Minggu, 26 Maret 2017

PANASNYA KURSI JABAR 2018

Dedi Mulyadi
Menjelang Pilgub Jabar
Ini tulisan menarik denny charter dari Index politica yang kemaren sempat memetakan kekuatan suara dari Ridwan Kamil dan Kang Dedi Mulyadi di media sosial.

Secara keseluruhan analisa saya dan dia tidak jauh berbeda, mungkin karena sesama denny. Tetapi yang menarik dia membawa perumpamaan SBY dan Jokowi sebagai kemiripan tokoh-tokoh Jabar ini.

Ridwan Kamil diumpamakan sebagai SBY dan Dedi Mulyadi sebagai Jokowi..

Wah, SBY suka curhat. Masa kang RK juga...?

Sabtu, 25 Maret 2017

KALIANLAH PEMBUNUH BU PATMI SEBENARNYA

Rembang
Demo Pabrik Semen
Sama seperti waktu #SaveAleppo saya membongkar "sesuatu" dibalik airmata bujangan. Intimidasidari bully sampe pakly saya dapatkan. Ternyata akhirnya terang benderang juga siapa ustad yang suka kirim uang ke teroris Suriah dengan bahasa Save-savean. 

Saya orang yang muak melihat para penjual penderitaan.

Saya tidak ada urusan dengan pabrik semen Rembang. Tetapi mengatas-namakan rakyat dan menjual penderitaan dengan cor kaki padahal sesungguhnya ada kepentingan di belakang, adalah kemunafikan dan kepengecutan.

Semoga orang-orang  yang mengorbankan petani dengan membujuk mereka supaya mencor kakinya dan orang-orang yang mendukung pencoran kaki sebagai tindakan mulia bisa hidup dengan tenang dan nyaman.

Kalianlah pembunuh ibu Patmi sebenarnya.

Dengan mendukungnya, dengan memberinya semangat bukan mencegahnya. Dan kalian jugalah yang memanfaatkan kematiannya dengan kata-kata "Pahlawan".

Kenapa tidak kalian cor kaki kalian sendiri malah mengorbankan seorang ibu yang sudah renta dan kelelahan? Jika perlu, seluruh koordinator di belakang petani, cor kaki kalian semua sebagai tanda penghormatan.


Saya angkat secangkir kopi jika kalian semua bisa begitu.

PAGI & SECANGKIR KOPI

Anarkhis
Aksi Demo
Melihat apa yang dilakukan FPI dengan melempari polisi yang terdesak dengan batu dan kayu, saya jadi teringat sesuatu. 
Saya ingat video yang sama yang saya tonton di Afghanistan waktu sekelompok besar orang berbaju putih dan hitam melempari seorang wanita yang dituduh berzina oleh suaminya. 
Wanitanya jelas mahluk yang lemah dan tak berdaya secara fisik. Tapi ia diserbu oleh puluhan lelaki "gagah perkasa" yang menjambak, memukul dan terakhir menghujani dan menimbuni dia dengan batu besar, sampai jerit tangisnya hilang. 
Dan disana kudengar nama Tuhan diteriakkan..
Saya juga jadi ingat video di Mesir. Tidak lama sesudah Morsy berkuasa sehabis menjatuhkan Hosni Mubarak, segerombolan lelaki yang berbaju putih dan sebagian hitam panjang, masuk rumah dan menyeret keluar seorang yang mereka stempel syiah. 
Puluhan dari mereka memukulnya dan terakhirnya menghantamnya dengan batu sampai mati. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya di posisi lelaki itu, ketika ia harus melawan segerombolan massa yang tidak bisa diajaka dialog dengan akal dan cenderung mengedepankan nafsu binatangnya. 
Dan diantara para binatang itu, saya mendengar nama Tuhan kembali diteriakkan dengan bangga. 
Entah berapa puluh video yang kutonton dengan model yang sama tapi dengan lokasi yang berbeda di Suriah, di Irak, di Somalia dan juga Nigeria. Aku jadi begitu hapal perilaku mereka. 
Dan sekarang mereka ada disini berbaju FPI dan ormas lain dengan nama berbeda tapi hakikatnya sama. Merasa berkuasa ketika berada dalam kelompok massa. Seperti hyena yang berkelompok mencari bangkai sama-sama. 
Sudah waktunya para koordinator yang menunggangi aksi2 seperti itu ditangkap, dan bertanggung jawab terhadap kerusakan yang mereka lakukan. Kekerasan itu seperti virus yang menular dengan cepat, ketika tidak dicegah ia akan meranbat merasuki otak-otak kecil dengan saluran darah terhambat. 
Apalagi sekarang ada media sosial dengan kecepatan menyebarkan secepat cahaya..
Tapi tunggu, jangan-jangan kita juga bagian dari perilaku seperti itu?
Tanpa gamis, tanpa batu, kita duduk menonton dan memberi semangat para pengecor kaki yang tanpa mereka sadari bahwa mereka menyiksa diri sendiri, tapi kita menjulukinya pahlawan tanpa pernah mengingatkan bahwa banyak hal yang bisa dilakukan dengan lebih elegan? 
Ah, ternyata kita sama-sama binatang dengan bentuk dan cara yang berbeda. Kita sama seperti mereka yang mendorong segala bentuk kekerasan. 
Mungkin ketika ada yang membakar diri sebagai tanda protes nanti, kita kembali akan menjulukinya kembali sebagai pahlawan di hati tanpa pernah berusaha memberi penyadaran bahwa tidak ada tempat di mata Tuhan bagi mereka yang membunuh dirinya sendiri. 
Tanpa secangkir kopi, memang pagi jadi kurang berarti. Dan akhirnya kusadari, berusaha waras di tengah semua kegilaan ini adalah kegilaan tersendiri. Seruput.

PUISI KEJEPIT RETSLETING

Buzzer
Terbuka dalam melihat masalah
Ketika aku berbicara tentang rusaknya Islam oleh umatnya sendiri, aku dituding menghina agama.
Ketika aku berteriak hati-hati ustad borjuis, aku dituduh menghina ulama.

Ketika aku menulis lagi, buruh lebih baik bekerja sendiri daripada terus merasa dizolimi, aku dilabrak karena menghina mereka.

Ketika aku kembali bersuara, mahasiswa mikir yang besar sekalian, masa mikir cabe2an, mahasiswa membalas, "bangsat lu denny!".

Dan ketika aku lantang bicara, hati-hati provokasi atas nama rakyat, aku kembali dituding menghina petani yang melarat.

Satu persatu temanku hilang. Tapi ratusan lagi yang datang. Mereka yang selalu melihat segala sesuatu dari dua sisi. Dan tidak mudah terprovokasi oleh penggiringan informasi.

Sekarang bahkan sulit bicara di halaman sendiri. Dimaki karena tidak empati. "Elu bukan seperti dulu lagi, bang.." Sepertinya aku harus mengejakulasi semua orang.

Mereka hanya membaca satu dua paragraf. Lalu berhak menghakimi maknanya. Mereka bahkan tidak mau berusaha mengerti apa yang tersirat di dalamnya. Apalagi bertanya..

Kenapa? Karena sudah ada keberpihakan dalam melihatnya. Para pembaca yang hanya membaca sesuai kehendaknya. Jika berbeda, mereka kecewa dan marah. Seolah semua orang pikirannya harus sama...

Buzzer bayaran, itulah namaku. Meski dibayar pake apa, aku pun tak tahu. Sekarang dunia maya punya agama. Kalau berbeda pandangan sedikit, langsung ditanya, "dibayar berapa?".

"Asu dahlah", kata cangkir kopiku. "Lihatlah aku. Hitam dan pahit rupa dan rasaku. Tapi aku tidak pernah mencoba berwarna biru, hanya untuk menyenangkan penyuka warna sendu. Yang mau minum, silahkan. Terlalu pahit kasih sedikit gula, senikmat cecap lidahmu.."

Teman datang silih berganti. Tidak ada yang abadi di dunia ini, selain perubahan itu sendiri. Damn, resleting ini menyiksa kulit sisaku. Inilah posisi tersulit, sudah sakit masih ditambah malu.

Jumat, 24 Maret 2017

MUI MAIN PECAT ?

NU
MUI
KH Ahmad Ishomuddin adalah Rais syuriah PBNU yang juga pengurus MUI. 

