pahlawan Islam". Ini seperti mengejek umat beragama Kristen di Poso dan memprovokasi supaya terjadi benturan kedua.

Sayangnya, mereka gagal lagi...

Dan mereka akhirnya berusaha mencoba membuka kembali tragedi gelap pembantaian PKI tahun 1965. Isu bangkitnya PKI itu hanya langkah awal saja. Tujuan akhirnya adalah tumbuhnya kebencian terhadap ras Cina, senjata orde baru dalam menguasai negeri ini. Kalau disebut orde baru, tentu kita bisa menarik benang merah siapa yang sebenarnya bermain di belakang layar terhadap situasi yg terjadi belakangan ini..

Dan Ahok adalah "alat" yang sempurna untuk membangkitkan kebencian itu. Sebelumnya, mereka bermain-main di isu 'tenaga kerja ilegal dan investasi China di Indonesia.."

Isu itu terus dipelihara selaras dengan mendekati habisnya kontrak Freeport tahun 2021. Persis masa perebutan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto, yang berakhir dengan ditanda-tanganinya perjanjian Freeport dan Indonesia di tahun 1967, 2 tahun sesudah pembantaian PKI dan warga etnis Cina.

Jadi bisa dilihat kasus Ahok hanyalah satu keping bagian dari seluruh gambar puzzle besar yang mereka buat. Ahok akan terus didemo untuk memelihara kebencian hingga satu saat dibenturkan.

Yang menarik, banyak warga NU dan Muhammadiyah sekarang tidak bisa melihat peta besar ini dengan jelas. Mereka terikut permainan global dengan potensi dibenturkan sesama bangsanya. Padahal NU dan Muhammadiyah adalah gerbang besar menuju NKRI. Hancurnya mereka adalah kehancuran kita...

Ini permainan panjang dengan penuh kesabaran dan dana yang sangat besar. Negara asing yang mempunyai kepentingan untuk menguasai sumber daya alam Indonesia yang melimpah, sedang terus mengintipi perkembangan kita.


Data-data perilaku kita di media sosial terus diserap, mengamati siapa yang kita benci, apa yang kita benci dan mana yang paling kita benci. Data-data itu terus diolah sampai "mereka" menemukan titik mana yang membuat kita akhirnya "perang saudara". Dan -entah kenapa- saya masih yakin bahwa tahun 2019 adalah tahun yang berbahaya bagi kita semua. Ah, terkadang secangkir kopi tidak mampu menyembunyikan kepahitannya.

MASIH PERCAYA RUMAH DP 0 RUPIAH?

Sandiaga Uno
Dp Nol Persen
Gini, jal. Ini RUSUN ya, bukan RUMAH. Catettt. Dp bukan 0 rupiah atau 0 persen. Dp 15 persen, dicicil 6 kali selama 6 bulan. Kalau harga rusun 350 juta, jadi bayar 2,3 juta rupiah perbulan sebanyak 6 kali.
Mampu gak? Oh oke, masih mampu..

Mau tahu cicilannya ? Cicilan 2,3 juta rupiah harus bayar tiap bulan selama 20 tahun. Kalau ditengah perjalanan gak bisa bayar gimana ?

Ya di sita dong.. enak aja. Malah rugi, kan ?
Kalau bayar 2,3 juta rupiah per bulan, berarti gaji kamu harus 7 sampe 8 juta per bulan. Lah, masak hidup hanya buat nyicil rumah tok. Trus buat makan, sekolah dan lain2 gimana ?

Mau tinggal di rusun dengan penghasilan 7 juta perbulan ? Pasti ngga, lebih baek cari rumah di Bekasi, Depok dan pinggir daerah lainnya..

Kalau rusun mah, seperti di rusun Rawa Bebek harga sewa 300 rebu sebulan, atau rusun Marunda 150 ribu per bulan programnya Ahok.

Jadi pesan moralnya adalah "jangan mau dibohongi pake dp 0 persen".
Mending ngopi ajah.. Mimpi boleh, tapi realistis lah jal..

Kamis, 23 Februari 2017

PURWAKARTA, Laboratorium Toleransi di Indonesia

Hari ini diundang lagi ke Purwakarta. Saya kemaren ditelpon staf Kang Dedi Mulyadi untuk datang ke acara. "Acara apa ?" Tanya saya. "Mau dipertemukan dengan KH Ma'ruf Amin.." kata dia sambil ketawa keras.

