Rabu, 24 Agustus 2016

Engkau Lelaki, Kelak Sendiri

Kehidupan
Kehidupan
"Tidak mudah menyadari bahwa hidup ini hanyalah perjalanan, disaat begitu banyak angka mengepung dari segala penjuru mata.

Tidak mudah menyadari bahwa tubuh ini hanyalah kendaraan dan jiwa itulah sesungguhnya pengendaranya. Kita sibuk menghiasi kendaraan tapi jarang menghiasi jiwa kita sendiri.

Putus asa, rendah diri, cemas berlebihan, ketakutan adalah pertanda ketidak-matangan jiwa. Kita menjadi tidak stabil dalam emosi. Tubuh menjadi cepat lelah dan berbagai penyakit datang menerpa.

Terlalu mencintai sesuatu berlebihan, angan-angan panjang, ketidak-siapan kehilangan, mengukur diri dari pandangan orang lain dan mengukur orang lain dari sudut pandang yang salah, sebenarnya itu cara efektif menyiksa diri sendiri.

Beban di punggung terlalu berat sehingga wajah kita tampak jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya.
Anak dan pasangan dijadikan harta sehingga takut akan cobaan yang datang dari mereka. Takut akan hidup sendiri itu merampas kebahagiaan yang seharusnya menjadi hiasan terindah jiwa. Masalah datang karena selalu diundang dan solusi tidak pernah dicari karena sibuk menyembunyikan diri dari pandangan orang.

Betapa hidup itu menjadi susah dan jauh dari keindahan.

Jadikan dirimu berfungsi kepada manusia lain daripada sibuk mengasihani diri sendiri. Pahami kunci-kunci hidup dan mati sehingga mengerti bahwa setiap peristiwa pasti ada pesan yang terkandung di dalamnya.

Kamu jauh lebih berharga dari siapapun juga, nak".

Entah kenapa ketika aku mulai me-refleksikan diriku sendiri, nasihat ayahku selalu terngiang di telinga. Tiba-tiba aku tersenyum mengingat bentuk kuburnya. Ia pasti sedang sibuk dalam perjalanan keduanya.

Secangkir kopi pagi, ditemani sebuah lagu abadi dari penyanyi yang kukagumi.
"Duduk sini, nak.. dekat pada bapak.

Jangan kau ganggu ibumu..
Turunlah lekas dari pangkuannya..
Engkau lelaki, kelak sendiri"