Senin, 05 Desember 2016

Merajut Kembali Baju Bhinneka Kita

Persatuan
Kebhinekaan
Meskipun sebenarnya tidak terlalu suka dengan aksi 412, saya menghargai pesan-pesan kebhinekaan yang ingin disampaikan.

Hanya kenapa mesti aksi dibalas aksi?. Tidak akan pernah selesai ketika aksi selalu dibalas aksi. Kita hanya akan sibuk dengan pameran kekuatan yang tidak ada habisnya. Lebih baik bermain dengan cara berbeda. Jangan selalu pakai cara-cara Orba, akhirnya sibuk beraksi tanpa ada solusi.

Cara Jokowi itu cantik, sangat cantik.
Ia tidak perlu mengerahkan kekuatan tandingan untuk sekedar menunjukkan dirinya kuat. Ia bermain melalui jalur konstitusi, merangkul dan memukul tanpa terlihat. Saya tahu, banyak sekali yang menawarkan padanya untuk mengumpulkan kekuatan tandingan tapi bukan begitu sifatnya.
 
Itulah yang membuat ia dihargai lawan dan disegani kawan. Bahkan yang suka membullynya pun sungkan. Ia menutup kelemahan dirinya untuk diserang. Sulit mengetahui langkahnya karena ia bermain diluar strategi yang banyak dipikirkan lawan.

Banyak cara untuk memperbaiki diri, jika itu yang ingin dilakukan, bukan hanya sekedar nampang dengan jargon "kebhinekaan" tapi cara yang dilakukan sama saja dengan mengajak perang..
 
Seperti momen Natal dalam waktu dekat ini.
Ini momen terbaik untuk menyampaikan pesan kebhinekaan. Dan bisa dimanfaatkan betul oleh umat Kristiani untuk merangkul saudaranya dalam kemanusiaan. Pesan harus indah, seperti saling mengunjungi, saling memberi, meski mungkin tidak banyak diterima karena masih ada yang hidup di zaman purba takut kehilangan akidah.
 
Perjalanan kita masih panjang. Kita diajarkan Tuhan untuk melakukan banyak proses sebelum kemenangan diumumkan. Kemenangan itu adalah ketika kita berhasil menjaga negara ini dari unsur provokasi di wilayah keagamaan yang dibungkus oleh kepentingan..
 
Tuhan itu Maha dan tidak perlu dibela. Kebhinekaan kitalah yang perlu dijaga karena ia sangat rentan..
 
Merajut kembali kebhinekaan kita yang sudah sempat terkoyak karena ketidak-dewasaan dalam berdemokrasi adalah tugas kita bersama.. Kekuatan kita adalah kerinduan masa lalu dimana semua saling menghargai, saling mengunjungi dan saling mengucapkan salam.
 
Jadikan momen sukacita itu menjadi momen cinta pada sesama. Persatuan Gereja membuat satu momen cinta dimana Natal tidak hanya dirayakan oleh umat Kristiani saja, tapi juga membuat sebuah acara besar dimana umat muslim juga bisa hadir disana.
 
Kita tidak harus menjadi seperti Lebanon dulu untuk supaya bersama, tapi biarkan Lebanon mengajari kita bagaimana seharusnya kita bersama... Mereka membutuhkan waktu 15 tahun dalam perang saudara hanya untuk mengerti apa arti cinta.
 
Seruput kopi dulu, semoga masing-masing dari kita bisa merendahkan hatinya.