Kamis, 19 Januari 2017

Bendera Putih Habib Rizieq

FPI
Habib Rizieq
Ketika banyak teman2 yang menyerang Habib Rizieq, entah kenapa saya sekarang menjadi kasihan padanya..

Ia menciptakan terlalu banyak musuh yang menyerangnya pada satu titik bersamaan. Ia pasti lelah, karena siapa yang sanggup memenuhi panggilan polisi terus menerus dalam kasus yang berbeda ?

Karena itulah ia mengibarkan bendera putih dengan kata "mediasi secara kekeluargaan". Tapi terlambat sudah, musuhnya hanya ingin ia hancur karena ia sudah menyakiti hati banyak orang.

Memang terjadi desakralisasi masif terhadap HR sekarang. Pamornya yang sempat membesar sesudah aksi 411 dan 212 membuat ia banyak dipuja oleh kaum bumi datar. Dan pujaan ini membuat ia lupa diri..

Ia seperti cerita katak ingin jadi lembu, berusaha besar tanpa memikirkan kapasitas dirinya. Akhirnya "meledak".

Karena terus menerus di puja bahwa sudah saatnya ia memimpin negara ini, pongahlah ia. Bahkan ia mengangkat dirinya sebagai Imam besar. Konsep yang aneh di tengah mayoritas muslim bermazhab sunni, karena setahu saya Imam besar itu konsep syiah.

Karena pongah, maka ia menyerang siapapun yang berbeda pendapat dengannya. Ia lupa bahwa ia tidak sedang ceramah di Petamburan, dimana jamaahnya cuman mantuk2 saja. Ia memukul siapa saja didepannya, termasuk polisi dan negara. Jelas mereka melawan..

Energi HR akan habis dalam melayani serangan2 sehingga tidak sempat lagi menggalang kekuatan untuk membuat demo besar kembali. Apalagi partnernya Bachtiar Nasir juga kelihatannya tiarap sesudah terbuka informasi bahwa bantuan yang selama ini ia salurkan ke Suriah, ternyata untuk pemberontak.

Inilah permainan pecah ombak yang dimainkan. Masing2 otak dibalik demo besar disibukkan dengan kasus mereka. Ada yang tertuduh makar, ada yang kasus pendanaan dan lain2, sehingga sulit untuk fokus untuk mengadakan demo yang lebih besar lagi...

Dengan pecahnya lapisan2 pion di sekitar raja, maka kuda bisa lebih leluasa mengambil posisi untuk memaksa raja melangkah ke pojokan. Ga usah di skak, di biarin aja biar ga bisa melangkah. Habisi dulu mentri2nya..

Habib Riziq harusnya banyakin belajar catur biar bisa paham kemana langkah lawan. Sibuk teriak, lupa berfikir jadinya..

Kapan2 main catur, yuk bib sambil minum gahwa. Tapi ana jangan ditanya, "Denny, ente lahir siapa bidannya ?"

Sumpe bib, ana dah lufaaa..

Rabu, 18 Januari 2017

Surga Versi Jonru

Jonru
Cuitan Jonru
Baca konsep surga versi Jonru yang dibagikan sobat saya Ni Luh jelantik, jadi pengen ketawa pagi-pagi.

Saya meyakini surga itu ada, sebagai reward dari Tuhan kepada hamba yang taat padaNya. Karena ketika kita taat, maka perjalanan di dunia pasti selamat. Inilah konsep keadilan yang sesungguhnya. Karena tidak mungkin yang jahat dan yang baik bercampur dalam satu tempat.

Tapi apakah surga itu adalah tempat kawin seenaknya?
Kalau melihat konteks -bukan teks- diturunkannya kitab suci, kita pasti mengerti bahwa itu turunnya kitab suci berada pada masa jahiliyah, masa ketika kebodohan berada pada puncak tertingginya.

Kitab suci selalu memakai bahasa sederhana sebagai perumpamaan. Ia mengambil contoh materi di sekitar, yang dikenal manusia. Seperti penggambaran surga harus ada sungai, pohon dan sebagainya untuk menggambarkan sebuah kenikmatan.