Beliau melakukan langkah berbeda dengan pengurus MUI lainnya, yaitu menjadi saksi meringankan di kasus Ahok. Beliau tidak sanggup membohongi nuraninya bahwa ada yang janggal di masalah al Maidah 51 ini.

Dan sekarang beliau terancam dipecat dari MUI. Kebayang intimidasi yang didapatkan ketika berpandangan berbeda dari mayoritas di sekitarnya?

Ini memang wilayah orang-orang pemberani.. :)

DEADPOOL KOK DI INTIMIDASI

Aksi Demo
Demo
Berbicara semen Rembang dari sudut berbeda yang selama ini terlihat seperti sinetron mengharubiru, saya seperti membuka kotak pandora.

Intimidasi lumayan banyaknya masuk dari berbagai media sosial mulai fesbuk sampai whatsapp. Bahkan ada satu grup ingin mengundang saya berbicara tentang hoax. Tapi saya akhirnya diberitahu seorang teman bahwa itu adalah diskusi yang sebenarnya diadakan untuk menyerang dan mempermalukan saya.

Memang tidak mudah memberikan sudut pandang berbeda pada satu kasus, karena satu kelompok sudah menjustifikasi diri sebagai pembela rakyat dan keadilan. Dan yang berbeda dengan mereka berarti tidak membela rakyat dan tidak adil..

Mirip-miriplah sama "Gua Islam dan elu kafir"

Malah ada orang Manado yang ingin ngajak saya gelut sampe mati. Saya bingung, kasusnya di Rembang yang ngajak gelut kok dari Manado.

Pantas tidak banyak orang ingin bahas kasus ini, karena intimidasinya begitu massif.

Tapi karena saya adalah DeadPool, yang mati segan hidup pun sulit, saya cuek aja. Untuk apa harus dipermalukan wong pada dasarnya udah gak tau malu? Jadi sia-sia aja intimidasi itu. Enak minum kopi. Seruput dulu ah.

BLUE BIRD YANG DIMAKAN GOJEK

Gojek
Taxi Online
Beberapa hari lalu ke bandara, seperti biasa pesan Go-car. Ada yang aneh, saya kok dapat taxi Blue Bird? Tapi karena dapatnya itu, ya saya naik saja.

Di taxi -bukan Fake Taxi ya- saya jadi teringat pertarungan antara supir taxi Blue Bird dengan ojek online. Di Jakarta ramai demo supir taxi waktu itu, sampai terjadi pemukulan. Bahkan Menteri Jonan yang kala itu jadi Menhub sempat melarang adanya angkutan umum online. Dan kemudian larangan itu dicabut Presiden Jokowi.

Dan sekarang Go-jek bisa kerjasama dengan Blue Bird ? Luar biasa...

Go-jek yang awalnya keliatan ecek-ecek itu, baru saja disuntik dana sebesar 7 triliun rupiah. Ditambah dengan investasi terdahulu, nilai perusahaan mereka diperkirakan total sebesar 17 triliun rupiah. Dan gilanya lagi, nilai segitu tanpa aset kendaraan, karena semua sifatnya kerjasama.

Bandingkan dengan Blue Bird perusahaan publik dengan nilai pasar hanya sebesar 9,8 triliun. Itu sudah termasuk nilai aset kendaraannya sebesar 7 triliun..

Transportasi online sekelas Go-jek memang gila. Seandainya mereka mau makan Blue Bird sekarang juga, mereka pasti bisa. Itulah yang membuat perusahaan taxi sekelas Blue Bird gentar. Mau tidak mau lebih baik kerjasama daripada tergilas zaman.

Lalu saya membaca pertarungan di kota-kota kecil seperti Tangerang, Solo dan Bogor antara supir angkot dengan Go-jek. Saya malah kasihan dengan supir2 angkot itu, seberapa lama mereka bisa bertahan?

Tidak akan lama. Zamannya sudah beda, mereka sudah pasti akan tergilas model transportasi baru yang lebih murah dan nyaman. Sekarang saja orang lebih suka kemana-mana pake Go-jek. Bahkan mau makan pun pesan lewat Go-jek. Budaya baru sedang berkembang di Indonesia..

Kenapa sampai perusahaan investasi dunia mau invest begitu besar hanya untuk sebuah ojek?

Kita hanya melihat dari sisi ojeknya, tapi mereka melihat dari sisi yang berbeda, sisi global. Sama seperti Google dan Facebook, Go-jek sebenarnya ingin membangun dunia dalam sebuah platform dimana apapun aktifitas kita nanti ya hanya berputar-putar di aplikasi Gojek.

Mau makan, buka aplikasi Go-jek. Mau pijat, cukup pencet Go-jek tukang pijatnya datang sendiri. Mungkin nanti mau kentut, pencet Go-jek ada yang datang untuk mengusir baunya yang menusuk habis makan ubi bakar cilembu.

Dan Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 300 juta jiwa adalah pasar besar yang belum tergarap maksimal. Go-jek sudah mengaku bahwa aplikasinya sudah terunduh 20 juta kali dan terus bergerak naik selaras dengan ekspansinya ke kota-kota lain.

Saya membayangkan ketika dunia kita semua sudah online, sampai baru sadar saya sudah sampai di bandara.

"Sudah sampai, pak.." kata supir Blue bird. "Ongkosnya sekian rupiah."
"Loh, kan sudah saya bayar pake Go-pay ?"
"Go-pay itu apa ya, pak ?"

Omaigot.. pak supir juga harus belajar teknologi lagi kalau tidak nanti tersingkir dan harus tinggal di rumah karena dianggap tidak berfungsi..

Jadilah saya menjelaskan apa itu Go-pay tanpa seruput kopi..

PARA PEMBACA YANG BERONANI

Kendeng
Demo Kendeng
Banyak yang baper juga dengan tulisan "Mencari makan atas nama rakyat". Dan seperti biasa saya dituduh buzzer politik dengan pertanyaan khas, "dibayar berapa?". Mirip-mirip dengan pertanyaan, "agamanya apa?".

Untung saya bukan kang Ridwan Kamil, yang dituduh syiah terus langsung mempolisikan. Kalau reaktif gitu, pasti saya sudah sibuk bulak balik ke kantor polisi memperkarakan tuduhan syiah, liberal, kafir dan jemaat HKBP.

Saya juga heran, apa yang salah dari tulisan itu? Toh kita tahu bahwa banyak LSM selalu mencari makan atas nama rakyat? Begitu juga banyak ustad yang suka bicara "atas nama umat Islam" tapi mencari makan untuk diri dan kepentingannya?

Kalau baca komen-komennya dari awal sampe akhir, sebenarnya banyak yang berfikiran sama dengan saya bahwa kasus semen Rembang itu terlalu dipolitisir. Buktinya banyak juga kawan-kawan, dari Rembang yang "aneh" dgn demo sampe kaki di semen itu.

Teman di Rembang boleh juga dong bersuara, masak hanya petani Kendeng saja. Mereka bersuara atas nama dirinya sendiri bukan atas nama "rakyat".

Hanya memang intimidasi dengan kata tidak empati, tidak perduli, tidak sensitif inilah yang membuat banyak orang menahan diri untuk tidak bersuara. Seolah ketika itu menyangkut "rakyat" semuanya benar. Rakyatnya bisa jadi benar, tetapi mereka terbawa oleh lembaga-lembaga yang punya kepentingan di luar mereka.

Untungnya saya orangnya merdeka. Mau nulis apa saja, itu hak karena ini wall sendiri. Saya ingin berjalan dengan "apa yang saya pikirkan" bukan "apa yang kamu doktrinkan".

Apapun itu menyemen kaki bukanlah solusi malah menyakiti diri sendiri. Dan buat saya dzolim sungguh orang di belakang para petani yang bukannya mencegah malah mendorong mereka begitu. Mereka harus bertanggung-jawab penuh ketika ada masalah kesehatan pada para petani.

Habis semen kaki terus nanti apa? Bakar diri? Lalu nanti muncullah teriakan simpati tentang "orang bakar diri", padahal jelas-jelas membunuh diri sendiri itu dosa besar kok malah diberi semangat.

Benar juga kata seorang teman. "Banyak orang membaca hanya ingin memuaskan dirinya sendiri, bukan untuk mencari informasi. Mereka onani dengan kehendak sendiri dan ketika ada orang yang menghalangi mereka ejakulasi, mereka marah karena frustasi".


