Selasa, 01 November 2016

Langkah Kuda Jokowi

'Jokowi benar-benar negarawan sejati ya, bang... dia mau merendahkan diri untuk sowan ke Prabowo.."
Saya tersenyum. Dalam perang sebenarnya yang ada adalah menang dan kalah. Sama seperti catur, seri tidak ada nilainya.
Selama ini tekanan kepada Jokowi selalu berbentuk keriuhan. Masih terbayang situasi KPK vs Polri jilid 2, dimana rakyat seakan diadu oleh tangan-tangan yang tidak terlihat.
Kenapa harus riuh?

Keriuhan yang diharapkan berujung pada kerusuhan, akan melemahkan ekonomi Indonesia. Rupiah melemah, investasi mandeg, capital flight dan segala macam hal yang membuat akhirnya bangsa menjadi susah.
Tekanan akibat lumpuhnya sektor perekonomian sudah kita rasakan pada 1998. Semua menjadi mahal dan susah didapatkan. Pabrik tidak berproduksi dan pengangguran dimana-mana.
Dalam kondisi ekonomi kita lumpuh inilah, maka terjadi demo dimana-mana. Demo sudah bukan lagi berupa komunitas-komunitas terpisah, tetapi menjadi kesatuan. Dan disaat demonstrasi meluas dimana-mana, maka dengan mudah Presiden akan di impeach atau dipaksa mundur.
Jika ini terjadi, Jokowi jelas kalah..
Program pembangunan ekonominya gak berjalan dan dia bisa tidak dipilih lagi 2019 yang membuat apa yang dijalankannya sekarang bisa menjadi sia-sia. Betapa mahal biaya sosialnya..
Dengan dia mendatangi Prabowo, maka Jokowi menunjukkan kelas bertarungnya. Prabowo itu adalah jenis pemimpin yang senang "diangkat". Dengan didatangi oleh seorang Presiden, maka kebanggaan dirinya mencuat. Ketika sedang tinggi-tingginya itulah, Jokowi menitipkan pesan kepadanya untuk menjaga supaya Indonesia tetap aman dan terkendali.

Pada titik ini, Prabowo dan pengikutnya akan merasa menang bertarung. Tidak masalah, karena misi sesungguhnya Jokowi bukan perang berhadap-hadapan, ada sesuatu yang lebih besar yang ia jaga di belakangnya... Kekuatan ekonomi Indonesia.

Ketika program Jokowi berjalan dan ekonomi Indonesia menguat, maka disitulah tampak kemenangan sebenarnya. Siapa yang menang nanti 2019? Tentu sudah ketebak siapa pemenangnya.

Tampilnya Jokowi sebagai sosok negarawan adalah bagian kemenangan yang tidak terpisahkan. Orang yang dulu bimbang, akan sangat menghargainya. Dan ketika Jokowi berhasil membangun rasa aman, maka tidak ada alasan mereka untuk tidak memilihnya.

Jokowi bukan tipikal pemimpin yang bermain kampanye dengan bilboard besar-besar dengan klaim dan janji manis yang memuakkan. Ia sudah berperang terlebih dahulu sebelum medan perang itu tercipta.

Dan hebatnya, lawannya tidak menyadari itu malah ikut berkampanye untuknya..
Ahhhh... Politik ketika dimainkan dengan cantik begini, membuat secangkir kopi tidak terasa sudah tinggal ampasnya.. Tambah lagi ah..