Selasa, 24 Januari 2017

Tuhan & Goreng Pisang

Kehidupan
Kebahagiaan
"Tuhan, apakah doaku pasti Kau kabulkan?".

Pagi ini doaku meluncur spontan. Dihadapanku ada secangkir kopi dan sepiring goreng pisang. Siapa yang harus menjawab kali ini, kopinya atau pisangnya ?

"Karena Aku Maha Penyayang, pasti semua doa Kukabulkan.." Ah, ternyata goreng pisang yang menjawab. Baiklah, kuseruput kopiku dulu sebagai penghormatan.

"Hanya antara doa dan terkabulnya doa ada jarak menuju kesana. Karena itu, manusia harus berusaha dengan berjalan menuju tempat terkabulnya doanya.."

Ingin kumakan goreng pisang itu karena aku lapar. Tapi jawabannya masih belum selesai. "Jarak doa dan terkabulnya doa pasti sebanding dengan kadar seorang manusia. Kadar itu meliputi usahanya dan kemampuannya menghadapi terjalnya jalan menuju kesana.

Bisa saja dalam perjalanan, ia menemukan jalan baru yang lebih menarik dan kembali berdoa. Maka bergeserlah petanya dan ia kembali berjalan kesana.

Pada akhirnya -manusia yang menjadi bijaksana karena lamanya ia berjalan sehingga menemukan banyak pelajaran- akan memahami bahwa terkabulnya doa itu berwujud sempurna.

Ia tidak berbentuk sesuai keinginan berdasarkan nafsu awal, tetapi berubah menjadi sesuai kebutuhan, sesuai fungsi. Ia akan bahagia dengan kesempurnaan doanya yang terkabul, bukan bahagia semu yang malah merusak dirinya..."

Ah, menarik. Baru kupahami bahwa wujud doa di awal bisa berubah dalam perjalanan. Kita berdoa supaya dapat apel, tapi dalam perjalanan menuju kebun apel, kita bisa saja berfikir bahwa semangka lah yang tepat supaya kita tidak dahaga.

Oke goreng pisang sudah selesai tugasmu. Saatnya kumakan.. hap. Uenakss..
"Ohya, Tuhan.. Apakah doa buruk juga dikabulkan?"

Kali ini secangkir kopi yang menjawab. "Aku adalah sumber kebaikan, dan keburukan berarti ketiadaanKu.."
Seruput..
"Nilai seseorang adalah perbuatan baiknya.." Imam Ali as.

- untuk seorang teman -

Senin, 23 Januari 2017

Sudut Pandang Yang Berbeda

Perspektif
Sudut Pandang
"Taruhlah satu kotak di hadapanmu...
Pandanglah kotak itu dari sudutmu berdiri, pasti kamu akan melihat sisi yang berwarna hitam dari sana.

Kemudian, bergeraklah ke sudut yang berlawanan dari sudut pandangmu tadi, dan lihatlah kotak itu dari sisi sebaliknya. Maka kamu akan melihat bahwa ternyata kotak itu berwarna putih.
Apa poinnya?

Selama ini kita terbiasa memandang suatu peristiwa dari sudut pandang yang sama, sudut pandang dunia. Ketika kehilangan harta, kita merasa itu musibah. Ketika dikhianati pasangan, kita merasa hancur. Ketika diberi sakit, kita merasa mendapat ujian berat...

Tapi coba kita memandang dari sudut pandang sebaliknya, yang bukan dunia. Kita akan melihat hal yang sangat berbeda.

Ketika kehilangan harta, kita bersyukur karena harta itu yang selama ini membuat kita lupa. Ketika dikhianati pasangan, kita kembali bersyukur karena Tuhan menunjukkan aibnya. Ketika diberi sakit, kita tambah bersyukur, karena sakit adalah bagian dari pengikisan dosa di dunia..

Menarik, kan? Semua tergantung dari sudut mana kita memandang. Ketika kita paham bahwa Tuhan adalah sumber kebaikan, maka keburukan bukan datang dariNya. Ketika kita paham bahwa Tuhan adalah cahaya, maka kegelapan berarti ketiadaanNya...

Pahami ini, dan berlatihlah memandang segala sesuatu dari sudut yang berbeda, niscaya jiwamu akan stabil dan tenang.."

Temanku mengangkat cangkir kopinya dan menyeruputnya pelan. Ia menikmati semua proses dalam hidupnya..

"Lalu kenapa Tuhan juga menyampaikan tentang ujian, musibah dan kesabaran dalam menghadapinya?" Tanyaku ingin tahu.
Ia tersenyum lagi.

"Tingkat pemahaman manusia berbeda, dan Tuhan menyampaikan sesuatu berdasarkan tingkat pemahaman manusia yang terendah. Manusia harus mengerti dulu konsep sabar sebelum masuk ke wilayah syukur. Karena syukur itu nilai spiritualnya tinggi yang membuat manusia itu memahami bahwa semua kejadian itu selalu ada pelajarannya..

