Minggu, 13 November 2016

Politik Cantik Jokowi

Politik
Jokowi
Dari keseluruhan Presiden di Indonesia, baru pada masa pakde Jokowi inilah saya menemukan bahwa politik itu sejatinya cerdas dan cantik. Politik yang biasanya kotor dan kasar dimainkan dengan indah, lembut tapi terlihat ketegasan dalam langkahnya.
 
Saya tertarik melihat langkah Jokowi sejak banyak keraguan terhadapnya ketika ia dituding "boneka partai". Alih-alih sibuk menyangkal tudingan itu, pakde memainkan orkestranya dengan benar.
 
Ia tahu bahwa ia sedang diadu dengan bu Mega, tetapi ia tidak memperdulikannya. Pakde tidak pernah meninggalkan rasa hormatnya, ia tetap mendudukkan sang ibu diatasnya.
 
Ketidak-patuhannya tidak ia tunjukkan dengan frontal, tetapi mengambil jalan halus yang tidak menyinggung, membuat orang beralih hormat padanya. Pakde memainkan politik yang seimbang, bagaimana semua masalah bisa diselesaikan tanpa harus menyakiti.
 
Lihat saja apa yang ia lakukan terhadap Budi Gunawan ketika terjadi penolakan kuat jika ia menjadi Kapolri. Pakde juga menyelesaikan masalah KPK vs Polri jilid II dengan manis tanpa meninggalkan huru-hara.
 
Langkah-langkah begini yang membuat lawan bingung. Mereka selalu ingin menjebak Jokowi dalam perangkap simalakama, tetapi pakde berhasil menghindar dan malah membuat score yang indah.
 
Ingat ketika negara dalam keadaan genting akibat terbelahnya parlemen menjadi 2 kekuatan dan kekuatan lawan selalu menyandera kebijakannya. Pakde mampu memainkan samurainya, membelah lawan tanpa mereka sadari dan tersakiti. Lawan hancur berkeping dalam sayatan2 halus menunjukkan pemainnya sangat profesional.
 
Begitu juga ketika menghadapi tekanan lawan yang ingin menjebaknya dengan membawa kasus penistaan agama..
 
Siapapun harus mengakui bahwa posisi Jokowi adalah posisi sangat sulit ketika dijebak untuk mengambil keputusan yang dua-duanya mempunyai resiko yang sama besarnya. Ia seperti terkunci dan lawan tertawa senang karena mereka sudah menyiapkan jebakan baru apapun keputusan yang diambil Pakde.

Tetapi Jokowi memang master dalam permainan ini. Ia membuka pertahanannya lebar-lebar sehingga lawan bernafsu untuk langsung memukulnya. Alhasil, mereka sendiri yang terkurung dalam perangkap yang mereka buat sendiri.
 
Jokowi mampu merendahkan dirinya untuk mendekati para ulama, tetapi sekaligus ia merapatkan barisan dengan Kopassus. Ini seni pertarungan yang tidak semua orang mampu melihatnya.
 
Banyak yang terkecoh ketika Jokowi datang kesana kemari dan mereka meremehkannya, menganggapnya galau dan panik, tetapi sesungguhnya Jokowi sedang menata pertahanan dan serangan sekaligus. Ia tidak memukul lawan, tetapi membuat mereka terkunci sehingga buah simalakama yang mereka hidangkan ke Jokowi, harus mereka makan sendiri.
 
Saya seperti menonton ulang film kolosal Red Cliff, dimana strategi adalah segalanya. Kemenangan tidak diukur dari berapa banyaknya korban di pihak lawan, tetapi dari seberapa kuatnya kemampuan bertahan ketika posisi sedang lemah.
 
Pakde ini seperti secangkir kopi, dimana ia tidak memainkan pahit dan manis secara berlebihan, karena keseimbangan adalah kenikmatan yang sebenarnya...
 
Satu waktu ingin kutuangkan kopi dalam cangkirnya dan mendengarkan langkah2nya yang sulit ditebak, selain sesudah semua itu berjalan.

Pasti aku betah mendengarkannya..