Minggu, 16 Oktober 2016

Kekayaan yang Sebenarnya

Harta
Merasa Cukup
Pada dasarnya kita selalu ingin mencari diri kita yang telah lama hilang..
Keterikatan kuat kita pada dunia dan segala kemegahannya, membuat kita banyak tersesat. Kita menjadi penyembah uang, penyembah jabatan bahkan menyembah fisik yang rupawan.

Ketidak-tahuan membuat kita menganggap apa yang kita capai adalah kesuksesan. Benarkah? Sebenarnya tidak. Kita itu terjebak. Kita terjebak pada ukuran-ukuran yang dibuat berdasarkan kesepakatan manusia. Kita saling menilai, saling menghitung, saling memberi angka. Kita ingin terlihat tinggi dari orang lain dan mencari orang lain yang lebih tinggi sebagai sebuah peluang untuk meninggikan diri kita.

Dan begitulah seterusnya, hari demi hari, bulan berlalu dan tahun terlewati. Sampai pada satu titik kita tersadar. Untuk apa semua ini? Untuk apa semua kejayaan ini? Apa artinya untuk kita? Kebanggaan? Apa wujudnya kebanggaan? Bukankah itu hanya perasaan semu?

Masuk pada titik kesadaran itu membuat tubuh kita limbung. Kita baru memahami bahwa ada sesuatu yang hilang. Diri kita tidak bisa terpuaskan oleh materi seberapa banyakpun ia kita dapatkan, seberapa bagusnya ia dipakaikan dan seberapa megahnya ia disampirkan.
 
Pada titik ini kita berada pada persimpangan jalan. Apakah kita akan menghibur diri kita dengan materi lagi atau kita mencari sesuatu di luar materi supaya jiwa kita tenang. Semua tergantung pada pilihan kita dan akan menjadi apa kita ke depan. Kehilangan diri kita lebih dalam lagi atau pelan-pelan menemukan jalan untuk menuju diri kita sebenarnya..
 
Dan ketika kita mengambil keputusan jalan mana yang akan kita ambil, kita kembali akan menemukan persimpangan di depan sana, persimpangan lagi dan lagi-lagi persimpangan. Ada yang menemukan persimpangan baru dan ada yang kembali pada persimpangan sebelumnya.
 
Hidup itu sejatinya adalah petualangan. Yang kita butuhkan hanyalah ruang untuk berfikir dan secangkir kopi sebagai teman.
"Rasa cukup itu adalah kekayaan yang abadi.." Imam Ali as.