Karena itu jangan pernah bertanya lagi, dimana batas sabar? Karena batas sabar itu adalah ketika ia melebur menjadi rasa syukur yang tak terhingga dalam setiap peristiwa, karena semua peristiwa itu selalu mempunyai nilai baik bagi manusia.."

Waktu berlalu dan aku mulai memahami maksud temanku itu. Tidak mudah memang mencoba mengambil sudut pandang yang berbeda, tetapi ketika kita akhirnya berada disana, kita ternyata mampu melihat bahwa dunia ini begiu indah..


Entah dimana temanku sekarang berada. Tapi dimanapun ia, ingin kuangkat secangkir kopiku malam ini untuknya..

Giliran FPI di Preteli

Politik
FPI
Situasai saat demo 411 lalu memang situasi yang sangat berbahaya. Bukan jumlah massanya yang mengkhawatirkan, tetapi banyak elemen yang bermain memanfaatkan keadaan dan berkepentingan untuk membuat demo itu chaos. Dan kita bisa merasakan betapa tegangnya situasi pada waktu itu..

Alhamdulillah, kinerja aparat keamanan sangat teruji disini. Kita patut bangga sudah melewati situasi genting dengan selamat. Meski secara waktu, energi dan materi benar2 terkuras. Ratusan miliar rupiah terbuang sia-sia, baik dari sisi pendana demo maupun pemerintah yang ingin supaya situasi kembali aman.

Dan dari pidato Jokowi menanggapi demo 411, ia tampak sangat geram. Sesudah demo 411, aparat bergerak cepat. Gerakan pecah ombak dimulai. Satu persatu provokator dikandangkan dan shock therapy dengan tuduhan makar berjalan. Tuduhan itu bukan tanpa bukti. Aparat memegang banyak bukti rekaman dan aliran dana yang tidak bisa mereka bantah.

Sesudah satu barisan besar pecah, demo selanjutnya 212 meski masih berskala besar sudah mulai aman. Karena aman itulah, Presiden akhirnya masuk ke tengah demonstran dan berkomunikasi disana..

Sekarang tinggal kelompok kecil saja dari aksi massa besar. Dan serangan menuju FPI sebagai salah satu ormas yang paling aktif dalam demo-demo massa.

Bisa dibilang disinilah FPI dipreteli. Serangan dari segala penjuru menghantam Habib Rizieq yang terlihat sebagai panglima utama di lapangan. HR harus di desakralisasi, karena sudah berkembang pemahaman bahwa ia adalah orang suci. Dibangunlah konsep perlawanan rakyat kepada HR, dengan memanfaatkan kesalahan akibat kepongahannya sendiri..

FPI tentu tahu situasi ini. Mereka resah dan mulai panik. Melawan penggembosan ini mereka kemudian melakukan propaganda Revolusi. Sebuah teriakan sia-sia, menurut saya, karena momentumnya sudah lewat. Rakyat sudah kembali bekerja seperti biasa karena sidang Ahok -yang dijadikan pintu masuk bagi mereka- sudah terlaksana dengan informasi yang terbuka.

Kita bisa melihat inilah waktu dimana FPI menjadi kerdil. Tidak perlu memukul mereka, cukup dengan menaruh mereka pada sudut sempit, dan proses pembusukan akan berjalan sendiri...
Demo hari ini yang mengajak2 "umat Islam" untuk membebaskan HR, tidak mendapat sambutan berarti. Karena rakyat tahu bahwa ini hanya untuk kepentingan FPI sendiri, bukan agama. Lagian bukti video bahwa HR bersalah tersebar luas.

Sambil seruput kopi, boleh dong saya kasih analisa tambahan..

Dengan semakin mengecilnya gerakan massa dengan tema "Penista agama", maka proses hakim menyatakan Ahok tidak bersalah akan lebih mudah dan tidak terganggu demo besar seperti sebelumnya..

Untuk FPI boleh saya titip sedikit pesan ? Sini saya bisikkan.. "Pakde kok dilawan..."
Seruput dulu ah...

Jawa Barat, Provinsi Paling Berbahaya di Indonesia

Intoleran
Intoleran
Muak dengan berita intoleransi yang terus menerus, saya ingin mencari jejak daerah mana yang paling toleran di Indonesia.

Cari sana cari sini, akhirnya saya menemukan 10 kota paling toleran di Indonesia diantaranya adalah Salatiga, Manado, Ambon dan Sorong.

Ini menurut laporan Setara Institute tahun 2015. Disana kehidupan masyarakat beragamanya sangat rukun dan mereka bebas beribadah.

Tapi tetap saja, yang menarik adalah laporan dari Setara Institute juga tentang 10 daerah yang paling intoleran di Indonesia.

