Minggu, 18 Desember 2016

Ketika Tuhan Membela Iblis

Kejahatan
Kejahatan
"Bagaimana bisa iblis berperan dalam nafsumu?
Nafsumu adalah dirimu sendiri. Iblis adalah entitas lain diluar hidupmu. Ia tidak mampir dan menggodamu. Ia tidak berperan dalam kerusakanmu. Ia tidak bersalah dalam kedosaanmu. Ia suci dari semua keangkuhanmu..
 
Kamu yang merusak hidupmu sendiri. Kamu yang tidak mampu mengendalikan apa yang seharusnya kamu kendalikan. Kamu menciptakan iblis dalam dirimu dan menyalahkan iblis sejati.
Bagaimana bisa kamu melumuri dirimu dalam dosa dan memfitnah sesuatu yang tidak bersalah padamu ?"
 
Luluh lantak diriku ketika memahami bahwa selama ini aku salah, mengkambing-hitamkan sesuatu yang tidak pernah terlibat dalam kesalahanku. Terjebak dalam kebingungan, aku kembali bertanya..
"Lalu, dimana peran iblis di dunia ini, Tuhan ?"
 
Sejenak suara dalam benakku hening. Rasa kosong menghantam dadaku. Ah, bahkan secangkir kopi tidak mampu menghibur kekalahanku..
 
"Ketika kamu merasa telah beriman.." Sebuah jawaban menusuk akalku.
"Ketika kamu merasa beriman dan mulai mengukur dirimu dengan orang lain. Ketika kamu merasa ibadahmu lebih tinggi dari manusia lain. Disitulah iblis berperan. Karena ia tidak ingin ada manusia yang lebih beriman dari dirinya kepadaKu.
 
Iblis tahu kelemahannya. Dari semua ibadahnya yang tinggi, ia tidak mampu menjangkau puncak dari segala ibadah yaitu ahlak. Ia terjebak karena memakai baju kesombonganKu..
 
Dan ketika engkau juga sombong dalam keimananmu, maka gembiralah iblis karena ia berhasil menjadikan manusia seperti dirinya.."
 
Ah, ternyata begitulah iblis. Manusia lupa bahwa ia adalah mahluk yang bertauhid. Ia adalah jin dengan tingkat ibadah yang tinggi. Sayangnya, ketinggian ritualnya ternyata tidak diikuti ketinggian spiritualnya. Ia kosong dalam syariatnya...
 
Cangkirku sudah kosong, tapi pengaruh kafein masih berputar dalam akalku yang mulai terisi..
"Janganlah mencaci iblis di keramaian, sedangkan engkau berteman dengannya di kesunyian.." Imam Ali as.