Hehe, wah rupanya tudingan bahwa saya menghina ulama sekelas KH Ma'ruf Amin sudah sedemikian viral. Okelah, saya datang Purwakarta, sekalian kangen ma sate Maranggi Purwakarta yang terkenal itu.

Di Purwakarta, saya dipertemukan dengan KH Ma'ruf Amin Rais Aam PBNU sekaligus ketua MUI itu. Tidak ada pembicaraan khusus kecuali statement bahwa untuk pilkada DKI putaran kedua ini, beliau tidak memihak siapa-siapa. Clear sudah, tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi.

Tapi bukan itu yang akhirnya menarik perhatian saya. Yang menarik sebenarnya adalah acaranya sendiri. 
Kang Dedi Mulyadi ternyata ingin memperkenalkan program de-radikalisasi terbarunya.

Program ini menargetkan siswa mulai SD kelas 6, SMP dan SMA, terutama mereka yang beragama Islam. Kang Dedi mewajibkan seluruh siswa yang beragama Islam di Purwakarta untuk mengaji kitab kuning di sekolah.

"Apa sih kitab kuning itu ?" Tanya saya.
Kitab kuning itu ternyata adalah kitab yang berisi tafsiran konstektual terhadap Alquran dan hadis. Isinya berbagai macam tafsiran dengan berbagai macam pendapat ulama.

Kenapa harus mengaji kitab kuning? Supaya siswa terbiasa dengan berbagai macam pendapat dan tafsiran. Dengan begitu mereka tidak terjebak fanatisme dan kebodohan akibat terlalu tekstual.
Ah, saya terduduk dan berfikir. Inilah yang seharusnya sejak dulu dilakukan. Bahwa perbedaan pendapat dalam penafsiran kitab adalah hal biasa, bukan kemudian dijadikan senjata untuk mengkafir-kafirkan.

Dan ini adalah tradisi NU yang dilestarikan dan dipakai Kang Dedi dalam melawan intoleransi di Purwakarta. Jadi bukan hanya aktif membangun rumah ibadah dari agama yang berbeda, tetapi juga masuk ke akar masalah pemahaman agama.

"Kenapa program mengaji kitab kuning ini wajib untuk siswa beragama Islam ?" Tanya saya lagi.
Ternyata Kang Dedi Mulyadi sudah berfikir 20 tahun ke depan. Ia mencetak generasi masa depan yang toleran, yang terbiasa berbeda pendapat dan tidak menjadi umat yang fanatik dengan pemahaman yang salah.

Saya semakin tertarik dengan sosoknya. Ia ternyata kaya akan gagasan, hal yang banyak hilang dari pemimpin daerah di Indonesia yang terjebak di pencitraan. Asal bangun banyak rumah ibadah untuk menarik perhatian, tapi lupa akar masalah yang utama.

Saya senyum dan membayangkan jika program ini dikembangkan ke seluruh Jawa Barat, provinsi dengan tingkat intoleransi tertinggi di Indonesia. Bisa jadi Jabar akan membalikkan posisinya dalam sekian tahun ke depan menjadi provinsi dengan tingkat toleransi yang tinggi di Indonesia. Kang Dedi musyrik? Ah masaaaa.

"Gak mencalonkan diri jadi Gubernur Jabar aja, kang?" Tanya saya dengan senyum nakal. Kang Dedi ketawa. Sayangnya tidak ada kopi di depan. Ah, kecutttt rasanyahhh..

Jokowi Rapatkan Barisan Menghadapi Freeport

Freeport
Presiden Jokowi
Menghadapi Freeport itu sungguh bukan perkara mudah. Meskipun nilai kapitalisasinya tidak besar, tapi kukunya sudah begitu dalam menancap di daging Indonesia. Freeport juga menjadi bagian dari sejarah hubungan kuat Indonesia dan Amerika.

Permasalahan terbesar dari kasus merebut kembali Freeport adalah peran kuat para mafia yang berasal dari bangsa sendiri yang sekian lama mengecap pundi-pundi manis dari mereka.

Jadi ini sebenarnya bukan lagi pemerintah melawan asing, tetapi juga melawan bangsa sendiri. Mirip dengan kasus Petral, dimana akhirnya pemerintah harus berhadapan dengan bangsa sendiri.