Tetapi sebenarnya yang disebut kenikmatan dalam surga pasti lebih tinggi dari itu dan lebih nikmat dari materi yang ada.
Seperti kata Imam Ali as, "kenapa dunia dinamakan dunia (adna)? Karena ia lebih rendah dari segala sesuatu". Jadi sebagus apapun materi di dunia, ia lebih rendah dari segala yang bersifat non materi. Dan surga adalah non materi. Sampe sini, Jonru garuk-garuk janggutnya.

Nah, kepada masyarakat Arab Jahiliyah yang kerjaannya tukang kawin, yang gendiknya bisa ratusan, maka cara mengajarkan kenikmatan surga tentu harus sesuai dengan kapasitas pemikiran mereka pada masa itu. Tidak mungkin kan surga dikabarkan ada liftnya, ada PS4, jadi bisa main game sepuasnya, karena pasti gak nyangkut di pikiran mereka.

Yang dikabarkan kenikmatan kepada mereka dalam bentuk yang mereka ketahui. Kenikmatana versi mereka adalah wanita, maka gambarkan wanita. Hanya di surga tidak bisa disebut wanita karena kurang menjual, maka disebutlah bidadari.

Cara menggambarkan bidadari harus sesuai dengan gambaran wanita yang tercantik di kepala arab jahiliyah pada masa itu. Padahal tidak ada yang tahu bagaimana bentuk bidadari, sebagaimana orang tidak tahu bagaimana rupa malaikat sesungguhnya. Begitulah adanya.

Jadi, terimalah konsep surga sebagai bagian dari keadilan Tuhan. Tidak perlu mewujudkannya dalam bentuk material. Anda kan manusia sekarang, bukan manusia pra sejarah yang harus diletakkan batu di depannya, trus di ejakan, "be aba, te utu.. batu".

Cuman memang sekarang ini semua serba terbalik. Zamannya maju, cara berfikir manusianya yang mundur. Jadi niat masuk surga hanya karena ngaceng olala, bukan karena akal menerimanya.

Saya saja bingung menggambarkan secara sederhana bagaimana nikmatnya kopi pagi ini.

Masak harus begini, "Hmm.. senikmat men-download Mia Khalifa.." biar sesuai ma zamannya.

Selasa, 17 Januari 2017

Menaklukkan Beruang Freeport

Jokowi
Freeport
Tambang Freeport adalah negara di dalam negara. Selama 50 tahun -sejak perjanjian dengan pemerintah Indonesia thn 1967- Freeport menguasai areal tambang dimana pemerintah pun sulit menyentuhnya. Karena itu perjanjian mereka disebut Kontrak Karya.

Menjadikan mereka sebagai perusahaan tambang biasa yang tunduk pada hukum di Indonesia, sulitnya minta ampun. Apalagi banyak "tangan2 tidak kelihatan" yang melindungi Freeport, dan itu bukan tangan biasa.

Ketika Presiden SBY mau lengser, entah kenapa mereka malah buru2 menanda-tangani perpanjangan Kontrak Karya Freeport sampai 2041. Padahal sesuai perjanjian dengan pemerintahan orde baru, Kontrak Karya Freeport akan berakhir di tahun 2021.
Disinilah biang keributan pada waktu itu...

Pemerintahan Jokowi jelas punya kebijakan sendiri. Ia ingin Freeport kembali ke bumi pertiwi. Dan supaya pengambil-alihannya bisa sesuai konstitusi, maka Freeport harus menjadi usaha tambang biasa supaya bisa tunduk pada hukum RI.

Tarik menarik terjadi. Dan kita sudah menyaksikan drama menarik dengan korban Setya Novanto yang jatuh dari kursi Ketua DPR RI..

Kegaduhan waktu itu, membuat kesal Jokowi. Seperti kita tahu, ia tidak suka dengan ribut2 yang menyita energi. Maka, Sudirman Said pun diganti..

Akhirnya sesudah keributan mereda, Jokowi pun memasang duet Ignasius Jonan dan Arcandra Tahar. Jonan tukang gebrak, Archandra sebagai pengumpan. Mereka itu seperti duet klasik Christiano Ronaldo dan Mesut Ozil di Real Madrid..

Freeport digiring supaya menyerah. Peluang goal ada pada masa perpanjangan ijin ekspor mineral olahan atau yang disebut konsentrat yang berakhir 11 Januari lalu.

