Jumat, 21 Juli 2017

BELAJAR DARI CHINA

China
China Blokir WhatsApp
Tidak banyak negara yang betul-betul berdaulat seperti China ini.

Mereka sadar, banyak negara yang ingin memanfaatkan jumlah penduduk mereka sebagai pasar yang mencapai lebih dari 1 miliar itu.

Tetapi mereka tidak ingin diperbudak menjadi negara konsumen. Mereka memanfaatkan potensi besarnya jumlah penduduk mereka sebagai "posisi tawar" yang bagus. Dan dalam posisi tawar itu, mereka selalu berada di atas atau menjadi pengambil keputusan.

Mereka memblokir Facebook, Twitter, Instagram dan banyak aplikasi populer lainnya. Supaya apa ? Untuk melindungi aplikasi produk dalam negerinya.

Seperti contoh, sejak lama China memblokir Google. Hal itu mereka lakukan karena melindungi aplikasi yang sejenis produksi mereka sendiri seperti Baidu.

Nilai kapitalisasi Baidu sendiri tahun 2014 mencapai 500 miliar dollar. Hampir sama dengan nilai Google. Ini menunjukkan bahwa China berhasil memasarkan produknya ke pasar internasional.
Nah, kenapa Whatsapp diblokir? Ini ada hubungannya dengan melindungi aplikasi karya anak negeri mereka seperti WeChat.
Mengagumkan..

Bagaimana dengan Indonesia? Jauhhhh banget. Kita baru memblokir aplikasi Telegram karena terindikasi digunakan terorisme saja, sudah ribut ampe ke surga.

Malah ada yang merasa tidak bisa hidup tanpa Facebook, Twitter dan aplikasi dimana kita bergantung pada mereka tanpa pernah berfikir bahwa kita mampu membuat media sosial dengan model yang sama..

Ternyata mental kita masih terjajah dan masih senang dijajah. Yah, mau apalagi ? Terima saja kekurangan kita sekarang ini. Mungkin nanti saat Mukidi jadi Presiden, masyarakat kita baru berani..

Seruput.

Kamis, 20 Juli 2017

KETIKA KEBANGGAAN KITA TERSENTIL

Ujub
Bangga Diri
Jadi memang, lebih mudah mentertawakan orang lain daripada diri sendiri.

Sibuk mentertawakan orang lain, kita lupa aib kita sendiri. Karena banyak dari kita masih terikat kebanggaan terhadap komunitas, golongan dan keyakinan.

Dan ketika kebanggaan itu disentil sedikit saja, kita merasa sakit dan marah. Padahal sebelumnya kita suka sekali menyentil kebanggaan orang lain.

Saya sudah lama meninggalkan kebanggaan-kebanggaan semu itu. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia, meskipun mereka itu bergelar pemuka agama.

Karena sesungguhnya manusia itu diciptakan tidak sempurna supaya bisa melengkapi ketidak-sempurnaan orang lain..

Saya hanya mengambil yang baik dari seseorang yang jelek dan membuang yang jelek dari seseorang yang baik..

Seperti secangkir kopi. Ia tidak sempurna tetapi ia selalu dicari. Seruput.

KETIKA TSAMARA MENELANJANGI MARGARITO..

Margarito
Tsamara
Lagi iseng2 baca2 berita di Beranda, saya tertarik melihat sebuah video. Ketertarikan saya awalnya ketika melihat Margarito Kamis. Saya ngefans dengan beliau, karena merasa lucu ketika melihat pengamat "palugada" ini yang selalu muncul dalam setiap masalah.
Istilahnya, lu punya masalah apa aja, gua ada. 

Mau masalah ekonomi, masalah hukum sampe masalah politik dia bisa. Yang penting, tampil di tipi. Dan tidak perlu tampil hari Kamis.. Mau Jumat, Sabtu atau Minggu Pon juga bisa.
Tapi perhatian saya berbelok ketika melihat seseorang di sampingnya, lawan debatnya..

Wanita muda, cantik -dan yang pasti- cerdas. Namanya Tsamara Amani. Dia mahasiswi, usia 20 tahunan.

Tsamara adalah politikus "sangat" muda. Dia bergabung di Partai Solidaritas Indonesia, partai baru yang berisi orang2 muda. Menariknya, Tsamara ini sudah menjadi Ketua DPP PSI dalam usia semuda itu.

Tsamara menjadi trending ketika ia "hampir saja" debat dengan Fahri Hamzah. Sayangnya, Fahri ngabur dengan terengah-engah ketika sudah saatnya debat. Mungkin dia gak tahan harus debat dengan wanita cantik dan muda, karena imron sulit dikontrol meski iman sudah menguat.

