Kamis, 08 Desember 2016

Jokowi Bukan Orang Lemah

Jokowi
Jokowi
"Kenapa Pakde diam saja?". Itu pertanyaan temanku ketika dikepalanya terpatri seribu pertanyaan melihat intoleranisme dan pemaksaan kehendak oleh satu golongan merajalela.
Begitu besar harapan ke Jokowi sekarang ini untuk bisa menyelesaikan persoalan yang sudah menjadi karat dalam rumah kita. Pembubaran KKR Natal di Bandung adalah klimaks di akhir tahun ini sesudah demo2 411, 212 dan ditambah pernyataan2 arogansi boikot ini, boikot itu, bahkan roti aja di boikot.
Saya pun sebenarnya sempat bertanya hal yang sama. Kenapa Jokowi yang begitu gagah menghadapi para mafia terlihat melempem menghadapi para onta?.

Sampai ketika ia muncul shalat Jumat di acara 212 dan naik mimbar, saya seperti menemukan jawabannya.
Pertama kita harus pahami dulu bahwa Jokowi bukan jenis orang yang reaksional menanggapi suatu masalah. Ia pemikir sejati dan langkah2nya tertib, pelan tetapi haruslah mematikan. Tidak mudah menebak kemana arah berfikirnya.
Sifat ini juga terbentuk karena lingkaran istana - bahkan yang ring 1 pun - bukanlah orang2 yang bisa ia percaya. Banyak yang ingin mencari panggung di 2019 atau mempunyai kepentingan sendiri. Ia harus memetakan mana kawan mana lawan dengan perlahan. Tidak mudah menyingkirkan mereka karena ia tidak ingin mencari musuh2 baru dalam perjalanan. Terlalu banyak musuh, sulit bekerja.
Dan beberapa diantara orang yang tidak ia percaya juga ada yg berperan menggerakkan tokoh2 demo dengan baju Islam itu. Mereka yang sejak lama menjalin hubungan dgn kelompok Islam, mendanai kegiatannya dan menggerakkannya ketika ada kepentingan.
Dan Jokowi bukan diam saja. Ia geram ketika melihat ada sekelompok manusia yang merasa dirinya paling benar mencoba memaksakan kehendak dan mengatur hukum di Indonesia. Beberapa teman relawan menyampaikan kegeraman Jokowi ketika bertemu dengan mereka dalam sebuah acara.
Hanya memang, butuh cara dan waktu yang tepat untuk menghantam. Kalau dihantam sekarang bisa bahaya.
Kelompok-kelompok yang mengatas-namakan Islam itu sudah berhasil membangun euphoria di sebagian masyarakat terhadap kebanggaan agama mereka dengan tema melawan penista agama.
Dan ketika para tokoh kelompok itu dihantam sekarang, tentu mereka malah menjadi martir dan pahlawan. Biasaa.. Drama "playing victim" masih disukai sebagian orang akibat kebanyakan nonton telenovela.

Puncak dari kegeraman Jokowi terjadi ketika ia membelokkan langkahnya menuju panggung shalat Jumat di 212.
Aksi Jokowi ini benar2 spontan. Pada menit2 terakhir, saya masih mengontak "orang2 disekitarnya" dan bertanya, "Apakah pakde shalat Jumat di Monas ?" sekedar untuk melihat benar atau tidaknya prediksi saya.. Mereka tidak bisa menjawab. Dan ketika tiba2 Jokowi membelokkan langkahnya di tengah gerimis, sebuah pesan masuk, "Bener prediksi abang. Pakde sekarang ke Monas.."
Ini bentuk reaksional pertama kali yang saya jumpai dari seorang Jokowi. Menunjukkan betapa geramnya ia terhadap pemaksaan kehendak dengan mengatas-namakan agama. Dan salah satu langkah terbaiknya hari itu adalah merebut panggung dari para pencari panggung yang sebelumnya sudah mempersiapkan diri untuk berorasi.
Tentu pak Tito sudah menangkap kemungkinan ini. Penangkapan beberapa tokoh dengan tuduhan makar adalah bagian dari membersihkan jalan Jokowi menuju panggung utama. Bahaya ketika orang2 itu ada di lapangan dan Jokowi juga ada di sana. Mereka sangat mungkin menggerakkan massa pada saat itu menjadi beringas dengan orasi2 mereka.
Diantara mereka yang sempat ditahan adalah orang2 ideologis, yang pemikirannya sangat berbahaya. Sedangkan yang ada di Monas hanyalah para pencari wajah dan dana, lebih mudah untuk dikuasai dan diintimidasi, "Kalau Presiden kesini dan lu macem2.. awas, gua sunat 2 kali..". Siapapun gemetar kalau mendengar disunat 2 kali. Sayapun gemetar ketika menulis ini... Rasanya, ahhhhhh...uhh... iihh...
Dari sini kita bisa melihat bahwa Pakde sebenarnya tidak diam saja. Ingat, ia pecatur handal. Tidak bisa sembarang mengorbankan bidak tanpa kemampuan memprediksi langkah lawan ke depan.
Disinilah menariknya melihat langkah kuda Jokowi. Terkadang ia tanpa sadar mengedukasi bahwa emosi dan rasionalitas tidak bisa sejalan. Keputusan yang jernih hanya bisa dilakukan ketika emosi sudah teredam. Dan ketika ia sudah menemukan langkah terbaiknya pada waktu yang tepat, percayalah.. itu sangat mematikan...
Jokowi bukan orang lemah. Ia justru sangat berbahaya... Hati-hati saja kalian yang terus berusaha menekannya. Ah... Berasa mau bikin kopi lagi...