Minggu, 27 November 2016

Jangan Kalah Ma Tukang Sate

Tidak salah Jokowi menunjuk Tito Karnavian sebagai Kapolri. Jenderal yang rekam jejaknya selalu bergelut dengan apa-apa yang berbau teroris ini, memang berada di tempat dan saat yang tepat. Penciumannya yang tajam karena pengalaman di medan perang terorisme Indonesia, mampu mendeteksi gerakan-gerakan yang akan mengacaukan Indonesia.

Baru saja dikabarkan bahwa Polri berhasil menangkap 9 anggota ISIS yang ada di barisan demo 411 kemarin. Para teroris yg sudah berbaiat kepada Abu Bakar Al Baghdadi, pemimpin ISIS itu, ada di tengah-tengah demonstran dan berniat mengambil senjata polisi saat kerusuhan.

Beruntung Polri cerdik. Mereka sama sekali tidak membawa senjata dalam mengawal demonstrasi besar itu sehingga rencana teroris gagal. Gagalnya mereka menambah daftar kegagalan untuk mengacaukan demo dengan bom paku dan bom motor yang ditemukan di Jateng.
 
Kelihaian Polri dalam menghadapi terorisme di Indonesia tidak terlepas dari kemampuan Kapolri Tito Karnavian yang pernah memimpin Densus 88 antiteror dan BNPT itu. Dengan mengenal pola-pola pelaku, Polri beberapa langkah di depan dari para pelaku terorisme sehingga bisa mencegah bahaya besar.

Selain menangkap 9 orang anggota ISIS yang kemaren ikut demo 411 dan berencana menyusup di demo 212, Polri juga berhasil menangkap jaringan pembuat bom di Majalengka.
 
Bom yang berhasil disita tidak main-main, daya ledaknya bisa 2 kali lipat dari bom Bali. Bom ini akan menyasar istana, DPR dann gereja-gereja saat Natal dan tempat keramaian di malam tahun baru.
Tertangkapnya jaringan pembuat bom ini menandakan bahwa rencana mereka memang bertahap.
Buat rusuh dulu di 411, terus perbesar skala kerusuhan di demo selanjutnya -yang kemaren direncanakan 2511- baru ledakkan bom di tempat-tempat vital.
 
Hasil yang diharapkan adalah ketidak-percayaan pada pemerintah sehingga ekonomi jatuh. Dan ketika ekonomi kita jatuh, maka sempurna sudah demo besar dari berbagai elemen untuk menurunkan Jokowi.
 
Jika mempelajari rekam jejak Kapolri, kita baru paham bahwa beliau dan anak buahnya ditempa oleh berbagai aksi terorisme di negeri ini. Tanpa ada aksi-aksi pendahuluan seperti itu -yang memakan banyak korban jiwa- mereka belum tentu bisa secanggih ini mendeteksi pola-pola besar yang akan terjadi.

Kebayang jika Polri terlambat menyadari seperti kepolisian Suriah dalam mendeteksi aksi terorisme, negara kita bisa jadi seperti negara mereka. Pengalaman memang benar-benar guru yang terbaik.

Yang harus diwaspadai adalah upaya pelemahan kinerja Densus 88 dan Polri dengan isu HAM. Seorang tokoh terkenal mantan ketua ormas besar yang juga sekarang sering muncul di media online berkoar-koar melakukan perlawanan kepada pemerintah, dulu pernah berkata untuk membubarkan Densus 88 dan BNPT karena tidak penting sebab selalu melanggar HAM.

Pembunuhan karakter terhadap Densus 88 dan BNPT terjadi massif di media sosial. Mereka di stigma-kan kejam dan tidak berperikemanusiaan. Padahal tanpa mereka, kita belum tentu seaman sekarang.
 
Karena itu, mari kita berjuang melawan mereka....
 
Melawan mereka dengan tidak perlu takut bahwa ekonomi kita bakalan jatuh dan tetap bekerja seperti biasa.
 
Melawan mereka dengan tidak terikut mem-vonis kinerja pasukan dan lembaga antiteror Indonesia dengan bahasa HAM..
 
Melawan mereka dengan memberi kepercayaan penuh pada aparat dan pemerintah dalam melaksanakan tugasnya..
 
Kita angkat secangkir kopi bersama untuk Presiden, Kapolri dan seluruh jajarannya, juga Panglima dan seluruh angkatan bersenjatanya... Juga untuk kita yang bangga dan berani menolak teror dengan menganggap semua berjalan seperti biasanya..
 
Masak kalah sama tukang sate di jalan Thamrin? Malu, tak iye...
Seruput..