Freeport diancam, kalau tidak mau merubah Kontrak Karya menjadi ijin usaha pertambangan biasa, maka Freeport dilarang ekspor konsentrat. Ini bencana buat Freeport karena disitulah sumber makan mereka..

Akhirnya Freeport pun menyerah. Mereka sudah terlalu lelah dengan semua perkelahian ini. Pemerintahan Jokowi ini beda. Pertarung2nya bukan kelas bayaran - maksudnya, dibayar selesai perkara, tetapi benar2 para pejuang yang membawa nama bangsa.

Freeport mengumumkan bahwa mereka akan mengikuti permainan pemerintah, yaitu mengubah Kontrak Karya menjadi ijin pertambangan biasa. Kalau gak gitu, mereka gak boleh ekspor konsetrat. Mau makan apa ?

Kenapa kemarin2 Freeport tidak mau menjadi ijin usaha pertambangan biasa?. Karena ketika Freeport masuk ke wilayah itu, pemerintah berhak menguasai sampai 51 persen saham mereka.
Dan itu berarti Freeport akan menjadi milik kita, saudara-saudara... MILIK KITA.

Info ini penting buat mahasiswa cabe2an yang kemaren demo karena cabe naik musiman. Sini dek, minum kopi biar kujelasin. Mahasiswa yang cantik aja, yang bau ketek tolong pinggirin..

Serupuzzzzz...

Senin, 16 Januari 2017

Banjir yang Se Dada

Jakarta
Info Banjir
Jakarta pada musim hujan begini, ada yang saya rindukan..
Biasanya hari-hari ini tv saya penuh dengan laporan reporter bahwa Jakarta sedang banjir besar. Perahu2 karet bertebaran sedang mengangkut pengungsi dan rumah2 tenggelam tinggal atapnya saja.

Ditambah laporan reporter tv yang membuat ukuran banjir sendiri dengan kata "sepaha" dan "sedada". Ada rasa miris, kasihan dibumbui kelucuan ketika melihat berita Jakarta banjir waktu itu.
Tapi itu Jakarta sebelum 2014...

Jakarta sekarang sudah bisa dibilang bebas banjir. Kata plt Gubernur Sumarsono, "Banjir di Jakarta sudah berkurang lebih dari 80 persen. Kalaupun masih ada 80 titik yang belum bebas banjir, disana hanya ada genangan air yang cepat surut kalau hujan besar.."
Kenapa bisa begitu ?

Karena memang Jokowi dan Ahok bersungguh2 mengatasi masalah Jakarta yang sudah bertahun2 di pelihara. Apalagi ketika Jokowi menjadi Presiden, koordinasi Ahok dengan pusat menjadi lebih mudah.

Teringat janji Jokowi dulu. "Kalau saya jadi Presiden, saya lebih mudah mengatasi banjir Jakarta.." Dan terbukti sudah..

Cara efektif yang tidak pernah dilakukan oleh Gubernur2 Jakarta sebelumnya uang lebih suka memelihara suara daripada mengatasi masalah Jakarta, adalah membebaskan sungai2 dari pemukiman liar yang membuat aliran sungai menyempit.

13 sungai yang mengaliri Jakarta diperlebar dengan cara merelokasi penghuni liar. Yang dulunya lebarnya hanya 5 meter, dikembalikan menjadi 30 meter. Jadi terbukti memang itu cara terbaik, bukan malah mengada2 dengan membuat "pemukiman apung" atau hanya mengecat warna warni supaya pemukiman tidak terlihat kumuh.

Jokowi dan Ahok mampu melihat akar masalah sebenarnya dan memperbaikinya. Mereka bisa saja seperti Gubernur2 sebelumnya yang main aman dan lebih suka bergincu tebal yang penting tetap di jabatan. Tapi apa yang mereka lakukan, terbukti menyelamatkan situasi Jakarta sekarang ini - terutama pada musim hujan lebat saat ini.

Kerja keras mereka -meski banyak ditentang karena dituding tidak berpihak kepada masyarakat kecil- terbukti menyelamatkan Jakarta. Lahan2 di samping sungai dikembalikan fungsinya sebagai lahan hijau dan diperindah dengan menjadikannya taman2 kota.