Nah, Margarito Kamis ini termasuk berani melawan kenyataan. Dia berani debat terbuka dengan Tsamara di Kompas tipi.
Seorang Profesor melawan mahasiswi.

Dan dari video itu, saya ngakak melihat perilaku Margarito ini. Dia benar-benar "ampun" dengan Tsamara. Pembawaan Tsamara yg tenang membuatnya belingsatan.

Dan - khas orang yang terpojok - jalan yang paling smart buat dirinya adalah melecehkan lawan. Dia mengandalkan gelar Profesornya yang tidak layak untuk berdebat dengan seorang mahasiswi.
Kalau dari awal merasa tidak layak, lalu kenapa mau meladeni anak kecil ? Ya, karena tampil di tipi selalu ada amplopnya. Sayang dong...

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa emosional seseorang tidak mempengaruhi intelektual seseorang. Mau bergelar Profesor sekalipun, kalau tidak mampu menjaga emosi dalam diskusi, pasti akan turun kadar intelektualnya..

Tsamara Amani adalah bintang bersinar, Margarito Kamis adalah produk masa lalu. Tsamara membawa ideologinya, Margarito membawa dompetnya..

Memang dunia ini bergerak maju. Margarito jika tidak mampu merubah pandangan dan sikapnya sesuai zaman, dia akan cepat hilang seperti buih di lautan.


Seharusnya jadilah seperti secangkir kopi. Ia diam dan tenang tetapi nikmatnya abadi dan menghanyutkan.. Seruput dulu ah..

Rabu, 19 Juli 2017

MARI GUS, REBUT KEMBALI

Gus Yaqut
Ansor
"Bapak mau ketemu..". Pesan itu datang. Oke, siap-siap. Aku pun meluncur ke jalan Medan Merdeka. Sampai disana waktu masih ada setengah jam, sampai pula Ketum GP Ansor Gus Yaqut bersama Kepala Banser Alfa Isnaeni.

Hari ini kami akan menemui Menkopolhukam, Wiranto.

Entah kenapa aku merasa senang tadi itu. Kepingan-kepingan puzzle mulai bertemu dan tersusun. Mulailah tampak bayangan jelas bagaimana bentuk gambar negara ini nanti.

Ansor memang sedang naik daun dibawah kepemimpinan Gus Yaqut, keponakan Gus Mus ini. Lelaki besar yang sejak dulu tukang berantem ini, tidak seseram gambarnya dimana2. Ia sangat ramah, humoris dan terbuka. Pribadi yang menyenangkan mengingat ia memimpin sekitar lebih dari 1,5 juta anak muda yang siap menerima komandonya.

Dan tulisanku tentangnya dan organisasi besarnya-pun menembus ruang2 gelap yang selama ini tertutup rapat. Sampailah ke meja mantan Panglima TNI, bapak Wiranto, yang baru saja menghebohkan karena mengumumkan terbitnya Perppu untuk membubarkan HTI.

Dalam obrolan tadi, Ansor menyatakan sikap tegas mendukung pemerintah jika pemerintah-pun tegas, karena tugas Ansor dan Banser adalah menjaga NKRI jangan sampai lepas karena perilaku ormas radikal.

Memang negeri ini sekarang butuh anak-anak muda yang tergabung dalam ormas Ansor dan Banser ini. Merekalah antivirus yang efektif jika ingin menyembuhkan negeri ini dari kebodohan yang massif dipompakan ke otak2 fanatik dan siap menjadi mesin perang itu..

Saya mengusulkan pak Wiranto menyiapkan payung cadangan karena dampak pembubaran ormas itu tidak main2. "Jika mereka tidak punya baju organisasi, lalu bagaimana pemerintah bisa mendeteksi mereka di kemudian hari ?"

Jangan sampai mereka menjadi lone wolf baru, sel-sel tidur yang baru.

Karena itu kembalikan proses de-radikalisasi mereka kepada rakyat, jangan lagi ke pemerintah karena mereka sudah pasti anti kepada pemerintah. Dan GP Ansor juga Banser adalah salah satu perwakilan rakyat yang siap untuk itu.

Jadikan Ansor dan Banser sebagai kekuatan ekonomi Islam yang baru. Berikan modal mereka untuk membangun usaha-usaha di seluruh negeri.

