Senin, 31 Oktober 2016

SECANGKIR KOPI SORE HARI

Biasakanlah dirimu mendengar, membaca dan melihat hal-hal yang menyinggung keyakinanmu, terutama agama.

Kita terbiasa mengatakan sumbu pendek dan cuti nalar kepada orang lain, asal itu tidak menyerang kita. Tetapi ketika ada yang mencoba menyentil masalah keyakinan kita, tanpa sadar kita menjadi apa yang biasa kita tertawakan kepada mereka.
 
Singgungan-singgungan ini akan terus ada dan itu akan mempengaruhi banyak emosi anda. Ketika anda tegang beragama, maka mereka akan terus mengujinya, sampai anda patah.
Dan ketika anda patah, mereka akan terus menyulut api untuk membakar dan ketika api bertemu api pada akhirnya kita semua kalah.
 
Jangan terlalu percaya bahwa orang-orang di agama kita itu semua seperti apa yang mereka bahasakan. Lebih banyak orang yang mengklaim bahwa mereka mengikuti jalan Muhammad, jalan Kristus, jalan Budha dan jalan-jalan kebaikan lainnya, tetapi topeng itu akan terbuka ketika emosi mereka diuji setingkat demi setingkat.

Marahlah pada ke-zoliman bukan pada penghinaan. Seharusnya kita semua sadar bahwa yang menghina belum tentu sebaik yang dihina.
 
Jika anda paham ini, maka anda akan jernih berfikir dan tidak mudah dibenturkan oleh siapapun. Jadilah seperti secangkir kopi. Ia tidak pernah merasa hina meski sesendok gula atau secawan kecil susu mengambil peran didalamnya. Sebanyak apapun dominasi mereka, tetap saja orang memberinya nama secangkir kopi.
Seruput....