Kalau anda mau sedikit jujur pada diri sendiri saja - anda akan memberikan secangkir kopi pada mereka berdua. Kalau mau jujur loh.

Dan yang paling bahagia pasti reporter2 media, karena mereka sekarang sudah tidak lagi dipaksa melaporkan situasi banjir yang sepaha dan sedada itu. Mungkin kalau pun mereka mau melaporkan, bahasanya dah beda.. "Banjir tinggal sejempol kaki si udin saja.." Jempol si udin memang sebesar pisang raja..


Seharusnya disaat hujan besar seperti ini, kita tidak lupa dengan kata yang sangat fenomenal, "Nikmat mana yang kamu dustakan?". Seruput, teman?

FPI dan Permainan Catur Jokowi

FPI
Permainan Catur
Karena suami mba Anissa Pohan sudah bermarga Siregar - pasti sudah gak marah-marah lagi, karena marga Siregar dikenal ramah, santun dan tidak sombong. (yihaaaa!)

Jadi, mari kita lanjutkan analisa tentang cara membubarkan FPI. Sebenarnya kata membubarkan tidaklah tepat. Seperti media abal-abal ketika mereka di blocked, mereka cukup mengganti alamat dan terus bergerak..

Jalan yang terbaik adalah menggunakan kostitusi sebagai alatnya..
Jalur konstitusi ini dibagi dua, sebagai alat untuk menekan dan sebagai alat untuk melegalkan. Dalam kasus FPI, negara bisa membuat sebuah peraturan bahwa sebuah ormas yang tidak berdasarkan Pancasila akan dibekukan. Ini yang sedang digodok oleh Menkopolhukam.

Masalahnya, itu bisa dilakukan jika itu ormas baru atau ormas kecil. Bagaimana dengan ormas radikal yang sudah terlanjur besar?

Disinilah dibutuhkan konstitusi sebagai alat juga. Legalkan saja ormas itu - misalnya menjadi partai. Dengan begitu mereka akan tunduk pada UU yang berlaku baik struktur maupun syaratnya. Dan FPI sudah cukup memenuhi syarat ini.

Dengan menjadi partai, maka akan lebih mudah menjinakkannya. Rakyat yang akan memberikan sanksi sosial dan keributan yang terus terjadi seperti sekarang ini akan bisa diredam.
"Ah, kejauhan bang kalau FPI menjadi partai.. "

Memang. Itu hanya sebagai opsi saja. Tapi ada cara yang -bisa dibilang- sedang dikerjakan oleh aparat sekarang.

FPI ini sudah terlanjur besar. Seperti balon gas, meledakkannya sekarang tentu dampaknya akan merugikan. Jalan yang terbaik adalah menggelembungkannya sekalian...

Maka dibukalah jalan selebar-lebarnya supaya FPI semakin besar. Dengan semakin besar melebihi kapasitasnya, maka akan muncul kerusakan dalam FPI sendiri. Mereka akan menjadi pongah dan arogan.. Ini sifat dasar manusia, yang sulit sekali dikendalikan.

Ketika FPI menjadi besar dan arogan, maka akan terjadi penolakan dimana-mana. Masyarakat menerapkan sanksi sosial dengan menolaknya. Dan itu sudah terjadi sekarang di Bali, di Kalimantan, di NTT dan banyak daerah lain. Dengan penolakan di daerah-daerah, maka FPI hanya akan bisa beraksi di kota besar di Jawa saja.

Istilah kasarnya, dikandangkan..
Meski begitu, saya tidak setuju dengan cara Kapolda Jabar yang malah memanfaatkan ormas preman untuk berbenturan langsung dengan FPI. Ini cara yang tidak elegan dan akan memunculkan dampak negatif lain, yaitu ormas preman itu besar kepala dan akan menjadi FPI dalam model yang berbeda.

Yang perlu dilakukan aparat adalah membiarkan alam bekerja dan terus menjaga keseimbangan, jangan sampai terjadi bentrokan. Kalau FPI gak perlu dikontrol, cukup masyarakat yang menolaknya aja yang dijaga supaya jangan sampai terpancing adu fisik.

