Senin, 05 September 2016

Mengenal Kristen dari Seorang Kristiani

Cahaya Tuhan
Seorang bijak berkata, "bertanyalah rumus matematika kepada guru matematika, bukan kepada guru biologi.."

Sudah terlalu biasa kita menghakimi seseorang dari sudut pandang kita, bukan dari sudut pandang mereka yang kita hakimi. Menghakimi saja sudah salah, apalagi menghakimi dari sudut pandang yang salah.

Saya pernah bertanya kepada seorang teman nasrani, "Kenapa di Kristen menyebut Yesus sebagai "anak" Allah? Bukankah Allah tidak beranak?".

Ahlaknya yang tinggi membuat ia tersenyum menatapku dan membalikkan dengan pertanyaan yang membuatku terhenyak, "Lalu kenapa umat muslim berkata bahwa Muhammad adalah "kekasih" Allah? Apakah Allah itu wanita?".

Barulah saya sadar bahwa di dalam konsep pengagungan, ada bahasa pendekatan yang disesuaikan dengan sudut pandang masing-masing pihak. Tidak ada yang salah, hanya ketidak-pahaman yang selalu diperbesar karena merasa tinggi satu dan lainnya.

Mengenal Kristen memang sebaiknya dari seorang Kristiani, yaitu orang-orang yang mengenal agamanya dengan paham bukan orang yang sekedar meriwayatkan.

Mengenal juga bukan berarti kemudian beriman, tetapi supaya kita semakin sayang dan mengerti bahwa Tuhan menciptakan manusia itu berbeda supaya kita saling belajar.

"Duduklah bersama orang-orang bijak, baik mereka itu musuh atau kawan. Sebab, akal bertemu dengan akal." Imam Ali as.

Saatnya seruput kopi siang sambil merenungi nasib karena si ATM yang tertelan...