Minggu, 20 November 2016

Tentang Kehidupan

"Sederhananya hidup itu bisa kita analogikan begini. Kita ini diberikan jalan yang besar menuju keselamatan. Jalan raya ini mulus dan lurus. Berjalanlah di jalan ini saja, maka kita pasti akan sampai di tujuan.

Tetapi meski besar, jalan raya itu sangat sepi. Yang ada hanya petunjuk, "Jangan masuk ke dalam hutan dan makan buah2an di dalamnya ..".
Petunjuk itu dinamakan agama..
 
Tetapi sayang, kita sering tergoda oleh cantiknya buah2an di dalam hutan lebat di pinggir jalan. Itulah yang disebut kenikmatan duniawi.
 
Kita awalnya sekedar ingin mencicipi buah yang tampak segar itu, lalu kita minggir dan keluar dari jalan raya. Itulah yang dinamakan ingkar akan petunjuk atau kafir.
Kita makan buah2an di dalam hutan itu, dan semakin kita menikmatinya, kita malah semakin lapar dan haus...
 
Lalu kita masuk semakin dalam ke hutan karena semakin tergoda oleh keindahan buah lainnya dalam hutan. Semakin dalam kita masuk ke hutan dan tanpa sadar kita sudah jauh meninggalkan jalan raya itu.  Itulah yang dinamakan tersesat...
 
Ada satu titik kita sadar bahwa kita salah. Kita berputar2 di dalam hutan dan tidak bisa menemukan kembali arah pulang ke jalan raya itu. Kita terduduk diam, lelah dan menyesali semua perbuatan kita.
Tuhan membantu kita dengan menurunkan hidayah supaya kita mengenali petunjuk2 untuk kembali ke jalan raya tadi. Panjang perjalanan dan kesulitan kita kembali ke jalan raya itu, sebanding dengan seberapa jauh kita tersesat. Semua akibat kita sendiri, kesalahan kita, pembangkangan kita akan petunjuk. Jadi jangan pernah salahkan Tuhan...
 
Dan ketika akhirnya kita kembali berada di jalan raya, kita banyak mendapat pelajaran. Seharusnya disini kita menjadi lebih bijak. Dan orang yang bijak mengetahui bahwa cukup hanya dengan berjalan saja mengikuti jalan yang ada, kita tidak akan tersesat, tidak ada kesulitan di dalamnya, apalagi harus gelisah.
 
Kita akan menjadi sangat tenang karena kita mulai paham, jalan ini akan menuju ke arah yang menyelamatkan kita. Itulah yang dinamakan keyakinan... "
 
Temanku tersenyum sambil menyeruput kopinya. "Wah, sederhana sekali ilmu tentang hidup itu rupanya.." pikirku.
 
"Lalu jika jalan raya itu jalan yang benar, kenapa jalan itu sepi ?" Tanyaku heran.
Dia tersenyum lagi, "Karena pada dasarnya manusia itu pembangkang. Mereka banyak yang berada di dalam hutan.."
Ah, baru kutahu betapa kopi ini pahit sekali...
"Berapa banyak obyek pelajaran, tetapi betapa sedikit yang mengambilnya sebagai pelajaran..." Imam Ali as.