Dengan ekonomi yang mapan, maka Ansor akan siap merangkul saudara-saudaranya yang muslim supaya mereka tidak lagi lapar dan bermimpi bahwa yang menyelesaikan masalah ekonomi mereka adalah khilafah..

Ini memang proses panjang, tetapi sudah harus dilakukan. Karena infrastruktur yang megah bagaimanapun tidak akan bisa memperbaiki mental manusia. Yang bisa membenahi mental manusia adalah manusia lainnya..

Akhirnya tercapailah kesepakatan bersama. Dan sebelum pulang, seseorang bertanya kepada saya, "kira-kira tema apa yang akan kita pakai untuk memulai program ini ?"

Kopi yang sudah kuraih, tertahan diudara. Aku berfikir sebentar dan berkata, "Karena proses ini dikawal oleh warga NU melalui perwakilan Ansor dan Banser untuk merebut kembali konsep Islam dari tangan para fundamentalis, kita serukan saja Mari Gus, rebut kembali.. "


Kuseruput kopiku. Terimakasih pa Wiranto. Terimakasih Gus Yaqut.. Kita kembalikan Indonesia menjadi sebagaimana yang diperjuangkan oleh para pejuang kita dahulu.

Selasa, 18 Juli 2017

GANGBANG DI SURGA

Pesta Seks di Surga
Ustadz Syam
Malu juga melihat tayangan seorang bernama Ustad Syam bicara ada pesta seks di surga. Katanya, "Tuhan menjanjikan pesta seks di surga buat lelaki yang menahan hasrat seksnya di dunia." Acara itu tayang di stasiun tipi lagi, dan diucapkan didepan penonton yang semuanya emak-emak.

Saya bukan malu karena pesta seks-nya, tapi karena betapa bodohnya dia. Masih belia usia 25 tahun - itu pasti masa ngaceng-ngacengnya. Karena cenggur, maka dipikirannya seks mulu, sampe di surgapun di pikirannya masih seks. Kebanyakan nonton Mia Khalifah..

Itu tidak lepas dari hadis 72 bidadari di surga, sebuah penjelasan tentang kenikmatan surgawi tetapi dibahasakan dalam bahasa masa arab jahiliyah pada waktu dulu.

Tidak mungkin dimasa kebodohan, dijelaskan kenikmatan surgawi dalam bentuk penjelasan filsafat, karena mereka yang bodoh dan barbar pada waktu itu sama sekali tidak akan mengerti. Akalnya mereka -para kaum arab jahiliyah- dulu masih sangat material. Semua diukur dengan wujud, dengan materi.

Maka ketika Nabi waktu itu mengajarkan perintah Tuhan kepada mereka yang masih memandang material, diberikanlah contoh-contoh yang mudah dipahami -sesuai apa yang mereka kenal waktu itu- untuk keberadaan surga, seperti sungai susu.

Sedangkan di masa sekarang -di ruang-ruang filsafat- surga sudah termaknai dengan bentuk kenikmatan non materi yang jauh dari segala kenikmatan duniawi dari segi apapun. Karena ketika bicara nikmat, ketenangan yang hakiki adalah surga. Sedangkan ketersiksaan batin sudah bagian dari neraka.

Jadi, untuk apa seks di surga? Karena seks membutuhkan nafsu dan nafsu itu hanya milik manusia, bukan ruh-ruh yang tersucikan. Surga itu suci, berarti ruh mereka yang menempati didalamnya akan suci pula.

Tapi bagi anak usia 25 tahun yang mendadak ngustad hanya karena sebuah stasiun telepisi pengen mengambil sudut untuk di kapitalisasi -demi rating, rating dan rating- maka jadilah konsep bidadari menjelma sebagai pornstar. Disana ada gangbang, threesome, bukkake bahkan MILF.

Mungkin juga si Syam ini membayangkan dia bermain jadi supir taksi dan menjemput bidadari-bidadari untuk kemudian di gauli mirip Fake Taxi. Wat de pakkk.

Si Syam boleh saja minta maaf. Tapi persepsi tentang Islam sebagai agamanya kaum ngacengan sudah menyebar dan menjadi bahan tertawaan banyak orang.

Kalau begini, apakah sudah bisa dikategorikan "menghina Islam?".

Demi Toutatis, secangkir kopi pagi ini pahit. Gula habis rupanya. Seruput dulu biar bisa gangbang di surga.

Minggu, 16 Juli 2017

OTAK CILOK

#telegramdiblokir
Sumbu Pendek
Saya bingung dengan pemikiran kaum bumi datar masalah pemblokiran Telegram ini. Sederhana sebenarnya masalahnya. 

