Selasa, 22 November 2016

Kamu yang Memutus Rejekimu Sendiri

Entah apa yang ada di rambut temanku sehingga ia selalu mengacak-acaknya. "Pusing.." Katanya. Mukanya ketekuk. Dia tetap tertawa ketika pembicaraan ada yang lucu, tapi wajahnya gak bisa bohong bahwa ia sedang mengalami tekanan berat.

Aku tahu bahwa ia sedang dalam kepanikan luar biasa. Panik karena ditagih hutang dari mana-mana. Panik karena bingung masa depannya bagaimana. Panik karena ia harus tampak panik supaya orang mengasihaninya.

Sungguh aku seperti melihat diriku dulu. Ketika berada pada masa-masa bodoh. Ketika aku terus menumpuk beban di punggungku hanya supaya orang melihatku sukses dan dihormati. Entah kenapa tiba-tiba aku ketawa keras.

Temanku sampai heran, "Apa yang lucu?". "Lucu membayangkan aku dulu. Selalu takut membayangkan masa depan, karena perbuatanku sendiri. Tanpa sadar aku membangun energi negatif dalam diriku. Wajahku tidak ceria, ketawaku dipaksa, aku merepotkan orang-orang minjam sana sini tanpa mau mengerti bahwa mereka bosan aku libatkan dengan masalahku.

Akhirnya semakin lama aku menjadi semakin negatif. Aku jika melihat orang selalu memperhitungkan, materi apa yang bisa kudapatkan darinya. Aku zolim pada orang yang percaya padaku. Aku selalu berbohong melindungi semua kesalahanku.
Terus begitu, sampai akhirnya aku disadarkan, bahwa orang-orang meninggalkan diriku bukan karena mereka tidak perduli pada kesulitanku, tapi karena aku menjadi pribadi yang tidak menyenangkan... "
Kuhirup kopiku. Temanku nampaknya tertarik dengan arah pembicaraan ini. Ia memesan satu kopi lagi pertanda perbincangan ini akan menjadi lama. Aku tahu, dia butuh semua ini.

"Sebenarnya kita yang memutus rejeki kita sendiri. Kita menghadirkan sebab-sebab buruk, tapi mengharapkan akibat-akibat baik. Ketika harapan kita tidak terlaksana, maka kita menyalahkan Tuhan ataupun menghibur diri "ah, belum rejekiku".

Kita jarang melihat kesalahan kita sendiri. Jarang berfikir ke arah sana karena ego kita yang menutupi. Kita inginnya semua instan, masalah cepat selesai.
 
Bagaimana masalah bisa selesai jika kita sendiri tidak memulai dari mencari dimana kesalahan kita? Tidak mungkin sesuatu bisa diperbaiki, jika kita tidak tahu apa yang harus diperbaiki.."

Temanku tersentak. Seperti ada sesuatu yang menarik sudut pandangnya pindah dari kesalahan sudut pandangnya selama ini. Ya benar, sebenarnya ini hanya masalah sudut pandang saja, dimana kita menempatkannya. Jika sudutnya benar, maka melangkahnya pasti benar.

"Aku pulang dulu.. " Katanya. Kopinya yang baru datang tidak disentuhnya. "Kamu benar. Selama ini aku tidak sadar kalau aku sendiri yang menyebabkan semua ini. Aku selalu menyalahkan apa yang bisa disalahkan. Salahkan situasi, salahkan orang lain, bahkan salahkan Tuhan. Hanya satu yang tidak pernah aku salahkan.... Diriku sendiri.. ".

Dia pergi menghilang. Aku tertegun. Kopinya siapa yang bayar?. “Orang yang niatnya baik maka rezekinya akan menjadi baik..." Imam Ali as.