Sabtu, 22 Oktober 2016

Sekte Berdarah WAHABI

Ketika awal memperingatkan bahaya wahabisme di dalam tubuh NKRI sekitar tahun 2011, saya dimusuhi banyak teman-teman lama.
 
Saya dianggap memecah belah dan memfitnah Islam. Dan hukumannya adalah saya di remove bersamaan oleh teman-temab masa kecil. Mereka juga memperingatkan kepada yang lain bahwa saya Syiah dan patut diwaspadai kalau perlu dijauhi.
 
Bukan hanya teman, bahkan saudara-pun mulai menarik diri mereka dan tiba2 hilang dari list pertemanan. Tapi itu tidak menurunkan semangat, bahkan makin mengobarkan. Saya tahu pola aliran Wahabisme ini, karena mengamati bagaimana awal mula Suriah diperangi.
 
Dan baru saya tahu di kemudian hari bahwa alasan NU dibentuk sebenarnya untuk menghadang paham Wahabisme, yang berpusat di Saudi Arabia.
Wahabisme adalah paham puritan dengan dalih "pemurnian Islam". Diambil dari nama pengusungnya, Muhammad bin abdul Wahab, inilah paham yang digunakan banyak aliran Islam radikal seperti ISIS, Al-qaeda, Boko Haram dan banyak lagi. Mereka haus darah dan mengembalikan manusia ke masa sebelum Islam diturunkan.

Pandangan Wahabisme dan NU sangat bertolak belakang, karena itulah wahabi selalu membidahkan bahkan mensyirikkan NU yang kental dengan ziarah kubur, shalawat, tahlilan dan lain-lain.
Lucunya, NU ini hampir seluruh amaliyahnya mirip dengan Syiah. Malah Gus Dur pernah berkata, bahwa NU adalah Syiah tanpa Imamah. Dan karena mirip inilah, para ulama-ulama NU kerap dituding Syiah oleh mereka.

Kaum Wahabi ini selalu mengganggap diri dan kelompok mereka paling Islam dan selalu mengklaim "kami umat Islam.." padahal mereka tidak mewakilkan siapapun di dalam Islam.
 
Perbedaan mendasar ini harus saya jelaskan supaya yang beragama lain memahami, bahwa apa yang dilakukan NU yang selalu bersitegang dengan Wahabi, bukanlah bentrok dengan sesama Islam seperti yang selama ini dituduhkan. NU menjaga NKRI ini dengan sudah memulai perang bahkan sebelum kita sadar betapa bahayanya paham radikal mengatas-namakan agama di negara ini.

Karena itu, teman-teman masa kecilku, saudara-saudaraku yang dulu salah paham dengan apa yang pernah kulakukan, pahamilah bahwa apa yang kulakukan sejatinya karena aku mencintai negeri ini.

Tapi juga aku berterimakasih karena ketika kalian pergi, banyak teman baru yang datang. Mungkin memang Tuhan memberiku jalan yang terjal dulu sebelum akhirnya banyak yang mendengarkan..
 
Semoga secangkir kopi yang biasa kita hirup di sore hari, bisa menyadarkan bahwa situasi yang sekarang ini kita nikmati harganya sangat mahal, dibandingkan ketika wajah negeri kita dikuasai mereka seperti di Suriah, Libya dan Irak.