Telegram sering dipake teroris untuk berkomunikasi karena mereka lebih aman dan tidak bisa "diintip" pihak ketiga dengan alasan apapun. Dan hasil penyelidikan dari teroris yang ditangkap, mereka malah belajar membuat bom dari chatting di Telegram itu. 

Dan pemerintah sudah meminta klarifikasi kepada pemilik Telegram untuk "masuk" dan mengawasi semua perbincangan disana terutama yang berkaitan dengan kegiatan terorisme. Tapi tidak pernah dianggap dan dijawab oleh pemilik Telegram. 

Akhirnya langkah terakhir, di blokirlah Telegram sebagai peringatan. Ingat, sebagai PERINGATAN..
Ketika di blokir oleh pemerintah RI. Telegram yang awalnya sok gak butuh, akhirnya panik juga. 

Kenapa? Karena pengguna Telegram di Indonesia banyak. Jadi kalau Telegram di blokir, yang rugi siapa? Telegram atau pemerintah RI?

Jelas, Telegram merugi secara bisnis..

Itulah yang dinamakan kedaulatan. Siapapun yang bisnis di sini, harus ikuti peraturan di sini. Jangan sono yang ngatur-ngatur..

Dan ancaman itu berlaku juga buat Youtube, Facebook, Whatsapp dan semua media sosial lainnya. Pemerintah menggertak dengan memblokir Telegram sebagai contoh buat yang lain, bahwa negara ini jangan dibuat main-main.

Apakah media selain Telegram pasti diblokir ?? Tentu tidak, asal mengikuti peraturan yang ada..
Telegram juga akan dibuka kembali blokirnya jika mereka mematuhi peraturan pemerintah...
Gitu lho sonnnn.. Itu namanya WIBAWA. Harus ditunjukkin, jangan cuman dibilang ngancem doang..

Masak gini aja gak tauuuuu?

Mangkanya, belajar paham itu penting, sehingga gak mudah dibodohin. Belum apa2 sudah panik, terus caci maki..


Dasar otak cilok.. Bumbunya doang pedes, gizinya nehiii..

Sabtu, 15 Juli 2017

KENAPA TELEGRAM HARUS DI BLOKIR?

Telegram
Logo Telegram
Di beranda saya muncul caci maki terhadap pemerintah perihal pemblokiran Telegram. Telegram adalah fasilitas chatting sejenis Whatsapp. Tapi mempunyai kelebihan yang tidak dipunyai whatsapp, salah satunya adalah enkripsi end to end yang membuat pesan hanya bisa dibaca pengirim dan penerima. Inilah fasilitas chatting yang paling aman sementara ini dari "intipan" pihak ketiga.
Saking amannya, maka Telegram menjadi fasilitas chatting favorit para teroris.

Penemu Telegram, Pavel Durov, mengatakan bahwa channel ISIS di Telegram sudah mencapai 9 ribu pengguna. Dia dengan bangga meng-klaim bahwa Telegram melindungi privasi pengguna dengan keamanan tinggi dan keamanan itu juga berlaku untuk teroris.
"Kami tidak merasa bersalah.." Katanya. "Kami melindungi pengguna.."

Karena keamanan itulah maka pada tahun 2016, pengguna Telegram sudah mencapai 100 juta jiwa. Ini menjadi masalah besar untuk Indonesia. Perang melawan radikalisme dan terorisme di sini menjadi tidak efektif ketika pemerintah tidak bisa memantau kegiatan mereka. Apalagi Telegram tidak punya kantor perwakilan disini, sehingga tidak berkuasa untuk memberikan peringatan kepada Telegram.

Paling efektif adalah blokir aja. Habis perkara..

Telegram tercatat menjadi komando komunikasi pada serangan teroris di Paris, Turki dan St Petersburgh. Bahkan dari sejumlah teroris di Indonesia yang ditangkap, mereka mengaku belajar membuat bom dari channel Telegram.

Jadi, apa yang salah dari pemerintah ? Tidak ada.

Pemerintah memang harus menunjukkan kedaulatan negara dengan tidak memperbolehkan aplikasi apapun beroperasi di sini tanpa seijin pemerintah. Ini juga untuk melindungi warga negara.

Dan ancaman ini juga berlaku tidak hanya untuk Telegram, tetapi Youtube, Facebook dan semua aplikasi media sosial lainnya. "Lu cari makan di Indonesia, ikuti aturan Indonesia.."

