Senin, 17 Oktober 2016

Ketika Indonesia Menuju Suriah

Terorisme
ISIS
Seorang teman bertanya, "Ada grand design di balik peristiwa pilkada DKI?. "Ada", kata saya. Bismillah, coba pelajari analisa saya.
 
Sejak 2011 saya mengamati pola awal perang Suriah, bagaimana model mereka dalam memerangi pemerintahan yang sah dengan konsep pembentukan pemerintahan Islam atau khilafah.
 
Tujuan mereka tetap sama, hanya modelnya saja yang berbeda, disesuaikan dengan situasi dan kondisinya. Sebelum pilgub DKI, modelnya hampir sama dengan Suriah. Mereka membawa isu Syiah dengan membentuk jaringan aliansi nasional anti Syiah atau ANNAS dimana-mana. Kata "Syiah" dibangun sebagai stigma supaya mirip dengan stigma PKI, sebagai aliran yang berbahaya.
 
Dengan stigma syiah ini, mereka akan menghantam banyak ulama NU dengan tudingan Syiah, supaya bisa menguasainya. Dan ketika mereka menguasai NU, seperti mereka menguasai MUI, maka mereka akan membenturkannya kemana-mana.
 
Pola ini mirip dengan yang terjadi di Suriah, dimana Bashar Assad dituding Syiah dan para ulama terbagi 2, yang pro dan yang kontra pada Bashar. Syaikh Ramadhan Al Bouti adalah ulama sunni yang pro Bashar dan meninggal akibat bom bunuh diri saat beliau ceramah di masjid.
 
Pernah terjadi seorang yang dianggap ulama di Indonesia menyerukan kata "jihad" kepada Syiah. Tetapi karena terlalu prematur, maka seruan itu tidak berdampak apapun. Hanya saja sekarang isu Syiah kurang laku, maka mereka mencari model lain yang lebih memungkinkan. Yaitu, membenturkan Islam dan Kristen.
 
Mereka menemukan momennya saat Pilkada DKI. Kebencian terhadap Ahok sebenarnya lebih diarahkan pada kebencian sektarian, yaitu Cina dan Kristen. Sosok Ahok hanya sebagai model saja, bukan tujuan utama.

Momen utama mereka dapatkan ketika Ahok berbicara tentang Al Maidah. Penyebaran potongan video yang sudah diedit kemana-mana dengan narasi kebencian pada judulnya, adalah bagian dari strategi mereka. Ahok menjadi musuh utama, tapi sebenarnya yang ditarget adalah Cina dan Kristen.
 
Masalah ini menjadi lebar, dengan sebuah tuntutan bahwa Ahok harus mundur dari pencalonan Gubernur DKI. Mereka menyiapkan booby trap disana, sebuah jebakan yang -menurut mereka- pasti akan dimakan, apapun pilihannya.
 
Jika Ahok tetap mencalonkan diri menjadi Gubernur, maka mereka akan terus menekan dengan demo yang lebih besar dan serangan melalui media sosial yang lebih massif. Perhatikan saja, di beberapa daerah seperti Medan, ada tuntutan supaya Ahok mundur, padahal Medan tidak ada urusannya dengan Jakarta.
 
Mereka ini mempunyai jaringan "ulama internasional", yang tergabung dalam satu organisasi. Ulama-ulama internasional itu sudah mem-fatwakan bahwa Ahok harus diadili karena menghina Islam. Yang ini persis seperti Suriah, dimana Bashar Assad di-fatwakan harus diperangi oleh "ulama2 internasional" yang ditentang oleh ulama-ulama lokal yang pro pada pemerintahan yang sah.
 
Ulama lokal yang kontra pada pemerintah, sibuk berfatwa bahwa penduduk Suriah yang muslim harus mengikuti fatwa ulama mereka. Posisi ulama ditempatkan pada posisi tertinggi, dengan doktrin bahwa jika tidak mengikuti ulama versi mereka divonis kafir, anti Islam dan musuh bersama. Persis disini, dimana muslim moderat dihantam terus dengan tekanan dan ancaman, termasuk membunuh karakter mereka.

Isu-isu akan terus ditebar untuk menghabisi karakter Ahok dan memaksanya mundur dari pencalonan. Muslim yang awam akan termakan isu "dikuasai Cina", "Kristen akan mendominasi" dan sebagainya.
"Memang kalau Ahok mundur kenapa? Apakah berbahaya?"

Saya menghela nafas panjang.... Lebih baik saya lanjutkan nanti di bagian kedua.