Kamis, 03 November 2016

Masih Adakah Tuhan di Jakarta?

Suhu cuaca di Purwakarta tidak beda jauh dengan Jakarta yang panas. Minggir sejenak ke daerah sesudah begitu tegang selama di Jakarta, memang lumayan menurunkan tensi yang sedang naik-naiknya.

Apalagi ketika melihat kegiatan Kang Dedi, Bupati Purwakarta, berkumpul dengan para siswa dari berbagai agama, bercanda dengan mereka, meminta mereka saling mencium tangan kepada guru-guru agama yang berlainan agama.
 
Sontak panasnya Purwakarta turun sekian derajat dan hati ini berasa disiram air yang dingin. Indahnya keragaman dan konsep saling menghormati yang diciptakan, iblis seakan pergi dengan teriakan kencang karena kepanasan.

Sedangkan Jakarta begitu berbeda.
 
Disana sedang mempersiapkan kebanggaan akan ke-mayoritas-an satu agama dengan alasan membela Tuhan.
 
Mereka membela Tuhan dengan mencaci, mengejek, meludah bahkan berteriak untuk membunuh. Tidak cukup teriakan, atraksi berdarah akan dipertontonkan dengan "memenggal kepala boneka", membakar apa yang bisa dibakar.
 
Pada titik paling ekstrim, bisa saja berkembang ke aksi bom bunuh diri atau membakar diri sebagai bentuk protes penistaan terhadapTuhan.
 
Duduk di sudut pendopo, diantara anak tangga, membuat saya berfikir dan merekonstruksikan kembali makna keTuhanan, "Masih adakah Tuhan di Jakarta sekarang?".
 
Sambil menyeruput kopi seorang teman berkata dengan nada gundah, "Tuhan sudah pergi meninggalkan Jakarta...".