Temanku itu kalo nyari perumpamaan memang agak vulgar. Mungkin karena terlalu sering nonton Fake Taxi. Minum kopi dulu ah.

Kamis, 23 Maret 2017

CARI MAKAN ATAS NAMA RAKYAT

Semen Rembang
Demo Warga Kendeng
Saya jadi ingat pada saat bu Risma ingin menghancurkan Dolly di Surabaya. Komplek pelacuran tertua dan - katanya - terbesar se Asia Tenggara itu memang sudah mengakar bagi masyarakat sekitar. Mereka membangun perekonomian di sekitarnya dan hidup dengannya puluhan tahun lamanya.

Ketika bu Risma akhirnya membongkar Dolly, perlawanan pun datang. Perlawanan paling gigih datang dari mereka yang menamakan diri sebagai "masyarakat kecil". Masyarakat kecil berteriak dan mengutuk pemerintah yang tidak "pro rakyat". Mereka bergandeng tangan dengan para preman, para mafia LSM dan anggota DPR dengan bermacam faktor kepentingan.

Begitu juga ketika Ahok membongkar Kalijodo...

LSM untuk orang miskin yang kehilangan sumber proyek pendanaan, DPRD yang ingin menjatuhkan wibawa Gubernur dan artis2 yang namanya sedang anjlok mencari nama, semua datang kesana.

Dan mereka berteriak pemerintah tidak "pro rakyat" lalu melakukan aksi tidur semalam di sana berteman nyamuk dan bau yang pasti tidak mereka suka.

Sekarang ini cara melawan pemerintah adalah dengan membenturkannya kepada rakyat kecil beneran.

Rakyat yang sejatinya tidak tahu apa-apa diperas kesulitan mereka, ditakut-takuti akan dampak jika mereka tidak melawan pemerintah dan segala macam usaha.

Air mata jadi senjata utama untuk dipamerkan di media, menguras emosi para pembaca yang terbiasa menonton sinetron televisi yang serinya baru selesai ketika kiamat tiba.

Begitulah saya melihat sinetron Pabrik Semen Rembang. Saya sendiri juga heran, petani-petani lugu itu darimana dapat ide untuk menyemen kakinya ya? Bukankah mereka seharusnya sibuk mencari makan karena pendapatan mereka jelas pas-pasan. Tapi ah, kalau bicara tentang visi biasanya saya dihujat tidak pro rakyat kecil.

Pabrik Semen Rembang adalah milik PT Semen Indonesia. BUMN milik pemerintah. Semen Indonesia bukan pemain baru dalam bisnis semen, mereka sudah memulai sejak tahun 1910, dulu namanya adalah Semen Padang.

Track record mereka dalam tetap menjaga keseimbangan alam dan penduduk sekitar sudah teruji di Gresik, Tuban, Tonasa dan Padang. Jadi sebenarnya tidak perlu ada kekhawatiran di Rembang karena mereka sudah faham bagaimana cara bekerja yang benar.

Seharusnya dengan melihat track record ini, ada jaminan bahwa alam akan tetap terjaga dan kesejahteraan juga kesehatan masyarakat sekitar bisa terjamin.

Tapi yang namanya pembangunan tentu ada pro dan kontra, dan melihat kasus Dolly juga Kalijodo ada saja pihak yang merasa dirugikan mulai dari LSM sampai DPRD. Rugi karena selama ini mereka "makan" dari sisi berbeda yang tidak ada dampak positifnya bagi sekitar. Ketika melihat ada yang mulai menjalankannya dengan benar untuk masyarakat sekitar juga, teriaklah mereka..

Hal yang paling saya sesali adalah acara "semen kaki". Dan saya tidak yakin, para petani itu punya ide yang gila jika tidak dikompori. Bahkan mereka harus merelakan "waktu shalat"nya. Bagaimana bisa shalat dgn kaki tersemen?

Seharusnya kalau ada acara gini-gini lagi, kita dorong supaya pimpinan LSM dan anggota DPRD nya lah yang menyemen kaki mereka, itu baru namanya jantan. Tapi kalau mereka yang begitu, tentu tidak mengundang simpati malah mengundang cibiran..

Karena itulah saya sekarang sudah kebal dengan pengatas-namaan "rakyat kecil". Harus melihat berita-berita dulu, menyeimbangkannya, baru bisa melihat lebih jelas. Bukan asal teriak, tapi gak tau permasalahan sebenarnya. Yang susah kalo kena kata "Pokoknya"...

Mending minum kopi dulu dengan tidak menghakimi. Bahkan pada posisi tidak menghakimi pun tetap dihakimi.. "Lu katanya pro rakyat, kenapa gak nulis tentang derita petani Kendeng?". Ah, sudahlah.. mending seruput saja..

SINETRON PABRIK SEMEN REMBANG

Rembang
Aksi Demo Semen
Saya tidak banyak berkomentar masalah pabrik semen Rembang, karena memang tidak mengetahui akar masalahnya.

Yang saya lihat selama ini adalah aksi menyemen kaki para ibu-ibu. Saya jelas tidak setuju karena aksi itu merusak diri sendiri.

Tapi saya tahu, ketidak setujuan saya pasti akan dituding tidak pro rakyat kecil atau pembela fanatik Jokowi. Jadi lebih baik diam..

Nah, sekarang kita coba lihat tulisan tentang semen Rembang dari sisi yang berbeda, bukan dari mereka yang menolak keberadaan pabrik semen itu.

Tulisan Anggoro Harry Sulistyawan

Isu pabrik semen di Rembang belakangan ini semakin santer diberitakan.

Sebagai salah seorang yang ada di sekitar lingkungan pabrik semen Rembang ini, sedikit banyak saya melihat langsung apa yang terjadi sesungguhnya di lapangan.

Sharing sedikit ini semoga membantu sebagian kawan agar dapat melihat situasi dari sudut pandang yang lain, yang tidak didapatkan dari media apalagi buzzer pihak tolak semen.

Motor penggerak aksi kontra di lapangan yang tampak mata adalah LSM JM** yang berbasis di Kabupaten Pati. Mereka mulai bergerilya di desa sekitar Pabrik Rembang barangkali sejak sebelum tahun 2014.

Sebagian masyarakat sekitar kemudian terperangkap isu bahwa adanya pabrik semen, dalam hal ini adalah penambangan batu kapurnya dapat merusak lingkungan. Mulailah berkembang ketakutan sumber air akan surut, pertanian akan mati, dlsb. Sehingga aksi tolak semen sejak saat itu mulai bermunculan.

Padahal faktanya, sebagai perusahaan terbuka yang memperoleh penghargaan lingkungan proper emas, yang notabene hanya diperoleh sekitar belasan perusahaan di Indonesia, pengelolaan dampak lingkungan di Semen Indonesia sangat diperhatikan betul.

Dengan sifat tanah liat yang mampu menahan air diatasnya, bekas penambangan tanah liat dikonversi menjadi embung-embung tadah hujan berukuran besar. Air hujan yang tertampung di embung justru dapat dimanfaatkan warga untuk pengairan sawah.

Di pabrik Semen Indonesia di Tuban, sawah disekitar embung kini mendapat pengairan yang melimpah di sepanjang tahun, tidak seperti dahulu yg mengering di musim kemarau. Pengakuan petani setempat, panen bisa 3x dalam setahun, dari yg sebelumnya hanya 2x dalam setahun. Embung ini sekaligus berfungsi sebagai penangkal banjir di saat musim penghujan tiba.

Sedangkan sifat batu kapur mampu meresapkan air masuk ke dalam lapisannya. Dengan pola penambangan yang tepat, yang memperhatikan hydrologi setempat, justru akan mampu meningkatkan debit air bawah tanah. Ibaratnya, air hujan akan lebih banyak dan lebih cepat meresap di lapisan batu kapur setebal 1 meter daripada lapisan setebal 2 meter.

Oleh karena itu, bekas tambang tanah liat akan dibuat embung, dan bekas tambang batu kapur akan direvegetasi. Pola penambangan dan pengelolaan lingkungan dirancang secara detail oleh para ahli dengan bantuan konsultan dari ITB dan UGM.