Pasal-pasal dalam Kontrak Karya yang menganak-emaskan Freeport dibuat dengan persetujuan bangsa sendiri. Begitu juga dengan peraturan pemerintah terdahulu yang dibuat tumpang tindih, sehingga menguntungkan posisi Freeport ketika mereka berbicara dalam wilayah hukum.

Karena itulah Jokowi merapatkan barisannya, para menteri-menterinya yang juga panglima perangnya. Konsolidasi antara Jonan Menteri ESDM dan Sri Mulyani Menteri Keuangan semakin rapat, karena pemerintabhatus menguasai segala aspek hukum dan keuangan.

Begitu juga Menko Maritim Luhut Panjaitan ikut bersuara keras mendukung langkah pemerintah membawa kasus ini ke arbitrase.

Rapatnya barisan ini juga dilakukan dengan koordinasi TNI dan Polri. Diluar itu, ada ormas besar Islam Nahdlatul Ulama yang menyatakan dengan jelas berada di belakang pemerintah.

Jadi kita akhirnya paham, kenapa Jokowi memprioritaskan untuk membangun Papua dengan investasi besar-besaran di bidang infrastruktur. Investasi ini sangat penting untuk menghadapi situasi seperti ini. Papua harus siap, harus maju, harus sejahtera supaya tidak mudah di provokasi untuk merdeka.

Jokowi sudah menyiapkan medan peperangan sejak awal..

Apakah selesai?

Belum. Ini baru permulaan. Siap-siap kita diguncang isu bahwa China akan masuk Freeport untuk memanaskan isu anti cina yang sudah beredar.

Sepertinya harus seruput kopi dulu sambil mengamati perkembangan yang terjadi.

Angkat cangkirnya..


"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Bung Karno.

DUH USTAD, KOK KAMU GICU SIH

Bantuan Kemanusiaan
Bachtiar Nasir
Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan Polri telah menemukan bukti transfer dana sebesar Rp 1 miliar dari Bachtiar Nasir ke Turki.

Hal ini terkait dengan kasus penyelewengan dana Yayasan Keadilan untuk Semua. "Uang ini, setelah ditarik oleh IL (Islahuddin Akbar) sebanyak di atas Rp 1 miliar, kemudian diserahkan kepada Bachtiar Nasir. Sebagian digunakan untuk kegiatan menurut yang bersangkutan. Sebagian lagi kita melihat dari slip bukti transfer dikirim kepada Turki. Ini yang kita dalami," kata Tito saat raker dengan Komisi III DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (22/2).

Hingga saat ini kepolisian belum mengetahui dana yang dikirim ke Turki digunakan untuk kegiatan apa. Menurut Tito, ada media internasional yang menyebutkan bahwa dana tersebut diberikan kepada satu kelompok di Suriah.

"Begitu kita tarik ke belakang, ternyata ada aliran dana dari Bachtiar Nasir ini. Asalnya dari Yayasan Keadilan untuk Semua," jelas Tito.

Di penghujung tahun lalu, tersebar video yang memperlihatkan warga sipil Aleppo menemukan gudang logistik berupa makanan dan minuman yang dikirim dari Indonesia dan ditinggalkan oleh kelompok teroris Jays Al-Islam.

Pada dus logistik tersebut terlihat label bertulisan 'IHR' (detiknews)
Pantas saja sebanyak 7 juta manusia menjelek-jelekkan Kapolri, karena ustadnya sedang diselidiki..

Seruput ahhhhhh...

Rabu, 22 Februari 2017

SUDAH 50 TAHUN, PAK

Sudah 50 tahun, pak..
Sudah 50 tahun ternyata

Kita hanya menjadi pecundang
di rumah kita sendiri..

Ajak kami bangkit, pak..
Ajak kami untuk bangga menjadi bagian dari bangsa ini.


Bangsa yang dulu besar ini
Dan akan kembali besar nanti..

Terimakasih, pak..
Terimakasih sudah menjadi bagian dari sejarah ini.

Kami akan menjagamu..
Kami berjanji padamu dan pada negeri..

Kita akan bersama-sama ketika masa sulit
Dan kita akan selalu bersama pada masa senang nanti..

Seruput kopinya dulu, pak..
Bolehlah kuangkat secangkir
Demi kita, demi anak cucu kita nanti..

FREEPORT, SI KUCING BERTOPENG SINGA

Jonan
Menteri ESDM - Jonan
Salah satu keberhasilan Freeport adalah membangun mitosnya. Mitos Freeport banyak diciptakan oleh hembusan-hembusan baik melalui tulisan maupun perkataan-perkataan pejabat, bahwa Freeport itu singa besar yang jika ditendang keluar akan membuat negara ini goyang.

