Rabu, 07 Desember 2016

Cerdik Seperti Ular, Tulus Seperti Merpati

Indonesia
Indonesia Bersatu
"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati." Matius 10:16
 
Saya yakin seluruh umat Kristen paham firman ini, tapi apakah mereka mengamalkannya? Ternyata tidak juga.
 
Banyak yang sibuk pasrah dan serahkan semua pada Tuhan. Malah ada yang menyamakan gempa di Aceh sebagai bagian dari pembalasan pembubaran KKR Natal di Bandung. Alamakjang...
Melawanlah, saudara2ku... Melawanlah..
 
Kalian harus melawan tetapi bukan melawan umat Islam. Kalian melawan INTOLERAN. Jangan samakan umat Islam dengan kaum intoleran dalam satu barisan...
 
Melawan bukan berarti berperang secara fisik atau menyiapkan pasukan. Melawan adalah menggunakan konstitusi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Kalian punya hak sebagai warga negara untuk bebas beribadah. Laporkan mereka yang mengganggu ibadah kalian kepada alat negara sebagai bentuk usaha. Baru hasilnya serahkan pada Tuhan...
 
Kalian pasti punya pengacara2 yang handal, manfaatkan dengan benar...
Lawanlah kaum intoleran dengan membentuk barisan bersama muslim moderat yang punya kekuatan, seperti NU atau Muhammadiyah. Libatkan mereka dalam setiap acara keagamaan kalian dan terlibatlah dalam setiap acara mereka. Datangilah mereka di wilayah masing2 kalian. Duduklah bersama-sama...
 
Belajarlah ke Manado atau NTT bagaimana caranya. Ini bukan masalah agama, tapi masalah kebhinekaan.
 
Lepaskan eksklusifitas dalam agama kalian. Tidak perlu takut untuk duduk bersama dengan muslim moderat. Persatuan umat adalah tembok penghalang intoleran untuk memecah kita. Keluarlah dari cangkang, jangan lagi sibuk dengan kata "Untuk kalangan sendiri" tapi ketika ada masalah semua umat harus paham...
 
Saya kira, itulah bagian dari pemahaman "Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.." Jangan diam saja dan pasrah. Pasrah tanpa usaha sama saja menyerah. Catat, kalian punya hak yang sama sebagai warga negara...
 
Redam emosi dan berfikirlah jernih. Emosi tidak pernah menyelesaikan masalah malah akan membuat sumber masalah baru. Bergeraklah seperti ular - lincah dan cepat - tapi jangan meninggalkan ketulusan seperti burung merpati, jangan punya niat untuk kepentingan untuk diri sendiri.
 
Jika kalian paham, kami yang muslim disini juga berperang tapi bukan dengan fisik melawan. Kami berperang melalui pemikiran, membongkar borok2 kefanatisan yang melanda banyak orang sehingga merubah mereka menjadi intoleran. Tetapi tanpa kalian yang juga ingin merubah diri, kami juga tidak bisa maksimal..
 
Mari kita sampaikan pesan ini kepada pakde Jokowi. Kita pakai kata beliau, "Kita bikin rame !" Tetapi rame dalam jalur konstitusi, bukan malah membuat demo tandingan dan unjuk kekuatan..
 
Melawan kebodohan harus dengan cara yang pintar. Intoleran itu bodoh sedangkan "Puncak dari akal adalah toleran". Itu nasihat Imam Ali as...
 
Percayalah, saya tidak hanya duduk2 saja sambil ngopi disini.. Saya keliling kemana2, bertemu banyak tokoh toleransi dan mencari solusi bersama untuk negeri ini..
 
Sudah saatnya kita bangkit, umat beragama yang cinta kebhinekaan melawan penyakit intoleran yang sedang melanda negeri ini...
 
Mari angkat secangkir kopi untuk mereka yang paham pesan ini...