Dengan semakin arogannya FPI, jistru itu akan melemahkannya sendiri. Aparat -yang pasti punya mata-mata di dalam tubuh FPI sendiri- perlahan-lahan akan mengambil alih pucuk-pucuk pimpinan di dalam ormas itu sendiri.

Ketika mereka sudah menguasai FPI dari dalam, maka akan lebih mudah mengarahkannya ke hal yang lebih bermanfaat, seperti menjadi organisasi yang tanggap akan bencana alam.

Konsep "pelemahan" ini sudah terbukti dengan jinaknya PKS dan Golkar yang dulu menjadi rival berat pemerintah. Bahkan Golkar sekarang menjadi bagian dari koalisi pemerintah..

Jadi FPI tidak perlu dibubarkan, hanya konsep radikal mereka yang pelan-pelan dikempeskan. Karena ketika jadi balon kempes, mereka bisa berguna juga. Semisal menjadi tambalan ban..

Beginilah sebenarnya permainan catur itu. Harus ekstra sabar dalam melihat langkah-langkah yang dibuat.

Tidak harus selalu memakan bidak, karena bisa jadi itu hanya umpan. Tapi mengatur posisi strategis sehingga lawan sulit bergerak. Sediakan umpan-umpan supaya bisa mereka makan.

Ini sebagai catatan untuk FPI -jika mereka membaca status ini-. Jokowi semakin dipandang rendah, ia malah semakin berbahaya. Lebih baik bergabung dengannya daripada dimakannya.


Seruput dulu ah.. Kopi pagi memang nikmat sekali..

Susahnya Membubarkan FPI

Front Pembela Islam
FPI
"Bang, seberapa susah sih membubarkan FPI?". Tanya seorang teman mewakili banyak pertanyaan lainnya. Dan pasti yang nanya nadanya gemas dan geram, kok bisa negara kalah sama ormas?. "Susah banget.." Kata saya.

FPI dalam sejarahnya dibentuk tahun 1998, 4 bulan setelah Soeharto lengser. Banyak kabar yang mengatakan bahwa FPI dibentuk dan dipelihara oleh TNI dan Polri. Salah satu bocoran beritanya dari Wikileaks.

Wikileaks mengatakan bahwa FPI dulu didanai mantan Kapolri Jenderal (Pur) Sutanto. Fungsi FPI adalah sebagai "attack dog" atau bumper ketika menghadapi gejolak yang mengancam pemerintahan.
Apa yang dilakukan Sutanto ini bisa diterima akal, karena pada masa itu segala aksi TNI dan Polri dipantau ketat oleh lembaga HAM luar. Daripada selalu jadi sasaran pelintiran HAM, mending biar FPI aja yang kerja. Begitu kira-kira pemikiran para petinggi pada waktu itu.

Tapi -menurut Wikileaks lagi- Sutanto menstop aliran dana untuk FPI sesudah mereka menyerang Kedubes AS tahun 2006. Dengan stopnya dana dan dibuangnya FPI dari kalangan militer, maka FPI menjadi Ronin- istilah ninja yang tak bertuan.

Puncaknya adalah saat Jokowi menjadi Presiden dan menghapus dana bantuan sosial atau bansos kepada ormas-ormas. Makin kelaparan-lah mereka. FPI pun bergerak mencari pendanaan dari mana saja untuk membiayai organisasinya. Dari uang sumbangan sukarela, mana cukup.

Ternyata situasi FPI yang menjadi Ronin ini dimanfaatkan banyak pihak yang membutuhkan massa. Mulai dari dukungan politik sampai pengerahan aksi massa. Maka tumbuh besarlah FPI karena aksi promo-nya yang memanfaatkan nama agama.

Situasi ini terbangun belasan tahun lamanya. Ibarat kanker, mereka sudah berakar sangat kuat, apalagi banyak pihak yang membutuhkannya. FPI masalahnya bukan musuh dari luar, tetapi mereka juga rakyat Indonesia, sehingga cara penanganannya harus berbeda.

Mencabutnya dengan begitu saja, bukan membuat tubuh menjadi sehat tetapi malah menjadi sakit karena mereka dengan mudah berpindah dan mendapat dukungan banyak pihak, terutama lawan politik Jokowi.

