Senin, 07 November 2016

Tentang Tuhan

"Orang Islam ini - termasuk kita - banyak yang kurang ajar..". Duduk di sebuah ruang dengan jendela besar2 yang terbuka dan terdengar gemericik air dari air mancur kecil di sebuah kolam, membuat hati ini berasa sejuk. Kami duduk melingkar dan pembicaraan pun semakin menghangat karena segelas kopi masuk dan terhidangkan.
 
"Kita dalam kehidupan sehari2 begitu hormat kepada orangtua. Kita tidak pernah memanggil nama mereka, tetapi memanggilnya dengan kata pengganti "Bapak" atau "Ibu"... Karena memanggil mereka dengan nama aslinya, tentu sangat tidak sopan.."
 
Kuhirup secangkir kopiku sambil mendengarkan pemikiran2 yang keluar dari sekat2 kebiasaan. Menarik melihat sudut pandang berbeda dari seorang pelaku kehidupan.
"Tetapi kita tidak begitu kepada Tuhan.. Kita meneriakkan namaNya dijalan2, kita merusak dengan memanggil namaNya dengan keras.. Bahkan pada tingkat paling ekstrim, kita bisa membunuh sesama kita yang juga ciptaanNya, dengan berkoar atas namaNya...
Bukankah itu kurang ajar? Kita bisa beretika kepada orangtua, tetapi meninggalkan adab kepada Tuhan..."
 
Aku tersenyum. Pemikiran luar biasa yang keluar dari sisi liar pemikiran Kang Dedi Mulyadi, membuatku menemukan secercah jawaban dan teringat kepada pertanyaan seseorang..
"Abang agamanya Islam apa bukan ? Kenapa kok tulisannya selalu menyebut Tuhan tapi tidak Allah Subhanahu wata'ala?" Dan seperti biasa tidak ketinggalan kata ajaib terakhirnya, "Semoga abang mendapat hidayah.."

Kubalas inboxnya dengan jawaban yang tenang,
"Biarlah nama itu kubisikkan di sudut2 kamar, ketika aku sendirian dan merintih memohon ampunanNya. Nama itu tidak layak kutampilkan di ruang publik seakan aku memilikiNya.
Karena menyebut namaNya, menyebut kebesaranNya, tanpa mempunyai bobot dan tidak pada tempatnya, bukannya menjadikan diri ini tunduk dan berserah, tetapi malah membuat dada mengembang dengan penuh kesombongan.."
 
Purwakarta siang itu begitu panas...
"Pengetahuan membuat orang takut pada Tuhan..." Imam Ali as.