Jumat, 14 Oktober 2016

Iblis yang Menyebut Dirinya Ulama

Ulama
Ulama
"Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi..."
Begitu Nabi Muhammad Saw berkata. Perkataan yang sederhana tetapi sebenarnya maknanya sangat dalam.
 
Ketika disebut "pewaris", maka jalan ulama-pun seharusnya seperti jalan para Nabi. Ia mengalami banyak kesulitan, tekanan yang kuat diambang batas manusia biasa, bahkan sampai pada cacian dan hinaan.  

Disanalah seorang ulama ditempa.
Dan ketika ia ditempa, kitab suci adalah pegangannya. Seorang ulama mampu mengambil mutiara2 dalam kitab suci pada situasi yang mengelupas ke-aku-annya. Ia menjadi orang yang sangat bijak karena ia mengalami proses yang hebat.
 
Ia mampu menyeimbangkan dirinya, karena ia pelaku dalam kerasnya kehidupan bukan hanya berdasarkan teori dalam ruang belajar saja.
"Kami melakukan, baru kami mengatakan.." begitu kata Imam Jafar Shodiq, guru para ulama, cicit Nabi Muhammad Saw.
 
Karena itulah mereka disebut ulama, seorang alim yang menguasai ilmu. Lihat pada kata "alim", yang berarti secara ahlak ia jauh diatas rata-rata akhlak manusia biasa. Karena itu, seorang ulana biasanya selaras antara perkataan dan perbuatan.
 
Dan apa ciri khas orang alim?
Ia tidak pernah menyebut dirinya sebagai ulama. Ia tidak pernah menyebut dirinya sendiri ataupun memakai embel2 di depan namanya "ustad". Masyarakat-lah yang memberikan pengakuan kepadanya dengan sangat hormat dan penuh kecintaan.
 
Seorang ulama tidak membutuhkan pengakuan, karena minta diakui adalah kekalahan terbesarnya dalam mengalahkan dirinya sendiri.
 
Ciri khas lainnya adalah fisiknya...
Seorang ulama adalah pecinta akhirat. Ia meninggalkan kemewahan dunia dan hidup secukupnya. Ia tidak tertarik sedikitpun untuk bermanja2 dengan dunia.
 
Tubuhnya biasanya kurus karena puasa yang terus ia lakukan. Matanya sayu dan sembab karena ia tidak tidur setiap malam sebab selalu menghadap Tuhan. Ibadah baginya adalah kecintaan bukan kewajiban.
 
Wajahnya teduh dan menenangkan karena kebijakan terpancar dari wajahnya. Biasanya ia tidak menggunakan pakaian kebesaran, karena ia selalu berada ditengah masyarakat yang lebih susah darinya. Ia mencintai si miskin karena orang miskin adalah perantara dirinya dengan Tuhan.
 
Begitu berat kriteria seorang ulama karena semakin ia diakui oleh masyarakat, maka tanggung jawabnya semakin berat. Dunia ada di punggungnya, bukan di perutnya apalagi di kemaluannya.
Mari kita perhatikan di sekeliling kita, adakah kita lihat mereka yang mengaku2 dirinya ustad, menyebut dirinya ustad, menjabat posisi pada Majelis yang mengatas-namakan Ulama, mempunyai kriteria seperti itu ? Sedikit saja ?
 
Jauh sekali, saudara2...
Meski mereka menangis2 di depan ribuan orang, meski mereka berzikir dengan suara serak, meski mereka sibuk mengutip ayat kitab suci, meski mereka sibuk berkata kebaikan... Lihat apa yang mereka pakai, lihat apa yang mereka perbuat, lihat apa yang mereka kendarai, lihat apa yang mereka ucapkan...
 
Mereka seakan menghina logika berfikir kita, bagaimana bisa seseorang yang mencintai kemegahan dunia mengajarkan kita tentang jalan akhirat ?
 
Jadi, jangan ajarkan kami bagaimana menilai ulama, jangan pernah lagi membohongi kami dengan menyebut dirimu ustad..
 
Kami sudah jauh lebih cerdas menilai bahwa iblis pun mampu berpakaian ulama, tapi yang tidak bisa ia sembunyikan adalah ahlaknya. Karena ahlak adalah pakaian para Nabi dan itu hal yang iblis sangat membencinya.
 
Lebih baik minum kopi dan sebut diri kita masing2 sebagai manusia biasa yang penuh dengan banyak kekurangan supaya tidak tertera kalimat "munafik" di wajah kita..
Seruput dulu, eh ustad?