Dan anda pasti kaget, ketika menemukan bahwa 6 dari 10 daerah paling intoleran di Indonesia diborong JAWA BARAT.

Catat ya : Bogor, Depok, Sukabumi, Tasikmalaya, Bekasi ( ciee ), dan Bandung ( cie ciee ).
Gile, ini namanya juara umum di kategori intoleran...

Menarik sekali bagaimana Jawa Barat dengan masyarakat Sundanya yang dikenal sangat santun agamis dan ramah, ternyata sangat Intoleran. Kutukan apa ini ??

Padahal Gubernur dan Wagubnya dikenal sebagai hamba yang sangat ikhlas. Bahkan Gubernurnya selalu menyuruh warganya merenung ketika banjir luas melanda. Wagubnya selalu menangis ketika mendengar bahwa banyak daerah Jabar yang tidak punya MCK. Karena cintanya pada Tuhan, mereka sampai berniat ingin membangun rumah megah senilai 1 triliun rupiah untukNya supaya mau mampir disana.

Lalu kenapa malah masyarakatnya malah paling intoleran? Apa yang salah? Bahkan menurut The Islah Center di Oktober 2016, beberapa LSM melakukan riset dan menemukan bahwa paling banyak kasus intoleransi itu terjadi di Jawa barat. Dan ini diamini juga oleh Wahid Institute.

Wat de pak?? Bagaimana riset itu bisa bertentangan dengan kultur sosial masyarakat Sunda yang terkenal sangat toleran??

"Itu Pitnah !!" Kata temanku yang orang Sunda yang tidak bisa ngomong F.
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung sepanjang 2005 - 2011 ada lebih dari 350 peristiwa tindak kekerasan kebebasan beragama di sana.

Duh, lalu pada dimana ulama yang suka naik kuda dan si serak basah berada ? Apakah mereka gagal dalam membina ahlak umatnya ? Padahal dengar2 mereka bisa mengirim jutaan orang shalat Jumat di Monas..

Apa mungkin ini salah satu sebabnya ??
Laporan BPS yang dirilis Januari 2016 menunjukkan bahwa Jabar meraih piala sebagai provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia. Jumlahnya 2,7 juta orang.
Bahkan beda dengan Jatim yang menduduki peringkat kedua saja sebanyak 1 juta orang..

Awwww.. pantas banyak orang lapar sehingga mereka jadi beringas. Dan miskin biasanya temannya kebodohan. Bungkus dengan agama, suruh taat pada ulama dan janjikan surga.. kelar sudah tetangganya..

Apakah Jawa barat akan terus memegang piala intoleransi, yang diberi nama "The Bumi Datar's Award" ini ?

Coba kita tanyakan pada secangkir kopi..

Antara Aku, Secangkir Kopi & Tuhanku yang Telah Lama Mati

Gersang
Gersang
Sudah lama kumatikan Tuhanku
Tetapi selalu tumbuh Tuhan-Tuhan baru..
Kuseruput secangkir kopi sebagai penenang

Dan Ia selalu muncul sebagai pemenang
Akhirnya aku lelah dan mengalah

MenghindariNya bukanlah cara yang indah
Lebih baik kucari Ia dan kutantang
Ingin kutahu sampai dimana Ia menyerang

Lucunya semakin kucari, Ia semakin jauh
Konsepnya malah membingungkanku

Aku galau dan mulai merenung
"Tuhan, apakah sebenarnya Kamu ?"
Lama tidak terdengar jawaban

Dan entah sudah berapa masa telah hilang..
Akhirnya aku mulai mengerti

Tuhanku telah lama mati
Dan kuseruput secangkir kopi lagi..
Tuhanku yang baru lahir kembali..


Minggu, 22 Januari 2017

Ketika Islam Menjadi Tertawaan

Islam
Gus Mus
Sungguh menyedihkan Islam di negeriku..
Petunjukku, jalanku, keselamatanku
Penuntunku, pencerahku, penutup lukaku
Diarak kemana-kemana oleh para pengaku..

Ada para pencuri yang tertangkap dan berlindung dibalik jubahnya
Ada yang menipu harta umat mengatasnamakan kebenarannya
Ada yang membesarkan ajarannya dengan kebohongan..
Ada yang menekan umat lain atas nama firman..
Ada yang menyampaikannya dengan jumawa dan menyakitkan
Ada pula yang meneriakkannya dengan salah atas nama kebenaran
Ada yang berargumen memakainya dengan ketololan
Ada pula yang memaknai surga yang tertera dengan kerendahan
Ada yang berteriak, "semoga kalian mendapat hidayah !"
Tetapi perilakunya membuat banyak orang resah

Ada yang sombong mengatakan bahwa ini agama toleran
Tapi ia terus memukul atas nama Tuhan
Ada yang menganggap bahwa dirinya adalah orang yang paling paham
Disisi lain ucapannya membuatnya banyak ditertawakan..
Ada yang mengaku bahwa ia keturunan pembawanya
Tapi sedikitpun ahlaknya tidak tampak padanya..
Ada yang..

