Senin, 12 Desember 2016

Jokowi Ahok Itu Satu Paket

Gubernur Ahok
Jokowi dan Ahok
Ketemu salah seotang relawan Jokowi. Ngobrol ngalur ngidul ngisor, tiba-tiba ia berkata, "Aku ini pendukung Jokowi.. tapi bukan pendukung Ahok..".

Saya menatapnya, "Kenapa?" Tanyaku, ingin menggali alasan di baliknya. Dia akhirnya bercerita panjang lebar yang pada intinya karena kasarnya mulut Ahok, isu 9 naga dan lain-lain yang kita juga biasa mendengarnya. Tersenyum saya mendengarnya. Yah namanya juga pilihan, bebas-bebas saja. 

Hanya ada satu yang temanku ini lupa.
Salah satu alasan Jokowi waktu menerima pencalonan Presiden dan berhenti jadi Gubernur DKI lebih cepat adalah, "... saya akan lebih mudah menyelesaikan masalah Jakarta jika saya menjadi Presiden.."
Dan terbukti memang... Sejak Jokowi menjadi Presiden, Ahok - penggantinya -jauh lebih mudah menyelesaikan masalah banjir dan macet. Koordinasi Ahok dengan Menteri PU jauh lebih mudah untuk atasi banjir yang menjadi momok di Jakarta sebelumnya. Ingat dulu perseteruan Gubernur Jokowi dgn Menteri PU masa SBY, Joko Kirmanto.

Jujur sajalah, Jakarta dulu ma sekarang utk masalah banjir sudah jauh berbeda kan?. Begitu juga pembangunan transportasi massal yang sedang dikebut untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan. Mulai MRT. LRT. Commuter line ttansjakarta sampai kereta ke bandara terus dikebut pembangunannya dengan kerjasama yang baik antara pemerintah pusat dgn pemprov DKI.

Coba deh mampir ke Jakarta, lihat betapa cepatnya pembangunan proyek transportasi massal itu dikerjakan. Dan semua itu hasilnya untuk warga Jakarta..
 
Jadi, lucu juga ketika ada seorang pendukung Jokowi mengatakan bahwa ia tidak mendukung Ahok. Bagaimana bisa melepaskan mereka yang sejak awal satu paket untuk menyelesaikan masalah yang dulu tak pernah terpecahkan di Jakarta?.

Kebayang jika yang jadi Gubernur nanti bukan Ahok. Bisa terjadi penyanderaan program yang sudah berjalan oleh Gubernur baru yang secara politis berseberangan dgn Jokowi. Tenttu akan repot kembali koordinasinya, sibuk ribut di langkah politis sehingga mengurangi kinerja.
 
Biasa, kita tahulah.. ajang Pilpres 2019 pasti jadi tempat mencari panggung banyak pejabat. Jokowi membutuhkan Ahok untuk tetap menjadi Gubernur DKI, karena ia harus merealisasikan janjinya dulu waktu meninggalkan Jakarta. Seperti kata lagu dangdut, "Kau yang berjanji, kau yang mengakhiri.."
 
Karena itu mendukung Ahok sebagai Gubernur DKI adalah keharusan bagi pendukung Jokowi. Karena - perhatikan saja - para pembenci Ahok kebanyakan adalah barisan sakit hati pilpres 2014. Jangan termakan isu mereka untuk memisahkan Jokowi dan Ahok dari program pembangunan di Jakarta.
 
Jokowi dan Ahok bagi Jakarta itu seperti kopi dan gula. Satunya pait, satunya lagi manis dan mereka saling menyeimbangkan. Jika Ahok tersingkir dari DKI, jalan Jokowi menuju periode kedua, bisa sangat terganggu karena banyak proyek yang tidak terealisasi kecuali ada negosiasi.
 
Masak gini aja gak paham? Mukidi aja ngerti...