Jumat, 02 September 2016

Aher.. Aher.. Dimana-mana

Gubernur Jawa Barat
Aher
Serasa mata kita melihat dimana-mana ada wajah Aher, Ahmad Heryawan, Gubernur Jabar. Ia ada di baliho-baliho, di spanduk-spanduk, di billboard, dimana-mana, di seluruh wilayah Indonesia. Saya bertanya -dalam hati, "Apakah Pilpres dimajukan jadwalnya?".

Ternyata tidak. Itu baliho PON 2016. Pekan olahraga yang menggunakan dana negara 2,3 triliun rupiah, diadakan di Jawa barat, provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak se Indonesia.

Miskin? Ah, itu salah mereka karena tidak mau bekerja. Tidak mau berdoa dengan keras kepada Tuhan supaya dimudahkan rizkinya. Dan itu bukan tanggung jawab Aher. Ia hanya sebagai Gubernur saja, bukan Tuhan yang tugasnya menolong umat manusia.

Aher benar dengan terus menerus menampilkan wajahnya di baliho, bukankah ini kesempatan baik?Mumpung ada dana negara yang bisa dimanfaatkan untuk pameran selfie terbanyak se-Indonesia. Jarang ada momen sebagus ini. Dan yang protes pasti orang syirik karena ia tidak punya kesempatan menjadi pejabat saja.

Tidak penting meningkatkan kualitas hidup manusia di Jabar, biarkan mereka membangun wc umum sendiri di tempatnya. Yang berak mereka, kok disalahkan Gubernurnya? Toh ketika mereka meningkat kualitas hidupnya, apakah Gubernurnya mendapat pujian? Belum tentu... Bisa-bisa seperti Gubernur Jakarta yang dicaci maki melulu.

Okelah kalau dibilang tidak punya gebrakan, tapi toh foto diri ada dimana-mana. Itu lebih bagus daripada diserang DPRD Jabar dan para LSM juga Ormas bayaran. Sekarang situasi Jabar sudah tenang, semua duduk manis, sudah dapat bagian. Ketenangan daerah adalah ukuran kesuksesan memimpin, kan?

Proyek Mercusuar itu penting. Nilai proyeknya harus heboh supaya kabar cepat tersiar dan nama terus berkibar. Sesudah PON, masih ada lagi pembangunan masjid 1 triliun menanti.

Masjid akan dibangun seluas mungkin, semegah mungkin, supaya umat Islam punya kebanggaan. Apalagi yang bisa dibanggakan umat Islam di Jabar saat ini kecuali masjid itu nanti? Prestasi tidak ada, kecuali jenggot dan daster putih berkeliaran dimana-mana. Biarlah mereka tenang nanti disana, mengaji dan mengaji saja. Supaya Tuhan mau hadir dan membereskan banjir juga sampah-sampah yang menumpuk di kali dalam sekejap mata.

Yang penting wajah Aher dimana-mana, bahkan fotonya kebih besar dari maskot PON-nya. Ini penting, supaya se-Indonesia tahu Jabar itu siapa sih Gubernurnya?

Apalagi tahun 2018 berakhir masa jabatan. Jadi Gubernur sudah tidak mungkin lagi karena sudah 2 kali. Nah, siapa tahu PKS punya ide cemerlang untuk mencalonkan jadi Presiden? Ah, jadi Wapres juga tidak apa-apa, yang penting ada di pemerintahan. Gak seperti sekarang, cuman jadi oposisi, sakitnya tuh disini... (nunjuk dompet yang isinya Pattimura membawa pedang)

Setuju kan, pak Dedi sang Wagub yang setia? Ah, mulai menangis lagi.. seakan menangis adalah job desk di dalam kerja. Kalau pak Jokowi slogannya, "Kerja, kerja, kerja..", pak Dedi mungkin, "Nangis, nangis, nangis.."

Asu dahlah... Setidaknya kita tahu sipa Gubernur Jabar dari foto dirinya dimana-mana. Ia bukan Ahok yang mampu memanfaatkan media sosial untuk menaikkan namanya dengan gebrakan-gebrakan kontroversialnya. Ia bukan juga bu Sri Mulyani yang harus dipaksa untuk pulang karena profesionalitasnya dibutuhkan negaranya. Apalagi ia bukan bu Susi yang tingkat pendidikannya SMP, tapi namanya mendunia.

Beliau hanyalah seorang Aher, yang ingin terkenal tidak hanya di Jabar tapi setidaknya wilayah Riau mengenal namanya.

Biarkanlah.. Namanya juga orang usaha. Kita cukup memandangnya, menyeruput kopi dan berdecak kagum menghitung berapa komisi yang akan didapatnya...
Seruputttt.. (sambil menggeleng-gelengkan kepala)