Kamis, 08 September 2016

PEMAKAN BANGKAI

Kesalahan
AIB
Membuka fesbuk pagi ini, saya melihat banyak status yang beredar tentang sang motivator nasional yang sedang dibongkar aibnya karena tidak mau mengakui anak kandungnya sendiri.

Menarik melihat reaksi para pembuat status yang melampiaskan kekecewaannya dengan kata-kata, "Munafik!". Mereka menuding sang motivator yang dianggap tidak sesuai antara kata motivasi dan perbuatan.

Bahkan seorang teman mengirim pesan, "Ada berita panas tuh.." yang mengarah pada peristiwa itu.
Saya juga kurang sreg terhadap sang motivator, karena ia seperti kehabisan bahan dalam acaranya. Ia lebih banyak bicara tentang cinta dengan lebay -menurut saya- daripada berbicara tentang kiat-kiat menarik seperti ketika awal menjadi pembicara dahulu.

Tapi hal itu tidak lantas membuat saya bergembira diatas masalahnya. Saya paham itu aib baginya -jika memang seperti apa yang dikatakan oleh anak itu. Dan saya yakin, semua dari kita pasti mempunyai aib yang hendak kita tutup serapat mungkin karena itu sama saja berjalan di depan umum dengan tubuh telanjang.

Kesalahan banyak orang dalam melihat status saya adalah mengira saya selalu berbicara subyek atau orang dalam fisiknya. Padahal saya lebih senang berbicara tentang "pola pikir" seseorang dan membedahnya untuk mendapatkan pelajaran dari sudut pandang yang berbeda, bukan orangnya.

Jad ketika saya berbicara tentang aib, sungguh saya tidak mendapat pelajaran apapun di dalamnya. Karena "munafik" sejatinya adalah sifat dasar manusia dalam hal sekecil apapun. Yang membedakan adalah bobot kemunafikan dan seberapa terkenal figurnya.

Mungkin sikap saya akan berbeda ketika yang menutupi aib itu seorang pemuka agama yang selalu berbicara seolah-olah dirinya paling suci di dunia. Tetapi seorang motivator tidak berbicara tentang hukum agama. Ia berbicara tentang ilmu dunia, pengetahuan yang didapat dari pengalaman profesinya.

Jadi ketika ada aib yang terbuka atas namanya, saya tidak ingin menjadi hakim dalam kehidupan pribadinya. Buat saya, masalah pribadi tidak selayaknya diumbar ke publik begitu rupa apalagi kita kemudian mencacinya seolah kita lebih benar dari dia dalam kehidupan pribadi kita.

Di dunia media, seperti televisi, tentu mereka mengejar rating pemirsa. Dan untuk itu, mereka dengan lahap akan mengejar dan memakan "bangkai-bangkai" untuk kepentingan komersial mereka. Mereka tahu, bahwa banyak pemirsanya juga yang suka memakan bangkai yang mereka sajikan. Ada hukum supply and demand.

Tidak temanku, itu bukan gayaku..

Cukuplah kasus Sandiaga Uno menjadi pembelajaranku. Bahwa ada hal-hal yang bisa kita bicarakan dengan semangat -terutama strategi kampanyenya yang agak-agak basi gitu- dan ada hal yang tidak, semisal ketidak-tahuannya menutup aib yang tidak sengaja terbuka.

Semua ada batasnya.

Seperti secangkir kopi yang bisa kita seruput sesuai batas wadah yang mampu kita terima, bukan dengan kalap kita menenggaknya.

Saya menolak menjadi pemakan bangkai atas aib yang seharusnya menjadi masalah pribadi seseorang.


"Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya..." (QS 49:12)