Sabtu, 05 November 2016

Ulama Pengkhianat Rasul

"Bang, kenapa abang selalu menghina para ulama? Hati-hati dengan ucapan abang yang akan membawamu ke neraka..''.

Saya suka senyum-senyum sendiri kalau membaca komen ataupun pesan ini yang dihadirkan dengan rasa marah dan benci. 

Saya memaafkannya karena ketidak-tahuannya. Ia belum berhasil memilah mana ulama su (jahat) dan mana yang sebenar-benarnya ulama.
Menurut adz-Dzhabi, ulama sû’ adalah ulama yang mempercantik kezaliman dan ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa; ulama yang memutarbalikan kebatilan menjadi kebenaran untuk penguasa; atau ulama yang diam saja (di hadapan penguasa) padahal ia mampu menjelaskan kebenaran.
Rasulullah SAW: "Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama sû’; mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu." (HR al-Hakim).

Anas meriwayatkan: "Ulama adalah kepercayaan para rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik dengan dunia maka mereka telah mengkhianati para rasul. Karena itu, jauhilah mereka.." (HR al-Hakim).
Al-Minawi, dalam Faydh al-Qadîr, mengatakan, “Bencana bagi umatku (datang) dari ulama sû’, yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Setiap orang dari mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai oleh kesengsaraannya.
Siapa saja yang kondisinya demikian, maka bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi. Dari sisi umat; mereka mengikuti ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya.
Ia memperindah penguasa yang menzalimi manusia dan gampang mengeluarkan fatwa untuk penguasa. Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui.”
Al-Ghazali mengingatkan, “Hati-hatilah terhadap tipudaya ulama sû’. Sungguh, keburukan mereka bagi agama lebih buruk daripada setan. Sebab, melalui merekalah setan mampu menanggalkan agama dari hati kaum Mukmin.
Atas dasar itu, ketika Rasul SAW ditanya tentang SEJAHAT-JAHAT MAHLUK, Beliau menjawab, “Ya Allah berilah ampunan.” Beliau mengatakannya sebanyak tiga kali, lalu bersabda, “Mereka adalah ulama sû’.”

Sedangkan ulama yang benar adalah seorang alim yang mempunyai pengetahuan luas tentang agama. Ia sudah "meninggalkan" dunia dan sifat2 kemegahannya.
Pola hidupnya sudah pasti sangat sederhana dan kesederhanaannya itu menjadikannya bersahaja. Seluruh apa yang dilakukannya semua bernafaskan kebaikan, karena nafsunya berhasil ia kendalikan.
Seorang ulama haruslah menjalani proses penderitaan di dunia. Ia menderita perasaannya ketika melihat orang2 miskin dan yang terzalimi. Rasa sakitnya itu mengasah hatinya sehingga akalnya menjadi tajam dalam memilah mana kebenaran dan mana kesalahan.
Seorang ulama yang benar seperti secangkir kopi. Meskipun manisnyà dunia mendekatinya dari berbagai arah, ia tetaplah menjadi pahit karena baginya pahit adalah kenikmatan yang hakiki...
Seruput...