Sejak dulu kita gentar ketika mendengar Freeport dan sejarah-sejarahnya. Dan ketakutan yang tidak beralasan "kalau Freeport diusir, maka negara akan chaos karena Freeport adalah sumber pendapatan besar buat Amerika. Apalagi karena dibawah emas ada cadangan uranium yang naudzubillah besarnya".

Berapa sebenarnya nilai "si raja hutan" itu?

Ternyata Freeport adalah perusahaan yang gada apa-apanya. Setidaknya dibandingkan perusahaan yang benar-benar raksasa.

Nilai jual Freeport ternyata tercatat hanya 19 miliar dollar. Bandingkan dengan Exxon yang nilainya mencapai 355 miliiar dollar dan Chevron 250 milliar dollar. Mak.. jauh kali pun kau, tulang.

Freeport hanya beti - beda tipis -ma BCA, Telkom dan BRI yang rata-rata nilai jualnya 20-25 miliar dollar US. "Exxon aja yang memasok seperempat kebutuhan nasional, gak rewel. Chevron dan Newmont juga.. " sindir Menteri Jonan. Dalam arti sederhana, "Miskin aja banyak lagunya..".

Pendapatan yang dilaporkan Freeport ke Indonesia ternyata cuman 8 triliun per tahun. Bandingkan dengan Telkom yang memberikan pendapatan 20 triliun rupiah pertahun. Freeport harusnya lebih malu lagi kalau tau pendapatan yang disetor dari cukai rokok saja 139 triliun per tahun. Atau mau dibandingin ma pendapatan yang disetor TKI? 144 triliun per tahun, port.

Karena akhirnya tahu bahwa Freeport itu sebenarnya kucing yang bertopeng singa-lah, Menteri Jonan tetap pada langkahnya bahwa Freeport harus tunduk pada pemerintah Indonesia.

Masak beruang takut ma kucing?

Pantas saja Jonan santai menghadapi Freeport. "Kalau mau tarung di ring arbitrase, ayuk.. jangan cuma koar-koar di media, pake ngancam-ngancam mau pecat karyawan segala.."

Meski santai, Jonan tetap waspada menghadapi segala kemungkinan yang terburuk. Freeport biar bagaimanapun adalah simbol Amerika di Indonesia. Dan Amerika "si pahlawan HAM", biasanya akan membela perusahaan mereka yang merasa tertindas.

Karena itulah Jonan bertemu dengan Kyai Said Agil Siradj di markas PBNU untuk berjaga-jaga seandainya Freeport memainkan isu provokasi di Indonesia. Dan NU berkomitmen penuh untuk menjaga Indonesia dan mendukung pemerintah untuk tarung di arbitrase melawan Freeport.
Yang dimaui pemerintah sederhana aja sebenarnya. Kita tidak ingin main kasar dengan konsep nasionalisasi aset asing seperti yang pernah terjadi di Venezuela pada masa almarhum Hugo Chavez berkuasa.

Indonesia ingin tetap menjadi mitra, tapi tunduk dulu pada peraturan kita dan beri peluang untuk kita menguasai mayoritas saham Freeport. Dengan begitu, kita akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bukannya malah jadi tamunya Freeport.

Inilah yang dinamakan kedaulatan. Dan Jonan berkata tegas, "Saya tidak akan mundur sejengkalpun dari sini..". Freeport ternganga, "Wah kok gak kayak pejabat yang dulu-dulu ya, kasih duit habis perkara.."

Akhirnya salah satu isu yang juga ditebar adalah bahwa jika Amerika hengkang dari Freeport, maka China akan menguasai. Ini menjadi makanan empuk warga bumi datar yang haus onani dan belum ejakulasi. Strategi isu ini ingin mengulang peristiwa 1965..

Padahal kalau mereka mau banyak baca buku, bahwa banyak syarat sebelum akhirnya harus bekerjasama dengan negara asing. Penguasaan sumber daya alam harus ditawarkan dulu kepada penerintah, jika tidak mampu ke BUMN, lalu BUMD, lalu jika masih belum mampu juga tawarkan ke swasta nasional dan seterusnya..

Ahh... kejauhan kalau warga bumi datar disuruh baca buku karena mereka jenis spesies pembaca judul.

