Senin, 21 November 2016

Akal yang Buta

Pengetahuan
False
"Jika semua akibat disebabkan oleh manusia dan manusia itu sendirilah yang harus menyelesaikan masalah yang dibuatnya sendiri, lalu dimana peran Tuhan ?".
Pertanyaan temanku ini menarik.

Kami sudah berdiskusi panjang kali lebar tentang konsep kehendak bebas atau free will yang diberikan Tuhan kepada manusia. Dengan membedah konsep ini, temanku akhirnya mengerti bahwa tidak semua masalah selalu dilemparkan kembali pada Tuhan atau - yang lebih ekstrim lagi - menyalahkan Tuhan atas peristiwa buruk yang menimpa manusia.

"Yang harus kita pahami, bahwa kehendak bebas diberikan kepada manusia sesudah Tuhan menyematkan satu keistimewaan yang tidak dipunyai oleh mahluk hidup lainnya, yaitu akal.."
Tidak ada tahu isi sore ini. Entah kenapa si ibu warkop tidak menyediakan tahu isi, padahal hujan sangat deras. Tahu isi hangat tentu bisa jadi makanan nikmat. Yah, terpaksa hanya cangkir kopi yang jadi teman diskusi kami berdua.
 
"Akal itu ibarat gulungan benang yang awalnya tertata rapih dan mudah diurai. Nafsu manusia dan keinginan duniawinya-lah yang membuatnya kusut.
 
Semakin tinggi keinginannya, maka gulungan benang itu semakin kusut. Kita menciptakan beban kita sendiri karena keinginan yang tinggi. Kita melakukan banyak hal karena dikuasai nafsu. Dan pada akhirnya kita menjadi seaeorang yang lebih besar pasak daripada tiang.
 
Contoh sederhana, rejeki kita itu hanya bisa membeli mobil sekelas Avanza. Tetapi karena nafsu yang tinggi - juga keinginan untuk diukur oleh orang lain - tanpa sadar kita membeli mobil yang diluar jangkauan kita dengan hutang.
 
Kita yang membuat beban itu sendiri. Kita lupa bahwa mobil itu sebenarnya ukurannya hanyalah fungsi, tapi kita malah menjadikannya sebuah gengsi.
 
Pada akhirnya, kita terbelit masalah yang besar dan mencoba menutupi hutang itu dengan berhutang lagi. Gulungan benang yang sudah ruwet itu, kita ruwetkan lagi. Sehingga pada akhirnya kita terbelit tanpa tahu mana ujung dan mana pangkal, darimana harus memulai untuk menyelesaikan masalah.."
 
Temanku tersenyum malu. Dikiranya aku sedang menyindir dirinya yang seperti itu, padahal sama sekali tidak bermaksud begitu. Kesamaan pelaku dan peristiwa bukan menjadi tanggung-jawab si penggemar kopi.
 
"Nah, ketika kita berdoa pada Tuhan supaya bisa menyelesaikan masalah kita, Tuhan lalu menurunkan hidayahNya.
 
Hidayah itu bukan merupakan penyelesaian masalah dengan langsung, tapi berupa petunjuk pada akal untuk mengurai simpul2 yang selama ini membelit. Kita sendirilah yang harus mengurainya, tapi setidaknya kita sudah mulai bisa berfikir cara mengurainya dengan baik.. Hidayah itu yang sering kita sebut sebagai pencerahan..."
 
Temanku terdiam. Suara hujan semakin berisik ketika beradu dengan atap seng. Meski begitu, tidak mengurangi kenikmatan kopi ini.
"Jadi maksudmu, aku harus membuang semua beban2 yang kuciptakan sendiri, baru aku bisa berfikir lebih jernih ?" Tanyanya.
 
Aku tersenyum, dia seperti menjawab pertanyaan dari masalahnya sendiri.
Hidayah itu memang dahsyat. Ia tidak mengenal waktu ketika turun dan bisa melalui perantara seperti dalam proses diskusi ini ataupun ketika manusia selalu berfikir dan mengupas dirinya sendiri.
 
Yang paling mengerikan buatku di dalam hidup adalah ketika akal mati karena tertutup kabut gelap dan tebal bernama nafsu. Matinya akal membuat manusia seperti berjalan berputar dalam labirin yang membingungkan. Ia sulit menemukan jalan keluar dari masalahnya, karena "buta".
 
Hidayah itu seperti cahaya kecil yang menembus gelapnya kabut nafsu yang menutupi akal. Cukup secercah saja, dan usaha kita seterusnya yang akan menyingkirkan kabut gelap dan tebal itu dan mengisinya dengan cahaya sehingga terang.
 
Temanku terus merenung. Aku tidak tahu, ia merenung karena masalahnya atau merenung memikirkan siapa yang bayar kopinya.
 
"Ketika Tuhan hendak mencabut nikmat pada manusia, maka pertama kali yang dicabutNya adalah nikmat akalnya.." Imam Ali as.