Jumat, 28 Oktober 2016

Menang Tanpa Nilai

Pilkada
Pilgub DKI Jakarta
Yang menyedihkan dari dua kandidat cagub selain Ahok adalah mereka seperti membiarkan situasi panas terus terjadi.

Memang berat melawan Ahok dalam pilgub ini, tetapi itu bukan berarti harus bertarung tidak jantan dengan membiarkan masalah SARA terus berjalan. Kedua kandidat seperti menikmati hawa panas Jakarta tanpa ada sedikitpun usaha untuk menenangkan.

Sebenarnya, jika mereka pintar sedikit, mereka seharusnya mengambil posisi ini sebagai bagian dari kampanyenya. Jika saya jadi ketua tim sukses mereka, saya pasti akan meminta mereka tampil ke depan dan berlaku sebagai seorang negarawan yang perduli pada ketentraman.

Saya akan membawa kandidat untuk berkunjung ke ormas-ormas radikal dan memperlihatkan usaha untuk menahan mereka melakukan kegiatan anarkis ataupun demo besar-besaran.

Dan jika usaha kandidat berhasil, maka ia akan mendapat nilai plus sebagai seorang yang bisa membawa ketentraman. Mereka yang moderat pasti akan bertepuk tangan dan mendorong keinginan untuk menjadikannya sebagai seorang Gubernur.

Begitulah seharusnya kampanye cerdas. Bukan lagi pake marathon, lompat ke arah penonton dan sibuk mengkritisi sesuatu yang bagus yang sudah dilakukan Gubernur sebelumnya.

Masyarakat Jakarta itu sudah pintar, perlu kesadaran yang lebih untuk mengambil hati mereka. Panggung dangdut dan joget-jogetan, janji-janji manis yang ditebarkan, apalagi ada acara pake "buah tangan" dengan gambar pasangan calon yang ada amplopnya, sudah bukan lagi masanya. Itu jadoel punya. Uangnya diambil, gambarnya gak dicoblos. Kadal kok di kadalin.

Seharusnya pilgub ini menjadi ajang perang gagasan, bukan lagi pakai trik menjatuhkan. Menang pun tidak ada kebanggaan ketika lawan tangguh harus disingkirkan dengan cara yang tidak elegan.

Tapi yah mungkin ini memang hasil pendidikan sekian puluh tahun lamanya yang berorientasi pada angka, pada hasil semata, bukan pada nilai-nilai kebersamaan. Jabatan Gubernur dianggap sebagai kekuasaan bukan amanat yang harus disandang. Sebuah kebanggaan bukan sebagai beban.
Saya jadi teringat sebuah cerita lama ketika orang-orang bertanya kepada Imam Ali as. "Muawiyah membagi-bagikan harta kekayaan kepada orang-orang untuk menggalang pendukung. Akan tetapi mengapa engkau tidak melakukan hal yang serupa?”.
Imam menjawab, “Apakah kalian hendak menyuruhku untuk meraih kemenangan dengan berlaku zalim?”
Secangkir kopi itu memang pahit jika tanpa gula, tapi setidaknya bisa menyadarkan bahwa semakin tinggi jabatan, semakin besar pula pertanggung-jawaban di depan Tuhan..