Jumat, 28 Oktober 2016

RUNTUHNYA SEORANG DAHLAN ISKAN

Korupsi
Dahlan Iskan
Saya senang dengan Dahlan Iskan..
Saya dulu banyak mengikuti catatan-catayannya di Manufacturing Hope. Dan disana saya banyak mendapat ide-ide cemerlang seorang Dahlan. Jujur, saya banyak terinspirasi oleh ide-idenya. Beliau orang yang cerdas dan positif. Selalu senyum dan menggerakkan aura optimis.

Ketika pak Dahlan menjadi menteri, harapan saya besar. Beliau saya harap bisa mendobrak banyak hal yang menjadi penghambat kemajuan Indonesia. Idenya yang sampai sekarang saya kagumi adalah tentang mobil listrik.
 
Saya ingat perkataannya, "Untuk apa sibuk membangun mobil nasional memakai bbm? Kita sudah ketinggalan ratusan tahun kalau mau berkompetisi dengan negara maju disana. Sekarang eranya mobil listrik dan kita berada di start yang sama dengan mereka.."
 
Sebuah optimisme yang luar biasa dan visi yang sangat kedepan. Dahlan bukan saja bercita-cita, ia membangun prototipe-nya bersama seorang anak muda cemerlang yang ditariknya dari Jepang.

Tunggu punya tunggu, saya mulai heran. Bagaimana bisa mobil listrik itu berjalan jika infrastrukturnya tidak disiapkan? Bagaimana kalau misalnya listriknya habis di tengah jalan?
 
Dan ternyata disini kekurangan seorang Dahlan...
Visinya yang besar dan jauh ke depan, ternyata tidak diimbangi kemampuannya dalam menetapkan prioritas apa yang harus dibuat terlebih dahulu dan bagaimana prosedurnya yang benar.
 
Dahlan khas pengusaha, dia menyambut era yang dia mimpikan dengan mencegat di ujung jalan. Kalau nanti era mobil listrik sudah sampai masanya, maka ia sudah siap dengan pabrik dan teknologi untuk membangun besar2an. Dan sebagai pengusaha pula, Dahlan pasti menghitung keuntungan besar yang akan ia dapatkan dan besarnya kerajaan bisnisnya yang sekarang saja sudah lumayan besar.
 
Tapi pak Dahlan lupa, bahwa pada waktu itu ia seorang birokrat. Seharusnya ketika ia sedang menjabat, ia fokus pada pembangunan infrastrukturnya terlebih dahulu. Berantem dulu ma Presiden yang pada waktu itu sedang asyik membuat mobil bbm murah bersama para pemegang merk terkenal Jepang. Atau berantem lagi ketika Presiden yang dulu sedang mempersiapkan SPBU asing di seluruh negeri sebagai kebijakan untuk mengambil pangsa kebutuhan minyak dalam negeri dari Pertamina.
 
Pak Dahlan lupa bahwa ia seharusnya bermain di prosedur dulu bukan hanya melihat hasil akhir. Tanpa prosedur yang benar, maka tidak ada hasil akhir. Atau kalaupun ada, maka pondasi hasilnya akan sangat lemah dan mudah runtuh.
Dan begitulah nasib pak Dahlan.

Ia runtuh karena tidak mau melihat dulu apa yang harus ia tandatangani yang disodorkan anak buahnya. Ia main tanda-tangan saja dengan kepercayaan yang sama pada jajaran di grup perusahaannya. 

Sama seperti ketika ia lupa untuk membebaskan lahan dulu sebelum membeli mesin untuk pengadaan gardu induk sehingga tidak mangkrak dan merugikan negara...
Pak Dahlan lupa, ia pada waktu itu ada dimana...
 
Kasus Dahlan Iskan ini seharusnya menjadi pelajaran kita, bahwa secangkir kopi berawal dari proses dan prosedur yang benar sebelum membuahkan hasil yang baik dan benar pula..
Seruput dulu, ah...
 
"Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir" Imam Ali as