Selasa, 23 Agustus 2016

PERTARUNGAN PARA BIDAK

Pertarungan Politk


Tidak mudah mengambil keputusan yang tidak populer. Pemberhentian Menteri ESDM Archandra Tahar yang masalah kewarga-negaraannya menjadi polemik, harus dilakukan. Kesalahan para staf dalam melakukan analisa administrasi adalah sebuah tonjokan untuk Jokowi. Sebagai seorang Presiden, ia tentu tidak mungkin terlibat dalam hal teknis. Semua ada bidangnya sendiri. Tapi tanggung jawab tetap berada ke pundaknya.

Saya yakin, langkah Jokowi berat ketika harus mengambil keputusan ini.

Berat karena ia harus merelakan orang yang dianggapnya terbaik di bidangnya untuk pergi. Berat karena -mau tidak mau- ia harus membuka kesalahan di dalam internalnya sendiri. Dan berat karena ia harus kembali mencari orang yang sepintar Archandra dalam menguliti berkas pembangunan blok masela di darat ( onshore ) yang sempat disampaikannya, "InsyaAllah nilai investasinya turun.."

Turunnya nilai investasi yang bisa mencapai 50 persen itu, pasti membuat "para pencari fee" yang sudah H2C , karena akan dapat keuntungan besar dari nilai proyek yang dilambungkan, jadi marah besar. Dan mundurnya Archandra akan sangat berdampak pada keputusan Jokowi selanjutnya.

Tapi Jokowi tetap melangkah berhadapan dengan awak kamera dan keputusannya akan disiarkan ke seluruh dunia. Keputusan yang tidak populer baginya dan akan menjadikan dirinya sasaran kemarahan banyak pihak sebagai seorang Presiden yang tidak teliti. Serangan kali ini terlalu tangguh untuknya.

Keputusan memberhentikan Menteri ESDM yang baru menjabat 20 hari, adalah keputusan yang berat tetapi tepat, karena ketika pengangkatannya sudah cacat hukum, maka keputusan menteri selanjutnya akan terus diserang, bahkan bisa saja pemerintah akan digugat ke pengadilan.

Keputusan Jokowi mengangkat Luhut sebagai pejabat sementara juga bukan karena kedekatannya, tetapi karena Luhut adalah Menko Maritim yang meng-koordinasikan beberapa menteri termasuk Menteri ESDM.

Saya membayangkan apa yang terjadi di 'balik layar" sebelum akhirnya Jokowi memutuskan bahwa ia harus memutuskan Archandra berhenti.

Mungkin adegan yang tepat menggambarkannya ada dalam adegan film Hollywood The Sum Of All Fears, yang dibintangi oleh Ben Affleck.
Dalam film itu, dikisahkan Rusia mengalami dilema karena mereka sedang di adu domba dengan AS untuk perang nuklir. Dan ketegangan semakin nyata, ketika beberapa pejabat Rusia yang dibeli oleh pihak pengadu domba, melakukan serangkaian serangan ke AS mengatas-namakan pemerintah Rusia.
Sesudah "diserang" oleh Rusia, Presiden AS lalu menyiapkan pasukan untuk membalas dendam. Dan melihat gelagat itu, Rusia pun menyiapkan pasukannya pula.

Presiden Rusia Nemerov, dibisiki oleh penasihat kepercayaannya, "Kenapa tidak kau bilang saja bahwa serangan itu bukan serangan resmi Rusia?" Presiden Nemerov di dalam lift berkata, "Sebelum kita tahu siapa di balik semua ini, maka jalan yang terbaik adalah menghadapi ancaman AS, atau kita dianggap lemah oleh mereka... " Dengan geram Presiden Nemerov berkata, "I can't stop what i did not start.."

Presiden Jokowi tidak bisa menghentikan apa yang tidak dimulai olehnya. Ia hanya bisa menyelesaikannya secepat dan sebaik mungkin.


Seruput kopi dulu, pakde... Ada saatnya seorang menteri harus dikorbankan. Jika tidak, raja bisa terancam....