Itulah mungkin salah satu alasan yang mendasari Jokowi mengangkat Jenderal Tito Karnavian sebagai Kapolri. Sebagai seorang pakar di bidang radikalisme dan terorisme pak Tito pasti punya resep ampuh untuk menyembuhkan negara.

FPI sekarang berada pada situasi puncak akibat berhasil menggalang massa pada aksi-aksi besar di 411 dan 212. Kalau "memukulnya" sekarang jelas salah, karena mereka akan menerapkan strategi "playing victim", strategi yang sangat mereka sukai dalam menghadapi tekanan.

Ibaratnya. FPI itu pengendara motor. Meski mereka yang salah, kalau ketabrak mobil, mereka yang ngotot minta ganti rugi. Karena dalam hukum di jalan raya, pengendara motor - jika melawan mobil - hukumnya tidak pernah salah. "Motor kan posisinya lemah, " begitu kira-kira pikiran mereka.

Dan -saya suka- dengan strategi pak Tito dalam menghadapi FPI ini. Tapi kalau saya jelaskan sekarang, ntar statusnya kepanjangan. Pasti bosen bacanya.

Jadi, mendingan sruput kopi dulu aja.. Kapan-kapan saya ceritakan ya..
"Kapan, bang?".

"Ntar kalau mba Anissa Pohan yang cantik udah ngga marah-marah".

Minggu, 15 Januari 2017

Mencari Hantu yang Bernama Komunis

Luhut Panjaitan
Tuduhan FPI
Komunis sebenarya adalah gerakan anti kapitalis.

Diperkenalkan oleh Karl Marx, ideologi ini dianut oleh negara2 besar dengan konsep yang berbeda. Dulu negara besar penganut paham komunis adalah Uni Sovyet - sekarang Rusia - dan China.

Komunis memperkenalkan konsep kesamaan ekonomi, tidak ada perbedaan ekonomi antara kelas pekerja dan pemilik tanah. Tapi dalam perjalanannya, sistem Komunis dianggap gagal karena yang terjadi adalah korupsi besar2an dari kelas menengah yang merasa tidak ada keadilan karena disamakan dgn kelas pekerja.

Entah bagaimana sejarahnya Komunis kemudian dianggap Atheis - tidak menganut agama tertentu.

Ini kemungkinan bagian propaganda pada waktu perang dingin AS dan Uni Sovyet, yang sebenarnya adalah perang Kapitalis vs Komunis. Pada intinya sih mereka sama saja, sama2 ingin menguasai sumber daya alam suatu negara.

Arah ekonomi Indonesia yang pada waktu masa Soekarno condong ke Uni Sovyet dan China dibandingkan ke AS, inilah yang menjadikan terjadinya propaganda besar2an dalam membantai jutaan rakyat Indonesia karena dituding "PKI". Soeharto jelas berada di posisi AS dan barat pada umumnya.

Dan disinilah kita sekarang, penganut ekonomi kapitalis dimana 1 persen rakyat bisa menguasai 50 persen asset di Indonesia. .

Kebangkitan ekonomi China dan gagalnya sistem ekonomi AS - karena kapitalisme memunculkan banyak kumpulan manusia serakah - membuat Jokowi mengarahkan pandangan ekonomi ke Timur, Rusia dan - terutama - China.

Ini murni pandangan ekonomi, bukan ideologi negara. Tetapi ada yang mencoba membangkitkan isu komunisme dan membandingkannya dengan Pancasila. Ini tentu tidak equil to equil - kata tetangga sebelah.

Dibangkitkannya kembali isu komunis sekarang ini adalah bagian dari perang Proxy War di Indonesia. Isu komunis disatukan dengan isu tenaga kerja cina dan investasi negara China yang besar di negara ini.

Dan siapa yang mencoba mengambil peran disini ?

Tentu mereka yang selalu mengklaim sebagai "umat Islam" sehingga dibuatlah sebuah konsep "Islam vs Komunis yang atheis". Dan peluang ini didukung oleh "keluarga lama" yang ingin kembali berkuasa di negeri ini karena mereka dulu merasa sudah berhasil menyingkirkan PKI.

Sasaran tembaknya tentu Jokowi...

Hantu komunis kembali dicari-cari dengan melupakan monster radikalis yang nyata seperti ISIS dan teroris2 berbaju agama seperti Al-qaeda dan BokoBoko Haram. Mereka ingin mengalihkan fokus pemerintah yang sedang berjuang memerangi terorisme global yang sudah memecah diri menjadi sel-sel lokal.

