Senin, 03 Oktober 2016

Lelaki Yang Melawan Dunia

Ayah
Ayah
"Berdiri..." Kata ayahku.
Tubuhku yang kecil berdiri. Aku jatuh dari sepeda dengan kaki berdarah, meraung2 seperti seorang anak kehilangan ibunya. Tapi ayahku tidak mengulurkan tangannya untuk menolongku, sedikitpun tidak. Betapa aku benci padanya.



Suaranya yang berat dan dalam membuatku takut untuk mengeluarkan airmata. Aku berdiri dengan kaki terpincang dan kepalaku tunduk ketika berdiri di hadapannya.

Kulihat tangan ayahku gemetar hebat. Aku merasa ini sudah saatnya, ia akan memukulku karena aku lalai. Aku menunggu waktu dimana tangan yang kekar itu mampir ke tubuhku.

"Tidak perlu minta bantuan siapapun jika kamu jatuh, apalagi menangis supaya orang simpati padamu. Kamu lelaki.. "

Mataku melirik ke wajahnya yang tampak geram. Aku takut, kutundukkan lagi wajahku supaya jangan menatapnya.

"Satu waktu kamu sendiri. Tidak ada yang namanya papa, karena papa sudah pergi. Tegakkan kepalamu meski kepalamu sudah dekat dengan tanah. Berjalanlah dengan bangga, meski seluruh tubuhmu luka.."

Ayahku tidak mengajariku rasa nyaman, karena nyaman itu membinasakan. Ayahku mengajariku berjuang, karena perjuangan adalah simbol kemerdekaan.

Ia mengajariku dengan caranya, bahwa seorang lelaki tidak terlihat dari tubuhnya yang dikekarkan, dari badannya yang diberi banyak gambar, dari guratan wajah yang diseramkan.

Seorang lelaki bagi dia adalah ketika mentalmu tertempa, karena ia sejatinya dari baja. Jatuh adalah hal biasa, bukan sesuatu yang luar biasa. Tidak perlu menangisinya. Tidak perlu meratapinya.

Berdirilah cepat karena kecepatanmu mengatasi masalah menunjukkan bahwa engkau adalah orang yang layak diperhitungkan.

Selamat siang pa, hari ini hari lahirku.

Betapa aku tumbuh dengan hanya melihatmu. Betapa aku sekarang tahu, tanganmu yang dulu gemetar saat aku jatuh, wajahmu yang tampak geram saat aku mengaduh, bukanlah karena ingjn menghajarku. Tapi keinginan terpendammu untuk memelukku, membelaiku, membersihkan tubuhku yang kotor tertutup debu. Hanya engkau tidak ingin melakukan itu, demi melatihku...

Apa kabarmu, pa..
Aku tahu engkau sekarang tersenyum melihatku, anak lelakimu, yang kakinya sudah kuat menapak bumi meski badai terus menerpaku. Mungkin sekarang engkau lega sudah bisa melepasku menghadapi dunia...

Selamat jalan, pa.. Baik2kah dirimu disana? Ingin kutelpon dirimu, sekedar untuk menyapa aku rindu padamu..
Tunggu aku, pa.. Satu saat kita duduk bersama di alammu, sambil tertawa mengingat perjalanan kita bersama..

Dari aku, anakmu....