Minggu, 02 Oktober 2016

Pertarungan Besar Dalam Hidupku

Kehidupan
Optimis
"Di dalam diri kita itu, banyak sekali musuh yang harus dilawan.

Mulai dari sifat sombong, serakah sampai sifat rendah diri yang terlalu besar. Biasanya masing-masing manusia mempunyai musuh terbesarnya. Musuh yang lebih ganas dari seluruh sifat yang ada, musuh yamg tidak mudah ditaklukkan dan terkadang menjadi musuh yang menguasainya.

Salah satu musuh terbesar dan terkuat manusia adalah sifat apatis.

Apatis ini adalah perasaan kalah yang sangat besar yang menguasai seseorang. Biasanya muncul dari kekecewaan, rasa tidak percaya diri yang besar, malas dan banyak lagi. Bisa salah satunya atau malah gabungan dari berbagai masalah.

Mereka yang dikuasai perasaan apatis biasanya semangatnya jatuh, cenderung membentuk benteng tebal di sekitarnya dengan berbagai macam alasan, mempersempit ruang pergaulannya dan -yang paling parah- adalah terlalu berlebihan mengasihani dirinya sendiri.

Orang yang terjangkit perasaan apatis cenderung bergaul dengan mereka yang juga sedang dalam problem yang sama, karena ada pandangan yang setara.

Mereka saling bercerita masalahnya tanpa pernah saling berusaha menemukan solusi, saling menghibur diri satu sama lain dengan kisah-kisah sedih terhadap situasinya dan suka melarikan diri ke hal-hal yang disukai, seperti belanja, makan dan lain-lain.

Pada intinya, mereka hanya bergerak di satu tempat saja. Sulit sekali untuk keluar dari perasaan itu, karena sudah nyaman dengan situasinya. "Terus, mau bagaimana lagi?" Biasanya adalah pernyataan yang paling populer sebagai bagian dari perlindungan dirinya, baju tebalnya.

"Terus mau bagaimana lagi?" Tanyaku pasrah. Sepertinya dia benar. Aku sedang berada pada fase itu dan tanpa sadar keluarlah pernyataan popular itu.

Temanku tersenyum. Dia menghabiskan kopi dalam cangkirnya dan berdiri seperti hendak pulang. "Keluarlah dari cangkangmu. Bergaullah dengan banyak orang dan sering bersilaturahmi-lah dengan mereka yang jarang kamu kunjungi. Bergeraklah di lingkaran yang lebih luas dari area permainanmu sekarang... ".

Ia membayar minuman kami dan mengambil bungkus rokoknya sebelum pulang.

"Tuhan memberikan banyak solusi untuk semua masalah dalam hidupmu. Tapi solusi itu bukan seperti buah jatuh dari langit. Semua solusi, semua rejeki, selalu melalui perantara-oerantara yaitu orang-orang yang harus kita kunjungi.

Setidaknya dengan sering keluar dari zona nyamanmu, maka kamu akan bertemu dengan pola pikir-pikir yang berbeda yang akan membuat sudut pandangmu akhirnya berbeda juga.. "

Dia menyulut rokoknya dan memandangku dengan tajam. "Lawan musuh terkuatmu itu dan jadikan itu pertarungan terbesar dalam sejarah hidupmu.."

Dia pulang meninggalkan aku termenung sambil terus berfikir. Rasanya seperti ditampar berulang-ulang tanpa bisa membalas.

Itu sekian tahun yang lalu...

"Akal adalah buah pikiran dan pengetahuan yang sebelumnya ti­dak diketahui..." Imam Ali as.