Selasa, 23 Agustus 2016

POLITIK ITU SEPERTI STENSILAN, SUKA BIKIN TEGANG

#Politik

Kemungkinan besar pilkada DKI sudah usai sebelum waktunya. Kabar merapatnya PDIP ke Ahok semakin santer dan ketika itu resmi terjadi bisa dibilang Ahok seng ada lawan. Dengan dukungan massa yang kuat ditambah usungan partai yang solid, siapapun akan gentar untuk memajukan lawan tandingnya.

Situasi yang paling menarik sebenarnya bukan disana, tapi bagaimana "perang balik layar" terjadi.
Analisa bahwa PDIP memainkan kartu di akhir bahwa mereka akan mengusung Ahok memang betul, tetapi sejatinya itu bukan karena kepiawaian PDIP memainkan kartunya, tetapi lebih karena kehandalan Jokowi memainkan bidak caturnya.

Ada "sandera" yang dimainkan Jokowi supaya PDIP mau mengusung Ahok, yaitu ketetapan Budi Gunawan sebagai kepala BIN menggantikan Sutiyoso.

Permainan sandera ini membuat PDIP maju mundur sehingga akhirnya PDIP harus berhitung bahwa mendukung Ahok lebih banyak keuntungannya daripada kerugiannya. Dan meski sedang proses formalitas, posisi BIN sudah pasti akan diduduki BG meski semua tergantung Jokowi sebagai Presiden untuk mengesahkannya. "Resmikan dulu usung Ahok, baru gua sahkan BG.." Begitu kira2 bahasa tubuh Jokowi.

Pertanyaannya, kenapa Jokowi begitu butuh Ahok? 
Apakah karena pertemanan yang begitu akrab diantara mereka?

Pertemanan bisa jadi salah satu faktor. Tapi faktor yang paling penting dari semua itu adalah kemampuan Ahok memainkan jurus-jurus kungfu supaya banyak perhatian tersedot kepadanya.

Dengan kemampuan Ahok memainkan kungfunya, maka Jokowi bisa dengan tenang dan senyap bekerja tanpa ada serangan berarti yang mengarah kepadanya. Dan ketika kabut keributan tentang Ahok sudah menipis, maka Jokowi tiba-tiba muncul dengan keberhasilan program-program yang sudah selesai dikerjakannya.

Duo ini memang menarik dengan karakter yang sangat berbeda dan mampu memainkan irama tanpa pernah keluar dari nada-nada yang disepakati. Yang satu keras dan frontal dan satunya dingin dalam mengeksekusi tanpa pernah terasakan. Mereka memahami karakternya masing-masing dan saling mengisi panggung tanpa pernah berusaha menguasai.

Jadi, meskipun bisa dibilang Pilkada DKI ini antiklimaks karena kurang seru lagi seperti waktu penjaringan awal, inilah yang terbaik untuk semua.

Dan Sandiaga Uno pun semakin kencang merapat ke sudut metromini yang sudah bersih dan tak ada kernet maupun penumpang. "Apakah aku akan dicampakkan lagi karena tidak pantas jadi penantang? Tuhan, beri aku jalan".
Semakin panik bapak kita Prabowo pun berteriak, "Yang tidak mendukung Sandiaga Uno adalah antek asing !!"
Sandiaga Uno makin tegang. "Sudah pak.. sudah.. jangan ditambah2in, makin malu saya nanti... Pleaseee..."
Tidak tahan, ia langsung loncat keluar dari metromini dan lari ke jalan. " Udahhh, gua ga mau ikutan lagiii.. gua ga tahannn.. gua mau jadi pengusaha ajaa.. orang politik itu gila semuaaa.. gilaaa.. !!" *jambak-jambak rambut*
Ah, ada secangkir kopi sore ini. Seruputttt...