Sabtu, 19 November 2016

Dedi yang Selalu Menangis

Ahok
Deddy Mizwar Menangis
Tidak tahu kenapa, saya sudah tidak bisa menangis kalau Dedi Mizwar sudah menangis. Mungkin karena ia terlalu sering menangis, entahlah.. Perasaan setiap saya membaca berita tentangnya, ia selalu menangis. Ia menangis karena hujan besar, menangis lagi karena banjir, dan ketika ada bencana ia kembali menangis.

Seperti kata seorang teman. "Nangis mulu, kapan kerjanya?". Ah, temanku ini ngenyek. Siapa yang tahu kalau menangis mungkin sudah dijadikan hari wajib di Pemda Jabar. Atau menjadi bagian dari kurikulum pelajaran disana.
Atau setiap apel, komandan upacara memberikan komando, "Menangisss, grak!" Lalu semua karyawan Pemda menangis bersama. Mungkin juga ada pamflet di dekat musholla disana bertuliskan "Menangis adalah sebagian daripada iman.."
 
Saya jadi teringat seorang bapak yang selalu prihatin. Ada demo, prihatin. BBM naik, prihatin. Bahkan rasa prihatin menurun ke keluarga. Anaknya pun sekarang suka prihatin. Meski sang ibu menolak keras, "Tidak ada DNA di keluarga kami yang suka prihatin!!"

Seandainya kang Dedi mendengarkan cerita demo bela Islam, bisa lebih menangis lagi. Uang puluhan miliar beredar, hasilnya cuman tersangka. Mau bikin demo lanjutan eh jadwalnya tanggal tua. Akhirnya dimundurkan-lah di tanggal dua. Itu kesepakatan bersama. Biar sama2 ringan, demolah sehabis gajian.

Mungkin kang Dedi harus juga diberi marga Ginting. Biar menjadi seorang pemberani. Tapi nanti ada yang marah, tereak2 di statusnya. Tersinggunglah dia... Trus di upload di statusnya, "Orang karo itu tidak pernah menangis, karena mereka toleran.." Hubungannya apa, coba?.

Sekali-sekalilah kang Dedi muncul di berita dengan headline, "Wagub Jabar tertawa..". Atau tertawa itu di Jabar sudah susah? Karena separuh warganya tidak punya MCK. Mungkin juga, karena Jabar adalah provinsi dengan jumlah orang miskin terbanyak se-Indonesia. Padahal disana mau dibangun masjid termegah.
 
Tuhan, berilah kang Dedi keceriaan, seperti ketika ia berjoget di iklan. Tuhan kan Maha.. "Tinggal, lep.." semua selesai. Atau Tuhan sudah tidak adil? Jangan-jangan ketika ditanya, Tuhan apa ciri orang yang selalu mendapat pertolongan? Jawabnya, "Yang ada badaknya.."
 
Ah, sudah mau pagi. Tidak bisa tidur lagi. Mau nangis kepadaMu, Illahi.. sudah tak mampu lagi. Lha gimana? Tiap hari ada aja kegagalan nalar yang bikin ketawa. Contohnya, ada ulama yang berapi2 bicara akhirat tapi ia sendiri cinta dunia....
 
Sudahlah, kang Dedi jangan menangis lagi..
Kapan-kapan saya bawakan secangkir kopi. Saya ceritakan tentang Tuhan yang sudah kalah berkompetisi, dengan manusia yang semakin hari semakin suci.
Bahkan sekelas Tuhan pun, terpaksa mengungsi ke Banyuwangi...