Kamis, 15 September 2016

Ketika Nikmat Akal Pun Hilang

Akal
Akal
"Mengasihani diri sendiri, berusaha membuat orang lain kasihan pada dirinya, adalah ciri-ciri manusia yang sebenarnya patut dikasihani.

Tanpa disadari inilah mutasi dari sifat egois yang menarik seseorang pada keterpurukan yang lebih dalam.

Seperti seekor keong, ia selalu bersembunyi dalam cangkang ketika ada masalah. Ia tidak sanggup menghadapinya, terlalu malu akan kondisi dirinya yang menuntut untuk diukur lebih oleh orang lain.

Ia menjadi orang yang tidak bertanggung-jawab terhadap apa yang pernah ia lakukan. Melempar kesalahan pada situasi dan orang lain, adalah hal terbaik yang ia bisa lakukan. Alasan demi alasan ia bangun sebagai benteng pertahanan untuk dirinya.

Adakah model yang lebih patut dikasihani dari model manusia seperti itu ?"

Temanku bercerita panjang lebar.

Bukan, ia sebenarnya bukan bercerita tentang seseorang. Ia mengoreksi dirinya sendiri yang pernah menjadi seperti itu. Akalnya bekerja terus untuk memahami siapa sebenarnya dia dan untuk apa ia ada di dunia.

"Pada akhirnya, masalah bukannya selesai tetapi semakin membelit dan menutup jalan keluar. Angan-angannya panjang. Ia menanti sesuatu yang sebenarnya tidak kunjung datang. Ah, kalau rejeki besar ini kudapatkan, selesai semua masalah.

Pemikiran instan.. Satu tembok alasan lagi terbangun di sekelilingnya. Semakin sulit ia keluar dari cangkang berfikirnya.

Ia semakin tidak paham, bahwa solusi dari sebuah masalah adalah hadapi, bukannya malah lari sembunyi. Semua harus melewati proses. Dan proses demi proses itulah yang sebenarnya membuat manusia menjadi lebih pintar.

Semua orang pernah mengalami kebodohan. Tetapi orang yang lebih bodoh adalah mereka yang tidak pernah menyadari kebodohannya.. "

Secangkir kopi di seruputnya tandas. Sungguh beruntung dia, kataku dalam hati, Tuhan sudah membuka cara pandangnya. Tidak semua orang bisa mendapatkan kenikmatan seperti itu. Tidak semua orang.

Kunikmati kopiku yang tersisa. Cuaca mendung, sebentar lagi turun hujan...


"Ketika Allah hendak menghilangkan nikmat dari seorang hamba-Nya, yang pertama kali dihilangkan adalah nikmat akalnya.." Imam Ali as