Selasa, 22 November 2016

KANGEN MULUT AHOK

Mulut Ahok
Ahok
Seorang teman berkata, "Ada orang istana ngomong gini, gua dah ingetin Ahok supaya mulutnya dijaga. Dia iya iya, tapi 3 hari gitu lagi.. Kayaknya Ahok perlu disumpel selotip ajaib.."
 
Saya ketawa ngakak dengarnya. Duh, jujur saya malah kangen dengan gayanya Ahok, cara ngomongnya yang meledak2 dan langsung to the point. Bagi sebagian orang memang terlihat kasar, tapi bagi saya itu hiburan yang menyehatkan.
 
Saya jadi ingat almarhum Gus Dur yang dengan seenaknya berkata, "DPR itu kayak taman kanak2.." Lalu terkekeh2. Sontak kata itu menjadi viral dan membuat banyak orang di senayan kebakaran bulu hidungnya. Gus Dur mendobrak tradisi santun munafik yang menjadi budaya pada masa dipimpin Soeharto.
 
Tapi mungkin si "orang istana" itu betul juga. Repot memang menghadapi bangsa yang belum dewasa ini. Dimana kebaikan hanya dilihat dari permukaan, bukan dari kedalaman. Karena itu, banyak dari kita suka memuji mereka yang berpakaian religius meski kelakuannya ternyata kayak kardus.
 
Ahok memang harus mengerem mulutnya yang pedas .Mulai belajar memahami bahwa tidak semua orang bisa menerima kenyataan. Mulai belajar menahan diri bahwa ia berhadapan dengan ribuan karakter yang berlainan.
 
Ahok bisa mencontoh Pakde Jokowi. Ia diam tapi bekerja. Kecepatan gerak kerjanya jauh lebih cepat dari mulutnya. Ia menutup celah orang menyerang dirinya, supaya ia tetap fokus pada hasil kerjanya.
Atau bisa mencontoh Kang Dedi Mulyadi yang dulu dikejar2 FPI. Ia bisa memainkan "layang2" dengan baik, tarik.. terus ulur ntar tarik lagi, ulur lagi. Kalau Ahok maen layang2 kerjaaannya narik terus, malah bisa cepat putus. ,
 
Kalau Ahok berhasil melakukan itu, berarti ia luar biasa. Sulit jika berbicara merubah sifat, karena itu berarti kita harus mampu menahan dan mengalahkan diri. Orang suka kerjanya, cuman banyak yang telinganya merah.
 
Itu saja kekurangan Ahok, yang menjadi bumerangnya.. Mulutnya membuka pertahanan dirinya sehingga mudah diserang lawan...
 
Tapi saya sekarang kehilangan Ahok. Kehilangan berita saat dia marah2. Kehilangan "kata2 mutiaranya" yang spontan. Banyak yang mengejeknya si mulut jamban, tapi saya yakin yang mengejek tidak lebih bersih dari jamban dirumahnya sendiri..
 
Mungkin Ahok sudah dewasa sekarang. Jadi saya juga harus dewasa dalam menerima sikapnya...
"Taik... !"
"Eh.. kokoh.. apa kabar ? Mau kopi ?"