Senin, 12 Desember 2016

Logika Dasar Kesucian

Manusia Suci
Nabi Muhammad SAW
"Nabi itu hanyalah manusia biasa..". Kata temanku bertahan dalam argumennya. Sudah bercangkir kopi kami habiskan sore ini untuk sekedar membahas logika kesucian.
 
"Dari mana kamu berpendapat seperti itu ?" Tanyaku sambil mengunyah tahu isi panas. Sudah lama tidak makan tahu isi, kali ini disediakan lagi karena hutangku sudah terbayar di warung kopi. Kulirik ibu warkop, dia tersenyum manis padaku. Halah, kemarin-kemarin aja cemberut, bu..

'Para Nabi makan seperti kita, melakukan pekerjaan seperti kita, organ tubuhnya sama seperti kita, bahkan mereka juga mengenal yang namanya kematian... Apa bedanya dengan manusia?". Ah, pemikiran yang menarik. Aku melirik temanku itu. "Kalau begitu, kamu sama seperti monyet dong ?"
"Kok bisa ?" Temanku makin heran.
"Ya, kan monyet juga makan seperti kamu, bekerja seperti kamu, organ tubuhnya juga gak beda-beda amat, mereka juga mengenal kematian... Apa bedanya dengan kamu?". "Ya beda dong, monyet kan gak berakal.." Jawabnya serius.

Aku tertawa. Sore yang cerah. Kuhirup kopiku dan kukunyah lagi sepotong tahu. "Lihat, kan.. kalau sudah urusan disamakan dengan monyet, tiba-tiba berkilah tidak sama. Padahal, kalau disamakan antara jasad dengan jasad, wujud dengan wujud, apa bedanya kita dengan monyet? Tidak ada kan?.
Yang membedakan kita dengan monyet adalah sesuatu yang tidak berwujud, yaitu akal. Akal-lah yang pada akhirnya membedakan perilaku kita dengan monyet..
 
Begitu juga perbedaan kita dengan para Nabi atau manusia suci. Secara jasad atau wujud, kita sama. Tapi ada yang membuat perbedaan antara kita dengan mereka, yaitu ruhnya mereka yang suci, sedangkan kita tidak. Itulah yang membuat mereka tidak sama dengan kita, manusia biasa. Kesucian mereka-lah yang menyebabkan perbedaan besar antara perilaku kita dengan mereka.."
 
"Apa keunggulan dari kesucian ruh mereka?" Tanya temanku masih ngotot disamakan ma monyet.
"Sulit mengukur kesucian mereka dari kacamata kita. Itu sama saja seperti anak SD mengukur keilmuan seorang profesor, tidak akan pernah sampai.

Tapi setidaknya kita bisa mengenali dari sifat-sifat sementara mereka di dunia. Kemampuan berkomunikasi dengan Tuhan, kemampuan melihat masa lalu dan masa depan karena mereka tidak terbatas waktu dan ruang, juga kemampuan mengeluarkan keajaiban-keajaiban. Dari sifat-sifat sementara di dunia saja, kita sudah bisa melihat perbedaan besar antara kita dan mereka. Sesuatu yang sulit kita jangkau.

Membatasi keistimewaan mereka dengan hanya membandingkan jasad kita dengan mereka saja, sesungguhnya adalah kebodohan. Kebodohan itu akibat kesombongan, ketidak-mauan mengakui bahwa mereka sesungguhnya sangat berbeda..."

Kulirik sudah tiga tahu isi dimakan temanku, tanpa permisi. Ini mengejutkan, karena hari ini giliranku membayar. Tinggal satu di piring dan ini harus menjadi bagianku.

"Yang harus kamu pertanyakan selanjutnya adalah kenapa mereka diutus ke dunia dengan jasad manusia biasa.

Ke-Mahaan Tuhan membuat materi kita sebagai manusia, tidak akan sanggup menerima kehadiranNya. Karena itu Tuhan mengirimkan utusan dan membungkusnya dengan jasad yang sama dengan kita, supaya bisa menyampaikan jalan keselamatan dan berkomunikasi dengan manusia. Dan karena Tuhan Maha suci, maka utusannya sudah pasti suci. Kita saja yang tidak mampu mengenali kesuciannya karena keterbatasan kita..".

Tanganku mengambil tahu isi yang kuingat tinggal satu di piring itu. Sial, tahunya menghilang.. kulihat temanku dengan geram, ia sedang mengunyah dengan enaknya. "Gak mau tahu!! Pokoknya kamu yang bayar!!!" Teriakku gemas sambil menghabiskan secangkir kopiku. 

Sore ini cerah, tapi hatiku muram...