Selasa, 23 Agustus 2016

UJIAN DI DALAM PUJIAN

Bahaya Pujian


Sebuah komen muncul, "Itu aib mas". Pendek tapi langsung mempengaruhi betul batin dan memenuhi pikiran. Ingin sebetulnya menghapus gambar yang tidak layak itu, tapi panggilan untuk masuk pesawat sudah berkumandang.

Alhasil selama 2 jam di atas awan, perasaanku teraduk-aduk. Sampai pada satu titik aku berdoa, "Tuhan, ijinkanlah aku mendarat dengan selamat, karena aku tidak ingin mati dalam keadaan meninggalkan aib untuk diriku sendiri".

Alhamdulillah, Puji Tuhan, aku mendarat dengan selamat. Langsung ku delete apa yang seharusnya sejak tadi terhapuskan. Aku terduduk di lorong bandara yang semakin malam semakin sepi. Kugeser diriku ke tempat smoking area yang kecil dan kosong, kunyalakan rokok sebatang, saatnya aku me-refleksi apa yang kulakukan.

Teringat seseorang pernah menyapaku di inboxnya, "Mas, bisa tolong angkat lagi status tentang manusia ber-angka? Aku butuh untuk nasehatku.." Status manusia ber-angka itu adalah sebuah refleksi diri tentang bagaimana menjadi manusia yang bernilai dan bukan manusia ber-angka.

Dan secara tidak sadar, secara perlahan aku berubah menjadi manusia ber-angka. Aku melihat banyaknya jempol, aku melihat statistik komen, aku meneliti seberapa banyak shares dan mengamati pergerakan kenaikan jumlah follower.
Aku memaksakan diriku mengikuti arus selera pasar. Bukan lagi mengkritik diriku sendiri -seperti apa yang selama ini kutuang- tapi lebih banyak mencoba menarik banyak minat. Secara tidak sadar, Tuhan pergi dari dalam secangkir kopiku.
Aku terbalut dalam statistik pujian. Dalam kesendirian, aku mendapatkan pelajaran berharga bahwa pujian itu sungguh berbahaya. Pujian... ketika kusingkirkan huruf "p" di depannya maka tampaklah kata "ujian". Dan aku sedang mengamati apa yang terjadi pada diriku sekarang ini.

Kumatikan rokok, kuangkat ranselku. Saatnya mencari secangkir kopi. Semakin malam, kulihat lorong di dalam bandara semakin sepi.

"Tidaklah layak bagi seorang yang berakal untuk menuntut ketaatan orang lain (terhadapnya), sedangkan ketaatannya terhadap dirinya sendiri ditolak", Imam Ali as.