Di blokirnya Telegram tentu memperkecil akses teroris untuk berkomunikasi dengan orang-orangnya. Mereka sementara ini terdiam sambil mencari alternatif komunikasi aman lainnya. Dan ini sebuah kemajuan, ketika pemerintah kita menunjukkan taringnya.

Kalau Pavel Durov mengeluh, yah itu biasa. Dia pasti melindungi usahanya. Tapi Pavel tidak pernah memikirkan bagaimana keamanan negara.

Yang saya heran, ya yang mencaci maki tindakan pemerintah itu. Pemerintah berbuat, dicaci. Gak berbuat, dibilang gak perduli..

Mungkin mereka kekurangan ahlak karena segala sesuatu yang baik harus dicaci.
Oh iya, di kampung saya ahlak selain berarti uang juga berarti "akal sehat". Tergantung konteksnya.

Misalnya, "Bang.. pinjem ahlak dong. Aku tongpes nih.."
"Ah, macam mana pula ahlak kau. Aku pun tak berahlak kau mintai aku ahlak pula. Dimana ahlak kau ??"

Bingung kan ? Seruput dulu kalo gitu..

AHLAK HARI TANOE

Perindo
Hary Tanoe
Tidak banyak sosok yang begitu dicintai banyak orang seperti Hari Tanoe. Hari Tanoe memang contoh tauladan bagaimana seseorang itu bersosialisasi lintas agama dan ras, sehingga ia menjadi sosok yang dicintai bahkan dirindukan kehadirannya.

Kenapa ia bisa begitu? Jawabannya adalah, Ahlak..

Ahlak seseorang memang menentukan dalam pergaulan. Ahlak yang bagus tentu akan menempatkan seseorang itu dalam pergaulan yang luas dan diterima siapa saja. Jika ahlaknya kurang, jangankan diterima, bahkan bisa didemo berjilid-jilid sampai dipenjara..

Kemampuan HT dalam menggunakan ahlaknya bisa terlihat dari bagaimana masyarakat bersikap padanya. Ketika ia mendapat masalah besar, tiba-tiba kelompok yang mengatas-namakan pendeta bersatu dan meneriakkan supaya ia dibebaskan.

Bahkan bermunculan pakar-pakar hukum yang sudah jarang diundang ke stasiun televisi dan mengatakan, bahwa HT sedang di kriminalisasi..

Malah kelompok yang mengatas-namakan umat Islam dengan kode buntut 212, dengan garang berkata di depan media, "Meski ia seorang kafir, tetapi ia wajib dibela karena dalam Al-quran memerintahkan supaya umat muslim mesti berlaku adil bla bla dan bla.."

Mereka bahkan melakukan long march sekedar untuk menerapkan perintah Tuhan supaya berlaku adil kepada yang bayar, eh kepada yang sedang dizolimi meskipun ia adalah seorang yang dicap kafir..

Dahsyat memang buah dari ahlak seseorang itu..

Namanya muncul di banyak media sebagai seorang yang sedang melakukan perlawanan kepada pemerintah.

Bahkan beberapa stasiun tivi terkenal -dengan rela dan tanpa dibayar- terus menerus menulis namanya di running teks tanpa lelah, setiap menit bahkan setiap detik jika bisa. Seolah tidak ingin ketinggalan berjuang bersama seseorang yang bekerja tanpa pamrih untuk kesejahteraan umat itu..

Ketika saya mencoba googling siapa saja yang membela HT, saya menemukan fakta yang mengejutkan. Dari Sabang sampe Merauke, ternyata banyak sekali yang bersuara tentang keberadaannya. "Hari Tanoe adalah korban hukum yang sewenang-wenang.." begitu kata mereka dan hampir semua bernada sama.

Saya takjub melihat pembelaan mereka yang begitu massif dan serentak. Sayang saya tidak mencatat siapa saja nama mereka semua karena mereka dari berbagai daerah, hanya yang saya tahu marga mereka semua sama yaitu marga Perindo.

Seharusnya kita mencontoh apa yang sudah dilakukan HT dalam pergaulannya. Ia bisa dengan tenang berdiri di samping Donal Trump yang menunjukkan kelas dirinya. Tetapi ia juga mampu berdiri di mimbar gereja memberikan ceramah tentang keselamatan hidup.

Yang menakjubkan, ia bahkan turun bersafari Ramadhan ke pesantren-pesantren dan disambut dengan sukacita layaknya seorang mualaf yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.
Felix Siauw dan Jonru Ginting seharusnya belajar seperti beliau yang tidak memandang ras dan agama dalam bergaul dengan sesama manusia. Bahkan seorang Irena Handono harusnya malu menjelek-jelekan agama sebelumnya, jika melihat bagaimana HT bisa merangkul semua pihak yang berbeda dengannya..

