Rabu, 28 September 2016

Saya Bukan Muslim, Jauh Dari Itu

Muslim
Muslim
Pada dasarnya Islam itu bukan sebuah identitas.

Islam adalah sebuah pencapaian, perjalanan menuju kepasrahan total pada Tuhan. Orang yang pelaksanaan mendekatinya disebut muslim atau mereka yang berserah diri.

Ketika seorang menjadi muslim, maka ia mendekati mukmin atau orang yang konsisten terhadap kepasrahannya.

Dan lebih tinggi lagi, ia mendekati muttaqin atau orang yang dalam kesehariannya, segala tindak tanduk dan perilakunya bernafaskan Islam. Ia harus menjadi orang yang paling berahlak diantara orang yang berahlak disekitarnya.

Begitu juga seorang Kristen dan seorang Buddhist. Semua mengacu pada pencapaian, bukan identitas.

Tetapi karena manusia pada dasarnya dipenuhi nafsu duniawi dan sulit sekali mencapai apa yang mereka harapkan, maka lebih mudah menggunakannya sebagai identitas, meski perilakunya mendekati kafir atau kufur atau ingkar. Kafir adalah lawan kata atau kebalikan dari titik pencapaian itu.

Menggunakan pencapaian itu sebagai identitas saja sudah bodoh, tetapi lebih bodoh lagi membanggakannya. Seperti seorang pelari yang baru berada di garis start tetapi sudah meng-klaim kemenangan dirinya dan membanggakannya kemana-mana.

Muslimnya seseorang bukanlah ukuran manusia yang menetapkannya tetapi Tuhan, sama seperti kafirnya seseorang.

Sejatinya muslim, kristen, buddhist atau apapun pencapaian itu haruslah seperti secangkir kopi. Ia pahit tetapi mampu menghidangkan kenikmatan kepada semua manusia tanpa terbatas suku, ras dan status sosial seseorang
Setuju? 

Seruput dulu kopinya...