Jumat, 23 Desember 2016

Kang Dedi Mulyadi yang Saya Kenal

Purwakarta
Keberagaman di Purwakarta
Saya sering mendengar ceritanya. Ketika masih menjabat wakil bupati, ia sering datang ke tempat orang2 susah memberikan mereka bantuan atas kesulitan mereka. Ia keliling di malam hari ketika orang sedang tidur nyenyak, dan memberikan surprise pertolongan yang sama sekali tidak mereka sangka.

Bahkan ada yang pingsan ketika ia datang memeluk dan memberikan sebagian hartanya kepada mereka yang sangat membutuhkan..

Ketika menjadi Bupati sifatnya tidak berubah, malah jangkauan wilayahnya lebih luas, tidak hanya di Purwakarta. Saya pernah nongkrong di pendopo dan bertemu dengan beberapa orang dari Tasikmalaya, yang meminta pertolongan Kang Dedi untuk sekedar menyumbang beras.

Mereka adalah organisasi nirlaba yang memelihara orang gila disana. Kebetulan donatur mereka meninggal dan pemda Tasikmalaya tidak menghiraukan apa yang mereka lakukan. Kepada Kang Dedi lah mereka datang...

Apa yang saya saksikan membuat saya kagum. Saya bahkan sempat menitikkan airmata ketika Kang Dedi mengumpulkan anak2 sekolah dari berbagai agama dan mereka saling mengenalkan diri dan agamanya masing2, membuat semua anak mengenal lingkungannya lebih luas dan tidak sempit.

Kang Dedi itu orang sunda, dan ia sangat bangga dengan ke-sunda-annya. Dari yang saya lihat selama di Purwakarta, Kang Dedi lebih suka mengangkat budaya asli Indonesia daripada agama.

"Karena agama urusannya personal kita dengan Tuhan, sedangkan adat dan budaya adalah ciri bangsa kita yang harus kita tonjolkan..." Katanya waktu saya sempat ngobrol sebentar dengannya.

Kang Dedi sekarang sedang berperang melawan radikalisme yang menyerang provinsinya. Jawa barat sangat terkenal dengan intoleransinya, salah satu prestasi yang sangat tidak membanggakan. Ia baru saja meluncurkan program pemantapan kembali ideologi Pancasila yang sudah hilang bertahun-tahun lamanya. Ia melibatkan semua unsur mulai TNI, Polri, PNS dan tentu saja masyarakat Purwakarta.

Bisa dibilang Purwakarta adalah oase ditengah hausnya masyarakat Jabar akan kerinduan hidup berdampingan dengan sesama..

Tugas Kang Dedi saya yakin sangat berat. Ia dituding musrik, sesat dan entah apalagi yang ia lawan dengan keanggunan. Ia pernah dikejar FPI ketika hendak berbicara di Taman Ismail Jakarta. Ia juga pernah dikejar buruh tapi ia malah mengajak mereka selfie bersama..

Kang Dedi bukan tipe pemimpin yang suka kosmetik, mendandani daerah hanya supaya terlihat menarik. Ia masuk ke akar masalah dan membereskannya.

Ia sadar sesadar-sadarnya, kemiskinan dan kebodohan adalah pangkal radikalisme. Karena itu sejahterakan mereka dan cerdaskan... Solusi yang jitu ditengah kebodohan banyak pemimpin negeri yang lebih mengutamakan penampilan suci tapi sesungguhnya busuk hatinya.

Berbincang dengan Kang Dedi sangat menarik, menbuka kembali nalar dan hati bahwa damai itu tidak bisa tercipta dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan dgn segenap akal dan tenaga. Ia adalah antitesa dari Kang Dedi lain yang kerjaannya nangissss aja...

Semoga Kang Dedi bisa naik ke posisi lebih tinggi menjadi Gubernur bagi Jawa Barat, supaya apa yang ia perbuat bisa bermanfaat lebih banyak. Karena disanalah fungsi sebenarnya manusia, untuk memanusiakan manusia lainnya..

Salam hormat Kang Dedi. Kapan-kapan kita duduk semalaman sambil bercerita tentang mudahnya menjadi pemimpin dan sulitnya menjadi manusia..

Seruput atuh, kang kopina.. Abdi teu tiasa basa sunda ieu.. Soalna abdi urang Madura...