Sabtu, 24 September 2016

SEBEL SAMA ANIES

Prabowo
Anies Baswedan
"Sebel ih sekarang liat Anies..."

Begitu perbincangan emak2 yang tidak sengaja kudengar. Menarik juga mengikuti pembicaraan mereka yang tidak sengaja kudengar saking kerasnya. Mungkin terlalu emosional.

Dan mulailah teori tentang "haus jabatan", "tidak cocok" dan lain2. Tapi pada intinya mereka sangat kecewa, karena satu dua hari sebelumnya mereka membaca bahwa Anies menolak untuk menjadi Cagub, eh tiba2 berbalik menjadi Cagub. Mana didukung PKS lagi.. ( hihi ).

Memang banyak teori tentang siapa Anies Baswedan sebenarnnya..
Mulai dari rumor bahwa beliau "dibuang" dari kabinet Jokowi karena terindikasi bukannya bekerja malah menggalang kekuatan untuk pilpres 2019 melalui para guru.

Rumour semakin kuat ketika Sri Mulyani saat baru menjabat sudah menghapus anggaran tunjangan profesi guru yang over budjeting sebesar 23 triliiun lebih. Saya masih menganggap itu rumor dan tidak mau melakukan cocoklogi, terutama pada musim pilkada ini.

Tetapi ada satu hal yang entah kenapa selalu menjadi alarm bagi saya, bahwa ketika seseorang terlihat tampak sangat baik, sejatinya dia tidak seperti itu.

Begitu banyak hal2 yang dibukakan beberapa waktu ini ketika "seorang baik" tiba2 menjadi "sangat jahat" saat aibnya terbuka ke publik. Ada bapak yang tidak mau mengakui anaknya. Ada ustad yang tampak alim dan punya padepokan dengan santri ribuan orang, ternyata penipu penggandaan uang dan pembunuh. Ada ketua DPD yang selalu berteriak "basmi korupsi" tertangkap hanya karena uang 100 juta rupiah saja.

Dan banyak lagi....

Sifat dasar manusia selalu ingin muncul ke permukaan dan terlihat baik oleh banyak orang. Dan disitulah dia mendulang popularitasnya, dihormati dan - jika mungkin - berdampak dihargai dengan uang. Itu sifat dasar yang tidak bisa dilawan.

Karena itu "citra" adalah kosmetik yang selalu dicari banyak orang. Dan tanpa sadar, bahkan dalam kehidupan sehari2 kita selalu berusaha mencitrakan diri kita dengan hal2 yang baik. Gak percaya? Coba tegur seorang teman yang keteknya bau supaya dia pakai deodoran, pasti dia marah besar. Padahal itu sebenarnya nasihat berguna baginya, tapi menghancurkan citra baiknya.

Sebelnya para emak yang sedang sibuk membicarakan "siapa Anies" sebenarnya adalah ungkapan kekecewaan yang mendasar, akibat kagum berlebihan dan menemukan ternyata si idola tak lebih dari manusia biasa yang suka juga dengan kekuasaan.

Terlebih sang idola berpartner dengan partai yang selama ini terkenal dengan geraknya yang bertentangan dengan perilaku yang ditunjukkan sang idolanya, padahal sang idola pernah berkata, "orang2 baik hanya berkumpul dengan orang2 baik..". Jadi secara tidak sadar, beliau sudah berkumpul dengan "sesamanya".

Karena itulah kenapa saya lebih suka bergaul dengan orang yang apa adanya. Mungkin karena saya orang Medan, kalau ngomong langsung aja kalau benar katakan benar, begitu juga kalau salah... Lebih baik pahit di depan, daripada tertusuk dari belakang.

Pembicaraan para emak selesai dan mereka sekarang sibuk cekikikan membicarakan arisan, mode terbaru dan hal2 remeh lainnya. Kopiku pun sudah mulai habis, tapi temanku yang sudah janjian tidak kunjung datang.

Kubayar kopiku dengan agak menyesal. Temanku janji traktir dan sekarang uang gojek pula yang kubayarkan.

Terpaksa harus pulang ke rumah berdesakan dengan penumpang lain yang setujuan dengan Kopaja yang busnya entah diproduksi pada tahun berapa. Mungkin saat Marilyn Monroe masih perawan.