Dan itu karena ahlak. Ahlak yang mulia akan mendapat balasan perlakuan yang mulia pula..
Sudah saatnya pulang, sudah malam..
"Bu, tadi saya kopi dua, tahu isi dua dan bakwannya satu. Berapa semua ?"
"Kalau dengan kemaren, semua jadi dua puluh ribu. Besok sudah gak boleh ngutang, modal saya habis. Kalau gak punya ahlak, gak usah ngopi deh.." si ibu warung cemberut.


Oh maaf, saya belum kasih tahu. Ahlak itu artinya "uang" di kampung saya..

Jumat, 14 Juli 2017

PERANG BESAR JOKOWI (3)

Bung Karno
Perppu
Benar saja, isu Islam vs PKI mulai bergerak kemana-mana.Isu "Islam vs PKI" yang sempat menghangat dan diredam oleh perintah gebuk dari Presiden Jokowi, kembali dihangatkan sesudah keluarnya Perppu pembubaran ormas radikal.

Sejarah pertikaian partai Masyumi dan PKI kembali diangkat ke permukaan. Sebagai catatan, Partai berbasis Islam Masyumi dan Partai Komunis Indonesia, pada tahun 1954, mempunyai hubungan yang sangat panas..

Panasnya hubungan mereka waktu itu bahkan dikaitkan dengan konfrontasi perang dingin AS dan Uni Sovyet. Masyumi menuding PKI sebagai antek Sovyet, sedangkan PKI menuding lawannya sebagai tangan Amerika.

Selain bentrok besar yang terjadi di Malang dan Jakarta, mereka juga melakukan perang media. Masyumi dengan majalah Hikmah dan koran Abadi, sedangkan PKI menggunakan harian Rakjat. Dalam perang Media itu mereka sama-sama "mensesatkan" lawannya..

Konflik itu semakin panas ketika Presiden Soekarno membubarkan Masyumi. Alasan Soekarno adalah karena partai itu terlibat dalam pergerakan PRRI atau Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia.

Maka keluarlah Keppres no 200 tahun 1960, sebagai pembubaran Masyumi. Disinilah dimulai penggorengan isu bahwa Soekarno adalah bagian dari PKI dan musuh Islam. Isu ini dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga 5 tahun kemudian terjadilah peristiwa fenomenal pembantaian PKI.

Melihat sejarahnya, ada kemiripan yang diangkat sebagai senjata dengan keluarnya Perppu pembubaran ormas radikal...

Keluarnya Perppu itu membangun stigma kepada Presiden Jokowi bahwa ia mirip dengan Soekarno - sebagai musuh Islam.

Isu ini dikaitkan dengan isu bahwa Jokowi dan istana sekarang ini dikuasai oleh PKI. Tudingan oleh Alfian Tanjung kepada Teten Masduki bahwa ia PKI adalah bagian dr propaganda bahwa istana sudah dikuasai.

Isu ini akan dihangatkan kembali berkaitan dengan panasnya perundingan tentang penguasaan Freeport oleh pihak pemerintah. Pemerintahan Jokowi akan dituding pro kebijakan Timur - Rusia & China.

Dan Amerika akan masuk melalui partai yang selama ini pro dengan mereka. Dan kita tahu, Gerindra dan Demokrat sangat kuat hubungannya dengan Amerika..

Pemanfaatan nama "umat Islam" akan semakin dikuatkan, berkaitan dengan terancamnya HTI dan ormas radikal lain dibubarkan dengan keluarnya Perppu. Pesantren-pesantren yang menjadi basis dukungan mereka selama ini akan dirapatkan barisannya.

Tidak mudah memang tugas pemerintah saat ini. HTI sudah berakar lama di semua elemen pemerintahan karena memang ruang mereka dibuka selama ini sebelum Jokowi berkuasa. Mulai dari institusi pendidikan sampai lembaga kehakiman dikuasai mereka.

Bahkan TVRI - sempat mengadakan siaran langsung Muktamar Khilafah HTI. Bayangkan, stasiun televisi pemerintah menayangkan siaran gerakan anti pemerintah..

Jadi sangat beralasan ketika kita melihat bahwa akan ada gerakan-gerakan besar untuk menurunkan Jokowi atau minimal menghadang langkahnya di Pilpres 2019 nanti...

Jika Jokowi menang lagi, situasi tidak akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kopi saya mendadak pahit membayangkan bahwa Pilpres 2019 akan menjadi Pilpres terpanas kita sesudah sekian lama kita menghadapi situasi pemilu yang berlangsung aman..

