Senin, 14 November 2016

Selamat Pagi, Malaikat Kecilku

Teror Samarinda
Intan Olivia
Selamat pagi, Intan Olivia..
Kudengar beritamu pagi ini, kamu sudah pergi meninggalkan kita semua. Mungkin kamu sudah tidak tahan dengan luka bakar itu, mungkin Tuhan lebih sayang padamu.. Entahlah.

Maafkan kami, ya sayang... Kami orang dewasa yang masih dalam masa pencarian. Banyak dari kami tidak tahu apa yang kami kerjakan... Sehingga melempar bom molotov pun dianggap sebagai jalan menuju surga.
 
Ah, kamu pasti sekarang sedang ditimang-timang. Taman bermainmu jauh lebih luas dan bebas dari kedengkian. Teman bermainmu jauh lebih banyak sekarang, ada yang dari Suriah, dari Irak, dari Libya, dari Poso, dari Sampit, dari mana saja...
Dan kalian pasti tidak bertanya apa agamamu, apa sukumu, rasmu apa... Bahasa kalian semua sama, bahasa cinta...
 
Kamu tahu, dek ? Betapa cemburunya kami sama dirimu...
Kami ingin kembali ke masa kami tidak mengenal semua itu. Kami ingin kembali di waktu kami hanya ingin bermain, dengan siapa saja. Masa ceria yang indahnya seperti surga. Masa emas dimana dunia kita hanya tertawa, menangis dan lapar.. Itu saja.
 
Pasti kamu menangis terus, ya sayang, merasakan sakitnya badanmu waktu itu. Tapi sekarang sudah tidak lagi, kan ? Kamu pasti sudah berlari-lari sekarang membawa bonekamu.. Lupa akan kengerian itu.
Titip salam untuk Tuhan, dek..
Sampaikan... maafkan kami yang selalu membawa namaNya,, untuk kekejian yang kami perbuat. Maafkan kami yang selalu menjual namaNya, demi kekuasaan yang hanya sementara saja.
 
Semoga, ada pelajaran yang kami petik dari hilangnya dirimu... Semoga... Karena kami adalah manusia yang jarang belajar dari peristiwa..