Ah, tidak perlu kuteruskan karena sungguh memalukan..
Islam dinegeriku menjadi bahan tertawaan
Ternista dengan sendirinya oleh para pembelanya
Ajaran cinta yang malah menjadi pedang
Lalu bagaimana mereka bisa bilang bahwa ini agama yang paling benar?

Nabiku menangis dengan perih
Karena apa yang ia katakan menjadi kenyataan
Umatku banyak di akhir zaman
Tapi mereka seperti buih di lautan
Dan aku harus mengakui dengan getir
Mereka saudara seimanku meski mereka kenthir

Dibalik tertawaku melihat banyaknya kebodohan
Setiap tulisanku adalah airmata yang mengalir..
Hanya secangkir kopi yang bisa kupegang
Mencoba waras ditengah semua kegilaan

Ternyata bagi mereka adalah kekafiran..

Kuis Untuk Penghuni Bumi Datar

Politik
Jokowi dan Sylviana
Untuk kasus dana Pramuka yang melibatkan bu Sylvi dan menyeret Jokowi, penjelasan sederhananya begini..

Si bapak dapet gajian. Gajian kemudian dibagi-bagi sekian untuk belanja, sekian untuk bayar listrik, sekian bayar sekolah dan lain-lain.

Uang belanja kemudian dikasih ke emak sesuai jatah yang ditetapkan..

Ternyata sebagian uang belanja dipake emak untuk beli celana dalam berenda karena teman arisannya jualan, sehingga uang belanja akhirnya kurang.

Apakah..
A. Si bapak yang salah karena ngasih uang belanja?
B. Si emak yang salah karena ternyata tidak semua dipake belanja?
C. Jonru salah karena jualan celana dalam..
Atau D. Jonru salah karena gak pakai celana dalam?

Kamis, 19 Januari 2017

Bendera Putih Habib Rizieq

FPI
Habib Rizieq
Ketika banyak teman2 yang menyerang Habib Rizieq, entah kenapa saya sekarang menjadi kasihan padanya..

Ia menciptakan terlalu banyak musuh yang menyerangnya pada satu titik bersamaan. Ia pasti lelah, karena siapa yang sanggup memenuhi panggilan polisi terus menerus dalam kasus yang berbeda ?

Karena itulah ia mengibarkan bendera putih dengan kata "mediasi secara kekeluargaan". Tapi terlambat sudah, musuhnya hanya ingin ia hancur karena ia sudah menyakiti hati banyak orang.

Memang terjadi desakralisasi masif terhadap HR sekarang. Pamornya yang sempat membesar sesudah aksi 411 dan 212 membuat ia banyak dipuja oleh kaum bumi datar. Dan pujaan ini membuat ia lupa diri..

Ia seperti cerita katak ingin jadi lembu, berusaha besar tanpa memikirkan kapasitas dirinya. Akhirnya "meledak".

Karena terus menerus di puja bahwa sudah saatnya ia memimpin negara ini, pongahlah ia. Bahkan ia mengangkat dirinya sebagai Imam besar. Konsep yang aneh di tengah mayoritas muslim bermazhab sunni, karena setahu saya Imam besar itu konsep syiah.

Karena pongah, maka ia menyerang siapapun yang berbeda pendapat dengannya. Ia lupa bahwa ia tidak sedang ceramah di Petamburan, dimana jamaahnya cuman mantuk2 saja. Ia memukul siapa saja didepannya, termasuk polisi dan negara. Jelas mereka melawan..

Energi HR akan habis dalam melayani serangan2 sehingga tidak sempat lagi menggalang kekuatan untuk membuat demo besar kembali. Apalagi partnernya Bachtiar Nasir juga kelihatannya tiarap sesudah terbuka informasi bahwa bantuan yang selama ini ia salurkan ke Suriah, ternyata untuk pemberontak.

Inilah permainan pecah ombak yang dimainkan. Masing2 otak dibalik demo besar disibukkan dengan kasus mereka. Ada yang tertuduh makar, ada yang kasus pendanaan dan lain2, sehingga sulit untuk fokus untuk mengadakan demo yang lebih besar lagi...

Dengan pecahnya lapisan2 pion di sekitar raja, maka kuda bisa lebih leluasa mengambil posisi untuk memaksa raja melangkah ke pojokan. Ga usah di skak, di biarin aja biar ga bisa melangkah. Habisi dulu mentri2nya..

Habib Riziq harusnya banyakin belajar catur biar bisa paham kemana langkah lawan. Sibuk teriak, lupa berfikir jadinya..

Kapan2 main catur, yuk bib sambil minum gahwa. Tapi ana jangan ditanya, "Denny, ente lahir siapa bidannya ?"