Saya selalu berharap analisa saya salah dan semoga salah. Seruput dulu ah..

PERANG BESAR JOKOWI (2)

Presiden
Jokowi
"Apa dampak terburuk dari keluarnya Perppu pembubaran ormas radikal itu, bang?". Tanya seorang teman di kotak pesan.

Terus terang, ketika membaca pesan itu, ingatan saya melompat kembali ke pilgub DKI. Dalam peristiwa itu, lawan politik Ahok mencari celah yang tepat untuk menjatuhkannya sekaligus menggoyang pemerintah Jokowi.

Satu celah saja seperti "Almaidah 51", lalu bammmm gerakan demo besar bergerak mengurung Jakarta.

Dan ketika Perppu keluar, saya melihat inilah celah yang mereka nanti-nantikan selama ini. Perppu pembubaran ormas radikal ini seperti sebuah kunci yang menyatukan beberapa kepentingan yang ujungnya ada di Pilpres 2019.

HTI jelas adalah pihak yang tersudut dengan keluarnya Perppu itu, karena pemerintah sudah mengumumkan pembubaran kelompok mereka sebelumnya. Dan selain HTI, ada beberapa ormas Islam radikal lain yang juga merasa terancam dengan adanya Perppu itu.

Mereka akan bergabung menjadi satu kekuatan dengan nama "Umat Islam" dan akan membentuk koalisi seperti ketika mereka membentuk GNPF-MUI. Dan ini adalah kendaraan Rizieq Shihab yang dia nanti-nantikan dengan konsep "Revolusi Putih"nya.

Oke, sesudah semua gabung dan berkoalisi, temanya apa dong?

Tema yang dipakai adalah "Umat Islam melawan pemerintah zolim yang sudah dikuasai PKI". Wah, tema bagus ini karena hantu PKI masih jadi momok bagi sebagian masyarakat awam yang tidak paham sejarah.

Kalau tema sudah di dapat, lalu siapa pendananya?

Demo besar -apalagi berjilid-jilid- pasti butuh dana besar juga, karena mengerahkan massa dari luar Jakarta pasti butuh transportasi. Belum lagi nasi bungkus di TKP - yang mahal yang pake rendang - dan uang saku buat jalan-jalan keliling Jakarta..

Lalu mulai bergeraklah "seseorang yang tidak boleh disebut namanya yang berjanji jalan kaki Yogya Jakarta" menghubungi kelompok lawan politik Jokowi...

"Ini ada momen nih buat Pilpres. Lu keluar duit dong, biar kita yang kerja.."
"Oke, gua hubungi dulu beberapa mafia dan kartel yang sudah gak bisa cari makan lagi di era ini. Tapi nanti dukung gua jadi Presiden ya ? Gua udah bosan main kuda2an.."
"Trus, gua jadi wakil ?"
"Kita lihat aja hasil kerja lu gimana.."

Maka mulailah gerakan silent operation yang mengumpulkan para aseng yang proyeknya banyak dibatalkan di era Jokowi.

Dengan keluarnya Perppu ini, Jokowi tanpa sadar sudah mengumpulkan lawan dalam satu barisan. Mereka - dengan latar belakang berbeda - bergerak dengan kepentingan yang sama, jatuhkan Jokowi atau paling tidak hadang dia supaya kalah telak di 2019..

Dan jika ini terjadi, kita kembali akan melihat gerakan besar menuntut turunnya Jokowi karena berseberangan dengan "umat Islam".

Dan gerakan mereka akan difasilitasi oleh orang dalam Istana yang punya niat untuk bergabung dengan kelompok lawan karena selama bersama Jokowi tidak pernah mampu menungganginya untuk kepentingan kelompok bisnisnya..

Jika analisa ini benar, tahun 2017-2018 akan menjadi ajang demo besar berturut-turut yang diharapkan akan menggerus suara Jokowi dalam Pilpres nanti..

Pertanyaannya, apakah pemerintah sudah mengantisipasi dampak ini?

Kita tahu, lolosnya kita dalam demo besar berangka kemarin, tidak luput dari kepiawaian komunikasi dan negosiasi aparat-aparat intelijen dan pemerintahan. Tanpa kemampuan itu, niscaya kita sudah chaos.

Tetapi mengandalkan model komunikasi dan negosiasi seperti kemaren, menjadi riskan. Karena lawan juga sudah belajar dari situasi yang terjadi dan kemungkinan besar mereka merubah strateginya.