Dengan fakta ini, sosialisasi telah dilakukan berulang kali ke warga sekitar, bahkan mereka diajak melihat langsung pengelolaan tambang di pabrik Tuban. Alhamdulillah mayoritas warga kini mendukung adanya pabrik semen.

Multiplier effect juga mulai terasa bagi lingkungan sekitar. Pada masa proyek pembangunan saja, sudah ribuan tenaga kerja terserap. Gerbong ekonomi kerakyatan pun ikut terseret, bertambah banyaknya pekerja membuat usaha kecil warung makanan, laundry, kos, cuci motor, toko kelontong, pulsa, dlsb ikut tumbuh.

Belum lagi dukungan kucuran modal usaha, pelatihan keterampilan kerja, bantuan pendidikan kejar paket, pembangunan sarana olahraga dan masyarakat bagi warga sekitar yang bersumber dari dana CSR perseroan. Dan juga sumbangsih bagi PAD Kabupaten Rembang. Semakin menambah deretan dampak positif yang diberikan oleh pabrik Semen Indonesia di Rembang.

Hal ini justru kontra produktif dengan apa yang selalu menjadi propaganda pihak tolak semen. Nyatanya secara lingkungan maupun sosial ekonomi, pabrik semen Rembang malah berdampak sangat positif.

Fakta lain, penambangan batu kapur di Rembang ternyata sudah dimulai sejak tahun 1998 sampai sekarang oleh belasan perusahaan swasta. Dari kurun waktu tersebut, tidak pernah terdengar adanya penolakan. Tapi begitu Semen Indonesia bersiap masuk tahun 2014, barulah LSM-LSM ini ribut. Sampai hari ini pun masih terjadi penambangan oleh belasan perusahaan swasta, dan tidak jelas pula pola penambangannya seperti apa, namun LSM-LSM ini seperti cuek saja. Jadi motivasi sesungguhnya LSM-LSM ini apa ya?

Titik terang mulai terlihat saat dedengkot LSM JM** tertangkap kamera sedang berkomunikasi akrab dengan pimpinan semen kompetitor yang notabene milik asing. Semakin terang benderang kemudian ketika si kompetitor ini malah seolah diberi karpet merah untuk mendirikan pabrik semen di Kabupaten Pati. Padahal basis LSM JM** ini juga berada di Pati, tapi justru lebih sibuk mengusik perusahaan milik negara di Kabupaten tetangga daripada pabrik semen milik asing di rumahnya sendiri.

Pertanyaannya kenapa LSM JM** sangat galak ke perusahaan pelat merah, tapi mesra dengan perusahaan asing?

Tidak pernah kan terdengar ada aksi cor kaki untuk pabrik semen ***cement? Atau aksi membuat tenda perjuangan? Atau cuitan cuitan dari buzzer tolak semen? Aman sentosa sekali....

Seandainya pabrik Rembang berhasil digagalkan karena alasan yang irasonal, modal 5 triliun rupiah akan menguap begitu saja. Siapa yang bersorak? Kompetitor semen asing. Dan sebagian orang pengkhianat negara yang cukup kenyang dengan komisi misi jahatnya. Siapa yang rugi? Negara, bumn dan rakyat.

Jahatnya kubu tolak semen tampak ketika dibuka ruang diskusi terbuka mengenai amdal pabrik Rembang pada Februari lalu. Pada forum yang dibuka luas untuk semua kalangan, bukannya menyampaikan pendapat secara ilmiah, malah walk out. Lalu memilih berkoar di jalanan dan media sosial.

Cerita menarik terjadi saat aliansi BEM Universitas di Semarang datang melakukan kroscek ke Rembang. Mereka datang dengan semangat dan pemahaman tolak semen. Namun setelah berdiskusi dan meninjau lapangan dan desa sekitar, mereka pulang dengan pendapat yang berbeda 180 derajat. Kini justru menjadi aktivis pro semen. Masyarakat yang digambarkan media mayoritas menolak, ternyata mayoritas malah mendukung, itu ditemukan para mahasiswa sendiri setelah melakukan kunjungan langsung ke masyarakat.

Pilihannya sekarang adalah ikut termakan drama untuk mencari simpati, atau tetap berpihak membela aset negara.

PEMIMPIN YANG BESAR DI MEDIA SOSIAL

Ridwan Kamil
Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi
"Kenapa abang gak adil kalau masalah Jabar? Kang Dedi Mulyadi dipuji mulu dan kang Ridwan Kamil dikritik mulu".

Wah, ternyata banyak juga yang inbox ke saya ketika saya angkat masalah Ridwan Kamil ini. Saya tahu pecintanya banyak banget dan kadang terlalu cinta sampai lupa lupa daratan.

Saya pernah mengkritik Mario Teguh dalam sikapnya yang cenderung arogan, dan saya diserang oleh pecintanya dengan banyak bantahan. Pada akhirnya ketika Mario Teguh bermasalah, mereka juga yang menyerangnya habis-habisan.

Saya juga pernah mengkritik Ahok, ketika putaran pertama yang tidak fokus pada relawan. Dan saya kembali diserang habis-habisan. Dan pada akhirnya, mereka juga berjalan persis seperti apa yang saya katakan.

Dalam bersahabat, saya adalah penerima kritik yang baik. Karena sahabat yang terbaik bukan yang selalu memuji setinggi langit, tapi yang menjaga kita dari kelemahan.

Karena kritik itu sebenarnya tanda sayang, bukan kebencian. Dengan kritik kita menunjukkan lubang-lubang yang bisa menjadi titik lawan untuk menyerang.

Nah, jangan sampai kita menjadi pecinta yang fanatik dan akhirnya menjadi pembenci yang fanatik juga.

Ingat kasus Anies Baswedan yang dulu tercitrakan di medsos begitu bijaksana, santun dan pintar? Begitu banyak yang memujinya, orang yang juga sama yang menyerangnya.

Kenapa saya selalu berpandangan baik pada Kang Dedi Mulyadi?

Karena kang Dedi termasuk pemimpin bagus yang jarang diberitakan di media sosial. Dan program2 anti radikalnya juga bagus. Sejak dulu saya lebih suka bicara dengan "apa" yang dikerjakan seseorang, daripada "siapa" dia.

Dengan mengangkat kang Dedi ke medsos, saya juga ingin Jabar punya opsi dalam memilih pemimpin, tidak terpaku pada satu sosok saja. Saya hanya ingin mengingatkan supaya tidak terjadi kesalahan yang berulang, melihat sosok pemimpin hanya karena dia popular di medsos saja.

Kenapa saya kerap mengkritik kang Emil?

Karena kang Emil sudah terlalu sering dipuji dimana-mana. Ia sudah popular di medsos dan tidak perlu bantuan siapapun untuk membesarkannya.

Tapi ini juga bisa menjadi titik kelemahannya. Pujian adalah senjata penghancur mental paling efektif untuk membuat seseorang yang dulu baik berubah menjadi monster yang mengerikan.

Sambil seruput kopi, saya jadi teringat pesan almarhum bapak. "Berterima-kasihlah kepada mereka yang selalu menghinamu dan merendahkanmu. Karena tidak ada pelajaran yang kamu dapat dari mereka yang selalu meninggikanmu". Mau kopinya?

KANG RIDWAN KAMIL JANGAN BAPERAN

Kang Emil
Ridwan Kamil
Saya agak heran-heran gimana gituh melihat reaksi kang Ridwan Kamil ketika dituduh syiah. Dalam situasi pertarungan seperti ini, tudingan adalah senjata lawan untuk melemahkan kita. Dan ketika kita bereaksi berlebihan terhadap tudingan lawan, itu memang yang mereka harapkan. Saya kenyang dituding syiah.

Kang Emil harus belajar bahwa kata "Syiah" itu berarti pengikut dan itu dinisbatkan sebagai pengikut Imam Ali bin abu thalib, keluarga sekaligus sahabat terdekat Nabi Muhammad Saw.

Coba tanya orang2 Syiah yang dikenal sebagai pecinta keluarga Nabi. Dituding "Syiah" bagi mereka membanggakan. Karena tidak semua dari mereka bisa mencapai maqom ke-syiah-an dan malu menyebut dirinya syiah ketika perbuatan mereka jauh dari tauladan Imam Ali.

