Selasa, 11 Oktober 2016

Ustad-ustad Sinetron

Ustad
ISLAM KTP
Mungkin baru di Indonesia, ustad bahkan ulama dijadikan sebuah profesi, sebuah peluang bukan pemegang amanat
Mudah sekali menjadi ustad di Indonesia. Hafal beberapa ayat Alquran dan hadis, bisa sedikit bahasa arab dan melagukannya, tambah bisa melucu -kalau perlu- tampang harus disayang kamera dan -taraaaaaa- jadilah ustad atau ustadzah.

Lebih bagus lagi jika ditambah latar belakang yang mengenaskan, seperti mantan pemabuk dan mualaf yang diceritakan dengan latar belakang lagu memilukan. Ustad menjadi profesi yang menjanjikan dengan jadwal kejar tayang. Kalau terkenal, kemewahan pun datang.

Tidak kalah dengan bintang sinetron yang kemampuan aktingnya dipertanyakan, tanpa melalui kelas akting yang benar, asal wajah imut dan menggemaskan, bayar seorang manajer yang handal dan jadilah ia berpredikat "artis", padahal artis sendiri berarti bekerja di bidang seni.

Mereka bahkan bukan seniman, tapi lebih kepada pabrik hasil produksi massal.
Begitulah hasil dari penciptaan media kepada ustad-ustad di negara ini. Media punya pengaruh kuat sekali untuk melambungkan nama mereka. Media adalah pesantren mereka.

Maka tidak heran ada Guntur bumi yang menipu dengan ayat, Aa gatot yang ketua Parfi dan pemadat sampai Kanjeng Dimas yang pesulap.

Itu yang ketahuan karena kriminal, lebih banyak lagi yang bukan kriminal secara sosial tetapi korupsi ayat-ayat dengan menjual sistem money game, madu dengan berkat dan ludah yang disemburkan ke air supaya jadi mukjizat.

Mengerikan, bukan?
Tuhan adalah brand terkenal di dunia yang tidak menuntut bayaran atas pemakaian namaNya, dan karena merasa gratis itulah banyak yang menyalahgunakan.
Dan ustad-ustad karbitan ini kemudian selalu muncul ketika ada masalah besar, seperti momen pemilu. Mereka bukannya menyejukkan suasana tapi malah bermain dalam lingkaran.

Dengan gaya seorang bijak, mereka seperti penghimbau, tapi apa yang mereka lakukan tidak lebih dari keinginan utk tampil dan supaya orang mengingat namanya. Persis seperti pengacara-pengacara yang mengambil benefit dari sebuah kasus besar, mereka rela tidak dibayar karena mereka tahu kasus itu akan menjual namanya, karena sering diliput media.
"Kan mereka kaya dengan hasil mereka sendiri, kok lu jadi syirik?".
Begitulah komen yang selalu saya dapatkan, ketika mencoba membuka wawasan. Komen yang sejatinya membenarkan bahwa gelar ustad itu adalah pencari penghasilan, sama dengan profesi lainnya, tidak ada beda, jadi ngapain di hormati berlebihan.

Percayalah, lebih mudah menjadi ustad di negeri darurat ini daripada seorang yang jujur, bekerja dengan benar dan berkata apa adanya.

Karena orang kita sejak lama dicekoki dengan sinetron yang lebih mementingkan penampilan wah gambar daripada isi cerita yang punya bobot mencerdaskan...
Secangkir kopi lebih mengerti kegundahan hati ini, karena pahitnya lebih dominan menyadarkan daripada manisnya yang cenderung memuakkan..
Seruput dulu, ah.. selamat siang teman..