Jumat, 16 September 2016

Secangkir Kopi di Ujung Jalan

Makna Hidup
Filosofi Kopi
Paling mudah ketika kita tertimpa masalah, hal pertama yang terpikir adalah bahwa ini ujian dari Tuhan..

Paling asyik memang berada di ranah ini. Selain bisa sedikit menghibur diri, ini bisa jadi benteng alasan terkuat untuk bersembunyi dari semua kesalahan. Kalau sudah pakai nama Tuhan dan ujian-Nya, tentu orang akan cepat simpati.

Kan itu yang kita butuhkan, sebuah simpati bukan solusi..

Akhirnya kita mencari "orang pintar" untuk membantu memecahkan masalah dengan cara spiritual, sibuk dengan doa-doa yang diberikan tanpa pernah sedikitpun melihat kembali kesalahan apa yang pernah kita lakukan?

Duduklah sebentar, kawan... Buatlah secangkir kopi dan hiruplah aromanya.
Masalah itu terkadang seperti benang kusut yang kita sudah tidak tahu di mana ujungnya. Cara terbaik adalah menguraikannya satu persatu, masalah per masalah dan jangan semua disatukan sehingga menjadi beban.

Setiap bagian masalah pasti ada sumbernya. Carilah sumber masalahnya, dan pecahkan jalan keluarnya. Ketika satu masalah ditemukan solusinya, bergeraklah jangan hanya dipikirkan.

Lebih baik lelah berjalan daripada hidup dengan pikiran yang terbeban.
Bertemulah dengan banyak orang karena Tuhan mengirimkan rejeki-Nya selalu melalui perantara. Rendahkan dirimu sehingga ilmu masuk dengan mudah dan membuka celah-celah solusi yang kamu harapkan.

Kenali dirimu, keahlianmu dan hasratmu. Bermimpilah, jangan berangan-angan, karena perbedaan mimpi dan angan adalah masalah kemampuan mengukur kadarmu.

Dan yang harus diingat, semua mempunyai proses. Mulailah dari yang ada, jangan sibuk memikirkan yang tidak ada. Kenali keterbatasan kita karena kita akan dikenal sebagai orang yang mengerti dengan baik kemampuan kita, bukan sebagai orang yang bisa apa saja.

Dan satu waktu pasti kita akan bertemu di titik yang sama.
Berhentilah sejenak, kusediakan secangkir kopi untukmu dan kita akan tertawa bersama mengingat kebodohan-kebodohan yang pernah kita lakukan dahulu.


"Akal adalah naluri, sedangkan yang mengasuhnya adalah berbagai pengalaman.." Imam Ali as