Sama seperti mereka yang takut menyebut dirinya "muslim" karena masih jauh dari sifat2 muslimin.
Saya sendiri seharusnya bangga ketika dituding syiah, karena orang lain mengakuinya. Tapi akhirnya malu sendiri ketika melihat bahwa ternyata saya jauh dari perilaku dan tauladan yang dicontohkan.

Saya selalu bilang, "saya pecinta para pecinta syiah(pengikut)nya Imam Ali". Menjadi pecinta dari pecinta para pengikut itu saja sudah membanggakan.

Menjadi syiah? Waooowww... Itu seperti klaim ketika seorang Katolik menyebut bahwa dirinya setara dengan Bunda Teresa. Atau ketika orang Hindu bilang bahwa ia selevel dengan Mahatma Gandhi. Jauhhhh.

Hanya memang kata "syiah" itu cenderung menjadi negatif karena dipelintir sebagai aliran sesat. Dan menariknya, yang dituding syiah biasanya pintar2. KH Said Agil Siradj, Ketum PBNU, dituduh syiah. Quraish Shihab, Doktor Hadis, juga dituduh syiah. Kan pintar2 mereka. Harusnya kang Emil bangga juga karena disejajarkan sama mereka yang pintar2 itu, bukan malah bereaksi sebaliknya.

Tapi ini memang politik. Ketakutan kang Emil bisa jadi sama seperti ketakutan Anies Baswedan. Anies akhirnya memproklamirkan diri bahwa dia bukan Syiah, padahal dulu-dulu sebelum menjadi Cagub dia anteng2 aja.Takut kehilangan suara ? Dan lihat pada akhirnya dia berubah menjadi apa...

Saran saya kang Emil, lebih baik tidak usah mengurus tudingan2, apalagi sampai mem-polisikan. Kalau dituding gitu aja sudah baperan, wah bagaimana nanti kalau menghadapi warga Jabar yang menurut survey "tingkat intoleransinya tertinggi di Indonesia".

Mungkin sudah waktunya kang Emil mengurangi aktifitas di medsos dan biar tim aja yang mengelolanya. Karena medsos itu seperti penonton sinetron, semakin sering kita menanggapi komen-komen negatif, kita akan berubah menjadi orang cengeng dan sensitif..

Gitu aja ya, kang Emil...

Kapan-kapan kita minum secangkir kopi sambil cerita bagaimana seharusnya pemimpin itu bersikap. Pemimpin itu tidak perlu pintar, ia fokus mengawal visinya ke depan meski harus berseberangan dengan pendapat banyak orang. Seruput dulu, kang.

Rabu, 22 Maret 2017

DEDI MULYADI, SI KUDA HITAM

Politik
Dedi Mulyadi
Selain Ridwan Kamil, potensi Jabar ada di Dedi Muyadi. Dedi Mulyadi adalah Bupati Purwakarta, yang 2018 ini selesai sudah 2 periode menjabat. Dan meskipun belum seribut Kang Emil, Kang Dedi Mulyadi kemungkinan besar akan maju di Pilgub Jabar.

Dedi Mulyadi sekarang adalah ketua DPD Golkar Jabar. Ini menjadi kekuatannya untuk maju Pilgub Jabar, apalagi Golkar sudah mempunyai 17 kursi disana.


Ini berarti Golkar hanya butuh 3 kursi lagi supaya bisa memenuhi syarat minimal 20 kursi yang dibutuhkan untuk mencalonkan Gubernur. Jauh lebih mudah dari Nasdem dan Hanura yang terpaksa harus ngos-ngosan cari koalisi partai besar.

Dedi Mulyadi adalah aset besar Golkar di Jabar. Meskipun begitu, namanya tidak segaung kang Emil di media sosial yang lebih nge-pop. Ini mungkin karena posisi Kang Dedi yang ada di Purwakarta, kota kecil di Jabar yang jelas tidak ada apa2nya dibandingkan Bandung.

Meski begitu, sepak terjang kang Dedi tidak bisa diremehkan. Ia harus menghadapi kerasnya FPI di Purwakarta yang sudah menghancurkan patung-patung disana karena dianggap musyrik.

Kang Dedi bahkan sudah mendapat stigma sebagai seorang musyrik karena menyembah patung jauh sebelum kang Emil dituding Syiah. Heran juga, padahal Kang Dedi Mulyadi adalah wakil ketua PCNU Purwakarta. Kalau dia musyrik, tentu NU duluan yang menendangnya.

Ini resiko yang harus dihadapinya ketika ia bersikap tegas dengan tidak menaungi kelompok radikal di tempatnya.

Meski ada gesekan kuat dengan kaum radikal, Kang Dedi Mulyadi malah menjadi tokoh toleran. Gebrakan-gebrakannya dalam menangani radikalisasi di daerahnya bukan semata pencitraan belaka, tetapi langsung masuk ke akarnya dengan membina anak-anak supaya tidak terjebak menjadi teroris.
Bahkan BNPT mempercayai Kang Dedi Mulyadi untuk menangani 56 mantan teroris supaya di "cuci otak" lagi dengan program deradikalisasinya. Jabar -dengan tingkat intoleransi tertinggi di Indonesia- sebenarnya sangat butuh Kang Dedi Mulyadi.

Pertanyaannya cuma satu, apakah Kang Dedi Mulyadi akan maju lewat Golkar dengan koalisi bersama satu partai kelas menengah, atau gabung dengan PDIP yang punya 20 kursi di Jabar?

Jika bisa bergabung tentu hebat, tapi mungkinkah dan siapa calon dari PDIP sebagai wakilnya? Ridwan Kamil? Mau gak kang Emil jadi wakilnya??

Jika Golkar dan PDIP tidak bersatu di Jabar tentu sayang. Kekuatan Aher di Jabar tidak diragukan, ia sudah membuktikan dengan memimpin Jabar 2 periode.

Kalau menurut saya, untuk melawan kelompok Aher di Jabar lebih cocok kang Dedi Mulyadi daripada kang Emil.

Kenapa?

Karena kang Dedi Mulyadi menguasai wilayah pedesaan, sama seperti Aher juga. Jaringannya kuat di desa, secara Jabar itu 70 persen lebih adalah desa bukan kota.

Kalau kang Emil anak betawi -eh, anak kota- apa gak teler blusukan di desa terpencil di Jabar yang belum ada toiletnya? Bisa bawa parfum terus.

Karena itu, kita berharap PDIP juga melirik kang Dedi Mulyadi sebagai koalisi kuatnya. Berkaca dari kekalahan Rieke dan Teten dari Aher dulu, sudah saatnya PDIP sekarang bergandeng tangan dengan Golkar sebagai partai besar daripada dipecah koalisi Gerindra-PKS.

Seperti pernah saya ceritakan, Jabar ini sangat penting dikuasai koalisi nasionalis daripada koalisi agamis. Karena pertama, jumlah pemilih Jabar terbanyak seIndonesia. Dan kedua, Jabar adalah pemasok aksi "Bela Safira" di 411 dan 212 lalu. Tentu akan merepotkan pemerintah pusat jika Jabar kembali dikuasai mereka.

Itu analisa dengan keinginan sempurna. Bagaimana jika nanti malah kang Emil dan kang Dedi Mulyadi malah berhadap-hadapan disana? Yang bisa jawab, sana ambil kopinya.

Selasa, 21 Maret 2017

SURGA & NERAKA

Neraka
Surga dan Neraka
"Surga dan neraka itu tidak perlu dibuktikan dengan wujud, cukup dengan logika. Itu adalah reward and punishment bagi manusia yang dianugerahi akal dan kehendak bebas di dunia.

Seperti di kantor aja, masak kalo kamu bolos terus karirmu akan bagus?

Itulah konsep keadilan Tuhan. Sungguh tidak adil jika Tuhan mencampurkan kejahatan dan kebaikan di tempat yang sama..."


Suparto, 42, pembuat buku "cara menggantung diri live di facebook".

SEMOGA KAMU MENDAPAT HIDAYAH

Hidayah
Jilbab
"Semoga kamu dapat hidayah, ya".
Begitu celetukan teman-teman wanita kepada temannya yang belum memakai jilbab. Ini cerita pada waktu reuni teman-teman yang sudah lama tidak bertemu.

Aku tersenyum mendengar percakapannya. Dan kulihat teman yang belum memakai jilbab itu merasa terintimidasi karena hanya dia sendiri yang belum berjilbab.

