Minggu, 04 September 2016

PERANG TERBESAR DALAM SEJARAH MANUSIA

Kehidupan
Kehidupan
Ada pertanyaan menarik yang mampir ke kotak pesanku. "Bang, bagaimana caranya mengalahkan diri sendiri ?"

Saya jadi teringat pembicaraan dini hari dengan seseorang di sebuah majelis di Bandung. Kami menghabiskan bercangkir kopi hanya untuk mengupas diri kami sendiri.

"Sejatinya manusia itu terlahir suci, keterikatan pada dunia-lah yang membuat manusia mempunyai sifat-sifat hewani. Kita menjadi serigala yang berkelompok dan selalu lapar. Kita menjadi babi yang pemalas dan rakus. Kita menjadi ular yang licin dan licik...

Sifat-sifat dalam diri kita terkadang terbentuk dari campuran berbagai macam sifat hewan yang menjadikan kita monster bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain..."

Ia menatap langit-langit seakan tertarik kembali ke masa lalunya yang kelam. Ia dulu petarung jalanan. Hidupnya keras dan selalu mengisi sudut-sudut malam.

Ia melanjutkan pembicaraan...

"Ada manusia yang tersadar karena usianya yang semakin matang. Ia mencoba mencari dirinya ditengah kepungan nafsu hewan yang membelitnya. Ia berusaha keras menghancurkan egonya, ambisinya dan angannya yang panjang.

Terkadang ia berhasil tapi lebih banyak tidak. Ia selalu kembali pada sifat hewan yang ingin ditaklukkannya, karena bertahun-tahun ia memeliharanya seakan itu sudah menjadi naluri dalam dirinya.."

Kami sama-sama menyeruput kopi yang sudah dingin. Entah sudah berapa belas batang rokok yang menemani kami. Aku melihatnya. Tubuhnya kekar dan berisi. Temanku pernah menjadi pemimpin kelompok motor yang terkenal di daerah ini. Ia sangat dihormati dalam komunitasnya.

"Tapi sekuat apapun sifat hewan dalam dirinya, manusia yang berfikir pasti ingin kembali kepada fitrahnya, sebagai seorang manusia. Dan disanalah sisi menarik dalam hidup ini. Ketika ia -meski dalam hati- ingin bertaubat, Tuhan pun membantunya.
Ditariklah semua kebanggaan yang melekat dalam dirinya. Apa-apa yang disayanginya dirampas. Tuhan Maha tahu titik terlemah seseorang. Berhala dalam dirinya dikupas... "

Ia menyedot rokoknya dalam-dalam.

"Sakit... Proses itu menyakitkan. Dan ketika proses itu mencapai puncaknya, yang ada tubuh menjadi lunglai, tak berdaya, jatuh ke tanah dengan lutut tertekan dan kepala menghantam bumi.

Yang tersisa cuma air mata kekalahan, pasrah dan menyerah. Apa yang harus ia banggakan sekarang? Sudah tidak ada..."

Ia tersenyum menatapku dan mematikan api rokoknya.

"Pada saat kita kosong itulah, Tuhan membantu proses penyembuhan dengan terus menghantam kebanggaan yang tersisa melalui banyak hal. Kita terus berfikir dalam tekanan yang dahsyat, apa makna semua ini?

Sampai akhirnya kita berada pada titik keseimbangan baru. Kita menjadi stabil karena berhasil mengisi jiwa kita dengan nilai-nilai spiritual. Kita mencoba melepaskan semua baju keterikatan kita pada dunia. Jiwa menjadi merdeka, tanpa harus mengukur dan takut diukur manusia... Disitulah sebenarnya kemenangan diri kita sebagai manusia.. "

Kang Tegep namanya. Temanku itu meninggal Februari lalu. Ia berhasil mengalahkan dirinya sendiri dan kembali menjadi manusia. Aku menganggapnya sebagai pemenang dalam perjalanan hidupnya.

Malam ini kuangkat secangkir kopi untuknya. Aku merasa kehilangan seseorang yang mampu mengupas diriku juga dengan pengalaman spiritualnya.

"Terkadang Allah mengambil segalanya dari seorang manusia, hanya untuk membantu dia supaya dapat mengenal Tuhannya.." Imam Ali as.