Selasa, 23 Agustus 2016

SELAMAT UNTUK EMASNYA OWI dan BUTET

Tags

Bukutangkis

Dear Owi dan Butet...
Kudengar kalian mempersembahkan medali emas pertama untuk Indonesia dari cabang bulutangkis ya.
Selamat untuk kalian. Sebuah pencapaian tertinggi kalian berikan pada negara ini disaat negeri ini sedang merayakan hari ulang tahunnya yang ke 71. Terimakasih yang tak terhingga dari kami anak negeri yang masih belum bisa berbuat apa-apa.

Teruslah berkarya sampai negara lain melirik kalian, Owi dan Butet..

Sesudah negara lain melihat bahwa kalian hebat, mereka akan memberikan permanent residence, lalu memberikan paspor supaya kalian betah disana. Sesudah itu mungkin kalian akan habis dihujat sana sini dan tidak diakui sebagai pahlawan lagi. Mungkin kalian hanya akan menjadi bagian cerita sebagai peraih emas yang tercepat masa karirnya yang tercatat dalam sejarah di wikipedia.

Teruslah berkarya sampai kalian nanti ditawari menjadi bagian dari mesin politik, Owi dan Butet...
Sesudah itu kalian akan bingung mencari posisi berada di barisan mana karena Indonesia ini barisannya sedang terbagi dua, nyinyir selalu dan selalu nyinyir.

Ketika masa itu datang, tolong jangan pernah bersumpah untuk potong titit, iris kuping bahkan sampai terjun dari monas. Karena politisi itu hanya hebat di gertak, titit dan kupingnya masih tetap pada tempatnya. Apalagi terjun dari monas cuman PHP doang.

Tolong tetap hormati pemimpin yang sudah terpilih meskipun engkau tidak menyukai. Jangan malah membanggakan Turki dan Saudi tapi tetap cari makan di negeri ini. Jelek negeri ini adalah jeleknya kita, begitu pula cantiknya.
Yang terakhir, ketika kalian sampai di Indonesia nanti, jangan mau kedatangan kalian disambut dengan doa oleh Muhammad Syafii dari Gerindra. Karena ia masih bingung memilah mana doa dan mana kritik politik. Ia akan memanfaatkan momen kedatangan kalian untuk meminta kepada Tuhan supaya kalian menjadi atlet sekaligus oposisi.
Senangnya kami melihat kalian, wahai Owi dan Butet, yang berusaha keras untuk mendapat emas. Tidak hanya menangis di depan kamera dan berdoa pasrah semoga Tuhan menurunkan medali dari langit... Habis itu nari2 sambil makan sosis.

Ajarkan pada kami konsistensi dalam mencapai profesionalitas. Selama ini kami bingung pada orang2 yang terlihat bisa segalanya. Ada ahli hukum yang tiba2 jago bicara sejarah, ada ahli tata negara yang sibuk mencari celah. Semua tampil di tv dengan label pengamat. Yang penting transferan honor jangan sampai telat.

Selamat ya, Owi dan Butet...
Ada pepatah mengatakan, "Disini gunung disana gunung, ditengah2 pohon kelapa. Jangan suka membuat mayoritas tersinggung, nanti mereka bisa tiba2 membakar vihara.."
Seruputttt...