Sumpe bib, ana dah lufaaa..

Rabu, 18 Januari 2017

Surga Versi Jonru

Jonru
Cuitan Jonru
Baca konsep surga versi Jonru yang dibagikan sobat saya Ni Luh jelantik, jadi pengen ketawa pagi-pagi.

Saya meyakini surga itu ada, sebagai reward dari Tuhan kepada hamba yang taat padaNya. Karena ketika kita taat, maka perjalanan di dunia pasti selamat. Inilah konsep keadilan yang sesungguhnya. Karena tidak mungkin yang jahat dan yang baik bercampur dalam satu tempat.

Tapi apakah surga itu adalah tempat kawin seenaknya?
Kalau melihat konteks -bukan teks- diturunkannya kitab suci, kita pasti mengerti bahwa itu turunnya kitab suci berada pada masa jahiliyah, masa ketika kebodohan berada pada puncak tertingginya.

Kitab suci selalu memakai bahasa sederhana sebagai perumpamaan. Ia mengambil contoh materi di sekitar, yang dikenal manusia. Seperti penggambaran surga harus ada sungai, pohon dan sebagainya untuk menggambarkan sebuah kenikmatan.

Tetapi sebenarnya yang disebut kenikmatan dalam surga pasti lebih tinggi dari itu dan lebih nikmat dari materi yang ada.
Seperti kata Imam Ali as, "kenapa dunia dinamakan dunia (adna)? Karena ia lebih rendah dari segala sesuatu". Jadi sebagus apapun materi di dunia, ia lebih rendah dari segala yang bersifat non materi. Dan surga adalah non materi. Sampe sini, Jonru garuk-garuk janggutnya.

Nah, kepada masyarakat Arab Jahiliyah yang kerjaannya tukang kawin, yang gendiknya bisa ratusan, maka cara mengajarkan kenikmatan surga tentu harus sesuai dengan kapasitas pemikiran mereka pada masa itu. Tidak mungkin kan surga dikabarkan ada liftnya, ada PS4, jadi bisa main game sepuasnya, karena pasti gak nyangkut di pikiran mereka.

Yang dikabarkan kenikmatan kepada mereka dalam bentuk yang mereka ketahui. Kenikmatana versi mereka adalah wanita, maka gambarkan wanita. Hanya di surga tidak bisa disebut wanita karena kurang menjual, maka disebutlah bidadari.

Cara menggambarkan bidadari harus sesuai dengan gambaran wanita yang tercantik di kepala arab jahiliyah pada masa itu. Padahal tidak ada yang tahu bagaimana bentuk bidadari, sebagaimana orang tidak tahu bagaimana rupa malaikat sesungguhnya. Begitulah adanya.

Jadi, terimalah konsep surga sebagai bagian dari keadilan Tuhan. Tidak perlu mewujudkannya dalam bentuk material. Anda kan manusia sekarang, bukan manusia pra sejarah yang harus diletakkan batu di depannya, trus di ejakan, "be aba, te utu.. batu".

Cuman memang sekarang ini semua serba terbalik. Zamannya maju, cara berfikir manusianya yang mundur. Jadi niat masuk surga hanya karena ngaceng olala, bukan karena akal menerimanya.

Saya saja bingung menggambarkan secara sederhana bagaimana nikmatnya kopi pagi ini.

Masak harus begini, "Hmm.. senikmat men-download Mia Khalifa.." biar sesuai ma zamannya.

Selasa, 17 Januari 2017

Menaklukkan Beruang Freeport

Jokowi
Freeport
Tambang Freeport adalah negara di dalam negara. Selama 50 tahun -sejak perjanjian dengan pemerintah Indonesia thn 1967- Freeport menguasai areal tambang dimana pemerintah pun sulit menyentuhnya. Karena itu perjanjian mereka disebut Kontrak Karya.

Menjadikan mereka sebagai perusahaan tambang biasa yang tunduk pada hukum di Indonesia, sulitnya minta ampun. Apalagi banyak "tangan2 tidak kelihatan" yang melindungi Freeport, dan itu bukan tangan biasa.

Ketika Presiden SBY mau lengser, entah kenapa mereka malah buru2 menanda-tangani perpanjangan Kontrak Karya Freeport sampai 2041. Padahal sesuai perjanjian dengan pemerintahan orde baru, Kontrak Karya Freeport akan berakhir di tahun 2021.
Disinilah biang keributan pada waktu itu...

Pemerintahan Jokowi jelas punya kebijakan sendiri. Ia ingin Freeport kembali ke bumi pertiwi. Dan supaya pengambil-alihannya bisa sesuai konstitusi, maka Freeport harus menjadi usaha tambang biasa supaya bisa tunduk pada hukum RI.

Tarik menarik terjadi. Dan kita sudah menyaksikan drama menarik dengan korban Setya Novanto yang jatuh dari kursi Ketua DPR RI..