Apa arti hidayah sebenarnya? Saya dulu mencari-cari definisi yang tepat dan ketemu dengan kata petunjuk. Petunjuk dari Tuhan. Bagaimana cara Tuhan memberi petunjuk? Jangan-jangan apa yang kita kira petunjuk, ternyata bukan. Wong Tuhan itu Maha.

Ada penjelasan logika dari seorang teman ketika kami berbincang di warung kopi.

"Dalam diri manusia itu ada sesuatu yang istimewa yaitu akal. Di akal inilah Tuhan memberi nikmat dan juga memberi siksa. Siksa bukan dalam artian Tuhan itu kejam, tetapi lebih kepada memberi sebuah jalan supaya manusia bisa berfikir bahwa nikmat itu adalah segalanya. Dan nikmat yang paling hakiki adalah ketenangan jiwa".
Kulihat ia menyeruput kopinya. Menarik, pikirku.

"Pada intinya, manusia sendirilah yang menciptakan nikmat dan siksa dalam akalnya. Ketika ia berbuat buruk, maka ia menyiksa dirinya sendiri dengan ketakutan. Begitu juga sebaliknya.

Nah, akal menemukan fase pembelajaran melalui rangkuman dari peristiwa-peristiwa. Sama seperti belajar di sekolah punya tingkatan-tingkatan dalam menyerap ilmu. Sama seperti seorang karateka yang diberi sabuk sesuai tingkat kemampuannya.

Hanya, selain akal manusia juga mempunyai sisi buruk dalam dirinya yaitu nafsu. Nafsu inilah yang menutup akal. Seperti awan gelap yang menutupi bumi. Ketidak-mampuan manusia menggunakan akal adalah karena ia memperbesar nafsunya. Semakin besar nafsu, semakin gelap akalnya. Pada fase akalnya tertutup inilah manusia seperti berjalan di labirin, ia berputar-putar di ruang yang tidak mampu ia kenali.

Disinilah dbutuhkan hidayah atau petunjuk. Hidayah itu bukan sesuatu yang tiba2 datangnya, ia harus dicari melalui berbagai macam usaha.

Faktor terpenting manusia mendapatkan petunjuk adalah ketika ia menurunkan nafsunya. Dan akar dari nafsu adalah kesombongan. Dengan menurunkan kesombongan, setahap demi setahap kabut tebal yang mengungkungi akal akan tersingkap dan manusia bisa melihat semuanya dengan lebih jelas, lebih jernih dalam menyikapi persoalan.
Begitulah konsep hidayah..

Yang bermasalah adalah ketika manusia mencari petunjuk berdasarkan nafsunya. Ia merasa mendapat hidayah, tapi sebenarnya tidak. Nafsunya yang mengatakan bahwa dirinya mendapat hidayah. Darimana kita tahu bahwa ia begitu? Ketika ia masih sombong dalam menjalankan apa yang dia sebut hidayah".

Ah, aku mengerti. Pada intinya, manusia ketika ingin mendapatkan pelajaran yang tinggi harus menekan nafsunya sehingga ilmu yang datang bisa masuk padanya.

Seorang karateka sabuk putih ketika ia belum lengkap ilmunya, cenderung petantang petenteng kemana-mana karena merasa berilmu. Beda dengan yang sabuk hitam yang merasa ilmunya harus disimpan dan dipergunakan sesuai waktunya, karena jika ia menggunakannya sembarangan efeknya bisa mematikan.

Ilmu itu menekan kesombongan...

Aku berterimakasih padanya akan penjelasan sederhananya. "Aku yang traktir kopi.." kataku dengan bangga. Akhirnya aku bisa juga traktir kopi seseorang. "Buat apa?" Kata temanku. "Lha aku kan pemilik warungnya".

Hari berlalu dan di facebook kulihat teman wanitaku yang dulu, ternyata sudah berjilbab. Sekarang ia senang memposting ayat-ayat di wallnya juga di grup WA. Ia pun sering berkata, "Semoga kamu mendapat hidayah".

Ilmu itu seperti secangkir kopi. Menyeruputnya harus dengan kesadaran tingkat tinggi. Jika ilmu belum penuh dan memaksakan diri, yang terjadi adalah kesombongan memenuhi akalnya kembali.


Seruput.

BELAJAR DARI SEORANG DEDI

Dedi Mulyadi
Kang Dedi Mulyadi
Saya tuh baru tahu, kalau patung harimau lucu yang viral itu diganti ma Kang Dedi Mulyadi. Saya penasaran dengar berita itu dan saya tanya melalui telpon, tentu lewat asistennya yang cantik aduhai. 

"Benar kang Dedi yang ganti patung harimau itu?"
Dijawabnya, "Benar bang.."
"Hebat.. "Kata saya. "Saya kira patung itu yang ganti TNI sendiri.."

"Ngga, kang Dedi yang menggantinya. Ia sumbang patung harimau ke Koramil supaya TNI tidak menjadi bahan ejekan. Beliau itu anak tentara jadi kepikiran untuk menyelamatkan wibawa mereka.."
Saya tutup telponnya. Kuseruput secangkir kopi. Kadang aku surprise melihat jalan pikiran seseorang. Ketika arus besar mengarah kesatu tempat, ada seseorang yang bisa berfikir berbeda. Ketika kita sibuk tertawa, ada yang berfikir untuk berbuat..

Saya jadi ingat perkataan beliau dulu waktu sempat bertemu. "Jadi pemimpin itu harus merubah, bukannya malah dirubah. Jalan pikiran seorang pemimpin itu harus jauh ke depan, bukannya mengikuti kemauan banyak orang.."

Ah, kadang saya jadi malu sendiri karena selalu ditampar dengan idealisme seorang Dedi. Saya masih terikut di arus besar, sedangkan ia sudah berfikir besar.

Mungkin saya harus banyak belajar darinya. Dimulai dari menyeduhkan secangkir kopi untuknya.

RIDWAN KAMIL MAU KEMANA?

Kang Emil
Ridwan Kamil
Ketika Ridwan Kamil didukung Nasdem secara terbuka, saya sudah yakin kalau ia akan diserang. Ridwan Kamil bisa dibilang -maaf- terlalu naif. Ia berharap mendapat dukungan dari kedua belah pihak yang sedang berseteru keras. Dalam hal ini saya sedang mencoba membagi kedua kubu dalam dua barisan, yaitu barisan garis keras dan barisan nasionalis.

Kedua kubu ini sudah bertempur di pilpres 2014, di Pilgub DKI, dan nanti di Pilgub Jabar, yang kemudian endingnya adalah pertarungan keras di Pilpres 2019. Mereka tidak mungkin bersatu dalam waktu dekat ini.

Kalau melihat postingan di page Kang Emil, bisa terbaca pendukungnya banyak dari barisan garis keras dari komen-komennya. Mereka sangat mendukung ketika kang Emil berkunjung ke Buya Yahya ulama dari Cirebon pendukung aksi 212. Mereka semangat ketika kang Emil mendukung "politik" shalat Subuh berjamaah di Bandung.

Dan sekarang, mereka berbalik arah ketika kang Emil didukung Nasdem. Nasdem -dalam perspektif barisan garis keras- adalah musuh besar mereka. Itu karena Nasdem adalah pendukung Jokowi dan Ahok. Lihat saja aksi mereka ketika mengusir reporter Metro TV di aksi 212, televisinya Surya Paloh ketua umum Nasdem.

Itulah kenapa saya tidak yakin jika di Pilgub Jabar ini, Ridwan Kamil akan berpasangan dengan Kang Dedi Mulyadi.

Kenapa begitu?

Kalau melihat track record kang Emil saat menjadi Walikota Bandung, ia didukung oleh Gerindra dan PKS. Bahkan wakil walikotanya kader PKS. Dan untuk Jabar, PKS hanya mempunyai satu calon, yaitu Netty Heryawan, istri Aher.

Menaikkan Netty sebagai Cagub, jelas resiko besar bagi PKS, karena ia perempuan. PKS akan dituding menjilat ludahnya sendiri terhadap masalah kepemimpinan wanita.

Nah, strategi yang bagus bagi PKS adalah menaikkan seseorang sebagai Cagub dengan Netty sebagai Cawagubnya. Siapa pilihan yang tepat bagi PKS? Tentu Ridwan Kamil.

