Selasa, 06 Desember 2016

LAWAN INTOLERAN

PAS
Sewaktu di Sukabumi ketika dialog lintas agama, seorang pengelola Klenteng mengeluhkan tentang betapa sulitnya mengadakan acara keagamaan di sana.
 
Selain masalah perizinan, juga masalah penolakan ormas2 agama disana terhadap acara keagamaan agama lain.
 
Saya coba memberikan sebuah ide..
"Selama ini ketika kita bicara agama, kita cenderung bersifat eksklusif, bahwa ini acara agama tertentu sehingga tidak perlu melibatkan agama lainnya.
 
Sebenarnya pemikiran lama ini yang menjadi sumber kelemahan sehingga mudah sekali diserang sampai dibubarkan ketika sedang melakukan penyelenggaraan.
 
Nah, cobalah membuka diri untuk bisa melibatkan agama lain dalam acara itu sehingga meskipun kita berbicara perayaan satu agama tapi mengajak agama lain untuk ikut menjaganya...'
Cangkir kopipun dihidangkan menambah semarak diskusi..
 
"Kita contoh saja Bali. Di Bali ketika ada ibadah keagamaan seperti shalat Jumat misalnya, para pecalang menjaga sehingga memperkecil provokasi dari pihak lain. Dengan begitu Bali menjadi tempat aman bagi banyak agama untuk melakukan kegiatan ibadahnya.
 
Dan ini bukan hanya terbatas pada saat ibadah atau acara keagamaan saja. Lintas agama melakukan dialog dan diskusi bahkan sampai tahap koordinasi sehingga yang terjadi adalah pembauran dengan menghormati keyakinan masing2. Saling menjaga karena timbul rasa sayang... "
 
Kuseruput kopi di cangkirku terasa nikmat ketika pahit dan manis bersatu tanpa saling mendominasi.
"Coba datang dan bekerjasamalah dengan pengurus NU di wilayah masing2. Jangan hanya meminta bantuan ketika ada acara saja, tapi membangun kerjasama diluar ibadah. Toleransi itu diciptakan bukan hanya didendangkan.. Membutuhkan kerendahan hati yang tinggi jika kita ingin semua aman.."
 
"Setidaknya..." Kata saya menambahkan. "Ketika di acara itu NU terlibat, ormas lain yang ingin mengganggu sampai membubarkan pasti akan sangat sungkan. Dengan begitu, kita semua menjaga terjadinya benturan.. "
 
Ah, ternyata kopi bisa menyelesaikan permasalahan, setidaknya dalam konsep pemikiran. Pelaksanaannya tergantung kedewasaan dan langkah masing2 pihak.
 
Ketika membaca kasus pembubaran KKR Natal di Sabuga ITB Bandung, saya jadi teringat pembicaraan lama itu..