Kegaduhan waktu itu, membuat kesal Jokowi. Seperti kita tahu, ia tidak suka dengan ribut2 yang menyita energi. Maka, Sudirman Said pun diganti..

Akhirnya sesudah keributan mereda, Jokowi pun memasang duet Ignasius Jonan dan Arcandra Tahar. Jonan tukang gebrak, Archandra sebagai pengumpan. Mereka itu seperti duet klasik Christiano Ronaldo dan Mesut Ozil di Real Madrid..

Freeport digiring supaya menyerah. Peluang goal ada pada masa perpanjangan ijin ekspor mineral olahan atau yang disebut konsentrat yang berakhir 11 Januari lalu.

Freeport diancam, kalau tidak mau merubah Kontrak Karya menjadi ijin usaha pertambangan biasa, maka Freeport dilarang ekspor konsentrat. Ini bencana buat Freeport karena disitulah sumber makan mereka..

Akhirnya Freeport pun menyerah. Mereka sudah terlalu lelah dengan semua perkelahian ini. Pemerintahan Jokowi ini beda. Pertarung2nya bukan kelas bayaran - maksudnya, dibayar selesai perkara, tetapi benar2 para pejuang yang membawa nama bangsa.

Freeport mengumumkan bahwa mereka akan mengikuti permainan pemerintah, yaitu mengubah Kontrak Karya menjadi ijin pertambangan biasa. Kalau gak gitu, mereka gak boleh ekspor konsetrat. Mau makan apa ?

Kenapa kemarin2 Freeport tidak mau menjadi ijin usaha pertambangan biasa?. Karena ketika Freeport masuk ke wilayah itu, pemerintah berhak menguasai sampai 51 persen saham mereka.
Dan itu berarti Freeport akan menjadi milik kita, saudara-saudara... MILIK KITA.

Info ini penting buat mahasiswa cabe2an yang kemaren demo karena cabe naik musiman. Sini dek, minum kopi biar kujelasin. Mahasiswa yang cantik aja, yang bau ketek tolong pinggirin..

Serupuzzzzz...

Senin, 16 Januari 2017

Banjir yang Se Dada

Jakarta
Info Banjir
Jakarta pada musim hujan begini, ada yang saya rindukan..
Biasanya hari-hari ini tv saya penuh dengan laporan reporter bahwa Jakarta sedang banjir besar. Perahu2 karet bertebaran sedang mengangkut pengungsi dan rumah2 tenggelam tinggal atapnya saja.

Ditambah laporan reporter tv yang membuat ukuran banjir sendiri dengan kata "sepaha" dan "sedada". Ada rasa miris, kasihan dibumbui kelucuan ketika melihat berita Jakarta banjir waktu itu.
Tapi itu Jakarta sebelum 2014...

Jakarta sekarang sudah bisa dibilang bebas banjir. Kata plt Gubernur Sumarsono, "Banjir di Jakarta sudah berkurang lebih dari 80 persen. Kalaupun masih ada 80 titik yang belum bebas banjir, disana hanya ada genangan air yang cepat surut kalau hujan besar.."
Kenapa bisa begitu ?

Karena memang Jokowi dan Ahok bersungguh2 mengatasi masalah Jakarta yang sudah bertahun2 di pelihara. Apalagi ketika Jokowi menjadi Presiden, koordinasi Ahok dengan pusat menjadi lebih mudah.

Teringat janji Jokowi dulu. "Kalau saya jadi Presiden, saya lebih mudah mengatasi banjir Jakarta.." Dan terbukti sudah..

Cara efektif yang tidak pernah dilakukan oleh Gubernur2 Jakarta sebelumnya uang lebih suka memelihara suara daripada mengatasi masalah Jakarta, adalah membebaskan sungai2 dari pemukiman liar yang membuat aliran sungai menyempit.

13 sungai yang mengaliri Jakarta diperlebar dengan cara merelokasi penghuni liar. Yang dulunya lebarnya hanya 5 meter, dikembalikan menjadi 30 meter. Jadi terbukti memang itu cara terbaik, bukan malah mengada2 dengan membuat "pemukiman apung" atau hanya mengecat warna warni supaya pemukiman tidak terlihat kumuh.

Jokowi dan Ahok mampu melihat akar masalah sebenarnya dan memperbaikinya. Mereka bisa saja seperti Gubernur2 sebelumnya yang main aman dan lebih suka bergincu tebal yang penting tetap di jabatan. Tapi apa yang mereka lakukan, terbukti menyelamatkan situasi Jakarta sekarang ini - terutama pada musim hujan lebat saat ini.

Kerja keras mereka -meski banyak ditentang karena dituding tidak berpihak kepada masyarakat kecil- terbukti menyelamatkan Jakarta. Lahan2 di samping sungai dikembalikan fungsinya sebagai lahan hijau dan diperindah dengan menjadikannya taman2 kota.

