Jumat, 02 September 2016

Pengerek Bendera Pusaka

Pancoran
Pak Ilyas Karim
Sempat saya trenyuh melihat foto seorang veteran tua, bernama pak Ilyas Karim, duduk lemas di samping tembok.

Rumahnya di Rawajati Pancoran, dibongkar Ahok karena dibangun diatas lahan hijau. Dan seperti biasa, banyak teman-teman saya yang ikut larut dengan kesedihan sang veteran dengan pekikan-pekikan di status mereka, "Ahok zolim..!" "Ahok menggusur pribumi !" dan mereka seakan-akan duduk bersama veteran tua itu, ikut nelangsa bersama.

Entah kenapa tidak ada pekikan dari Fadli Zon, yang suka aktif bersuara. Saya tahu kenapa... karena FZ juga yang pada tahun 2011 membongkar kebohongan pak Ilyas Karim bahwa beliau bukanlah pengibar bendera pusaka pada awal kemerdekaan.

"Saya punya buktinya. Buku-buku sejarah yang saya miliki mengungkap, pria bercelana pendek (yang mengibarkan bendera pusaka) itu bernama Suhud," kata Fadli.

"Ilyas Karim tidak pernah tercatat dalam sejarah kemerdekaan, saya tidak tahu siapa dia.." Kata FZ lagi. "Tapi setidaknya jangan mengaku-ngaku, karena pengibar bendera pusaka itu bernama Suhud, anggota barisan Pelopor".

Itu FZ berbicara pada tahun 2011 lalu di Kompas online, tapi entah sekarang ketika ia punya kepentingan untuk selalu kontra dengan Ahok. Makanya ia lebih baik diam daripada menjilat ludah orang lain.

Okelah, kita sudah tahu bahwa ternyata sejarah tidak pernah mencatat bapak Ilyas Karim sebagai pengerek bendera pusaka. Tapi kan dia sudah tua? Trus masak mau ditelantarkan begitu saja?

Seharusnya dalam kondisi apapun, salah itu tetap salah. Mendirikan bangunan diatas lahan hijau adalah salah, karena lahan hijau itu diperuntukkan untuk publik bukan untuk pribadi, itu egois namanya.

Meski begitu, Ahok tetap menyediakan Rusun Marunda sebagai pengganti. "Saya siap membayar sewanya.." Kata Ahok yang memang sering membayar sewa Rusun dari orang-orang tua yang tidak mampu.

Kenapa sih harus sewa, gak digratiskan aja? Ya, namanya peraturan harus ditegakkan dong. Yang lain sewa, masak yang satu gratis... Entar iri-irian.

Nah, kalau sudah win-win solution begitu, lalu kenapa ribut ?

Ya biasa... Kepentingan menjelang Pilkada. Dan media senang mengangkat seseorang yang terzolimi, si terzolimi senang bermain playing victim, si pembenci koar-koar "lawan si non pribumi yang menggusur pribumi", si Cagub yang gada yang memilih melampiaskan sakit hati dan buanyaaaakk lagii..

Sampai tumpah saya menuangkan air ke cangkir kopi, saking asiknya baca tentang pak ilyas karim. Padahal saya dah dibilangin teman, "tekonya dituang den.. dituang.. jangan dikerek.."