Mending suruh baca UUD 45 ajah, Pasal 33 ayat 3, "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat". Silahkan dimakan cangkirnya ya, sesudah saya seruput kopinya.

FREEPORT, PERANG DIATAS MEJA

Freeport
Jonan dan Archandra Tahar
Siapa orang di Indonesia ini yang tidak kenal Freeport? Freeport tumbuh dengan mitosnya. Namanya seagung Goliat yang ditakuti bangsa Israel. Begitu banyak informasi yang membuat Freeport menjadi lebih besar dari ukurannya sendiri.

Dan mitos itu terus dijaga untuk kelangsungan banyak hal, mulai dari "rejeki" para pejabat lokal yang mendapat setoran setiap tahunnya sampai ke nama besar Amerika sebagai negara adidaya.

Dan itu berlangsung selama 50 tahun, sampai pemerintahan Jokowi berdiri. Freeport mendapat banyak fasilitas melalui Kontrak Karya-nya sejak 1967. Kontrak Karya ini yang membuat Freeport bisa menguasai segala lini pertambangan di dalamnya tanpa perlu melakukan klarifikasi konkrit kepada pemerintah Indonesia.

Sekian lama pejabat kita diatur olehnya. Freeport juga membayar para analisis yang membangun persepsi kita akan kebesarannya dan merendahkan kemampuan kita untuk mengambil alihnya. "Udah diem aja, yang penting elu dapat bagian.." begitu kira-kira poinnya.

Dan Freeport juga menjaga dirinya juga melalui pasal-pasal dalam Kontrak Karya yang menguntungkannya. Pasal yang dibangun bersama para pengacara dan pejabat lokal yang dibayarnya. Pasal-pasal inilah yang menjaganya dari kemungkinan ia dimiliki secara maksimal oleh pemerintah Indonesia.

Selain itu, Freeport juga sangat diuntungkan dengan peraturan pemerintah yang tumpang tindih terhadap usaha pertambangan. Dan karena peraturan di kita juga yang tidak kalah "sesatnya", maka Freeport bisa berdalih untuk kembali pada pasal di Kontrak Karya bahwa "Freeport akan tunduk pada peraturan yang memudahkan dan menguntungkan mereka".

Dahsyat bukan?
Jadi kita harus paham bagaimana pusingnya Menteri Jonan dan Wamen Arcandra Tahar untuk menguliti satu persatu pasal, baik dalam Kontrak Karya maupun peraturan tumpang tindih yang dibuat pemerintah pada masanya.

Meski begitu, para punggawa Jokowi ini tidak menyerah. Mereka terus mendesak Freeport untuk mematuhi peraturan yang ada, yang menguntungkan pemerintah.

Kalau sudah terdesak begini, jurus lama Freeport keluar, yaitu ancaman. "Kami akan memecat ribuan karyawan karena kami tidak sudah tidak mampu lagi produksi.." Jurus andalan yang sangat kita kenal, yaitu terzolimi. Bahasa Suroboyonya "Playing Victim".

Sebenarnya pemerintah kita sudah baik sebaik-baiknya. "Okelah, daripada tidak produksi bagaimana kalau kita perpanjang sedikit kemudahan supaya Freeport bisa produksi dan ekspor konsetrat ?" Tapi dengan catatan bahwa Freeport harus mulai bangun smelter.

Dan lagi-lagi Freeport tidak tunduk, hanya "hangat-hangat tai dinosaurus". Ia tetap tidak membangun smelter sesuai yang diperintahkan. Dan ketika ditagih, mereka kembali membuka Kontrak Karya lama mereka dan berpegang pada pasal "Freeport akan tunduk pada peraturan yang memudahkan dan menguntungkan mereka". Wat de pak.

Freeport mendadak menjadi perusahaan politis, padahal negara mendudukkan mereka untuk bernegosiasi secara jantan layaknya dua perusahaan besar yang bertarung.

Bahkan, informasi 300 karyawan yang dipecat adalah bagian strategi perang Freeport untuk membuat pemerintah Indonesia menjadi "tersangka", padahal 300 karyawan itu dirumahkan sementara karena Freeport tidak mampu memaksimalkan ekspornya. Perang diatas meja dilanjutkan dengan perang melalui media.

Kalau sudah memahami akar masalahnya, di tulisan selanjutnya kita akan bicara mitos Freeport yang dibongkar oleh pemerintah kita. Seruput kopi dulu ah.