Dan yang paling mengerikan - semoga ini tidak terjadi - pasukan bom panci yang bersimpati dengan ISIS, akan menyusup ke dalam demo dan meledakkan diri mereka ketika dekat dengan anggota kepolisian. Suasana akan tambah chaos dan Jokowi dituntut harus bertanggung jawab dengan situasi ini.

Mereka adalah pemain "Playing Victim" yang layak dapat Oscar.

Dengan gambaran itu, seharusnya kita menjadi waspada akan apa yang terjadi di depan. Harus dipikirkan langkah-langkah efektif menyambut situasi terburuk yang akan dihadapi. Kita harus ingat, yang ingin menjatuhkan Jokowi banyak dan mereka punya uang..

"Lalu apa strategi supaya bisa mencegah itu ?" Tanya temanku lagi. Aku menghela nafas. Kuseruput kopiku yang mulai mendingin. Harus kutuang dalam satu artikel lagi..

PERANG BESAR JOKOWI (1)

Presiden
Jokowi
Keluarnya Perppu untuk membubarkan ormas radikal itu memang ngeri-ngeri sedap. Sejak jatuhnya Ahok - yang diyakini sebagai titik terlemah untuk menjatuhkan Jokowi - sampai sekarang belum ada lagi ruang lagi untuk menggoyangnya.

Masalah Kaesang dan tur keluarga Jokowi ke Turki, meski digoreng bulak balik tetap saja tidak mampu menjadi hidangan lezat untuk menggerakkan publik. Masalah PKI juga seperti mati suri sesudah Jokowi berkomitmen menggebuk PKI di hadapan TNI..

Saya termasuk yang gembira ketika pemerintah Jokowi berani mengeluarkan pernyataan pembubaran HTI. Pasca Soeharto, dialah Presiden yang paling berani memainkan "tangan besi" dalam menghadapi radikalisme.

Tadinya saya berfikir akan ada pertarungan seru dan panjang di pengadilan dalam masalah pembubaran ini. Apalagi Yusril sudah menyatakan berada di belakang HTI.
Tapi pemerintah pintar..

Pengadilan -sejak kasus Ahok- terlihat sudah bersimpati kepada kelompok Islam radikal seperti HTI. Jika diteruskan, maka pemerintah akan kalah telak dan akan menguatkan stigma bahwa pemerintah lemah.

Kekalahan pemerintah dalam masalah HTI ini akan menjadi bensin baru dalam membakar semangat kelompok radikal yang bertentangan dengan pemerintah.

Karena itulah dikeluarkan Peraturan Pemerintah Penggganti Undang-undang atau Perppu sebagai dasar hukumnya...

Kenapa penting sekali dikeluarkan Perppu ?

Karena Undang2 nomor 17 tahun 2013 tentang Ormas, tidak memasukkan unsur "anti Pancasila" sebagai dasar pembubaran Ormas. Yang ada disana hanyalah Atheisme, Marxisme dan Leninisme. Undang2 no 17 ini efektif menahan laju ormas yang masih berkaitan dengan komunisme, tetapi tidak bagi ormas yang anti Pancasila..

Sebuah lubang besar yang memang dulu "dimainkan" di parlemen untuk melindungi gerakan merubah ideologi negara.

Siapa yang bermain dalam penyusunan Undang2 no 17 ini ? Tentu saja kelompok-kelompok yang mempunyai niat untuk menggantikan Pancasila ke depannya menjadi sistem khilafah...

Itulah gunanya dikeluarkan Perppu yang akan menjadi rudal balistik untuk menghantam kelompok radikal yang berniat mengganti dasar negara seperti HTI ini..

Keberanian itu memunculkan resiko baru yang terbentang di depan kita. Saya tidak tahu, apakah pemerintah ketika mengeluarkan Perppu itu sudah memperhitungkan faktor resiko yaitu dampak yang akan terjadi ke depan ?

Mudah-mudahan sudah, karena jika belum, maka negeri ini akan digoyang keras lagi seperti masa Pilgub DKI kemaren..

Artikel ini akan bersambung karena saya tidak mungkin memasukkan semua analisa dalam satu tulisan. Kita berhitung dampak-dampak yang akan terjadi ke depan yang akan berpengaruh pada konstelasi politik menuju Pilpres 2019 nanti..

Kencangkan ikat pinggangmu, karena roller coaster bernama Indonesia ini sedang merangkak menuju puncak tertinggi dan menghadapi turunan deras dan tajam di depan nanti..

Seruput kopinya dulu.