Kalau anda mau sedikit jujur pada diri sendiri saja - anda akan memberikan secangkir kopi pada mereka berdua. Kalau mau jujur loh.

Dan yang paling bahagia pasti reporter2 media, karena mereka sekarang sudah tidak lagi dipaksa melaporkan situasi banjir yang sepaha dan sedada itu. Mungkin kalau pun mereka mau melaporkan, bahasanya dah beda.. "Banjir tinggal sejempol kaki si udin saja.." Jempol si udin memang sebesar pisang raja..


Seharusnya disaat hujan besar seperti ini, kita tidak lupa dengan kata yang sangat fenomenal, "Nikmat mana yang kamu dustakan?". Seruput, teman?

FPI dan Permainan Catur Jokowi

FPI
Permainan Catur
Karena suami mba Anissa Pohan sudah bermarga Siregar - pasti sudah gak marah-marah lagi, karena marga Siregar dikenal ramah, santun dan tidak sombong. (yihaaaa!)

Jadi, mari kita lanjutkan analisa tentang cara membubarkan FPI. Sebenarnya kata membubarkan tidaklah tepat. Seperti media abal-abal ketika mereka di blocked, mereka cukup mengganti alamat dan terus bergerak..

Jalan yang terbaik adalah menggunakan kostitusi sebagai alatnya..
Jalur konstitusi ini dibagi dua, sebagai alat untuk menekan dan sebagai alat untuk melegalkan. Dalam kasus FPI, negara bisa membuat sebuah peraturan bahwa sebuah ormas yang tidak berdasarkan Pancasila akan dibekukan. Ini yang sedang digodok oleh Menkopolhukam.

Masalahnya, itu bisa dilakukan jika itu ormas baru atau ormas kecil. Bagaimana dengan ormas radikal yang sudah terlanjur besar?

Disinilah dibutuhkan konstitusi sebagai alat juga. Legalkan saja ormas itu - misalnya menjadi partai. Dengan begitu mereka akan tunduk pada UU yang berlaku baik struktur maupun syaratnya. Dan FPI sudah cukup memenuhi syarat ini.

Dengan menjadi partai, maka akan lebih mudah menjinakkannya. Rakyat yang akan memberikan sanksi sosial dan keributan yang terus terjadi seperti sekarang ini akan bisa diredam.
"Ah, kejauhan bang kalau FPI menjadi partai.. "

Memang. Itu hanya sebagai opsi saja. Tapi ada cara yang -bisa dibilang- sedang dikerjakan oleh aparat sekarang.

FPI ini sudah terlanjur besar. Seperti balon gas, meledakkannya sekarang tentu dampaknya akan merugikan. Jalan yang terbaik adalah menggelembungkannya sekalian...

Maka dibukalah jalan selebar-lebarnya supaya FPI semakin besar. Dengan semakin besar melebihi kapasitasnya, maka akan muncul kerusakan dalam FPI sendiri. Mereka akan menjadi pongah dan arogan.. Ini sifat dasar manusia, yang sulit sekali dikendalikan.

Ketika FPI menjadi besar dan arogan, maka akan terjadi penolakan dimana-mana. Masyarakat menerapkan sanksi sosial dengan menolaknya. Dan itu sudah terjadi sekarang di Bali, di Kalimantan, di NTT dan banyak daerah lain. Dengan penolakan di daerah-daerah, maka FPI hanya akan bisa beraksi di kota besar di Jawa saja.

Istilah kasarnya, dikandangkan..
Meski begitu, saya tidak setuju dengan cara Kapolda Jabar yang malah memanfaatkan ormas preman untuk berbenturan langsung dengan FPI. Ini cara yang tidak elegan dan akan memunculkan dampak negatif lain, yaitu ormas preman itu besar kepala dan akan menjadi FPI dalam model yang berbeda.

Yang perlu dilakukan aparat adalah membiarkan alam bekerja dan terus menjaga keseimbangan, jangan sampai terjadi bentrokan. Kalau FPI gak perlu dikontrol, cukup masyarakat yang menolaknya aja yang dijaga supaya jangan sampai terpancing adu fisik.

Dengan semakin arogannya FPI, jistru itu akan melemahkannya sendiri. Aparat -yang pasti punya mata-mata di dalam tubuh FPI sendiri- perlahan-lahan akan mengambil alih pucuk-pucuk pimpinan di dalam ormas itu sendiri.

Ketika mereka sudah menguasai FPI dari dalam, maka akan lebih mudah mengarahkannya ke hal yang lebih bermanfaat, seperti menjadi organisasi yang tanggap akan bencana alam.

Konsep "pelemahan" ini sudah terbukti dengan jinaknya PKS dan Golkar yang dulu menjadi rival berat pemerintah. Bahkan Golkar sekarang menjadi bagian dari koalisi pemerintah..