Selasa, 21 Februari 2017

JAKARTA BANJIR (LAGI)

Banjir
Ahok
"Bang, Jakarta banjir tuh.. "

"Iya, semalaman hujan gak berhenti. Awet kayak cinta jomblo yang selalu terpendam.."

"Katanya kemaren nanya mana banjir ? Buktinya masih banjir.."

"Ya, berarti masih ada beberapa hal yang perlu ditangani lebih lagi. Kalau dulu curah hujan sedang, sudah tidak banjir. Sekarang Tuhan sedang mengetes dengan curah hujan tinggi, banjir atau ndak ?"

"Sok tau lu, bang.. Emang situ Tuhan ?"

"Sedang belajar.. masak cuman ente aja yang bisa jadi Tuhan ?"


Seruput kopi sambil dikepung banjir..

BETAPA KUATNYA UMAT ISLAM DI NEGARA KITA

Ahok
Aksi Monas
Pertarungan Freeport melawan pemerintah Indonesia semakin nyata. Boss Freeport Mc Moran Richard Ackerson bahkan sudah mengancam akan mem-PHK 12 ribu karyawan dalam minggu ini. Ancaman itu bagian dari gertak Freeport sebelum mereka berencana membawa masalah ini ke arbitrase.

Menteri Jonan pun tidak kalah kerasnya. Ia tetap berpegang bahwa Freeport sebaiknya mematuhi peraturan yang ada atau merubah diri menjadi tambang biasa. Perang urat syaraf dibangun di media, bahkan Donald Trump dikabarkan memantau semua perselisihan ini.

Setelah 50 tahun, baru kali inilah Indonesia menyatakan diri dengan tegas terhadap kedaulatan negara ini melawan Freeport. Nasionalisme bangsa dipertaruhkan, karena melawan Freeport bukan main-main. Freeport adalah wajah Amerika di Indonesia. Dampaknya bisa sangat buruk untuk keamanan negeri kita.

Dan seharusnya, inilah waktu kita menunjukkan kecintaan kepada negara dengan memberikan dukungan moril supaya pemerintah tetap konsisten pada pendiriannya.

Seharusnya mulai muncul poster- perlawanan di media sosial supaya kita "ganyang Amerika". Seharusnya juga ada mobilisasi massa atas nama umat Islam -sebagai agama terbanyak di Indonesia- dari seluruh Indonesia. Masjid-masjid mengumandangkan takbir penuh patriotisme dan khotbah-khotbah Jum’at diisi dengan nada berapi-api sudah saatnya kita berdiri di atas kaki sendiri.

Seharusnya juga pesantren-pesantren di seputaran Jakarta mengirimkan santrinya untuk longmarch sebagai bentuk perlawanan terhadap kesombongan Amerika.

Seharusnya juga Aa Gym berdoa di twitter mendoakan pemerintah supaya jangan takut umat Islam dibelakang mereka. Atau naik kuda ala panglima Diponegoro dengan pose gagah.

Seharusnya Tengku Zulkarnaen mulai marah-marah di twitter membakar semangat umatnya. Seharusnya juga KH Maruf Amin dan jajarannya di MUI mengeluarkan fatwa wajib hukumnya membela negara.

Seharusnya Habib Rizieq berada di podium bagai singa mengaum menggelorakan semangat kaum muda. Shalat subuh berjamaah di seluruh wilayah digerakkan untuk menunjukkan kekuatan umat Islam di Indonesia.

Seharusnya juga ustad Arifin Ilham mengajak umat berzikir dengan suara serak-serak basah untuk keamanan Indonesia. Ustad Yusuf Mansur seharusnya membuat video di Instagram dengan mimik marah, "Freeport jangan ditiru ya nak, jangan ditiru!".

Dan seharusnya Monas dikelilingi lautan 7 juta manusia menggertak Amerika supaya patuh pada hukum di Indonesia.

Seharusnya begitu, Amerika adalah lawan yang sepadan untuk itu. Sayangnya, mereka semua hanya berani berhadap-hadapan dengan hanya seorang Ahok saja. Hanya dengan seorang Ahok saja.

Bah! Amerika bisa ketawa ngakak kalau mereka tahu. Donald Trump pasti sedang taruhan ma wakilnya, "Demi rambut palsu, kirimkan seorang Ahok lagi kesana, hancurlah Indonesia.."


Meski pait, kopi terpaksa harus diseruput dulu..