Rabu, 12 Oktober 2016

Tabayyun Tameng Para Munafik

Nusron Wahid
Nusron Wahid
Melihat Nusron Wahid di acara ILC tadi malam saya sungguh bangga.
 
Dibalik orang-orang yang mempolitisasi surat Al Maidah 51, Nusron Wahid menghajar pemikiran mereka dengan keras, mengembalikan apa yang selama ini mereka selalu gaungkan yaitu tabayyun, atau berprasangka baik.

Memang lucu orang-orang itu..
Jika ada yang menyerang mereka, mereka selalu berteriak "Tabayyun woi, tidak boleh berprasangka jelek.." Tapi kenapa ini tidak berlaku kepada mereka sendiri yang asyik menafsirkan apa yang Ahok ucapkan pada saat ia berpidato di kepulauan seribu?.

Mereka, mulai dari MUI, Ahmad Dhani sampai Din Syamsudin -duh pak Din kenapa jadi begini?- dengan mudahnya menafsirkan apa yang diucapkan Ahok dengan penafsirannya sendiri tanpa mau bersusah payah bertanya kepada Ahok apa maksud dia mengatakan tentang surat Al Maidah 51 itu?

Bahkan orang yang dituduh memplintir video Ahok si Buni Yani pun mengalami kegagalan berfikir. Dia meminta orang-orang tidak berprasangka buruk dengannya terhadap kasus video itu, tapi ketika dia mengedit dan menyebarkan video itu dia sudah berprasangka buruk kepada Ahok.

Ketika akhirnya ia yang diserang, senjata "Tabayyun" itu pun dipakai sebagai tameng, perlindungan utama daripada masuk penjara?

Hajaran Nusron Wahid dengan suaranya yang terbiasa menggelegar, seharusnya membuka ruang-ruang sempit dari sudut gelap otak-otak mereka yang sudah tertutup kebencian berkarat.
 
Entah bagaimana cahaya bisa masuk jika tidak ada sedikitpun lubang yang mereka buka sekedar untuk menerima kebenaran yang disampaikan, karena selama ini mereka mengisinya dengan pembenaran versi mereka.
 
Orang bilang "memang lidah tak bertulang" menunjukkan bahwa siapapun bisa berbicara sesuai dengan apa yang ia ingin sampaikan. Tapi lidah digerakkan oleh hati. Ketika hati busuk, maka lidahpun mengeluarkan suara busuk pula.
 
Apakah mereka yang disentil oleh Nusron Wahid itu mau sedikit membuka hati bahwa apa yang diucapkan Nusron benar adanya?

Ah, bahkan Imam Ali as pun memperingatkan akan bahayanya kemunafikan."Dan aku ingatkan kalian tentang orang-orang munafik".

Hati mereka berpenyakit, walau wajah mereka tampak bersih. Mereka bicara obat, padahal perbuatan mereka tak ubahnya penyakit yang tak mungkin disembuhkan.
 
Mereka lantunkan pujian terhadap sesama mereka. Mereka berharap balasan dari sesama mereka. Bila meminta sesuatu mereka ngotot. Jika memarahi orang, mereka mempermalukannya. Jika memutuskan, mereka berlebihan.
 
Untuk setiap kebenaran, mereka siapkan jalan sesatnya. Untuk setiap yang lurus disiapkan pembengkoknya. Kalau bicara, mereka ciptakan keraguan. Bila menggambarkan sesuatu, mereka berlebihan. Mula-mula mereka sodorkan jalan lapang, namun setelah itu, mereka sempitkan jalan itu".
Semoga saya tidak dimasukkan dalam golongan orang munafik.

Kopi tiga rebuan ya saya bilang tiga rebuan. Tidak perlu saya selfie kemudian di upload dengan tagline "Ketika sedang di Starbucks." tapi tidak sengaja di latar belakang tertangkap nama warkopnya, "Warung Kopi Matalupicek, besok gratis sekarang bayar".

Besoknya kapannn? Wong tiap saya ngopi pemilik warkop bilangnya sekarang.