Jumat, 09 Desember 2016

Di Purwakarta Ada Harapan

Toleransi
Dedy Mulyadi
Menurut data Wahid Institute 2016, Jawa Barat menempati ranking pertama dalam masalah intoleransi di Indonesia..
 
Peristiwa pembubaran KKR Natal di Bandung kemaren seharusnya membuka mata kita, bahwa Jabar penuh dengan kelompok intoleran yang bersembunyi dibalik jubah agama.
 
Bahkan di Majalengka, baru ditangkap kelompok teroris yang berhasil merakit bom dengan kekuatan 3 kali lipat lebih besar dari bom Bali, yang salah satu rencananya akan digunakan untuk menyerang gereja2 pada saat Natal...
 
Entah kenapa di Jabar begitu subur dengan pertumbuhan paham radikal. Mungkin ini efek selalu merenung dan menangis yang sudah dicontohkan dengan baik oleh Gubernur dan Wakilnya...
 
Ditengah tandusnya kebhinnekaan di Jabar, Purwakarta adalah Oase bagi pecinta kerukunan. Purwakarta seperti melawan stigma yang selama ini melekat bahwa Jabar adalah provinsi intoleran. 

Kang Dedi Mulyadi seperti bertarung sendirian mengatur barisan dan merapatkannya tanpa memandang suku, ras dan agama..
 
Mungkin seharusnya warga Jabar bergantung pada beliau untuk mendobrak segala sekat yang selama ini dirajut kuat hanya bagi satu golongan saja.
 
Pagi ini melihat Bupati duduk bersama para Kyai, para Pendeta dan para Bhiksu dalam doa bersama lintas agama untuk Aceh, saya seperti melihat harapan. Bahwa masih ada manusia2 yang memandang bahwa kebhinnekaan kita itu mahal harganya. Menjaganya sama dengan membela negara.
 
Saya duduk di pojok pendopo, tanpa secangkir kopi - apalagi sebatang rokok. Untungnya terbayar dengan keindahan warna di depan mata saya...
Mungkin sudah saatnya mencari Equil dan Sari Roti, biar kelar hidup saya...