Karena itulah, sejak beredarnya media obor rakyat pasca Pilpres dan sekarang ada Jokowi undercover, Presiden - dan beberapa jajarannya - terus diserang isu bahwa ia Komunis.

Saya jadi teringat isu Syiah yang menyerang beberapa ulama. Polanya mirip..

Namanya juga hantu, komunis sekarang ini sudah gak jelas bentuknya. Rusia dan China sekarang juga sudah menganut konsep perpaduan antara Sosialis dan Kapitalis. Kalau disebut Rusia dan China tidak beragama juga sangat kurang piknik. Putin beragama Katolik Ortodoks sedangkan perkembangan Islam di China juga sangat pesat.

Lalu komunis mana sebenarnya yang ingin mereka sasar ?

Mungkin Koh Munis, orang Cina Madura tetangga saya yang jualan sate kambing peking yang dimaksud. Nama aslinya Nis Munis Karunis Tak Iye..


Bo abooo... Seruput sek, cak...

Sabtu, 14 Januari 2017

Debat Kurang Ngopi

Pemilukada
Debat Cagub dan Cawagub DKI Jakarat
Ternyata banyak yang menunggu saya mengulas tentang debat Cagub semalam. Kebetulan saya ga nonton. Dan sesudah nonton youtube, saya malah berfikir, "Sial, ngapain gua nonton ya?".

Tidak ada sesuatu yang baru disana. Sudah kita bahas banyak dalam tulisan. Dan memang lebih lucu membahas program-program yang diluncurkan sebelum debat.

Ada yang ingin menghilangkan mobil seharga 3 miliar dari jalan, ada yang berkata bahwa semua permbangunan Jakarta itu adalah kerja Foke dan ada yang kerjaannya bagi-bagi duit melulu seakan-akan tidak ada lagi program selain duit duit dan duit.

Saya ga tahan aja ngeliat Ahok harus membantai kedua pasangan lawannya dengan argumen-argumen cerdas karena memang hanya ia dan Jarot yang menguasai akar masalahnya. Mereka berdua sama-sama pernah di birokrat, sehingga tahu dari A sampai Z bagaimana menata wilayah.

Ahok dan Jarot seperti mengajari kedua pasangan lain, bagaimana seharusnya birokrat itu bekerja. Birokrat itu bukan sekedar pengumbar janji dengan ide-ide yang sama sekali tidak sesuai fungsi. Birokrat itu pekerjaan teknis bukan sekedar politis.

Agus masih agak terbantu dengan adanya Sylvi, meski Sylvi juga ternyata jawaban-jawabannya ambyar karena -mungkin- dulu ia saat jadi birokrat lebih banyak bermain di sisi politis daripada menguasai teknis.

Sedangkan Anies dan Sandi jauh lebih parah, karena mereka seperti tinggal di menara gading, ketinggian untuk di gapai. Istilah kasarnya, mereka terlalu priyayi.
Jadi, kalau warga Jakarta masih pada waras, seharusnya sudah tahu siapa yang layak membenahi kota mereka.

Kan anda tidak mencari pimpinan yang kalau ada masalah terus moshing -menjatuhkan diri ke kerumunan- mendadak? Sikap itu saja sudah menunjukkan, kalau nanti ada masalah ya tinggal mencari simpati aja, beres perkara.

Lagian Agus terlihat banget dikuasai oleh keluarga. Sikap proteksi berlebihan bu Ani menunjukkan Agus belum mampu mandiri lepas dari tekanan orangtua. Ketika Agus memimpin Jakarta, sesungguhnya bu Ani lah Gubernurnya. Dan mulailah terbayang masa 10 tahun ketika beliau menjadi "Presiden" Indonesia..

Ditambah sikap istri yang tidak dewasa yang tidak kuat menghadapi bully-an di media sosial. Duh, mba Anissa bagaimana seandainya anda menjadi istri seorang Jokowi dan Ahok yang kerap dihujani fitnah?

Kelebihan Agus ketika ia nanti memimpin Jakarta pasti tenang. Ya tenang, karena semua dapat bagian mulai dari ormas Islam sampai anggota dewan. Biaya supaya tenang itu ia bebankan lagi ke warganya.