Kebetulan PKS juga berteman baik dengan Gerindra, dan Prabowo juga belum punya calon kuat di Jabar. Siapa yang memungkinkan untuk dicalonkan Prabowo? Tentu Ridwan Kamil.

Gubernur Ridwan Kamil dan Wagub Netty, persis komposisi Walikota dan Wakil di Bandung. Dan saya masih belum yakin kalau kang Emil kuat untuk menolak tawaran menarik dari koalisi Gerindra-PKS.

Apa sebabnya?

Karena dengan koalisi Gerindra-PKS yang berjumlah 22 kursi, membuat mereka sudah memenuhi syarat untuk memilih Cagub dari syarat KPUD minimal 20 kursi.

Kalau didukung Nasdem, kang Emil bisa apa? Wong Nasdem cuman punya 5 kursi doang di Jabar.
"Lah terus kenapa kok kang Emil gembira didukung Nasdem?".

Kang Emil itu sedang cari perhatian PDIP sebenarnya, yang sudah mempunyai 20 kursi sehingga bisa memilih sendiri. Ia berharap Nasdem bisa merayu PDIP, atau setidaknya dengan berita ia didukung Nasdem, PDIP meliriknya.

Tapi tau sendiri PDIP, keputusan mereka -terutama bu Mega- baru muncul disaat terakhir. Yah deg-degan lah kang Emil. "Gak pasti, nih..."

Karena itu, ada kemungkinan besar ia melompat ke koalisi Gerindra-PKS yang lebih menjanjikan karena PDIP PHP mulu. Dipegang-pegang doang, tapi gak dipakai-pakai.. begitu analogi penganten barunya..

Disinilah kebimbangan besar seorang Ridwan Kamil. Karena itu ia sangat intensif mengangkat namanya di media sosial dengan "membentuk tim pemenangan" di beberapa daerah dan melalui dukungan Nasdem. "Ayo, PDIP... Beli dong guaaaa.. Mumpung lagi Sale".

Pertanyaannya, maukah kang Emil kehilangan pendukung dari barisan garis keras yang sekarang sangat memujanya??

Yang bisa menjawab, "Ayo sana, ambil sepedanya.."


Seruput dulu, ah.. meski dah malem..

Senin, 20 Maret 2017

BERAGAMA DENGAN AKAL

Akal
Kebenaran
Sejak dahulu, meski tanpa pengetahuan yang memadai, saya tidak pernah percaya bahwa Nabi Muhammad SAW menyematkan kata "kafir" kepada non muslim.

Saya berpatokan bahwa Rasulullah adalah manusia suci dan ketika kesucian beliau bersumber dari sang Maha Suci, maka dirinya selalu berada dalam kebaikan. Beliau diturunkan bukan untuk meng-Islamkan manusia, tetapi memperbaiki ahlak dan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Jalan yang dibawanya adalah keselamatan atau Islam, sebagaimana Nabi-nabi yang lain juga membawa jalan keselamatan yang sama kepada umat manusia pada zamannya.

Dan ketika pengetahuan saya bertambah, saya menemukan banyak hal yang mendukung bahwa kata "kafir" itu disematkan kepada mereka yang perilakunya keluar dari tuntunan Tuhan dan Rasul-nya. Itu berlaku juga kepada umatnya sendiri.

"Janganlah kalian menjadi kafir sepeninggalku..." Perkataan ini bukan ditujukan kepada non muslim tetapi kepada umatnya dan secara spesifik kepada mereka yang meng-klaim sebagai sahabat2nya yang berjumlah puluhan ribu orang itu.

Begitu juga dengan bahasa "Jangan menjadikan Yahudi dan Nasrani.." bukan kepada mereka yang Yahudi dan Nasrani secara keseluruhan, tetapi kepada para pendeta-pendeta dan pengikutnya yang dulu menentang dan memerangi beliau.

Dalam ayat lain, Nabi Muhammad SAW juga menyampaikan firman Tuhan, bahwa Yahudi dan Nasrani tidak perlu bersusah hati karena Tuhan memberikan perlakuan yang sama kepada mereka.

Adapun ayat yang tidak membolehkan mengangkat Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah hal yang sangat wajar karena umat Islam harus dipimpin oleh Islam sendiri dalam wilayah ke-umat-an, seperti halnya umat Yahudi dan Nasrani dipimpin dari kalangan mereka sendiri.

Jika agama di ibaratkan "manual book", maka jelaslah yang bisa menjelaskan petunjuk itu adalah dari kalangan sendiri.

Tetapi yang terjadi sekarang bahasanya selalu di-generalisasi, dibuat seolah-olah keseluruhan, apalagi dibumbui oleh kepentingan. Padahal kalau kita pakai analogi sederhana ketika ada yang bilang, "Orang batak itu keras .. " Itu tidak berlaku bagi semua, tapi pandangan rata-rata.

Buktinya saya yang batak ini berperangai halus, santun dan imut tak berkesudahan. (Bentar, nyisir dulu)

Ketidak-mampuan mereka yang menerjemahkan sesuatu berdasarkan konteks "kapan", "dimana" dan "pada saat peristiwa apa" ayat dan hadis itu dikeluarkan, membuat banyak orang terjebak pada teks saja. Parahnya lagi banyak yang ho oh saja ketika ustadnya mengisi otak mereka. Yang penting si ustad berjenggot, jidat kapalan dan celana cingkrang, itu sudah patokan kebenaran.

Beragama itu sesungguhnya dituntut cerdas, karena itulah manusia disematkan akal untuk memahaminya. Jangan menjadi kerbau yang nurut saja ketika dibawa ke tempat pembantaian. Logika-logika harus penuh dulu sebelum meng-imani sesuatu.


Beragamalah seperti secangkir kopi. Ia bisa berada di kalangan menengah bawah sampai atas, tapi ada satu hal yang tidak bisa lepas darinya, yaitu kenikmatan.

SEPEDA JOKOWI

Sepeda
Jokowi
"Ya sudah, sana ambil sepedanya". 

Perkataan Jokowi ini begitu terkenal sekarang, sehingga kadang dibuat lelucon di media-media sosial.

Entah kenapa kalimat itu menjadi terkenal, meskipun dalam berbagai kesempatan pakde juga sering bagi-bagi buku ketika ketemu sama anak-anak di jalan. Mungkin karena kalimatnya yang cenderung lugu dan natural, dengan logat medok dan merakyat.

Kenapa juga "sepeda", belum terjawab..

Mungkin juga secara tidak sadar hadiah sepeda itu adalah mimpi Jokowi waktu kecil yang begitu mengidamkan sepeda untuk ke sekolah tapi bapaknya tidak mampu membelinya. Jokowi hanya memendam hasrat melihat anak orang berada naik sepeda, tanpa berniat manja meminta dan merepotkan bapaknya yang memang dalam kondisi tidak ada.

Dan ia berusaha memenuhi impian anak-anak yang sama dengan mimpinya.

Ikon sepeda Jokowi ini kemudian dikembangkan oleh tim kreatifnya di facebook page Presiden Joko Widodo dengan membuat pertanyaan yang berhadiah sepeda. Sampai sekarang, saya melihat postingan pertanyaan itu sudah mencapai 67 ribu like, 93 ribu komen dan 12 ribu share. Dahsyat memang.
Kuis Jokowi
Sepeda memang alat transportasi yang merakyat. Pada awal-awal kemerdekaan, sepedalah yang menjadi alat transportasi utama. Dan dengan ikon sepeda, Jokowi tanpa sadar juga sudah menunjukkan betapa ia adalah bagian dari rakyat. Insting dasar yang keluar dari kepribadian aslinya...

Ada seorang teman yang mengusulkan, "Seharusnya sepeda itu tidak hanya berbentuk sepeda saja, karena sepeda banyak. Tapi ada satu ciri yang menandakan bahwa sepeda itu dari Jokowi, mungkin berbentuk plat khusus yang dipatri di sepeda itu".

Usul yang sangat bagus, karena pemberian dari seorang Presiden pasti membanggakan penerimanya, apalagi Presiden itu pemimpin yang dia cintai. Dan itu kelak akan diceritakan ke anak-cucunya.

Dan sepeda dengan plat Presiden itu satu saat akan menjadi incaran kolektor dengan harga berlipat-lipat dari harga seharusnya.

