Rabu, 23 November 2016

Aksi Bela Raisa

Aksi yang rencananya dilakukan 2 Desember itu, dinamakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI..
 
Ini aja sudah suatu keteledoran, gampang dipatahkan. Pegang MUI-nya, selesai. Maka apa yang yang harus dikawal jika MUI saja tidak mengakui dan melarang demo?
 
Cantik memang permainan catur ini. Sesudah Ahok dijadikan tersangka, maka mulai bingung nyari-nyari alesan. Akhirnya minta Ahok ditahan. Blunder kan? Sapa saja yang masih waras pasti ketawa ngakak. Ini apa-apaan? MUI aja gak ngakui, lalu kalian ini siapa?
 
Permainan menarik lainnya dari pemerintah adalah mengacaukan langkah lawan. Mereka yang ingin demo "Bela Islam III" itu, sebenarnya ingin membaca apa reaksi pemerintah ketika mereka ingin melakukan demo 2 Desember. Dari reaksi pemerintah, mereka akan buat langkah selanjutnya.

Ndilalah, pemerintah pintar. Mereka tidak menunjukkan reaksi yang tetap yang mudah dibaca. Itu terlihat dari pernyataan yang berbeda-beda dari masing-masing instansi menanggapi demo itu.
 
Kapolri menyebut demo itu mengarah ke makar. Wakapolri bilang masih dalam kajian. Kapolda bilangnya tidak mengarah ke makar.Menhan bilang tidak ada makar. Menkopolhukam bilang jangan sampai makar. Presiden diam tapi makan-makan bersama bu Mega sambil tersenyum lebar, menunjukkan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Ini reaksi apaan ? Pucing pala Kasparov..
 
Bingung, panik.. Macem-macemlah yang mereka lakukan. Rush Money yang mereka gembor-gemborkan gak ada sambutan. Emang apanya yang mau di rush? Tabungan cuman gocap, mati segan hidup tak sudi. Akhirnya upload gambar antrian rush money di bank BCA. Lha itu orang antri di foto, trus dibilang rush.
 
"Emak lu rush.. " Kata Mang Odeng, pedagang soto betawi. Tumben, biasanya dia ngomong emak lu kiper. Mungkin emaknya dah pensiun karena terus kebobolan...
 
Akhirnya mau shalat Jumat di jalan raya. Ada masjid gede kok malah shalat di jalan. Ya jelas itu mengganggu kepentingan umum. Trus kalau ada ambulance bawa nenek-nenek mau melahirkan, gimana lewatnya coba? Yang ngga ngga ajah...
 
Asli demo 2 Desember ini bisa dibilang kehilangan legitimasinya. Maksudnya mau mengulang sukses demo kemaren, tapi momennya dah gak pas. Yah, lumayan menuntaskan tugas. Yang penting hepi, bisa taun baruan..
 
Jadi ga perlu ada yang dikhawatirkan. Tidak perlu menanggapinya berlebihan. Apalagi sampai panik dengan membatalkan transaksi ekonomi sambil menunggu perkembangan. Memang itu tujuan mereka, menimbulkan ketakutan.
 
Di medsos beritanya begitu besar, tapi sebenarnya mereka sendiri panik sehingga harus meminta bantuan buruh supaya demo tetap kelihatan besar. Dari sini aja kita bisa tahu, bahwa mereka sebenarnya sadar diri peserta demo kali ini jauh berkurang.
 
Saya mau bikin tandingan nanti tanggal 2 Desember, demo bela Raisa. Raisa tidak boleh jomblo, dia harus segera mendapat pasangan yang tepat, yang gagah dan perutnya semampai...
 
Raisa pasti suka minum kopi.. Iya kan, dek ?
"Iya, bang.. Nanti saya bawa teman saya, Jessica.."
*dengkulmendadakgemetar*