Sedangkan Anies adalah seorang motivator. Kalau warga Jakarta susah, motivasi aja biar mereka kenyang dengan kata-kata harapan, "Yang kuat, ya sayang.. ".
Saya yakin, yang menonton acara itu sesungguhnya juga sedang mencari acara hiburan. Daripada nonton sinetron yang ga habis-habis serinya, mending nonton drama bertemakan pilkada.

Acaranya kurang ganas, ga ada yang emosional, "bocorrr.. bocorrr.." seperti pilpres waktu itu. Debat kemarin kayak perlombaan deklamasi. Puitis tanpa isi. Tidak ada separuh menonton, saya matikan Youtube dan mulai minum kopi.

Kringgg.. seorang teman menelpon.

"Den, Alexis itu apa?". Lalu saya menerangkan dengan detail sampai ke sudut2 yang tidak banyak terjamah. 

Jumat, 13 Januari 2017

Suatu Hari di Bumi DATAR

Ekstrimis
Bumi Datar
Pagi ini saya mampir ke bumi datar. Lelah dengan bumi bulat yang terlalu adem dan sempurna, bumi datar ternyata menyimpan sejuta peristiwa.

Disana semua lelakinya memakai daster tanpa celana. Mereka suka berteriak tanpa ada makna. Disana sudah menjadi budaya, semakin bodoh seseorang ia akan semakin dipuja. Yang paling bodoh di antara mereka dinobatkan menjadi ulama. Sungguh berbeda dengan bumi bulat tempat ilmu menjadi pegangan utama.

Mereka disana seperti drakula, takut sekali dengan salib. Warganya hampir semua paranoid. Jangan dicolek, karena mereka semua sensitip. Mungkin karena disana lelaki pun mendapat haid.

Bumi datar sungguh menarik. Agamanya perasaan, bukan sesuatu yang lojik. Karena logika buat mereka adalah iblis yang licik. Ngotot dulu, kalau salah tinggal sembunyi di balik bilik.

Yang wanita lebih menggila. Bawa panci aja, bisa meledak kemana-mana. Kalau ada berita, mereka sebar secepat cahaya. Tubuhnya terbungkus rapat, tapi mulutnya selalu terbuka. Kalau gak mencaci ya fitnah.

Bagi mereka fitnah adalah kebenaran dan kebenaran dianggap fitnah..
Di bumi datar ternyata ada juga mahasiswa. Uniknya, disana mahasiswa juga dagang sayuran. Mereka lebih sensitip harga cabe naik daripada fokus menjadi ilmuwan. Mereka bahkan tidak bisa membedakan mana pajak dan mana biaya perpanjangan.

Saya senang disana, semua jadi seperti hiburan...
Ada yang teriak mati syahid, tapi keluar pesawat aja pake kencing di celana. Ada yang di dunia maya galaknya seperti singa, disamperin langsung berubah jadi unta tak berdaya. Ada yang dikit-dikit lapor kayak anak manja.


Kalau ditanya, jawabnya selalu "Fitsa Hats, Fitsa Hats.." Saya gak ngerti, mungkin itu sejenis mantra. Atau karena giginya sudah gak ada, sehingga yang keluar dari bibirnya udara semua.


Ada beberapa orang yang saya tahu berasal dari planet abrakadabra. Mereka datang ke bumi datar karena ingin belajar. Sampai disana, mereka malah didaulat jadi pengajar. Ah, macam mana...

Sungguh awalnya saya ingin tinggal disana..
Tapi akhirnya tidak jadi karena saya ngeri. Disana minum kopi bukan seruput seperti biasanya. Tapi diminum secangkir-cangkirnya...

Ah, ternyata lebih enak di bumi bulat. Di tempatku semua normal dan apa adanya. Berbeda malah menjadi sesuatu yang indah. Tuhan kami sama, hanya cara menyembahnya saja dengan banyak cara. Itulah bukti bahwa Tuhan itu Maha Kuasa..

Tapi perlu sekali-kali mampir ke bumi datar. Supaya kita paham, bahwa menjadi waras disana adalah kegilaan yang sebenarnya...

Seruputt...