Lepas dari itu, kita melihat satu usaha besar dari seorang Presiden untuk mendekatkan diri dengan rakyat yang dicintainya. Hal yang sudah sangat lama tidak kita lihat karena dulu kita dipaksa berpandangan bahwa jabatan Presiden itu sakral dan tidak tersentuh.

Semoga sepeda Jokowi itu bisa menjadi inspirasi bagi generasi mendatang yang bercita-cita untuk menjadi pemimpin, bahwa gelar dan jabatan sesungguhnya hanyalah kesepakatan manusia. Di mata Tuhan kita semua sama.

Kalau Jokowi itu sepeda, saya cukup secangkir kopi yang berusaha memadukan pahit dan manis dan berusaha mencapai titik keseimbangan maksimal sesuai kemampuan.

"Pakde, kapan saya bisa dapat sepeda?".


"Ya sudah, sana ambil sepedanya.. di toko sepeda."

MEME ATAU HOAX?

Hoax
Meme apa Hoax?
Dalam diskusi anti hoax kemaren, saya menyampaikan satu pesan kepada teman-teman. Pembuat Hoax itu sejatinya pintar.

Mereka mempunyai kesengajaan untuk menyampaikan suatu informasi dengan tujuan pengrusakan. Mereka tahu bahwa yang akan menangkap dan menyebarkan informasi mereka adalah orang-orang bodoh atau orang-orang yang memang punya kadar kebencian di dadanya dan hanya perlu sedikit bensin untuk membakar diri mereka.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan Hoax adalah membangkitkan kebencian. Beda dengan Meme.

Meme atau gambar lucu, biasanya ditujukan untuk meramaikan saja. Meme itu bisa bersifat sindiran langsung ataupun satir dan sarkas. Tujuannya untuk ledekan, guyonan tapi tidak berniat untuk menimbulkan kebencian ataupun merusak.

Nah untuk membedakan mana Hoax dan mana Meme kita harus cerdas. Disinilah dinilai keluasan wawasan seorang dan kadar humornya.

Salah satu cara teknis untuk membedakan mana Meme dan mana Hoax adalah lihat rekam jejak digitalnya. Kalau dia memang dari awal suka menyebar hoax, yang disebar biasanya hoax dan juga sebaliknya.

Dan juga harus bisa melihat keseluruhan pesan yang disampaikan, maksud dan tujuannya. Bukannya ambil sepotong terus langsung menilai bahwa ini hoax.

Jadi, bermedsos lah dengan pintar tapi juga tidak kehilangan rasa humor yang tinggi. Karena medsos selain berfungsi sebagai penyebar informasi juga unsur hiburannya sangat tinggi.

Jangan pertaruhkan kredibilitas sebagai pendekar anti hoax dengan ketidak-mampuan memilah satu masalah.

Salam secangkir kopi, Denny Siregar, FPI Garis Lembut

TEMANKU SEORANG PROFESOR

Ujub
Kucing dengan bayangan Singa
Aku punya teman masa kecil. Dia sejak dulu pintar. Lama sekali aku tidak bertemu dengannya dan aku baru tahu jika ia sekarang bergelar Profesor. Yang pasti aku menjadi bangga karena mengenalnya.
Hingga satu waktu.

Baru aku tahu bahwa pandangannya terhadap agama sangat dangkal. Ia rajin mencopas hadis dan ayat panjang di grup pertemanan. Dan tiba-tiba ia menjadi orang paling beriman. Karena ia Profesor, tentu banyak teman yang mengamininya. Dan mendadak ia menjadi rujukan. Semakin dipuji, copasannya semakin panjang.

Aku muak, kutinggalkan grup yang semakin lama semakin membosankan. 
Hingga aku bertemu seorang teman, yang ternyata ia adalah seorang psikolog. Ah, ada yang ingin kutanyakan kepadanya. Kuceritakan kasus temanku itu dan kututup dengan pertanyaan, "Kenapa ya, mereka yang seharusnya cerdas mendadak menjadi dangkal?". Temanku tertawa. Kami waktu itu sedang minum kopi bersama.

"Jangan salah.." Katanya. "Mungkin kamu menganggapnya pintar karena ketinggian gelarnya. Tapi bisa jadi di strata yang sama -sama-sama Profesornya- ia terbuang. Dianggap "kurang pintar" dan tersingkirkan. Karirnya mentok karena jaringannya kurang.

Pada level kepercayaan dirinya jatuh itu, ia mencari keseimbangan. Dan agama dijadikan sebagai pelampiasan. Sama seperti ketika orang sedang dalam masalah besar, baru mencari Tuhan".
Ia menyeruput kopinya dan aku mendengarkannya dengan wajah penasaran. Menarik sekali apa yang dia sampaikan.

"Pada saat pencarian itu, ia bertemu seseorang yang dianggapnya pintar pada level agama karena bacaan Alqurannya bagus dan aksesoris keagamaannya menawan.

Logika berfikirnya mendadak hilang dan ia menjadi orang yang lupa daratan. Ia memperkuat ritualnya untuk mencari keseimbangan. Ia ingin seperti orang -yang dia panggil ustad- yang dipujanya luar dalam. Ia bahkan tidak mampu menentang teori yang disampaikan gurunya seperti apa yang dilakukannya dalam bidang keilmuan. Bisa dibilang, ia sedang mencari pegangan".

Malam semakin larut dan keliatannya mendekati waktu pulang. Temanku melanjutkan. "Nah saat di grup pertemanan, dimana ia yang paling tinggi gelarnya, mencoba menyampaikan apa yang diketahuinya, ia mendapat pujian. Pujian itu sebenarnya juga datang dari beberapa teman yang punya masalah dalam kehidupan. Mereka terintimidasi oleh gelar Profesor yang dianggap pintar segalanya.

Karena mendapat pujian, temanmu si Profesor seperti mendapat penghargaan. Hal yang jarang dia temui di level pergaulannya yang seimbang. Dia langsung berada di zona nyaman.

Pada akhirnya ia akan sering bergaul dengan mereka yang secara keilmuan lebih rendah darinya. Disana ia mendapat pengakuan. Semakin sering dipuji, ia semakin nyaman. Situasi yang sulit untuk dia tinggalkan.

Begitulah, kunang-kunang".

Temanku mengakhiri pembicaraannya karena sudah semakin malam. Ia siap beranjak pulang meninggalkan aku yang sedang tepekur sendirian, menyerap kalimat demi kalimatnya.
Temanku membayar minuman yang kami pesan. Dan sambil beranjak pergi ia meninggalkan kalimat tambahan.

"Banyak orang kalah di level pergaulan sosialnya, yang mencari kenyamanan di sisi yang ia bisa. Karena itu, ketika ia berada dalam satu kelompok besar, ia seperti mendapat ruang pengakuan.

Orang kalah bergabung dengan kumpulan orang kalah, maka mereka seperti berbagi kekuatan. Beda dengan pemenang, mereka biasanya lebih merdeka dalam menyampaikan sesuatu karena tidak terikat gelar-gelar hasil kesepakatan.

Pemenang selalu berwawasan lebih luas dan lebih toleran karena ia merasa sebanyak apapun ilmu yang ia cari, tidak pernah cukup apa yang ia gali..

Dan itu bukan hanya terjadi pada temanmu yang Profesor saja, bahkan pada level ulama pun begitu. Ada ulama merdeka dan ada ulama yang terus menbutuhkan pengakuan dari mereka yang ilmu agamanya dibawah dia. Karena pada level ulama yang setara dengannya, ia tidak pernah mendapat tanggapan".

Aku tersenyum. Teringat seorang temanku dulu pernah berkata, "Orang yang jarang mendapat penghargaan dalam kehidupan sosial disekitarnya, selalu merasa menjadi yang terkuat ketika sedang berada dalam komunitas atau kumpulan massa yang besar. Mereka membutuhkan kemenangan dalam hidupnya dan itu tidak bisa didapatkannya ketika ia sendirian".

Kuseruput kopiku dan terasa ada rasa syukur yang mengalir dalam diriku. Beruntungnya menjadi orang yang merdeka yang tidak perlu mengukur dan tidak takut diukur oleh sesama manusia.


"Mereka yang akalnya melemah, kebanggaan dirinya menguat.." Imam Ali as.