Sabtu, 08 Oktober 2016

Belajar Dari Alam

Sesudah peristiwa 98, saya dan teman-teman berinisiatif untuk melakukan sebuah eksperimen gila.
Kami ingin melakukan sebuah test "meledakkan gunung" dari isu terpendam yang sangat sensitif waktu itu, yaitu kata "cina". Sasaran eksperimen kami adalah pengguna yahoo chat room (waktu itu masih tren). Sengaja kami pilih para pengguna internet, karena waktu itu internet hanya digunakan oleh mereka yang lumayan cerdas, karena sifatnya masih sangat terbatas.
 
Dengan kurang lebih 9-11 buah personal computer yang terhubung, kami mulai masuk ke chat room yang sedang adem ayem dan berisi orang pacaran atau saling berkenalan dengan kode "asl please", singkatan dari age, sex dan location.
 
Kami masuk dengan akun berbeda dan saling berantem di chat room, saling memaki diantara kami sendiri. Satu kelompok mengaku pribumi, dan satunya cina.
 
Lama2 orang di chat room gerah, dan akhirnya saling memaki. Sudah tidak jelas siapa yang dimaki dan siapa yang memaki, kami ketawa2 sendiri pada waktu itu.
 
Akhirnya kami sepakat untuk menarik diri dari chat room dan memposisikan diri sebagai pengamat. Berbulan2 chat room yahoo sangat panas seperti terjadi perang saudara.
Pada akhirnya tiba2 semua sepi...
 
Mereka kembali pada kegiatan semula lagi, rutinitas asl, please dan bla bla yang membosankan. Kami mengadakan test lagi, dengan konsep yang sama. Dan apa hasilnya ?
 
Mengagumkan, kami berantem sendiri tanpa ada yang perduli. Kami dianggap angin lalu yang bau. Kami gembira, tes kami berhasil. Mereka sudah terbiasa dengan kata "cina" dan sudah tidak lagi menjadi isu yg sensitif ataupun julukan yang menyakitkan hati. Semua menjadi dewasa secara waktu..
 
Apa yang bisa dipelajari dari sana?
Bahwa sesuatu yang bersifat sensitif, akan semakin berbahaya ketika itu dipendam. Rezim orde baru tahu benar hal ini, sehingga mereka selalu ribut memperkarakan semua yang bersifat SARA tapi diam2 menghembuskannya di keheningan.
 
Dan isu yang terpendam, kebencian yang berbisik, diledakkan pada waktu yang mereka inginkan supaya mereka tetap bisa mengontrol masyarakat bahwa dibawah orde barulah masyarakat bisa aman.
Tetapi ketika sesuatu yang dianggap sensitif itu dibuka lebar2, dibahas dengan terbuka dan luas, meski awalnya semua saling mencaci, pada akhirnya semua akan bosan.
 
Lepas sudah apa yang ada di dada dan ternyata ketakutan itu sebenarnya tidak pernah ada. Isu itu sudah tidak menarik lagi, seberapa kuatpun orang ingin mengembalikan isu itu kembali, kita sudah menganggapnya barang basi.
 
Jadi, bukalah terus masalah Al Maidah 51.. Ledakkan sekuat2nya..
Biarkan semua bergulir dengan sendirinya, perang opini seluas2nya, tumpahkan kebencian sederas2nya, asal itu semua hanya di media sosial, di dunia maya. Biar energi kita habis untuk berperang pemikiran baik yang moderat maupun yang radikal, sehingga di dunia nyata kita sudah terlalu lelah untuk saling menghantam...
 
Semua perlu proses pendewasaan.
Gunung ketika meledak, pasti akan memakan banyak korban. Tetapi satu waktu, kawah panas yang dulu menghancurkan pangan dan papan, akan menjadi tanah tersubur yang bisa ditanami hampir semua jenis tanaman yang akan menghasilkan..
 
Pada akhirnya, alam juga yang mengajarkan kepada kita manusia, bagaimana supaya bisa bertahan di dunia yang seperti rimba belantara.
 
Dan ketika kita sudah melewati fase kebodohan2, lihatlah negara kita nanti akan berjaya di dunia internasional..
 
Secangkir kopi malam2 begini kayaknya enak juga ya... Seruput dulu, ah...