Selasa, 22 November 2016

Isu Seksi Rohingya

Rohingya itu memang isu seksi. Kabar pembantaian umat muslim oleh para bhiksu mengisi beranda saya. Ditambah lagi gambar-gambar mengerikan ada orang terbakar, ada yang kepalanya dipenggal dan segala macam.

Menariknya, akun dengan nama ustad bersuara serak-serak basah, ikut menyebarkan gambar ibu dan anak dengan tubuh hitam terbakar, eh ternyata itu gambar lama ledakan mobil tangki gas.

Kepedulian boleh-boleh saja, tapi juga harus tetap objektif dalam melihat masalah. Dubes Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi sudah mengecek kesana, ke daerah konflik bersama beberapa perwakilan negara lainnya.

Menurut Dubes, berita pembantaian itu tidak sepenuhnya benar. Bahwa militer melakukan agresi itu benar, juga jatuhnya korban. Tetapi militer Myanmar juga jatuh korban tewas karena serangan militan terhadap pos polisi dan militer. Itulah yang menyebabkan terjadinya operasi militer disana.

Memang kalau masalah agama, apapun jadi sensitif. Ada kemungkinan berita pembantaian di Myanmar adalah bagian dari propaganda politik dari kelompok militan yang berhubungan dgn kelompok radikal di Timur tengah.
 
Ini tentu mengingatkan saya akan situasi di Suriah waktu awal peperangan. Pada masa itu kelompok radikal menyerang pos-pos militer Suriah di perbatasan. Ketika militer membalas dengan melakukan operasi dan para penyerang itu akhirnya tewas, mereka melakukan propaganda dengan memajang foto-foto bahwa terjadi pembantaian oleh militer Suriah. Playing victim, istilah popularnya. Dan ini bisa juga terjadi pada negeri kita.

Sebagai catatan tambahan, saya kutipkan penggalan status lama saya untuk bisa memahami situasi di Myanmar. Komunitas Rohingya yang mayoritas muslim tinggal di negara bagian Rakhine. Meski begitu, mereka bukan bagian terbesar warga Rakhine yang mayoritas beragama Budha. Rakhine adalah negara bagian termiskin di Burma tapi kaya dengan sumber daya alam.

Warga Rakhine selama ini dipinggirkan secara ekonomi dan politik oleh pemerintah pusat yang di dominasi etnis Burma. Karena miskin, mereka terbentuk menjadi bodoh dan pemarah. Kemarahan mereka bertambah dan menjadi dendam ketika komunitas Rohingya tidak mendukung mereka secara politik.

Dendam itulah yang melatar-belakangi pengrusakan dan berujung pd pembantaian. Agama budha yang mayoritas disana, dipengaruhi oleh biksu fundamentalis. Biksu fundamentalis ini di pelihara baik oleh pemerintah Myanmar supaya mereka tetap terus berkuasa dan bisa mengeruk sda disana dan proyek-proyek keuntungan. Karena di pelihara itulah, maka komunitas fundamentalis berbaju agama Budha tumbuh subur.

Mereka yang mayoritas beragama Budha ditakut-takuti bahwa Islam berkembang dengan pesat, mengendalikan ekonomi sampai menjadi ancaman nyata. Apalagi Burma atau Republik Persatuan Myanmar ini, di kelilingi Bangladesh, Malaysia dan Indonesia yang mayoritas muslim.

Akhirnya terbentuklah stigma bahwa Islam itu begitu jahat dan mereka yang mayoritas harus melindungi diri dengan membantainya sebelum nanti akhirnya di bantai. Peran para bhiksu sangat penting untuk membakar kemarahan, mirip ustad-ustad dan pendeta garis keras yang selalu memakai agama untuk kepentingan pribadi, uang dan kelompok politik.

Jadi, ternyata akar masalahnya sejak awal adalah penguasaan sumber daya alam oleh pemerintah dengan memanfaatkan isu agama. Sambil minun kopi saya tersenyum, ternyata konsep "bungkuslah orang-orang bodoh dengan baju agama, dan lihatlah kerusakan yang diperbuatnya.." bukan semata milik muslim saja. Budha juga gak mau kalah...
Makin pucing kepala naga...