Jadi FPI tidak perlu dibubarkan, hanya konsep radikal mereka yang pelan-pelan dikempeskan. Karena ketika jadi balon kempes, mereka bisa berguna juga. Semisal menjadi tambalan ban..

Beginilah sebenarnya permainan catur itu. Harus ekstra sabar dalam melihat langkah-langkah yang dibuat.

Tidak harus selalu memakan bidak, karena bisa jadi itu hanya umpan. Tapi mengatur posisi strategis sehingga lawan sulit bergerak. Sediakan umpan-umpan supaya bisa mereka makan.

Ini sebagai catatan untuk FPI -jika mereka membaca status ini-. Jokowi semakin dipandang rendah, ia malah semakin berbahaya. Lebih baik bergabung dengannya daripada dimakannya.


Seruput dulu ah.. Kopi pagi memang nikmat sekali..

Susahnya Membubarkan FPI

Front Pembela Islam
FPI
"Bang, seberapa susah sih membubarkan FPI?". Tanya seorang teman mewakili banyak pertanyaan lainnya. Dan pasti yang nanya nadanya gemas dan geram, kok bisa negara kalah sama ormas?. "Susah banget.." Kata saya.

FPI dalam sejarahnya dibentuk tahun 1998, 4 bulan setelah Soeharto lengser. Banyak kabar yang mengatakan bahwa FPI dibentuk dan dipelihara oleh TNI dan Polri. Salah satu bocoran beritanya dari Wikileaks.

Wikileaks mengatakan bahwa FPI dulu didanai mantan Kapolri Jenderal (Pur) Sutanto. Fungsi FPI adalah sebagai "attack dog" atau bumper ketika menghadapi gejolak yang mengancam pemerintahan.
Apa yang dilakukan Sutanto ini bisa diterima akal, karena pada masa itu segala aksi TNI dan Polri dipantau ketat oleh lembaga HAM luar. Daripada selalu jadi sasaran pelintiran HAM, mending biar FPI aja yang kerja. Begitu kira-kira pemikiran para petinggi pada waktu itu.

Tapi -menurut Wikileaks lagi- Sutanto menstop aliran dana untuk FPI sesudah mereka menyerang Kedubes AS tahun 2006. Dengan stopnya dana dan dibuangnya FPI dari kalangan militer, maka FPI menjadi Ronin- istilah ninja yang tak bertuan.

Puncaknya adalah saat Jokowi menjadi Presiden dan menghapus dana bantuan sosial atau bansos kepada ormas-ormas. Makin kelaparan-lah mereka. FPI pun bergerak mencari pendanaan dari mana saja untuk membiayai organisasinya. Dari uang sumbangan sukarela, mana cukup.

Ternyata situasi FPI yang menjadi Ronin ini dimanfaatkan banyak pihak yang membutuhkan massa. Mulai dari dukungan politik sampai pengerahan aksi massa. Maka tumbuh besarlah FPI karena aksi promo-nya yang memanfaatkan nama agama.

Situasi ini terbangun belasan tahun lamanya. Ibarat kanker, mereka sudah berakar sangat kuat, apalagi banyak pihak yang membutuhkannya. FPI masalahnya bukan musuh dari luar, tetapi mereka juga rakyat Indonesia, sehingga cara penanganannya harus berbeda.

Mencabutnya dengan begitu saja, bukan membuat tubuh menjadi sehat tetapi malah menjadi sakit karena mereka dengan mudah berpindah dan mendapat dukungan banyak pihak, terutama lawan politik Jokowi.

Itulah mungkin salah satu alasan yang mendasari Jokowi mengangkat Jenderal Tito Karnavian sebagai Kapolri. Sebagai seorang pakar di bidang radikalisme dan terorisme pak Tito pasti punya resep ampuh untuk menyembuhkan negara.

FPI sekarang berada pada situasi puncak akibat berhasil menggalang massa pada aksi-aksi besar di 411 dan 212. Kalau "memukulnya" sekarang jelas salah, karena mereka akan menerapkan strategi "playing victim", strategi yang sangat mereka sukai dalam menghadapi tekanan.

Ibaratnya. FPI itu pengendara motor. Meski mereka yang salah, kalau ketabrak mobil, mereka yang ngotot minta ganti rugi. Karena dalam hukum di jalan raya, pengendara motor - jika melawan mobil - hukumnya tidak pernah salah. "Motor kan posisinya lemah, " begitu kira-kira pikiran mereka.

Dan -saya suka- dengan strategi pak Tito dalam menghadapi FPI ini. Tapi kalau saya jelaskan sekarang, ntar statusnya kepanjangan. Pasti bosen bacanya.

Jadi, mendingan sruput kopi dulu aja.. Kapan-kapan saya ceritakan ya..
"Kapan, bang?".

"Ntar kalau mba Anissa Pohan yang cantik udah ngga marah-marah".